Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
247. Senja Hadir


__ADS_3

Nathan makin terkejut saat melihat sang ayah melangkah kearah rumah yang terbakar itu sambil terus memanggil nama Senja berulang kali.


Nathan pun bangkit lalu menahan tubuh sang ayah agar tak mendekati rumah yang terbakar itu.


"Jangan ke sana Yah. Bahaya !" kata Nathan lantang.


Bersamaan dengan itu beberapa warga termasuk Ponco tampak terlihat mendatangi area peternakan hingga membuat Nathan panik. Meski mereka masih berada di luar gerbang namun Nathan khawatir mereka juga melihat Rosi yang terjebak dalam kobaran api. Nathan tak ingin warga salah paham dan menuduh ia dan ayahnya membunuh seseorang di sana.


"Senjaaa ... Kamu datang Sayang. Itu Kamu kan ...," kata Bayan sambil berurai air mata.


"Ayah hentikan. Please jangan kaya gini. Banyak warga yang datang dan gimana kalo mereka curiga sama Kita Yah ?" bisik Nathan sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Bayan.


Bayan hanya menggelengkan kepala. Saat itu ia melihat dua wanita tengah berdiri berhadapan di dalam kobaran api. Bayan mengenal mereka sebagai Rosi dan Senja.


Sebelumnya Bayan melihat Rosi menoleh kearah belakang lalu membalikkan tubuhnya perlahan seolah ada seseorang yang memanggilnya. Dan sesaat kemudian Bayan melihat jelas sosok Senja datang menghampiri Rosi sambil tersenyum.


Bayan pun tertegun melihat istri pertamanya itu ada di tengah kobaran api yang melahap rumah mereka. Bayan juga sedih melihat Senja tak terusik dengan kobaran api. Saat itu Senja terlihat sangat cantik. Dengan rambut yang tergerai indah, perut membuncit sama persis seperti saat dia hamil dulu dan wajah berseri-seri disertai senyum mengembang. Dan untuk ke sekian kalinya Bayan merasa jatuh cinta pada sosok sang istri yang telah pergi meninggalkannya puluhan tahun lalu.


Sementara itu di waktu yang sama. Rosi nampak menatap Senja dengan tatapan penuh rindu. Ia bahagia melihat Senja baik-baik saja. Dalam balutan gaun berwarna kuning pucat Senja terlihat cantik dan Rosi tak tahan ingin segera memeluknya.


Dengan susah payah Rosi melangkah mendekati sang anak. Kemudian keduanya berpelukan sambil menangis.


"Anak-ku ... Senjaaaa. Sa-yangku ... Cin-taku ..., Sen-jaku ..., Senjaku Sayang ...," kata Rosi terbata-bata sambil menangis.


"Iya Bu, ini Aku ...," sahut Senja sambil membenamkan wajahnya di dalam pelukan sang ibu yang sudah tak berbentuk lagi.

__ADS_1


Disebut tak berbentuk karena saat itu kondisi Rosi sangat mengenaskan. Daging yang melekat di tubuh dan sebagian wajahnya telah terbakar dan luruh ke lantai, meleleh seperti lilin terkena panas. Pakaian yang melekat di tubuhnya pun telah habis terbakar. Kini yang tersisa hanya seonggok kerangka manusia mirip tengkorak hidup lengkap dengan sisa daging yang melekat di permukaan tubuh, wajah dan lehernya.


Kemudian perlahan Rosi mengurai pelukannya. Ia mengusap wajah Senja dengan telapak tangannya yang kini hanya berupa tulang tanpa daging. Ia juga menatap ke perut Senja dimana calon cucunya berada.


"Ka-mu mem-ba-wanya per ... gi ju-ga Nak ...," kata Rosi lirih sambil mengusap perut Senja dengan lembut.


"Iya Bu. Aku tak mau dia hidup menderita seperti Aku dan Ibu. Kutukan itu harus dihentikan dan Aku bahagia bisa melakukannya," sahut Senja sambil tersenyum.


"Ta-pi dia ... be-lum tentu pe-rem-puan Nak ...," kata Rosi susah payah.


"Aku tau. Tapi kutukan itu akan terbawa saat dia dewasa dan menikah nanti. Bisa saja justru dia menurunkan kutukan pada Anaknya kelak. Aku ga mau itu Bu ...," sahut Senja sambil menggelengkan kepala.


