
Keluarga Bayan tengah berkumpul di rumah. Kali ini terasa lengkap karena Nicko dan Fikri datang dengan formasi lengkap bersama anak dan istri masing-masing.
Anna bahagia bisa bermain dengan tiga cucunya, begitu pun Hilya. Meski awalnya terlihat kurang sehat, namun kedatangan Afiah, Fahri dan Nira membuat Hilya bangun dari posisi berbaringnya. Bahkan Hilya nampak bugar saat bermain dengan tiga keponakannya itu.
Melihat sang istri lebih semangat membuat Nathan tersenyum lega.
"Seneng ya bisa ngeliat Hilya semangat kaya gitu Nath," kata Bayan.
"Iya Yah. Sejak Klinik ditutup Hilya kaya kehilangan semangat. Aku tau dia pasti shock banget. Doble shock malah. Gimana ga, selain ditemukan mayat orang asing di kamar mandi, eh Kliniknya juga ditutup dengan alasan penyelidikan," sahut Nathan sambil mengusap wajahnya karena tak sanggup menyembunyikan rasa kecewanya.
"Tapi Pak Alex bilang lusa Klinik udah bisa beroperasi lagi seperti biasa lho Nath," kata Bayan.
"Alhamdulillah ..., yang bener Yah ?" tanya Nathan antusias.
"Iya. Masa Ayah bohong untuk hal penting gini Nath," sahut Bayan sambil mengusak rambut Nathan dengan gemas.
Nathan nyengir kuda sedangkan Nicko dan Fikri hanya menggelengkan kepala.
"Terus penyelidikannya gimana Yah ?" tanya Nathan kemudian.
"Penyelidikan tetap lanjut tapi dari sisi yang lain. Mungkin untuk TKP, khusus yang di sekitar kamar mandi itu bakal tetap dipasangi police line," sahut Bayan.
"Oh gapapa. Kan masih ada toilet lain di sana yang bisa dipake," kata Nathan santai.
"Tapi jam operasionalnya untuk sementara sedikit dipangkas, dari dua puluh empat jam mungkin hanya sekitar enam belas jam aja. Menurut Ayah itu wajar karena Klinik masih dalam pengawasan pihak kepolisian. Yang penting kan Klinik kembali beroperasi supaya orang-orang yang mencari nafkah di sana ga kehilangan pekerjaan dan pasien ga kebingungan" sahut Bayan yang diangguki Nathan.
"Ini berita bagus Yah. Aku rasa Hilya juga ngerti kok," kata Nathan.
"Artinya Klinik buka dari jam enam pagi sampe jam sepuluh malam aja Yah ?" tanya Nicko.
"Iya," sahut Bayan cepat.
"Wah kalo kaya gini Nathan seneng deh. Karena waktu luang Hilya lebih banyak dan ga ada shift tiga," kata Fikri sambil melirik Nathan.
Nathan pun mengangguk sambil tertawa hingga membuat semua ikut tertawa karena paham apa yang ada di benak Nathan.
Hilya menoleh karena terusik dengan tawa sang suami. Ia pun mendekat karena penasaran.
"Apa sih yang bikin Bapak-bapak ini tertawa. Seru banget keliatannya ?" tanya Hilya sambil memeluk Nathan dari belakang.
"Emang seru kok Sayang. Dan kalo Kamu denger pasti juga ikut tertawa," sahut Nathan sambil menoleh kearah Hilya.
__ADS_1
"Masa sih. Emangnya ada kabar apaan ?" tanya Hilya penasaran.
"Kata Pak Alex, Klinik Kamu bisa beroperasi lagi mulai lusa," sahut Nathan kemudian mulai menjelaskan apa yang disampaikan Bayan tadi.
"Kalo gitu Aku bakal kasih tau semuanya biar bersiap-siap," kata Hilya sambil meraih ponselnya.
Nathan tersenyum mengamati gerak-gerik istrinya. Apalagi wajah Hilya tampak berbinar bahagia saat menyampaikan kabar itu di grup WA. Hilya juga tertawa melihat respon semua karyawannya. Sikap antusias Hilya membuat semua orang yang ada di sana ikut tertawa bahagia.
\=\=\=\=\=
Bayan nampak sedang mengamati video rekaman CCTV yang ada di sekita kamar mandi klinik Hilya dimana pembunuhan itu terjadi. Rekaman CCTV itu dikirim oleh orang kepercayaannya tadi pagi. Dan di ruang kantornya lah Bayan mempelajari rekaman itu.
Beberapa saat mengamati, Bayan nampak menggaruk kepala.
"Betul yang Alex bilang. Ada yang janggal di sini. Kenapa Endah kaya lagi menatap ke satu titik sambil berjalan mundur. Keliatannya ada seseorang yang dia ajak bicara tapi kenapa orang itu ga ketangkep kamera," gumam Nathan.
"Mungkin dia makhluk halus Yah," kata Nathan tiba-tiba dari belakang Bayan.
Kedatangan Nathan tentu saja membuat Bayan terkejut. Ia memutar kursinya dengan cepat hingga berhadapan dengan Nathan.
