Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
138. Terjawab


__ADS_3

Setelah pengakuan Nicko malam itu, Nathan pun segera memberi tahu kedua orangtuanya. Bisa dipastikan Bayan dan Anna sangat terkejut mendengar cerita Nathan. Sama seperti Nathan, selama ini mereka menganggap Nicko sebagai anak yang tenang, kalem dan cenderung tak memiliki ambisi apa pun. Tapi mendengar cerita Nathan membuat mereka sadar jika Nicko bukan anak kecil lagi.


"Kenapa Bunda menangis ?. Harusnya Bunda seneng dong. Kan sebentar lagi bakal punya menantu perempuan selain Mbak Ayu," kata Nathan tak mengerti.


"Bunda nangis karena terharu Nath. Ga nyangka Nicko udah dewasa dan mau ngelamar Anak orang. Selama ini Kami terlalu fokus sama urusan Kamu sampe abai sama urusan Nicko. Bunda jadi ga enak karena terkesan pilih kasih sama Kalian," kata Anna sambil mengusap matanya yang basah.


Tiba-tiba Nicko datang dan langsung memeluk sang ibu dari belakang. Ia juga membantu Anna mengusap air matanya.


"Aku ga pernah merasa begitu kok Bund. Aku merasa kasih sayang Ayah dan Bunda udah pas dan sesuai porsinya. Lagian kemarin kan memang Abang lebih butuh perhatian dibanding Aku. Jangan salahin diri sendiri karena Aku emang belum siap buat cerita semuanya. Semalam juga terpaksa cerita karena ga tega sama Abang," kata Nicko sambil melirik kearah Nathan.


"Kok jadi Abang yang dijadiin kambing hitam sih Nick. Kita di sini lagi ngebahas Kamu bukan Abang," kata Nathan mengingatkan.


"Udah ga usah berdebat lagi. Sekarang gimana, apa aja yang udah Kamu siapin buat melamar Anak gadisnya Ustadz Zulkifli itu. Jangan sampe ada yang kurang ya Nick. Bunda ga mau malu gara-gara Kamu," kata Anna sambil menatap Nicko lekat.


Ucapan Anna membuat Bayan dan Nathan mengangguk namun justru membuat Nicko tersenyum.


"Aku emang ga kaya Abang yang udah punya rumah dan tabungan banyak Bund. Tapi paling ga Aku punya cukup tabungan untuk membuat Istriku ga kekurangan nanti," kata Nicko santai.


"Ck, bukan itu maksud Bunda. Kamu mau tinggal dimana setelah menikah ?. Apa mau tinggal di sini aja. Bunda sih ga keberatan, tapi gimana sama dia ?" tanya Anna gusar.


"Oh itu. Bunda tenang aja. Aku punya niat sewa rumah atau apartemen aja nanti, yang penting tinggal mandiri dan ga nyusahin orangtua apalagi mertua. Danti juga udah setuju kok sama usul Aku," sahut Nicko cepat.


"Danti ?" ulang Anna.


"Iya Bund. Namanya Ramadhanti dan Aku biasa panggil Danti aja," sahut Nicko malu-malu.


"Terus kapan Kamu pertemukan Danti sama Bunda ?!" tanya Anna gemas.


"Insya Allah secepatnya Bund," sahut Nicko mantap.


Dan Nicko pun menepati janjinya. Sore harinya ia sengaja mengajak Ramadhanti ke rumah untuk diperkenalkan dengan keluarganya. Fikri dan Ayu yang memang mengenal Ramadhanti pun ikut hadir. Bahkan mereka lah yang menjemput Ramadhanti dari rumah kedua orangtuanya.


Melihat Ramadhanti yang cantik dan lembut dalam balutan pakaian syar'i membuat Anna bahagia. Tak henti-hentinya ia tersenyum karena bisa mengenal calon menantunya itu.


Bayan yang memang pernah bertemu Ramadhanti pun tak kalah bahagianya. Ia berkali-kali menganggukkan kepala pertanda setuju dengan pilihan Nicko.


Nathan yang duduk di samping Fikri sambil memangku Arafah pun ikut bahagia melihat kedua orangtuanya bahagia.


"Jadi kapan Kami bisa bertemu kedua orangtuamu Danti ?" tanya Bayan setelah berbasa-basi cukup lama.


"Saya belum tau Om. Saya tanya Abi dulu ya. Insya Allah kalo Abi dan Ummi udah siap, Saya bakal kasih tau lewat Mas Nicko," sahut Ramadhanti sambil melirik kearah Nicko yang duduk di samping Anna.

__ADS_1


"Cieee ... cieee. Mas Nicko panggilan sayangnya ya," ledek Nathan hingga membuat Ramadhanti tersipu malu.


"Apaan sih Bang, iseng banget. Liat tuh muka Danti sampe merah gitu," kata Nicko sambil melotot.


Ucapan Nicko mau tak mau membuat semua orang tertawa.


Pada kesempatan itu Anna juga mengajak Ramadhanti makan malam bersama. Setelah makan malam gadis itu pamit pulang diantar Fikri, Ayu dan Nicko.


\=\=\=\=\=


Hilya menghubungi Nathan karena mendapat panggilan dari pihak kepolisian. Ia memang tak ingin pergi ke kantor polisi seorang diri karena ingat Bayan pernah meminta untuk menghubunginya jika Hilya diminta datang ke kantor polisi untuk melengkapi laporan.


Hilya tersenyum saat mendengar suara deru mobil milik Nathan datang menjemput. Namun Hilya mengerutkan keningnya saat melihat out fit yang dikenakan Bayan dan Nathan.


