
Dan sejak perdebatannya dengan Mia, hubungan Nathan dengan sang tunangan pun merenggang.
Nathan merasa Mia menjauh darinya dengan sengaja. Meski Nathan berusaha datang untuk menjelaskan kesalah pahaman itu, namun gagal. Mia tak pernah mau menemuinya. Mia tak hanya menolak bertemu Nathan di rumah, tapi juga di kantor dan tempat umum lainnya. Tentu saja itu membuat Nathan bingung.
Bayan yang melihat Nathan memejamkan mata di sofa ruang tamu pun menghampiri untuk sekedar menghibur. Ia tahu jika hubungan Nathan dan Mia sedang tak baik-baik saja. Bayan khawatir itu akan mempengaruhi rencana mereka ke depannya.
"Gimana Nath, apa kata Mia ?" tanya Bayan sambil duduk di samping Nathan.
Nathan membuka matanya lalu menatap sang ayah. Setelah terdiam sejenak akhirnya Nathan pun menjawab pertanyaan ayahnya.
"Mia ga ngomong apa-apa Yah. Jangankan ngomong, nemuin Aku aja dia ga mau," kata Nathan sambil menghela nafas berat.
"Kamu sabar ya. Mungkin Mia masih butuh waktu buat mencerna semuanya. Dia terlalu sibuk, jadi dia ga punya waktu untuk memahami masalah yang sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik," kata Bayan.
"Tapi sampe kapan Yah. Ini udah hampir tiga minggu dan Kami ga pernah kaya gini," sahut Nathan gusar.
"Sebenernya apa sih yang terjadi ?. Kenapa Mia marah banget sama Kamu ?" tanya Bayan penasaran.
Nathan pun menjelaskan apa yang terjadi. Tentang tuduhan Mia yang mengatakan dia memiliki wanita lain di kantor. Juga masalah kecil lainnya yang membuat Mia meledak dan ngambek hingga tiga minggu.
"Keliatannya ada seseorang yang mencoba mengadu domba Kalian," kata Bayan hingga mengejutkan Nathan.
"Ayah betul. Aku juga sempet ngomong kalo Mia terpengaruh sama orang di luar sana, tapi Mia marah banget. Kayanya Aku butuh bantuan orang lain yang netral supaya kesalah pahaman ini ga berlanjut Yah," kata Nathan sambil mengacak rambutnya.
"Siapa orang yang bisa netral dan mengenal Kalian berdua ?. Temanmu atau teman Mia mungkin ?" tanya Bayan.
"Teman ...," gumam Nathan sambil berusaha mengingat teman yang mengenal dia dan Mia dan bisa bersikap netral.
Tiba-tiba Nathan tersentak saat ingat Rosiana, salah satu karyawan di perusahaan sang ayah yang juga teman Mia. Bukan karena Nathan ingin meminta bantuan Rosiana, tapi Nathan justru curiga jika Rosiana lah yang telah meracuni pikiran Mia. Karena selain sebagai karyawan, wanita itu juga selalu berada di sekitar Nathan belakangan ini.
"Kayanya Aku tau siapa yang udah meracuni pikiran Mia Yah," kata Nathan beberapa saat kemudian.
"Oh ya, siapa ?" tanya Bayan.
"Namanya Rosiana. Dia karyawan juga di perusahaan Ayah," sahut Nathan hingga membuat Bayan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Bayan pun menghela nafas panjang. Jujur ia tak ingin ikut campur apalagi masalah ini melibatkan wanita lain.
"Ayah ga bisa ikut campur dalam masalah Kamu. Ayah cuma minta selesaikan segera biar ga berlarut-larut," kata Bayan sambil berlalu.
"Baik Yah," sahut Nathan sambil tersenyum kecut.
\=\=\=\=\=
Setelah berhasil membuat janji bertemu dengan Mia, Nathan pun bernafas lega. Ia merasa masalah yang menerpa mereka akan segera berakhir. Dan nampaknya keinginan Nathan terwujud. Karena bukan hanya masalahnya yang berakhir, tapi hubungannya dengan Mia pun berakhir.
Setelah jam kerja usai, Nathan kembali menghubungi Mia. Namun Nathan kembali kecewa karena Mia selalu mengabaikan panggilan telephonnya.
"Kenapa lagi sih. Baru aja seneng masa udah datang masalah baru," gumam Nathan kesal.
Tiba-tiba ponsel Nathan berdering. Nathan tersenyum saat mengetahui Mia lah yang menghubunginya.
"Assalamualaikum iya Sayang, Kamu dimana ?" tanya Nathan.
"Wa alaikumsalam. Aku masih di jalan ada keperluan sebentar," sahut Mia dari seberang telephon.
