
Pagi harinya rumah Bayan pun gempar. Itu karena Yumi menjerit saat melihat tetesan darah di teras samping rumah.
Awalnya Yumi yang selesai menyiapkan sarapan mengambil sapu untuk membersihkan teras samping. Yumi langsung menyapu di luar karena bagian dalam rumah sudah disapu Anna tadi. Rencananya setelah menyapu teras samping dan halaman, Yumi akan mengepel lantai.
Namun Yumi terkejut saat melihat tetesan darah di teras tepat di bawah jendela. Tetesan darah yang sebagian sudah menggumpal itu jumlahnya lumayan banyak. Dan saat ditelusuri, tetesan darah itu membentuk garis lurus yang berakhir di dinding pagar.
Melihat jumlah darah yang tak biasa membuat Yumi refleks menjerit hingga membuat Yunus dan Bayan berlari menghampirinya.
"Ada apa Yum ?!" tanya Bayan.
Bukannya menjawab pertanyaan Bayan, Yumi justru menunjuk kearah tetesan darah di lantai. Bayan dan Yunus pun terkejut lalu saling menatap sejenak. Beberapa saat kemudian Bayan nampak menghela nafas panjang.
"Coba Kamu cek ke atas jendela Nus," pinta Bayan.
"Baik Pak," sahut Yunus lalu segera mengambil tangga dari gudang.
Tak lama kemudian Yunus kembali dengan membawa tangga yang terbuat dari alumunium. Ia pun naik ke atas untuk melihat ventilasi di atas jendela sesuai perintah Bayan tadi.
"Gimana Nus, ada sesuatu yang aneh ga di sana ?" tanya Bayan.
"Ada bercak darah Pak. Ada serpihan daging juga. Mungkin sesuatu yang mencoba masuk lewat ventilasi jendela ini terluka tadi," sahut Yunus.
Ucapan Yunus membuat Bayan terkejut bukan kepalang. Kecemasannya pun meningkat. Setelah meminta Yunus turun, lalu gantian Bayan yang naik untuk melihat ke ventilasi jendela.
"Astaghfirullah aladziim. Laa Haula walaa quwwata ilaa billahil aliyyil adziim ...," kata Bayan berulang-ulang.
Yunus dan Yumi pun saling menatap cemas. Mereka yakin telah terjadi sesuatu di rumah sang majikan malam tadi.
"Insya Allah gapapa. Kamu tenang aja Yum, ga usah ngomong apa-apa ya sama Ibu," pesan Bayan.
"Iya Pak," sahut Yumi sambil mengangguk cepat.
"Dan Kamu jangan pulang dulu ya Nus, kalo ngantuk Kamu boleh tidur sebentar. Tapi sebelum itu, tolong bantuin Yumi bersihin darah ini. Saya mau jemput Ustadz Mustafa sekarang," kata Bayan.
__ADS_1
"Baik Pak," sahut Yunus.
Bukan tanpa alasan Bayan melarang Yunus untuk pulang. Sebab sebelumnya Yunus sudah meminta ijin pulang untuk mengantar ibunya ke Rumah Sakit.
Selama ini Yunus memang tak tinggal di rumah Bayan. Ia akan datang saat jam lima sore dan kembali keesokan paginya. Namun kali ini Yunus ijin datang agak terlambat karena harus mengantar ibunya berobat. Ia khawatir antrian panjang membuatnya terlambat datang ke rumah Bayan.
Namun setelah menyaksikan kecemasan Bayan usai melihat darah yang tercecer di lantai itu membuat Yunus iba. Ia pun menghubungi sepupunya dan memintanya menggantikannya mengantar sang ibu.
Di dalam rumah Anna nampak cemas. Rupanya ia juga mendengar suara jeritan Yumi tadi. Ia tak ikut keluar untuk melihat penyebab Yumi menjerit karena harus menjaga kedua anaknya. Saat Bayan masuk ke dalam rumah dan pamit untuk menjemput ustadz Mustafa, Anna pun makin cemas.
"Ada apa sih Yah. Yumi kenapa ?" tanya Anna sambil mengekori suaminya.
"Gapapa Bund. Kamu sama Anak-anak di rumah aja ya. Jangan kemana-mana walau cuma keluar di halaman. Pokoknya stay di dalam rumah aja sampe Aku balik nanti. Paham kan Bund ?" tanya Bayan sambil menatap Anna lekat.
