
Melihat kondisi Fikri membuat Bayan menggelengkan kepala. Ia kesal dan ingin tertawa namun ia tahan karena tak tega melihat wajah Fikri yang memelas.
Setelah menghela nafas panjang, Bayan pun mengulurkan tangannya.
"Ayo bangun. Kita ga bisa lama-lama di sini," ajak Bayan.
"Tapi Yah ...," ucapan Fikri terputus karena Bayan memotong cepat.
"Sekarang Fikri !" kata Bayan setengah memaksa.
Fikri pun menyambut uluran tangan Bayan kemudian keduanya bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Rupanya Bayan menyadari jika kehadirannya di sana telah mengundang perhatian penghuni kamp perumahan kumuh itu. Saat Bayan melajukan mobilnya, saat itu lah beberapa pria keluar sambil membawa senjata tajam.
"Kamu liat itu kan Fikri ?. Gara-gara suara Kamu tadi semua orang jadi terbangun," kata Bayan kesal.
"Ya Allah. Untung Kita keburu pergi ya Yah. Kalo ga mungkin Kita udah jadi perkedel di sana," sahut Fikri sambil bergidik membayangkan dia dan Bayan dikeroyok menggunakan senjata tajam.
"Padahal Ayah berharap Kamu bisa tau semuanya malam ini," kata Bayan sendu.
"Tau semuanya ?. Tau apalagi Yah, apa masih ada yang Ayah sembunyiin tentang Ibuku ?" tanya Fikri.
Kesal dengan tuduhan Fikri, Bayan pun mengerem mobilnya lalu menatap keponakannya itu dengan tatapan marah.
"Justru Ayah bawa Kamu ke sini karena mau kasih tau semuanya sama Kamu !. Ayah mau ngomong pake bukti dan bukan asal tuduh. Tapi sejak awal Kamu udah bikin ulah dan sekarang Kita ga dapat apa-apa. Ayah jadi ragu, sebenarnya Kamu niat ga sih mau ketemu Ibumu ?. Atau itu cuma omong kosong ?" tanya Bayan sambil menatap Fikri lekat.
Ucapan Bayan mengejutkan Fikri. Dia tak menyangka jika Bayan bisa sangat menakutkan saat marah. Fikri memejamkan matanya karena tak ingin menentang tatapan mata Bayan.
"Maaf Yah. Maaf kalo udah bikin Ayah marah. Aku seriusbmau ketemu Ibu," kata Fikri dengan suara rendah.
Bayan mendengus lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baik lah, Kita ga usah bertele-tele lagi. Kita ke sana karena Ayah mau kasih liat sama Kamu siapa Ibumu sebenernya. Ejah menganut ilmu hitam untuk hidup abadi. Dan korbannya adalah wanita hamil. Tujuan utamanya adalah janin yang ada di dalam rahim wanita hamil itu. Ejah juga mengincar bayi. Dengan menghirup darah mereka lah Ibumu bisa bertahan hidup," kata Bayan sambil menatap jauh ke depan.
Ucapan Bayan membuat Fikri terkejut bukan kepalang.
"Jadi itu yang Ayah maksud seorang pembunuh. Ternyata Ibuku siluman yang memangsa wanita hamil dan bayi ?" tanya Fikri.
__ADS_1
"Iya. Bukan kah itu sama dengan membunuh ?. Ejah merenggut kehidupan janin di rahim para wanita juga bayi-bayi tak berdosa itu dengan cara tak lazim dan kejam," sahut Bayan cepat.
"Siluman ...," kata Fikri sambil menggelengkan kepala.
"Iya. Kami biasa menyebutnya Siluman kuyang karena berwujud kepala tanpa badan yang biasanya bergerak dengan cara melayang di kegelapan malam," sahut Bayan menjelaskan.
"Kepala tanpa badan. Apa ada sebagian organ dalam yang menggantung di bawahnya Yah ?" tanya Fikri.
"Iya. Apa Kamu pernah melihatnya ?" tanya Bayan pura-pura tak tahu jika Fikri pernah berhadapan langsung dengan siluman kuyang jelmaan mak Ejah.
"Iya Yah. Siluman itu juga menyerang Ayu dan Arafah. Dan gara-gara dia Kami kehilangan bayi Kami," sahut Fikri sedih sambil menundukkan kepala.
Bayan mengangguk dan membiarkan Fikri larut dalam pikirannya sendiri. Bayan berharap Fikri menyadari sesuatu dan berhasil. Fikri terlonjak sambil mendongakkan kepalanya saat teringat sesuatu.