"Iya Aku inget. Tapi Aku janji cuma sebentar kok. Abis ini Aku langsung cabut buat nemuin Kamu. Kamu dukuan aja ke kafe ntar Aku nyusul ke sana. Gapapa kan Sayang ?" tanya Mia.
Mendengar panggilan sayang yang diucapkan Mia membuat Nathan luluh. Karena setelah hampir sebulan ngambek dan selalu menolak bicara dengannya meski pun melalui sambungan telephon, akhirnya Mia mau kembali memanggilnya sayang.
"Ok. Aku duluan dan janji jangan lama-lama ya," kata Nathan akhirnya.
"Siap Sayang !" sahut Mia lalu segera mengakhiri pembicaraan mereka.
Kemudian Nathan bergegas pergi menuju kafe tempat favoritnya dan Mia. Tiba di sana Nathan duduk di tempat yang telah ia booking sebelumnya. Sambil menunggu kedatangan Mia, Nathan pun memesan secangkir kopi dan makanan ringan.
Waktu pun berjalan dan Nathan mulai gelisah. Janji sebentar yang diucapkan Mia ternyata terlewati tanpa kabar. Hingga dua jam kemudian Mia tak juga menampakkan batang hidungnya dan itu membuat Nathan khawatir.
Kemudian Nathan mencoba menghubungi Mia, hal yang ia tahan sejak tadi karena tak ingin terkesan posessif.
"Ya Allah, apalagi ini. Kenapa Kamu jadi seneng banget bikin Aku bingung belakangan ini sih Mia," gumam Nathan.
__ADS_1
Karena lelah menunggu dan yakin Mia tak akan datang, akhirnya Nathan hengkang dari kafe dengan langkah gontai.
Saat Nathan akan menstarter mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu adalah nomor asing. Setelah menimbang sejenak, akhirnya Nathan memutuskan menerima panggilan dari nomor asing tersebut.
"Selamat malam, dengan Bapak Nathan ?" tanya seorang wanita dari seberang telephon.
" Ya selamat malam. Betul Saya Nathan. Maaf siapa ini, darimana Anda tau nomor telephon Saya ?" tanya Nathan.
"Saya Dewi, perawat dari Rumah Sakit JJ. Saya dapat nomor telephon Bapak dari Ibu Almia. Beliau baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di IGD Rumah Sakit JJ. Kami mohon Bapak segera ke Rumah Sakit karena Ibu Almia memanggil nama Bapak terus daritadi," sahut perawat bernama Dewi itu.
Jawaban sang perawat membuat Nathan terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka jika Mia tak menepati janji karena baru saja mengalami kecelakaan.
"Baik, Saya segera ke sana Suster Dewi. Terima kasih," kata Nathan lalu bergegas melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Sambil mengemudi Nathan menyempatkan diri menghubungi Bayan dan Marco untuk mengabarkan kecelakaan yang menimpa Mia. Karena letak rumah mereka lebih dekat dengan Rumah Sakit yang dimaksud, mereka pun tiba lebih dulu dibanding Nathan.
Setelah memarkirkan mobil di parkiran Rumah Sakit, Nathan segera berlari menuju ruang IGD. Di sana ia melihat Marco tengah menenangkan istrinya yang tengah menangis histeris di pelukannya. Sedangkan Anna nampak bersandar lemah pada Bayan. Melihat sikap keempat orangtua itu membuat Nathan yakin jika telah terjadi sesuatu yang buruk pada Mia.
"Assalamualaikum, ada apa Yah Bund ?!" tanya Nathan.
Mendengar suara Nathan membuat istri Marco berhenti menangis. Wanita itu mengurai pelukan suaminya lalu menghambur memeluk Nathan.
"Mia udah pergi Nathan. Mia meninggal !" kata istri Marco sambil menangis.
Ucapan sang calon mertua membuat Nathan terkejut lalu membeku di tempat. Ia merasa kepalanya berdengung dan semua yang ada di hadapannya menghitam. Saat tubuh Nathan limbung dan hampir terjatuh, Bayan pun dengan sigap menahan tubuhnya.
"Kamu gapapa Nak ?" tanya Bayan cemas.
"Ayah ..., tolong bilang kalo kabar itu bohong. Mia ... masih hidup kan Yah ?. Mia ... ga meninggal kan Yah ?" tanya Nathan dengan suara bergetar.
Bayan memeluk sang anak dengan erat. Ia mengusap punggung Nathan sambil menepuknya lembut. Hal yang selalu ia lakukan saat menidurkan Nathan di masa kecilnya dulu.
"Yang sabar ya Nak. Mia sudah pergi menghadap Allah. Ikhlaskan dia dan doakan dia supaya langkahnya ringan," bisik Bayan lirih.
Ucapan sang ayah membuat Nathan tak kuasa lagi menahan air mata. Nathan pun menangis hingga membuat Anna ikut menangis.
__ADS_1
\=\=\=\=\=