
Nathan nampak berdiri kaku di depan makam Mia. Air mata tak lagi mewarnai wajahnya. Nampaknya Nathan berusaha ikhlas meski pun hatinya hancur berkeping-keping menyaksikan calon istrinya pergi meninggalkannya selamanya.
Marco dan istrinya nampak sangat terpukul menyaksikan putri kebanggaan mereka pergi dengan cara mengenaskan. Sedangkan Bayan dan Anna yang juga hadir di acara pemakaman nampak berusaha tegar. Mereka harus tampil prima untuk mewakili Marco dan istrinya menerima ungkapan turut berduka cita dari warga.
"Apa Abang masih mau di sini ?" tanya Nicko.
"Iya Nick. Tolong bilang sama Ayah, Bunda dan yang lain supaya duluan aja. Abang masih pengen di sini sebentar lagi," sahut Nathan dengan suara serak.
"Ok Bang," sahut Nicko lalu bergegas menyampaikan pesan Nicko pada kedua orangtuanya.
"Kalo gitu Kamu di sini aja nemenin Abang. Bunda khawatir Abang Kamu nekad dan berbuat sesuatu yang membahayakan nanti," pinta Anna.
"Iya Bund. Aku juga niatnya gitu kok," sahut Nicko.
"Ya udah. Kami pulang ke rumah Pak Marco duluan. Nanti Kalian nyusul ya," kata Bayan.
"Siap Yah," sahut Nicko sambil menganggukkan kepala.
Kemudian Bayan dan Anna melangkah meninggalkan area pemakaman bersama para warga. Hanya tersisa beberapa sepupu Mia, Nathan dan Nicko di samping makam Mia. Mereka nampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setengah jam kemudian para sepupu Mia pamit meninggalkan pemakaman hingga hanya tersisa Nathan dan Nicko.
"Kami duluan ya Nick," kata salah seorang sepupu Mia mewakili sepupu lainnya.
"Iya," sahut Nicko.
"Tolong temenin Bang Nathan ya Nick. Jangan tinggalin dia sendirian," pesan sepupu Mia lainnya hingga membuat Nicko terharu karena perhatian tulus mereka.
"Siap. Gue bakal temenin Bang Nathan kemana pun dia pergi nanti," sahut Nicko mantap hingga membuat sepupu Mia tersenyum lega.
Kemudian Nicko duduk agak jauh dari Nathan sambil mengamatinya dengan lekat. Saat itu kondisi Nathan nampak tak baik-baik saja. Ia melihat Nathan sedang menunduk sambil menatap nisan Mia dengan tatapan tak percaya.
"Kasian banget Bang Nathan. Pasti hatinya hancur banget sskarang. Ga ada yang nyangka impian indahnya kandas padahal sebentar lagi mereka hampir menikah. Gue juga belum tentu setegar Abang kalo ngalamin kejadian serupa," batin Nicko sambil mengusap wajahnya.
Tiba-tiba ponsel Nicko berdering. Nicko pun meraih ponselnya dan mengerutkan keningnya saat melihat nama Bob di layar ponselnya. Bukan karena Nicko tak mengenal pria itu. Tapi karena sebelumnya Nicko meminta bantuan pria yang berprofesi sebagai polisi itu untuk mengungkap kematian calon kakak iparnya.
Nicko memang merasa kematian Mia sedikit janggal karena kondisi terakhir Mia tampak tak wajar. Karenanya Nicko meminta bantuan Bob untuk bisa mencari tahu apa penyebab kematian Mia selain kecelakaan.
"Assalamualaikum iya Bob," sapa Nicko.
__ADS_1
"Wa alaikumsalam. Gue punya kabar buruk nih Nick," sahut Bob dari seberang telephon.
"Kabar buruk apaan Bob ?" tanya Nicko dengan jantung berdetak cepat.
"Bahwa kematian Mia bukan murni kecelakaan tapi karena disebabkan hal lain," sahut Bobi.
"Maksudnya gimana Bob ?!" tanya Nicko lantang hingga membuat Nathan yang sedang menekuri makam Mia pun menoleh.
"Ada apa Nick ?!" tanya Nathan sambil bergegas mendekati sang adik.
"Maaf Bang. Tapi Aku harus kasih tau Abang kalo kematian Kak Mia bukan murni karena kecelakaan. Ada hal lain yang bikin Kak Mia meninggal," sahut Nicko gugup.
"Kamu tau darimana kalo Mia meninggal bukan karena kecelakaan ?" tanya Nathan tak sabar.
"Dari temen Aku Bang, ini lagi ngomong orangnya," sahut Nicko.
"Biar Abang yang ngomong sama dia," kata Nathan sambil merebut ponsel Nicko.