"Jangan bilang kalo siluman kuyang yang menyerang Anak dan Istriku adalah jelmaan Ibuku Yah !" kata Fikri lantang.
"Mungkin saja. Ayah ga tau pasti karena Ayah kan ga ada di sana Nak," sahut Bayan santai.
Jawaban Bayan membuat Fikri shock. Ia menatap keluar jendela dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa belakangan ini Fikri merasa jadi sosok yang rapuh dan cengeng. Ia sadar ini terjadi sejak ia mulai mencari tahu siapa ibu kandungnya.
"Fikri ...," panggil Bayan.
"Ayah tau Kamu sedang ga baik-baik aja sekarang. Tapi Ayah ga bisa menunda lagi Nak. Ibumu masih berkeliaran di luar sana dan mengancam banyak orang. Kita harus melakukan sesuatu secepatnya," kata Bayan dengan mimik wajah serius.
Fikri nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Jadi Kita mau mulai darimana Yah ?" tanya Fikri.
"Kita balik ke kamp tadi. Ayah mau Kamu liat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana dan siapa Ibumu itu," sahut Bayan sambil menstarter mobilnya.
"Apa ini ga bahaya Yah ?. Aku yakin orang-orang berssnjata tajam itu pasti masih berjaga di sana," kata Fikri cemas.
"Kita ga usah masuk ke dalam sana kaya tadi. Kita cukup mengamati dari jauh aja," sahut Bayan.
Fikri pun mengangguk. Selain penasaran dengan sosok ibunya, Fikri juga tak ingin berdebat lagi dengan Bayan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bayan menghentikan mobilnya tepat di seberang jalan. Dari sana mereka bisa leluasa mengamati pergerakan semua orang di dalam kamp.
"Jangan bicara lagi Fikri !. Kita tunggu dan liat apa yang terjadi nanti. Dan Kamu buka matamu lebar-lebar karena ini ga akan terulang lagi !" kata Bayan tegas saat Fikri akan membuka mulutnya untuk bertanya.
Fikri kembali mengangguk. Ia menunggu apa yang akan terjadi sambil berdzikir dalam hati. Bayan pun tersenyum melihat Fikri duduk dengan tenang.
Waktu pun berlalu dalam keheningan. Bayan dan Fikri terdiam tanpa bicara sepatah kata pun.
Meski terlihat tenang di permukaan, namun jiwa Fikri resah. Sesekali ia menoleh kearah Bayan yang nampak sibuk mengamati langit malam.
Beberapa saat kemudian Bayan pun menepuk pundak Fikri sambil menunjuk kearah langit.
"Liat itu Fikri !" kata Bayan sambil menunjuk sebuah benda yang melayang di kegelapan.
Fikri pun menatap kearah yang ditunjuk Bayan dan terkejut hingga membulatkan matanya karena saking terkejutnya.
"I-itu ... itu Ibuku Yah ?" tanya Fikri dengan suara bergetar.
"Ck, kalo lagi jadi siluman ga usah panggil dia Ibu. Karena saat itu dia ga kenal siapa pun," sahut Bayan ketus.
Fikri pun mengangguk sambil terus menatap sosok kepala tanpa tubuh yang melayang diantara dedaunan itu. Sosok kepala tanpa tubuh nampak berhenti untuk mengamati sekelilingnya. Setelah merasa kondisi aman, sosok kepala tanpa tubuh itu melesat cepat kearah pemukiman kumuh dan menghilang di sana.
Bayan terkejut lalu menoleh saat mendengar Fikri membuka pintu mobil.
"Mau kemana Fik ?!" tanya Bayan sambil mencekal kerah pakaian Fikri.
"Aku mau temuin Ibu sekarang Yah !" sahut Fikri sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Bayan.
"Jangan gegabah. Kita ga bisa ke sana sekarang," kata Bayan panik karena melihat warga di pemukiman kumuh itu nampak bergerak mendatangi mobilnya sekarang.
"Tapi Yah ...," ucapan Fikri terputus saat Bayan memotong cepat.
"Masuk Fik !. Mereka datang !" kata Bayan sambil menginjak pedal gas.
Fikri pun kembali duduk sambil mencari pegangan karena khawatir tersungkur. Ia menoleh kearah Bayan yang mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Mobil pun berhasil meninggalkan tempat itu. Namun sebuah batu seukuran kepalan tangan berhasil mengenai body mobil hingga menimbulkan suara berdebuk yang kencang. Rupanya warga pemukiman kumuh itu marah dan menimpuki mobil Bayan dengan batu tadi.
\=\=\=\=\=