Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
148. Luka Bayan


__ADS_3

Setelah mengubur sisa pakaian ibunya, Fikri pun berdoa sejenak. Kemudian ia menghampiri Bayan dan Nathan yang setia menemaninya.


"Udahan Bang ?" tanya Nathan.


"Udah Nath, makasih," sahut Fikri sambil mengangguk.


Nathan tersenyum lalu menoleh kearah ayahnya.


"Kalo gitu Kita balik sekarang ya Yah," ajak Nathan yang diangguki Bayan dan Fikri.


"Biar Abang yang bawa mobil buat anter Ayah ke Rumah Sakit ya Nath. Kamu bawa motor aja," pinta Fikri.


Nathan nampak berpikir sejenak. Sesungguhnya ia merasa keberatan dengan permintaan Fikri. Bagaimana pun Nathan ingin berada di sisi ayahnya saat ini. Apalagi tak ada yang tahu apa-apa tentang kondisi luka Bayan akibat gigitan kuyang itu. Namun melihat ayahnya mengangguk, Nathan pun terpaksa mengalah.


"Ok Bang. Aku ngikutin dari belakang ya," kata Nathan.


Fikri mengangguk lalu memapah Bayan yang mulai terlihat lemas. Nampaknya darah dari luka gigitan siluman kuyang itu lumayan banyak. Terbukti dari sebagian pakaian Bayan nampak berwarna kemerahan karena darah yang merembes hingga ke dada.


Setelah mendudukkan Bayan di kursi samping kemudi, Fikri bergegas masuk lalu menstarter mobil. Tak lama kemudian Bayan, Fikri dan Nathan meninggalkan tempat itu diiringi senandung adzan Subuh yang berkumandang di kejauhan.


Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Bayan menyempatkan diri mengatakan sesuatu pada Fikri.


"Fikri ...," panggil Bayan sambil memejamkan matanya karena mulai merasa pusing akibat banyak kehilangan darah.


"Iya Yah," sahut Fikri cepat.


"Nanti sampe Rumah Sakit jangan ceritain apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka ga bakal percaya Fik. Daripada Kamu sakit hati karena ucapanmu ga dipercaya, ada baiknya Kamu bilang aja kalo Ayah digigit anjing gila. Selain bakal cepet dapat pertolongan medis, Ayah juga merasa perlu vaksin rabies. Karena Kita kan ga tau kuman apa aja yang nyangkut di gigi siluman itu," kata Bayan.


Fikri nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Tapi Aku boleh kasih tau Bunda dan Istriku kan Yah ?" tanya Fikri.


"Tentu saja. Tapi tetap rahasiakan tentang Ibumu yang menjelma jadi kuyang itu dari siapa pun termasuk Istrimu ya Nak. Kasian Ayu kalo tau bayi dalam kandungannya dimangsa oleh mertuanya sendiri. Apalagi kalo dia juga tau kalo Ibumu lah yang mencoba menyakiti Arafah waktu itu. Simpan saja kisah tentang Ibumu itu untuk dirimu sendiri. Biarkan nama Ibumu tetap harum di hadapan menantu dan cucunya," kata Bayan bijak.

__ADS_1


"Baik Yah, makasih," sahut Fikri sambil menatap Bayan yang terpejam di sisinya.


Dalam hati Fikri bersyukur bertemu dengan Bayan. Karena Bayan mengajarinya cara menghadapi kuyang yang juga ibunya itu dengan baik. Bahkan Bayan juga memintanya menyimpan rahasia sang ibu hanya karena ingin Ayu dan Arafah tetap menghormatinya sebagai sosok wanita yang baik.


Fikri mengusap matanya yang basah diam-diam karena tak ingin mengganggu Bayan yang mulai terlelap. Lalu pandangannya kembali kearah depan tepat di jalan raya yang akan ia lalui.


\=\=\=\=\=


Anna dan Ayu tergesa-gesa melangkah memasuki loby Rumah Sakit. Di belakang mereka Nicko nampak mengikuti sambil menggendong Arafah.


"Ga usah lari Bund, Mbak. Ayah udah ditangani dokter kok !" kata Nicko sedikit lantang karena khawatir melihat kedua wanita itu hampir saja menabrak perawat yang melintas.


"Iya ...," sahut Anna dan Ayu bersamaan.


Nicko menggelengkan kepala kemudian menoleh kearah Arafah yang ada di dalam dekapannya. Saat itu Arafah nampak bingung melihat sekelilingnya yang dipadati orang berpakaian serba putih.


"Kenapa, Arafah bingung ya ?" tanya Nicko sambil tersenyum.


