
Setelah menjalani persidangan atas kasus penganiayaan hingga menyebabkan kematian Mia, Rosiana akhirnya divonis enam tahun penjara. Hukuman itu lebih ringan dari tuntutan penuntut umum yang menuntut Rosiana agar dihukum delapan tahun penjara.
Hal yang meringankan adalah karena Rosiana bersikap kooperatif dan tak mempersulit penyelidikan walau sempat kabur karena takut. Faktor yang meringankan lainnya adalah karena Rosiana santun di dalam sidang dan belum pernah dipenjara sebelumnya.
Mendengar vonis hukuman yang dijatuhkan Hakim pada Rosiana membuat mak Ejah limbung. Ia hampir jatuh ke lantai. Beruntung Usman sigap menahan tubuhnya hingga mak Ejah tak jatuh ke lantai.
"Mak gapapa kan ?. Masih kuat ga Mak ?" tanya Usman cemas.
"Kenapa hukumannya lama banget Man. Kasian Oci," kata mak Ejah sedih.
"Saya juga ga tau Mak. Tapi Kita ikutin aja alurnya. Semoga ke depan akan ada jalan buat Oci bebas lebih cepat," sahut Usman tak kalah sedihnya.
"Apa pembicaraan Kamu sama Pak Bayan tempo hari ga berhasil Man ?. Terus kemana dia sekarang ?. Kenapa Mak ga ngeliat dia lagi di sini ?" tanya mak Ejah gusar.
"Bukan ga berhasil Mak. Tapi Pak Bayan minta supaya Kita ga mencampuri peradilan karena bagaimana pun itu salah Oci," sahut Usman.
"Tapi Man ...," ucapan mak Ejah terputus saat Usman memotong cepat.
"Pak Bayan bilang ini baik untuk Oci supaya ke depannnya Oci bisa lebih berhati-hati dalam berpikir dan bertindak Mak. Dan Saya setuju sama Pak Bayan karena Saya liat Oci emang perlu itu Mak," kata Usman.
Mak Ejah menatap Usman lekat seolah tak percaya pria yang katanya mencintai Oci tega membiarkan Oci terpuruk di penjara.
Seolah mengerti apa yang ada di benak mak Ejah, Usman pun tersenyum.
"Penjara itu ga seburuk yang Kita pikir Mak. Di sana para Napi bukan disiksa tapi akan dibina, dididik agar jadi manusia yang lebih baik. Diharapkan saat kembali ke kehidupan bermasyarakat mereka bisa jadi pribadi yang lebih baik dan tahu memaknai hidup," kata Usman sambil tersenyum.
Mendengar penjelasan Usman membuat Mak Ejah mengangguk pasrah.
Sedangkan di sisi lain Marco, istrinya dan juga Nathan tampak menghela nafas lega. Mereka senang karena keadilan untuk Mia telah ditegakkan. Meski mereka merasa hukuman untuk Rosiana tak seimbang dengan akibat yang ditimbulkan, tapi mereka menerima dengan besar hati.
"Sebenernya Mama ga puas sama vonis Hakim Pa. Enam tahun tuh ga seimbang sama nyawa Anak Kita," kata istri Marco sambil mengusap matanya yang basah.
__ADS_1
"Iya, Papa tau Ma. Tapi jangan lupa, Kita udah sepakat untuk menerima apa pun keputusan Hakim," sahut Marco mengingatkan.
"Betul Ma. Mia pasti tau kalo Kita berusaha menegakkan keadilan untuknya. Anggap aja penjahatnya udah dihukum dan tugas Kita selesai. Sekarang ada baiknya Mama pulang untuk istirahat. Wajah Mama keliatan pucat sekali," kata Nathan.
Ucapan Nathan membuat Marco dan istrinya terharu. Meski pun Nathan batal menjadi menantu mereka, namun panggilan dan perhatian Nathan untuk mereka tak berubah.
"Baik lah. Mama pulang sekarang. Kamu juga jaga kesehatan ya Nak. Kalo suatu saat Kamu menemukan pengganti Mia, tolong kasih tau Kami. Ijinkan Kami hadir di pesta pernikahanmu nanti," kata istri Marco dengan suara bergetar.
"Jangan bahas itu sekarang Ma. Nathan juga masih sedih dengan kepergian Mia," sela Marco tak enak hati.
"Gapapa Pa. Aku janji bakal kasih tau Mama dan Papa saat menikah nanti. Bahkan Aku akan minta Mama ikut menyeleksi calon Istriku. Kalo Mama ga setuju artinya batal. Kalo Mama suka, artinya Aku bisa lanjut ke pelaminan. Gimana Ma ?" tanya Nathan sambil menggenggam jemari istri Marco dengan erat.
Istri Marco nampak tersenyum lebar. Ia menganggukkan kepalanya berkali-kali tanda setuju. Setelahnya ia memeluk Nathan dengan erat hingga membuat Marco terharu.
