Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
211. Kabar dari Dokter


__ADS_3

Pintu ruang bersalin terbuka lebar dan memperlihatkan isinya dengan jelas. Tak ada siapa pun di sana tapi semua perabotan yang ada di dalam sana bertebaran di lantai. Ya, ruang bersalin berantakan seperti kapal pecah seolah ada badai yang baru saja menerjang.


"Ini ... apa memang begini kondisi ruang bersalin Suster ?" tanya Nathan sambil menoleh kearah sang perawat.


Pertanyaan Nathan seperti sindiran karena ruang bersalin yang digunakan untuk membantu wanita melahirkan itu nampak kacau dan tak terurus.


Sang perawat nampak salah tingkah karena merasa tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Bagaimana pun pria di hadapannya adalah suami Hilya, pemilik sekaligus pengelola Klinik Bersalin Hilya. Jadi wajar jika sang perawat khawatir dipecat.


"Ga mungkin Pak. Ehm, maksud Saya biasanya ruang bersalin rapi bersih dan teratur. Semua alat ada di tempatnya dan tersusun rapi," sahut sang perawat dengan cepat.


"Jadi ..., yang Saya liat ini apa Suster ?" tanya Nathan lagi.


"Mmm ..., maaf Pak. Saya bakal urus ini secepatnya," sahut sang perawat tak enak hati.


Nathan mengangguk lalu segera berlalu. Ia tahu ada sesuatu yang tak beres di ruang bersalin karena sebelumnya ia melihat ada seorang wanita yang masuk ke sana.


"Masa itu hantu. Terus kalo emang hantu, mana mungkin bisa berantakin isi ruangan kaya gitu," gumam Nathan sambil menggelengkan kepala.


Sedangkan perawat yang tadi bicara dengan Nathan masih berdiri di ambang pintu ruang bersalin. Sesaat kemudian ia menghela nafas panjang lalu bergegas menutup pintu ruangan itu. Setelahnya ia melangkah ke ruangan bidan Intan. Rupanya sang perawat berniat melaporkan kejadian tak wajar itu kepada bidan Intan.


Setelah menerima laporan sang perawat, bidan Intan tak bisa langsung mengecek kondisi ruang bersalin karena saat itu ia sedang sibuk dengan pasien-pasiennya.


Bidan Intan baru mengecek kondisi ruang bersalin saat malam hari karena pengunjung klinik mulai berkurang.


"Dimana kunci ruang bersalin itu Suster ?" tanya Intan.


"Masih Saya pegang Bu. Saya ga mau ada orang lain yang tau dan malah jadi gosip ga sedap nanti," sahut sang perawat sambil tersenyum getir.


Bidan Intan mengangguk karena maklum dengan perasaan sang perawat saat ini. Bagaimana tidak. Saat Nathan melihat isi ruang bersalin yang berantakan, saat itu lah kredibilitas sang perawat diragukan. Padahal selama ini ia telah berusaha bekerja dan melakukan semuanya sebaik mungkin.


Bidan Intan berhenti melangkah tepat di depan ruang bersalin. Ia menoleh kearah sang perawat dan memintanya membuka pintu. Sang perawat mengambil anak kunci dari saku bajunya lalu mulai membuka pintu.

__ADS_1


"Saya juga ga ngerti kenapa ruangan ini bisa beran ...," ucapan sang perawat terputus karena saat itu ruang bersalin dalam keadaan baik-baik saja.


Bidan Intan nampak menatap sang perawat dengan tatapan bingung. Sedangkan sang perawat hanya bisa mengerjapkan mata karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Ini ..., kok udah rapi. Siapa yang beresin tempat ini ?" tanya sang perawat sambil mengamati ruangan.


"Ck, Kamu ga lagi ngajak Saya bercanda kan Sus. Kalo emang itu niatmu, selamat. Saya bakal tertawa sekarang," kata bidan Intan sambil bersiap membuka mulut untuk tertawa.


"Saya ga bercanda Bu Intan, Saya serius !. Pak Nathan saksinya kalo Bu Intan ga percaya. Tadi Saya sama Pak Nathan membuka ruangan ini dan melihat isinya berantakan. Meja ini ada di sebelah sana, semua peralatan medis berhamburan di lantai, posisi tempat tidur juga ga kaya gini. Wah, pokoknya berantakan banget Bu !" kata sang perawat berusaha meyakinkan.