"Ka-mu me-mutuskan semuanya sen-di-ri. Apa Ka-mu tau Sua-mi-mu sa-ngat ter-lu-ka karenanya ...?" tanya Rosi sambil melirik kearah Bayan.


Senja menggelengkan kepala. Ia ikut menatap kearah Bayan yang saat itu sedang menatapnya. Untuk sesaat kedua sejoli yang berbeda Alam itu tampak saling menatap dengan penuh cinta dan kerinduan.


"Ka-mu be-tul. Dia ... me-mang pria yang baik. Aku ... se-nang ber-menantu-kan dia. Se-ka-rang, Aku a-kan ikut de-ngan-mu. Ba-wa lah Aku per-gi ke-ma-na pun Kamu per ... gi," pinta Rosi sungguh-sungguh.


"Tentu Bu. Aku memang datang untuk menjemputmu. Sudah beberapa hari ini Aku mengamati Ibu dari tempat tersembunyi. Aku senang karena Ibu benar-benar menepati janji untuk mengakhiri semuanya," kata Senja sambil tersenyum.


Kemudian Senja mengulurkan tangannya lalu memeluk sosok Rosi yang tak lagi utuh. Saat itu tubuh Rosi hanya tersisa rangka tulang bagian dada hingga kepala. Rupanya api telah membakar tubuh Rosi hingga membuat bagian bawah tubuhnya meleleh.


Dan saat Senja mengeratkan pelukannya, saat itu pula seluruh rangka tubuh Rosi yang tersisa termasuk leher dan kepala meleleh bak lilin yang mencair saat terkena panas. Lalu sisa lelehan itu hancur menjadi debu dan terbang tertiup angin malam.


Senja memejamkan matanya sejenak. Perlahan Senja membuka mata sambil meletakkan kedua tangannya yang ia gunakan untuk memeluk sang ibu tadi di atas perutnya yang membuncit. Kemudian Senja menatap kearah Bayan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sayaaang ...," panggil Bayan sekali lagi dengan suara parau.


Senja pun mengangguk. Sebelum lenyap dari pandangan, Senja mengucapkan sebuah kalimat yang akan terus diingat oleh Bayan sepanjang sisa hidupnya.


"Terima kasih untuk semuanya Sayang, Aku mencintaimu selalu dan selamanya ...," kata Senja yang terdengar jelas di telinga Bayan.


Usai mengatakan itu tubuh Senja pun hancur menjadi debu lalu terbang bersama angin malam yang berhembus. Uniknya debu itu terbang kearah terbangnya debu milik Rosi.


Bayan menatap nanar kearah terbangnya debu milik Senja sambil menitikkan air mata. Sejenak Bayan tertegun melihat Senja dan Rosi yang berdiri bersisian. Mereka tampak tersenyum sambil melambaikan tangan kearahnya. Posisi keduanya seolah berada di langit tepat di samping bulan purnama yang bersinar cantik itu. Sesaat kemudian kedua wanita itu hilang, lenyap tanpa bekas.


Ketika Senja dan Rosi tak lagi terlihat olehnya, tubuh Bayan pun melemah lalu merosot jatuh ke tanah. Rupanya Bayan tak kuasa menahan haru dan sedih secara bersamaan hingga akhirnya jatuh pingsan. Beruntung Nathan masih memeluk sang ayah dengan erat. Hingga saat tubuh Bayan merosot ke tanah, Nathan masih menahan kepalanya agar tak membentur tanah yang lumayan keras itu.


"Ayaahhh ...!" panggil Nathan sambil terus memeluk ayahnya dengan erat.


Ponco dan warga yang berhasil menerobos masuk pun bergegas menghampiri Nathan. Kemudian mereka membantu Nathan menggotong tubuh sang ayah masuk ke dalam rumah besar.


"Wajar kalo Pak Bayan shock ngeliat rumahnya terbakar," kata salah seorang warga.


"Betul," sahut semua orang.


"Beruntung ga merembet ke rumah ini," kata warga lainnya.


"Mungkin hewan langka peliharaan Pak Bayan lah yang menyebabkan kebakaran. Keliatannya hewan itu bergerak liar dan tak terkendali hingga tak sengaja menyebabkan titik api dan berujung kebakaran," kata seorang warga.


Warga yang lain pun mengangguk karena Ponco telah mengatakan itu saat mereka tertahan di gerbang peternakan tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2