"Iya," sahut Arafah sambil mengangguk cepat.


"Dadaaahh ...," kata Arafah tiba-tiba dengan mimik wajah lucu sambil melambaikan tangannya dengan mata tertuju ke sebuah tempat kosong di sudut ruang tunggu.


"Arafah dadah sama siapa ?" tanya Nicko bingung sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Tuuhh ...," sahut Arafah sambil menunjuk kearah tempat kosong itu.


"Ada apa di sana ?" tanya Nicko sambil ikut menatap kearah yang ditunjuk Arafah.


"Ada Ante ambut acak-acak," sahut Arafah cuek.


Jawaban Arafah membuat bulu kuduk Nicko meremang. Meski pun saat itu cuaca pagi terang benderang, namun Nicko yakin jika Arafah baru saja melihat penampakan makhluk halus tadi.


Tak ingin terjadi sesuatu pada keponakan cantiknya, Nicko pun mempercepat langkahnya agar bisa segera menjauh dari tempat itu.

__ADS_1


Nicko tersenyum lebar saat melihat Fikri menyambutnya dengan tangan terentang. Menyambut Arafah lebih tepatnya karena Arafah nampak melonjak riang saat melihat Fikri. Dengan sigap Fikri meraih Arafah dari gendongan Nicko lalu memeluk sang anak dengan erat.


\=\=\=\=\=


Luka Bayan pun sembuh lebih cepat dari dugaan. Kini Bayan bahkan sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Walau rasa nyeri kadang menerpa namun Bayan menganggapnya angin lalu.


Seperti hari ini Bayan tengah duduk sambil mengamati pergerakan semua orang. Ia nampak gagah dengan out fitnya. Sesaat kemudian ia menoleh lalu tersenyum melihat kehadiran Anna dengan setelan kebaya dan jarik batiknya. Rupanya mereka tengah bersiap menggelar acara pernikahan Nicko dan Ramadhanti.


"Cantik," puji Bayan sambil berdiri lalu mengulurkan tangannya kearah sang istri.


Anna pun menyambut uluran tangan Bayan yang merengkuh pinggangnya.


"Masa sih. Ayah nih emang paling bisa kalo disuruh ngegombal," kata Anna sambil menepuk lembut lengan sang suami.


"Ayah serius Bund. Biar pun Kita ga muda lagi, tapi buat Ayah kecantikan Bunda tuh tetap memukau. Pas, ga berlebihan dan cocok dengan usia," sahut Bayan sungguh-sungguh.


"Emangnya ada orang yang cantiknya ga sesuai usia Yah ?" tanya Anna sambil mengerutkan keningnya.


"Ada Bund. Orang yang ga sadar kalo umurnya udah tua tapi masih pengen terlihat kaya anak ABG. Yang melakukan banyak cara supaya terlihat tetap muda dan fresh sampe penampilannya malah sebelas dua belas sama Anak gadisnya. Bukan itu malah terlihat aneh Bund ?" tanya Bayan.


"Iya juga sih," sahut Anna sambil tersenyum.


"Kalo Aku sih lebih seneng kaya Istriku ini. Terlihat makin matang di usia yang memang udah matang. Tampil lebih elegan dan patut. Ini lebih membuatku nyaman. Daripada kaya temenku yang jalan bareng Istrinya tapi malah kaya jalan sama keponakannya karena penampilan mereka terlihat jomplang. Yang cowok dewasa cenderung tua, eh yang cewek malah kaya Anak ABG labil karena tampil dengan full make up dan bergerak terlalu lincah kaya bola bekel," kata Bayan sambil mencibir.


Ucapan Bayan membuat Anna tertawa. Ia pun memeluk Bayan erat dan membiarkan sang suami mendaratkan ciuman di keningnya.


"Semua udah siap Yah, Bund !" kata Nathan lantang dari ambang pintu.


"Iya iya. Ga usah teriak kan bisa Nath. Bunda sama Ayah ga tuli kok," kata Anna sambil melangkah menuju pintu.


"Harus teriak supaya Ayah sama Bunda ga kebablasan," gurau Nathan sambil tertawa.


Anna dan Bayan saling menatap sejenak kemudian tersenyum karena sadar aksi mesra mereka terciduk oleh Nathan tadi.

__ADS_1


"Sekarang Kamu ngeledekin Bunda ya Nath. Suatu saat gantian Bunda yang bakal ngerjain Kamu biar Kamu tau gimana rasanya diganggu saat sedang asyik bercengkerama sama pasangan," kata Anna hingga membuat Nathan kembali tertawa.


\=\=\=\=\=


__ADS_2