Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
215. Pasien RSJ


__ADS_3

Rosi pulang ke rumah dengan perasaan kacau. Ia kesal karena harus melihat Bayan dan Nathan tadi.


Rupanya saat berusaha menghindari bidan Intan, Rosi justru melihat Bayan dan Nathan sedang duduk bersama warga di depan rumah duka. Saat itu Bayan dan Nathan nampak sedang bicara serius dengan warga entah tentang apa.


"Kenapa mereka di sini juga sih. Dan kenapa perasaanku jadi ga enak ngeliat mereka. Jangan-jangan mereka mau nyelidikin penyebab kematian Serena. Tapi untuk apa ?. Apa hak mereka menyelidiki kematian bocah itu ?" batin Rosi gusar.


Saat Rosi hendak menutup pintu, ia melihat Avin yang sedang menangis didalam gendongan papanya. Rosi tersenyum lebar karena mendapat kesempatan untuk 'mengisi energi' setelah beberapa hari libur.


Rosi pun mencoba menyapa sang batita yang seusia Serena itu dengan ramah.


"Lho kok Avin nangis. Kenapa Sayang ?" sapa Rosi sambil mendekati Avin.


"Biasa Wak. Minta main sama Rena katanya. Tapi Kita kan tau kalo Rena udah ga bisa main sama-sama lagi," sahut papa Avin sambil tersenyum getir.


"Oh gitu. Terus Papa Avin mau kemana, kok udah rapi gini ?" tanya Rosi basa basi.


"Mau takziah ke rumah Rena Wak. Dari semalam belum takziah kan Saya baru pulang kerja. Mama Avin lagi ke mini marketing sebentar, mau beli susu katanya," sahut papa Avin gusar.


Melihat kegusaran di wajah papa Avin membuat Rosi tersenyum. Ia tahu jika pria itu membutuhkan bantuannya seperti biasa.


"Gimana kalo Avin main sama Uwak aja yuk. Biar Papa ke sana dulu bantuin Papanya Nena," bujuk Rosi dengan lembut.


Aneh. Ucapan Rosi dipatuhi begitu saja oleh batita itu. Avin nampak merentangkan tangannya kearah Rosi pertanda batita itu minta digendong oleh Rosi.


Papa Avin dan Rosi tertawa melihat tingkah lucu batita itu.


"Titip Avin sebentar ya Wak. Saya mau takziah ke rumah Rena dulu," kata papa Avin.


"Iya. Udah sana mumpung Avin mau nih sama Saya," usir Rosi halus.


Papa Avin mengangguk lalu bergegas meninggalkan Avin dan Rosi. Kemudian Rosi membawa Avin masuk ke dalam rumahnya untuk bermain seperti biasa.

__ADS_1


Papa Avin pun tiba di depan rumah Serena. Ia menjabat tangan para pria yang duduk di sana termasuk Bayan dan Nathan. Setelahnya pria itu masuk ke dalam rumah dimana jenasah Serena berada.


Papa Avin berusaha menahan tangis melihat kondisi Serena yang mengenaskan itu. Wajah dan tubuh batita itu nampak membiru dan kulitnya sedikit berkerut seolah kehabisan darah. Papa Avin tak menyangka jika dua hari yang lalu adalah hari terakhir ia bisa melihat Serena tertawa. Sebab setelahnya ia tak pernah bertemu lagi dengan batita cantik itu. Dari sang istri ia tahu jika Serena demam dan tak keluar seharian. Tapi semalam ia terkejut mendengar kabar meninggalnya Serena.


"Turut berduka cita ya Mas. Yang sabar," kata papa Avin sambil memeluk papa Serena.


"Iya, Papa Avin. Makasih," sahut papa Serena sambil menitikkan air mata.


Kedua pria itu memang dekat. Apalagi mereka memiliki anak yang usianya sebaya. Mereka sering kali bergurau dengan saling memanggil besan karena berharap Avin dan Serena bisa menikah kelak. Semua warga tahu bagaimana hubungan dua keluarga kecil itu. Apalagi Avin dan Serena memang nampak dekat dan saling menyayangi.


"Nena mau dimakamin dimana ?" tanya papa Avin kemudian.


"Mau dimakamin di pemakaman Jeruk Purut aja. Deket, biar gampang kalo kangen dan mau ziarah ke sana," sahut papa Serena sendu.


Papa Avin mengangguk. la mengatakan akan menunggu di luar rumah saat dilihatnya ada warga lain yang akan masuk untuk bertakziah.