"Iya. Tapi ada apa Yah ?. Jangan bikin Aku khawatir dong," kata Anna.
"Justru karena ga mau bikin Kamu khawatir makanya Aku ngomong kaya gitu tadi. Kamu percaya kan sama Aku, insya Allah semuanya bakal baik-baik aja setelah ini," sahut Bayan.
Anna bergegas menggendong Nathan lalu membawanya ke kamar. Setelahnya Anna mengunci pintu dan membiarkan Nathan bermain bersama adiknya di atas tempat tidur.
\=\=\=\=\=
Bayan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia merasa lega karena jalan raya menuju Rumah ustad Mustafa tak sepadat jalan lain di pagi hari.
Bayan pun bersorak gembira saat melihat ustadz Mustafa sedang berlatih berjalan di teras rumahnya didampingi Mirza. Ia bergegas turun lalu menyapa mereka.
"Assalamualaikum !" sapa Bayan lantang.
"Wa alaikumsalam," sahut ustadz Mustafa dan Mirza bersamaan.
"Ada apa Mas Bayan, kok tumben pagi banget udah sampe sini ?" tanya Mirza.
"Iya Mas. Ada hal penting yang harus Saya sampein," sahut Bayan cepat.
__ADS_1
Kemudian Bayan menceritakan temuan darah di dekat jendela dan teras samping rumahnya. Bayan juga menceritakan keanehan yang ia alami tadi malam termasuk kondisi Nicko yang basah kuyup di dalam box bayi.
Ustadz Mustafa dan Mirza nampak mendengarkan cerita Bayan dengan seksama lalu keduanya mengangguk mantap.
"Kuyang itu memang datang menyatroni rumahmu tadi malam dan dia kena batunya. Dia datang karena ga tau kalo rumahmu udah dipasangi pecahan kaca. Saat ini dia pasti lagi kesakitan karena luka itu bakal sulit sembuh. Kalo pun bisa sembuh pasti butuh waktu yang ga sebentar," kata ustadz Mustafa sambil tersenyum.
"Jadi begitu. Terus selanjutnya apa yang harus Saya lakukan Ustadz ?" tanya Bayan.
"Ga ada. Lanjutkan saja amalan harian yang biasa Kamu kerjakan Bayan. Jangan lupa sedekah untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan," sahut ustadz Mustafa.
"Baik Ustadz, makasih udah diingetin," kata Bayan sambil tersenyum.
"Kalo gitu sebentar ya Mas. Saya bantu Bapak siap-siap dulu, nanti biar Bapak ikut Mas Bayan. Tapi maaf Saya ga bisa ikut karena harus berangkat kerja. Mungkin sore Saya baru bisa jemput Bapak," kata Mirza.
"Iya Mas gapapa. Nanti biar Saya aja yang antar Ustadz pulang ke rumah," sahut Bayan.
Mirza pun mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mempersiapkan keperluan sang ayah.
Tak lama kemudian Bayan dan ustadz Mustafa sudah berada dalam perjalanan menuju ke rumah.
Saat tiba di halaman Rumah, Yunus pun membantu ustadz Mustafa turun dari mobil. Bukannya masuk untuk menikmati sarapan yang telah disiapkan Yumi, ustadz Mustafa justru minta dibawa ke tempat dimana ceceran darah itu ditemukan.
Dengan senang hati Bayan dan Yunus memapah ustadz Mustafa ke teras samping. Kemudian Yunus menunjukkan bekas darah yang sudah dibersihkan tadi. Meski pun sudah berusaha dibersihkan dengan sabun dan cairan pembersih lantai, namun noda darah itu masih terlihat meski samar.
Ustadz Mustafa membungkukkan tubuhnya lalu menyentuh bekas noda darah itu dengan ujung jarinya. Merabanya sesaat lalu mengendusnya beberapa kali.
"Gimana Ustadz ?" tanya Bayan cemas.
"Lukanya lumayan parah. Dan untuk sementara waktu dia ga akan ke sini lagi. Jika lukanya ga sembuh juga, kemungkinan dia akan mati," kata ustadz Mustafa lirih.
Ucapan ustadz Mustafa mengejutkan sekaligus melegakan Bayan. Ia berharap bisa segera mengetahui siapa orang yang telah menjelma menjadi kuyang yang selalu berusaha menyakiti keluarganya itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1