"Astaghfirullah aladziim ..., kapan Kamu datang Nath ?. Kok ga ada suaranya sih ?" tanya Bayan sambil mengusap dadanya yang berdebar dengan telapak tangannya.
"Udah lima menit yang lalu Yah. Aku udah ngucap salam tapi Ayah ga jawab. Keliatannya Ayah terlalu fokus sama rekaman CCTV itu," sahut Nathan santai.
Dan beberapa saat kemudian Nathan mengerutkan keningnya karena melihat keanehan di sana.
"Ini ..., Bu Endah kaya lagi ngobrol sama seseorang ya Yah," kata Nathan.
"Betul. Itu yang lagi Ayah pikirin tadi. Makanya Ayah liat itu berulang-ulang. Nah coba liat yang bagian ini. Alex bilang pintu kamar mandi terbuka dan tertutup sendiri kan ?. Gimana menurut Kamu ?" tanya Bayan sambil menunjuk kearah pintu kamar mandi yang bergerak sendiri usai dimasuki Endah.
"Ada Seseorang di sana Yah !" sahut Nathan mantap.
"Iya, tapi siapa ?. Sejak awal Kita ga liat siapa pun yang ngobrol sama Bu Endah. Walau dia keliatan ngomong sama seseorang, sayangnya orang itu ga ketangkep kamera. Itu artinya Bu Endah ngobrol sama sesuatu yang ga keliatan," kata Bayan gusar.
Untuk sejenak Bayan dan Nathan terdiam. Namun sesaat kemudian Nathan menjentikkan jarinya saat teringat sesuatu.
"Coba Kita cek kejadian sesudahnya Yah," pinta Nathan.
"Kejadian yang mana maksud Kamu ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Siang itu Aku kan juga ke Kliniknya Hilya Yah. Aku keluar dari sana setelah memastikan Hilya makan siang dan minum obat. Aku mendengar jeritan itu sebelum masuk ke dalam mobil. Terus Aku balik lagi dan ngeliat orang berkerumun di sekitar kamar mandi," sahut Nathan.
__ADS_1
"Terus ?" tanya Bayan.
"Aku langsung menerobos masuk ke dalam kerumunan karena ngeliat Hilya di sana. Jujur saat itu Aku khawatir sama Hilya. Dan Aku ingat persis posisi semua orang saat itu. Kalo tebakanku ga salah ...," ucapan Nathan terputus saat Bayan mengambil alih laptop.
Kemudian Bayan memutar rekaman CCTV itu hingga akhir. Wajah Bayan saat itu tampak tegang. Rupanya ia bisa membaca jalan pikiran Nathan.
"Nah, berhenti di situ Yah !" pinta Nathan tiba-tiba.
Bayan menoleh kearah Nathan seolah minta Nathan untuk memastikan penglihatannya. Perlahan Nathan mendekatkan wajahnya ke laptop agar bisa mengamati semua orang yang ada di rekaman itu satu per satu.
Tak lama kemudian Nathan nampak mengusap wajahnya dengan kasar sambil bertasbih.
"Subhanallah ..., Laa haula wala quwwata ilaa billahill aliyyil adziim ...," kata Nathan lirih.
"Ada apa Nath ?. Kamu liat apa ?" tanya Bayan penasaran.
"Justru Aku ga ngeliat sesuatu yang harusnya ada di sana Yah," sahut Nathan sambil menatap sang ayah lekat.
"Langsung aja Nath. Ayah ga punya waktu buat main-main," kata Bayan cepat.
Nathan mengangguk lalu menunjuk layar laptop dengan jari telunjuknya yang bergetar.
"Ini Yah. Di sini Aku, di samping sini ada Hilya, di sini Riza, di sebelah sini wanita yang menjerit itu. Dan di sini ... Bu Rosi," kata Nathan dengan suara bergetar.
"Bu Rosi ?. Tapi ga ada Bu Rosi di sana Nath," kata Bayan kesal karena merasa dipermainkan.
"Sampe sini harusnya Ayah paham apa yang Kumaksud," sahut Nathan gusar.
Bayan tertegun sejenak lalu membulatkan mata karena tak percaya. Nathan yang tahu sang ayah telah paham apa yang ia bicarakan pun mengangguk mantap.
"Bu Rosi ga terlihat di rekaman itu. Dan itu artinya ... dia bukan manusia ?!" kata Bayan dengan suara tercekat.
"Iya Yah," sahut Nathan cepat.
"Astaghfirullah aladziim ..., Kita kecolongan Nath. Jadi dia lah wanita yang menjelma jadi siluman kuyang itu. Selama ini dia sembunyi di Klinik dan Kita ga tau. Jadi bener kan dugaan Ayah kalo siluman itu ada di sekitar Klinik !" kata Bayan lantang.
"Terus gimana Yah ?. Aku ga bisa diam aja karena Istri dan Anakku terancam," kata Nathan panik.
Bayan berusaha menenangkan Nathan dengan mengatakan jika Rosi tak akan datang ke klinik dalam waktu dekat karena Rosi sedang disandera di suatu tempat.
Meski tak tahu darimana sang ayah mendapat informasi itu, namun Nathan percaya. Dan kini Nathan tengah memikirkan cara untuk menjauhkan Hilya dari Kliniknya itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=