Dari seberang telephon Bobi terus bicara namun sayangnya uraiannya tadi tak satu pun yang disimak oleh Nicko.
"Bisa ulangin lagi Bang ?" pinta Nathan hingga membuat Bobi terkejut karena ia tahu itu bukan suara Nicko.
"Saya Nathan, calon Suaminya Mia. Bisa ulangin lagi apa yang barusan Anda bicarakan ?" ulang Nathan.
Bobi pun mengangguk lalu menjelaskan apa yang ia dan rekan-rekannya temukan di lokasi kecelakaan yang menyebabkan Mia meninggal dunia.
Nathan nampak mengepalkan tangannya dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Gerahamnya bergemeletak pertanda kemarahannya tengah memuncak.
"Siapa ?" tanya Nathan kemudian.
"Kami masih menelusuri orang dekat yang kemungkinan ada di samping Mia saat itu Bang," sahut Bobi.
"Pria atau wanita ?" tanya Nathan.
"Kemungkinan besar wanita. Apa Bang Nathan punya info siapa wanita yang sedang dekat dengan Mia belakangan ini ?. Mungkin ciri-cirinya, pekerjaannya atau tempat tinggalnya ?" tanya Bobi.
"Maaf, Saya ga tahu detail wanita lain selain Mia meski pun itu teman dekat Mia," sahut Nathan cepat.
Bobi pun mengerti dan berjanji akan mengabari Nathan tentang perkembangan kasus kematian Mia yang tak wajar itu. Nathan pun mengangguk lalu menghela nafas panjang saat pembicaraannya dengan Bobi berakhir.
__ADS_1
Kemudian Nicko merangkul Nathan dan membawanya pergi meninggalkan pemakaman Mia.
\=\=\=\=\=
Rupanya tanpa disadari siapa pun, Nathan menyelidiki sendiri siapa wanita yang bersama Mia saat kecelakaan terjadi. Dan apa saja yang mereka bahas hingga membuat Mia lengah hingga menimbulkan kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Nathan mencoba mengingat pembicaraan terakhirnya dengan Mia. Nathan juga membaca ulang isi chat antara dia dan Mia selama ssbulan lebih.
Nathan sengaja menyimpannya karena ingin mengingatkan Mia betapa kacaunya dia saat Mia ngambek tanpa sebab. Dan ternyata chat itu menjadi kenangan yang tersisa dari Mia. Karena Mia membawa pergi semua cerita dan kenangan lain bersamanya.
Nathan menatap isi chat Mia sebelum gadis itu melabraknya di kantor. Nathan mengamati kalimat demi kalimat yang ditulis Mia hingga sesaat kemudian Nathan menegakkan tubuhnya karena menemukan sesuatu.
"Aku tau pasti dia yang udah bikin cerita bohong supaya Aku dan Mia bertengkar. Ternyata firasatku tentang dia memang benar. Dasar wanita ular, sebentar lagi Kamu akan terima pembalasanku," kata Nathan sambil melempar ponselnya ke tempat tidur.
Dan keesokan harinya Nathan meminta Rosiana datang ke ruangannya. Namun super visor di divisi marketing mengatakan jika Rosiana tak masuk kerja karena sakit.
"Sakit ?, sejak kapan ?" tanya Nathan.
"Sejak tiga hari yang lalu Pak. Saya udah ngingetin dia kalo besok dia harus masuk supaya ga dapat SP," sahut sang super visor.
"Baik lah kalo gitu. Lanjutkan pekerjaanmu dan terima kasih," kata Nathan.
Sang super visor mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mengira Nathan memanggil Rosiana karena urusan absensi yang tak lengkap padahal itu menjelang akhir bulan dan artinya berkaitan dengan gaji karyawan.
Setelah mendapatkan alamat rumah Rosiana dari data yang ia miliki, Nathan pun bergegas mendatangi Rosiana di rumahnya.
Dan Nathan terkejut saat melihat wajah dan kepala Rosiana dalam kondisi penuh luka dan diperban.
"Pak Nathan ?!" kata Rosiana panik.
"Iya, ini Saya. Kenapa Kamu ga masuk kerja tiga hari ini Rosiana ?" tanya Nathan sambil tetap berdiri di ambang pintu.
"Sa-Saya sakit Pak," sahut Rosiana gugup.
"Sakit atau kecelakaan ?" tanya Nathan dengan tatapan mengintimidasi.
"Sa-sakit Pak. Ke-kenapa Bapak mengira Saya kecelakaan ?" tanya Rosiana.
"Karena Polisi menemukan sidik jarimu di TKP dan helaian rambut yang juga pasti milikmu. Kenapa Kamu ga ikut pergi kaya Mia ?, kenapa masih bertahan di sini dan hidup ?!" tanya Nathan lantang hingga membuat tubuh Rosiana gemetar ketakutan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=