"Udah Ma. Kita pulang sekarang yuk. Jangan minta Nathan nganterin karena dia harus balik ke kantor untuk menyelesaikan tugasnya," ajak Marco.
Istri Marco pun mengurai pelukannya. Ia nampak melangkah pelan di sisi suaminya sambil berkali-kali menoleh kearah Nathan.
"Maafin Aku Mak. Aku udah bikin Mak malu dan susah terus," kata Rosiana di sela isak tangisnya.
"Yang udah berlalu lupakan Ci. Ke depannya Mak harap Kamu bisa lebih sabar dan ga gegabah lagi. Cukup kali ini aja Kamu masuk penjara karena egomu yang tinggi itu. Terima saja apa yang menjadi takdirmu. Miskin dan ga populer bukan lah hukuman. Kita hanya harus berusaha jadi manusia yang baik dan bermanfaat untuk manusia lainnya dalam hal kebaikan. Itu aja," kata mak Ejah sambil mengusap punggung Rosiana dengan lembut.
Ucapan mak Ejah cukup mengena di hati Nathan dan itu membuatnya penasaran dengan sosok mak Ejah. Nathan pun menajamkan penglihatannya. Dari dekat ia bisa mengamati mak Ejah dengan lebih intens. Nathan sedikit terusik dengan panggilan Mak alias nenek yang disematkan untuk wanita itu.
Bagaimana tidak. Mak Ejah bukan lah wanita renta, bungkuk dan keriput. Jika dicermati, usia mak Ejah mungkin sebaya dengan ayahnya. Nathan pun bertanya-tanya darimana panggilan Mak itu berasal. Karena menurut Nathan mak Ejah lebih layak dipanggil Ibu daripada Mak alias nenek.
Seolah menyadari kehadiran Nathan, mak Ejah pun menoleh kearahnya. Lagi-lagi jantung mak Ejah berdetak cepat saat melihat Nathan.
Rosiana dan Usman pun ikut menoleh dan tersenyum saat melihat Nathan tersenyum kearah mereka.
"Maafin Saya Pak Nathan. Maaf karena udah bikin Pak Nathan batal menikah. Maaf juga karena udah pernah mencoba menggoda Bapak," kata Rosiana salah tingkah.
__ADS_1
Ucapan Rosiana mengejutkan mak Ejah dan Usman namun membuat Nathan tersenyum.
"Lupakan itu Rosiana. Saya udah maafin Kamu. Saya harap Kamu bisa menjalani hukumanmu dengan baik dan saat bebas bisa jadi orang yang lebih baik," kata Nathan bijak.
Ucapan Nathan membuat mak Ejah kagum. Dan tanpa sadar ia menatap Nathan dengan lekat. Lagi-lagi jantung mak Ejah berdetak cepat saat menatap pria muda yang lebih layak jadi anaknya itu.
"Mak ...," panggil Rosiana sambil menyenggol lengan mak Ejah lembut.
"Eh i-iya. Kenapa Ci ?" tanya mak Ejah gugup.
"Aku belum kenalin Mak sama Pak Nathan. Beliau adalah tunangan Mia, anak Bos tempatku kerja. Pak Nathan, ini Ibu Saya. Panggil aja Mak Ejah. Dan ini ... ini calon Suami Saya. Namanya Usman," kata Rosiana malu-malu.
Ucapan Rosiana yang mengakui dirinya sebagai calon suami membuat perasaan Usman membuncah bahagia. Ia dan Nathan saling berjabat tangan sambil tersenyum sedangkan mak Ejah hanya menganggukkan kepalanya sebagai salam perkenalan.
\=\=\=\=\=
Mak Ejah pun kembali ke rumah kontrakan yang disewa Usman untuknya. Mak Ejah memutuskan akan menetap di sana hingga Rosiana selesai menjalani masa hukumannya.
Saat berjalan menuju rumah kontrakan ditemani Usman, mak Ejah melihat Ayu dan keluarga kecilnya sedang berjalan-jalan di taman. Ayu nampak dipapah suaminya sedangkan Arafah melangkah di sampingnya sambil menggenggam jemarinya.
Mak Ejah nampak menyeringai mengingat apa yang telah ia lakukan pada Ayu. Dan kali ini tatapannya tertuju pada batita perempuan yang berjalan di sisi Ayu. Nampaknya mak Ejah tertarik pada Arafah, sang batita cantik itu.
"Liat apa Mak ?" tanya Usman mengejutkan mak Ejah.
"Oh, lagi liat itu. Keluarga muda yang bahagia bukan ?. Kapan Mak bisa ngeliat Kamu, Oci dan Anak Kalian kaya gitu ya ?" tanya mak Ejah.
"Doain aja Mak. Saya juga pengen punya keluarga yang utuh kaya mereka," sahut Usman sambil tersenyum getir.
Mak Ejah pun mengangguk lalu kembali menatap Arafah yang tertawa riang di samping sang ibu. Berkali-kali mak Ejah menelan salivanya saat membayangkan rasa dan aroma darah sang batita cantik.
\=\=\=\=\=
__ADS_1