Saat itu Bayan dan Nathan mengenakan kemeja batik dan celana panjang hitam serta sepatu kulit pertanda mereka akan menghadiri sebuah acara formal.


"Apa Saya udah mengganggu Om ?. Keliatannya Om dan Nathan mau hadir ke acara penting," kata Hilya tak enak hati.


"Ga kok. Kami emang mau menghadiri acara lamaran, tapi masih nanti sore. Kami hanya ga ingin repot aja karena harus bolak balik ke rumah buat ganti baju. Rencananya dari kantor Polisi Kita langsung ke tempat acara. Kalo Kamu ga keberatan, Saya ingin Kamu ikut sama Kami nanti," sahut Bayan sambil tersenyum.


Hilya nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. Ia merasa tak punya alasan menolak undangan Bayan yang telah meluangkan waktu untuk membantunya.


"Karena ngeliat pakaian Om dan Nathan yang resmi kaya gini, boleh ga Saya ganti baju dulu sebentar. Saya ga mau malu-maluin Om nanti gara-gara salah kostum," pinta Hilya.


Hilya pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Dan sesaat kemudian Hilya tampak keluar dengan mengenakan rok lilit dan blouse berwarna merah maroon.


"Cantik," puji Nathan hingga membuat wajah Hilya bersemu merah.


"Betul. Kita berangkat sekarang ya. Terus dimana Kakek dan Nenekmu, apa Kita ga perlu pamit sama mereka ?" tanya Bayan.


"Kakek sama Nenek masih di toko Om. Tapi mereka tau kalo Saya bakal pergi sama Om dan Nathan. Kakek sama Nenek titip salam karena belum bisa nemuin Om hari ini," sahut Hilya.


Bayan pun mengangguk lalu meminta Nathan melajukan mobil menuju kantor polisi.


\=\=\=\=\=


Setelah menyelesaikan urusan di kantor polisi, Nathan segera melajukan mobilnya menuju kediaman ustadz Zulkifli. Ternyata keluarganya telah berangkat sepuluh menit yang lalu.


"Kita ketemu di sana aja Nath. Alamatnya udah tau kan ?" tanya Fikri dari seberang telephon.


"Iya Bang," sahut Nathan.

__ADS_1


"Kami ga bakal masuk kalo Kamu sama Ayah belum datang Nath. Jadi ga usah ngebut ya," kata Fikri sebelum mengakhiri pembicaraan.


Di kursi tengah Hilya nampak gugup. Dalam hati ia menyesali keputusannya ikut ke acara keluarga Bayan. Ia ingat jika tak mengenal siapa pun di sana kecuali Nathan.


"Masa Gue nempel sama Nathan terus. Yang ada Gue dimusuhin sama Istri dan keluarganya nanti," batin Hilya gusar.


"Kamu Gapapa Hilya, kok gelisah gitu ?" tanya Bayan sambil menoleh kearahnya.


"Gapapa Om. Tenggorokan Saya sakit, makanya Saya gelisah," sahut Hilya asal.


"Perlu beli obat dulu ga ?" tanya Bayan khawatir.


"Ga usah Om. Sebentar lagi juga sembuh kok," sahut Hilya cepat.


Bayan pun tersenyum lalu kembali menatap ke depan.


Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman ustadz Zulkifli. Hanya keluarga inti yang hadir hingga suasana rumah tak terlalu ramai.


Anna nampak tersenyum lebar melihat kehadiran suami dan anaknya. Apalagi saat melihat Hilya yang melangkah malu-malu di belakang Nathan.


"Kenalin Bund, ini Hilya," kata Nathan.


"Assalamualaikum Tante, Saya Hilya," sapa Hilya santun sambil mencium punggung tangan Anna dengan takzim.


"Wa alaikumsalam. Iya Hilya, makasih ya udah mau direpotkan sama keluarga Kami," kata Anna sambil tersenyum.


Hilya pun ikut tersenyum bahagia karena mendapat sambutan hangat dari Anna.


"Nah, itu dia calon pengantinnya. Nicko sini, kanalan dulu sama temennya Abang Kamu !" panggil Anna sambil melambaikan tangannya.


Nicko pun bergegas menghampiri sang bunda dan terkejut melihat Hilya. Gadis itu pun tak kalah terkejutnya saat mengetahui Nicko dan Nathan bersaudara.


"Hai Kak Hilya, ketemu lagi Kita. Makasih ya udah mau hadir di acara lamaranku," kata Nicko dengan ramah.


"Sama-sama. Selamat ya Nick," sahut Hilya gugup.


"Harusnya sih Bang Nathan dulu yang nikah. Tapi karena Abang masih belum berhasil meyakinkan wanita idamannya, terpaksa Aku maju duluan. Terkesan ga sabaran tapi emang iya. Aku cuma khawatir calon Istriku diambil orang. Aku ga salah kan Kak ?" tanya Nicko sambil tersenyum.


Ucapan Nicko mengejutkan namun membuat Hilya bahagia. Ternyata selama ini ia salah sangka karena mengira Nathan telah berkeluarga.


Kebahagiaan Hilya makin lengkap saat melihat Ayu menggelayut manja di lengan Fikri sambil menggoda Arafah. Itu artinya Ayu memang bukan istri Nathan.

__ADS_1


Dan saat Hilya menoleh kearah Nathan, ia mendapati Nathan tengah menatap kearahnya sambil tersenyum manis. Saat itu lah Hilya merasa wajahnya memanas. Ia pun mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak kuasa membalas tatapan Nathan.


\=\=\=\=\=


__ADS_2