Saat tiba di luar, papa Avin duduk di kursi tepat di samping Nathan yang kebetulan kosong. Papa Avin mencoba menyimak pembicaraan warga di sana. Saat itu papa Avin baru tahu jika anak-anak di sekitar rumahnya juga mengalami sakit yang sama dengan Serena.


Tiba-tiba seorang warga menyapanya dan bertanya tentang Avin.


"Alhamdulillah Gapapa Pak. Avin sehat kok," sahut papa Avin cepat.


"Syukur deh. Sekarang Avin dimana ?" tanya warga yang lain.


"Saya titipin ke Wak Rosi kaya biasa. Abisnya Avin nangis terus daritadi, Saya sampe bingung. Mau diajak ke sini, ga enak kalo nangis kaya gitu. Apalagi Mamanya ga di rumah, lagi ke mini market buat beli susu. Untung ada Wak Rosi. Waktu diajak Wak Rosi, Avin langsung diem, anteng," sahut papa Avin cepat.


"Oh gitu. Bu Rosi itu emang pandai mengambil hati Anak-anak. Seheboh apa pun ngamuknya si Anak, kalo sama Bu Rosi pasti langsung diem. Salut Saya sama Bu Rosi," kata warga sambil tersenyum.


"Betul. Keponakan Saya yang nakalnya minta ampun, kalo ketemu Bu Rosi langsung kicep. Manut kaya kerbau dicucuk hidungnya," kata seorang pria sambil tertawa.


"Iya. Saya juga pernah liat tuh si Adit langsung ga jadi mukul temennya gara-gara liat Bu Rosi geleng-geleng kepala," sahut warga lainnya ikut tertawa.

__ADS_1


Percakapan warga membuat Bayan dan Nathan terkejut lalu saling menatap penuh makna.


"Ehm, maaf. Bu Rosi yang dimaksud apa sama ya kaya Bu Rosi yang Kami kenal ya ?" tanya Bayan.


"Maksudnya Bapak lagi cari orang ?. Emangnya Bu Rosi apanya Bapak ?" tanya warga mewakili rasa penasaran warga lainnya.


"Ciri-cirinya aja Pak, kalo ga ada fotonya," sela warga yang lain saat melihat keraguan di wajah Bayan.


"Wajahnya tirus, rambutnya keriting, kulitnya pucat. Masih terlihat cantik di usianya yang udah lima puluh tahunan Pak," sahut Nathan mewakili sang ayah.


"Ada tahi lalat di ujung hidung ya ?" tanya papa Avin.


"Betul," sahut Nathan cepat.


"Emangnya Bu Rosi siapanya Kalian ?" tanya papa Avin.


"Mmm ..., Kami ini cuma kerabatnya Bu Rosi. Suaminya Bu Rosi temenan sama Ayah Saya. Semasa hidupnya temen Ayah Saya menitipkan Bu Rosi sama Kami. Yah, maklum lah Bu Rosi kan sakit, suka ngamuk dan berhalusinasi," sahut Nathan berbohong.


"Masa sih. Tapi selama tinggal di sini Bu Rosi ga pernah ngamuk kok," kata beberapa warga tak percaya.


"Bu Rosi bakal ngamuk di waktu tertentu aja Pak. Kata dokter Rumah Sakit Jiwa yang merawatnya dulu, Bu Rosi diminta untuk rutin minum obat dan check up. Kami ga bisa melakukan itu karena Bu Rosi hilang. Beberapa bulan ini ga ketemu, ga taunya dia sembunyi di sini," kata Nathan sambil tersenyum kecut.


"Jadi Wak Rosi itu pasien Rumah Sakit Jiwa ?" tanya papa Avin sambil bangkit dari duduknya.


"Iya," sahut Nathan.


"Wah kalo gitu bahaya dong. Anak Saya sama dia sekarang !" kata papa Avin lantang lalu bergegas lari menuju rumah Rosi diikuti beberapa warga.


Bayan dan Nathan pun ikut lari mengikuti warga menuju Rumah Rosi. Saat tiba di sana papa Avin langsung mengetuk pintu dengan keras sambil memanggil anaknya.


"Avin !. Aviiinnn ...!. Ayo pulang Nak, Mama udah datang bawa susu tuh !" kata papa Avin lantang sambil terus mengetuk pintu.

__ADS_1


Suara ketukan di pintu yang lebih menyerupai gedoran itu mengejutkan Rosi. Ia merasa kedatangan papa Avin mengganggu kesenangannya. Rupanya Rosi baru saja menghirup darah Avin. Dan kini Avin sedang pingsan di dalam pelukan Rosi karena tak kuasa menahan sakit di kepalanya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2