Ucapan sang perawat mau tak mau membuat bidan Intan terdiam. Apalagi sang perawat juga melibatkan nama Nathan tadi. Rasanya tak mungkin Intan meragukan ucapan Nathan jika suami rekannya itu mengatakan hal yang sama bukan ?.


"Ehm. Kita keluar sekarang yuk Sus," ajak Intan setelah terdiam beberapa saat.


"Iya Bu. Tapi Saya beneran ga bohong lho Bu. Tadi ruangan ini berantakan banget, dan itu bikin Saya ga enak sama Pak Nathan. Saya berpikir untuk ngasih tau Bu Intan karena Bu Intan adalah orang yang bertanggung jawab sama ruangan ini," kata sang perawat dengan gusar.


"Iya iya. Saya percaya sama Kamu Suster. Sekarang Kita keluar ya, tutup pintu dan jangan lupa dikunci," kata Intan dengan sabar.


Kemudian bidan Intan dan sang perawat pun bergegas menjauh dari ruang bersalin usai menutup dan mengunci pintu.


\=\=\=\=\=


Nathan menceritakan apa yang ia lihat di ruang bersalin tadi pada sang ayah. Bayan menyimak cerita Nathan lalu menganggukkan kepala.


"Ga usah terlalu dipikirin Nath. Bisa aja itu cuma ilusi," kata Bayan.


"Kalo cuma ilusi harusnya Aku sendiri yang ngeliat dong Yah. Buktinya perawat itu juga ngeliat apa yang Aku liat. Kamar berantakan dan kotor mirip kapal pecah," kata Nathan dengan enggan.


"Kita kan lagi ngejar siluman kuyang. Jadi wajar kalo ada sesuatu yang ga wajar yang mengikuti. Entah ini berkaitan atau ga, tapi Ayah minta Kamu tenang. Ga usah terprovokasi dengan apa pun yang Kamu liat Nath," kata Bayan dengan mimik wajah serius.


"Ok, Aku coba ya Yah," sahut Nathan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bagus. Fokus aja sama Hilya dan bayi Kalian. Ingat, kehamilan Hilya masuk usia tujuh bulan. Itu artinya segala kemungkinan bisa aja terjadi. Ayah ga berharap bayimu lahir prematur, tapi ngeliat Hilya yang selalu gelisah dan ketakutan bikin Ayah khawatir juga," kata Bayan gusar.


"Biar Aku yang urus Hilya Yah. Insya Allah Aku akan menjaga Hilya dan bayi Kami dengan baik nanti," janji Nathan.


"Sekarang pergi lah. Hilya pasti menunggumu," kata Bayan sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Terus Ayah gimana ?. Apa Ayah gapapa kalo Aku tinggal sendirian di sini ?" tanya Nathan.


"Insya Allah Ayah gapapa Nath. Lagian banyak orang di sini, ada security juga kok, jadi Ayah ga sendirian kan ?" gurau Bayan yang disambut senyum lebar sang anak.


Tiba-tiba ponsel Nathan berdering. Tertulis nama dokter Abraham di layar ponsel dan itu membuat Nathan khawatir.


"Assalamualaikum dokter Abraham !" sapa Nathan.


"Wa alaikumsalam Mas Nathan. Lagi ada dimana sekarang ?" tanya dokter yang merawat Hilya itu dengan ramah.


"Masih di jalan otw ke Rumah Sakit dok. Ada apa ya ?" tanya Nathan.


"Oh syukur lah. Saya cuma mau ngasih tau kalo Saya menemukan sesuatu di kandungan Mbak Hilya tadi," sahut dokter Abraham.


"Sesuatu apa dok ?. Bahaya ga ?" tanya Nathan panik.


"Kita bicara nanti saat Mas Nathan sampe di Rumah Sakit ya. Tenang aja Mas, ga usah ngebut. Ingat Anak dan Istrimu menunggu di sini lho," kata dokter Abraham berusaha menenangkan Nathan.


"Ok dok, insya Allah Saya langsung nemuin dokter saat Saya sampe nanti," sahut Nathan di akhir kalimatnya.


Nathan menoleh kearah sang ayah untuk berpamitan. Bayan pun mengangguk sambil tersenyum. Bahkan sesekali Bayan mengusap kepala Nathan dengan lembut.


Sesaat kemudian Nathan bergegas pergi menuju Rumah Sakit dan meninggalkan sang ayah di Klinik Bersalin Hilya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2