
Melihat siluman kuyang itu menjerit histeris membuat Fikri tersentuh. Ia melangkah lebih dekat karena ingin menenangkan siluman kuyang itu.
"Jangan Fikri !" kata Bayan.
"Gapapa Yah. Aku cuma mau menyapa Ibuku aja," sahut Fikri tanpa menoleh kearah Bayan.
"Jangan bodoh Fikri. Saat ini Ibumu sedang tak mengingat apa pun. Kalo pun ingat paling hanya sekitar lima persen. Dirinya sekarang sedang dikuasai hasrat membunuh yang kuat. Apalagi dia tau Kita lah yang telah menghalangi niatnya untuk kembali ke tubuhnya itu. Jadi sebaiknya Kamu mundur sekarang !" kata Bayan gusar.
Saat Bayan baru saja mengakhiri kalimatnya, siluman kuyang itu melesat cepat lalu menyerang Fikri dengan brutal. Fikri yang nampak shock karena tak menyangka jika siluman kuyang jelmaan ibunya itu akan menyerangnya pun hanya bisa berkelit ke samping untuk menghindar.
Nathan yang memang siaga sejak tadi pun maju menghadang dan langsung melayangkan pukulan kearah siluman kuyang itu. Tinjunya tepat mengenai siluman kuyang hingga siluman itu terhempas ke belakang beberapa meter. Setelahnya Nathan menarik Fikri untuk menjauh.
"Ayah udah ingetin Abang daritadi. Kenapa Abang ga ngerti juga sih ?!" kata Nathan marah.
"Aku pikir Ibu mau ngobrol sama Aku Nath. Makanya Aku deketin tadi !" sahut Fikri tak mau kalah.
"Iya, tapi itu bahaya tau ga ?!" kata Nathan kesal.
"Sudah Anak-anak, jangan bertengkar dulu. Ada hal yang lebih penting yang butuh konsentrasi Kita sekarang !" kata Bayan menengahi.
"Iya Yah, maaf," sahut Nathan dan Fikri bersamaan.
Seolah baru tersadar jika Bayan terluka, Fikri pun panik. Ia bergegas menghampiri Bayan untuk melihat lukanya.
"Ayah terluka, parah ga ?" tanya Fikri cemas.
"Gapapa Fik. Kita fokus sama kuyang itu dulu ya. Masalah luka bisa diobati nanti," sahut Bayan cepat sambil berlalu.
Fikri mengangguk lalu mengikuti Bayan dan berdiri tepat di samping kirinya. Sedangkan Nathan kembali siaga dengan berdiri di hadapan ayahnya. Kini ketiganya berdzikir sambil memasang sikap siaga menghadapi serangan siluman kuyang itu.
Di depan sana siluman kuyang yang terhempas di udara itu nampak berbalik arah. Karena yakin akan gagal menyerang Bayan, Nathan dan Fikri, siluman kuyang itu pun kembali melesat mendatangi tubuhnya.
Dengan kekuatan penuh siluman kuyang itu berusaha menyatukan kepala dengan tubuhnya. Sedetik kemudian siluman kuyang itu menjerit karena bagian lehernya terluka parah dan berdarah. Tetesan darah pun nampak terlihat di bagian bawah tubuh siluman kuyang itu.
Bayan, Nathan dan Fikri pun memperkeras bacaan dzikir mereka hingga membuat siluman kuyang itu panik.
Malam kian merambat naik hingga masuk waktu dini hari. Dan selama itu pula siluman kuyang itu terus tersiksa dengan rasa sakit akibat luka tergores potongan ranting di lehernya. Selain itu siluman kuyang juga merasa tak nyaman mendengar dzikir yang dilantunkan Bayan, Nathan dan Fikri secara bersamaan. Berkali-kali ia mencoba menghentikan ketiga pria di hadapannya itu namun gagal.
__ADS_1
Dan saat memasuki waktu fajar, siluman kuyang itu kembali menjerit histeris. Ia tak lagi peduli dengan tiga orang di hadapannya. Ia hanya fokus untuk menyatukan tubuhnya kembali.
Sadar jika pagi segera tiba, siluman kuyang itu nekat menyatukan leher dengan tubuhnya.
Akibat penyatuan yang dilakuan secara paksa menimbulkan letupan di leher siluman kuyang itu. Rupanya potongan ranting dan tusuk gigi yang diletakkan Bayan dan Nathan tadi telah melukai leher siluman kuyang berikut organ dalamnya yang menggantung itu.
Suara letupan diiringi darah yang muncrat keluar dari leher pun terjadi bersamaan dengan bersatunya kepala dan tubuh mak Ejah. Setelahnya mak Ejah nampak menggelepar di tanah sambil memegangi lehernya yang terluka dan berdarah itu.
"Ibuuu ...!" panggil Fikri sambil menghambur mendekati mak Ejah.
"Sa-Saba. Kau ... kah itu ?" tanya mak Ejah dengan kondisi setengah terpejam.
"Iya Bu. Ini Aku, Saba ...," sahut Fikri sambil menyentuh tangan mak Ejah.
"Ja-jadi ... Kamu tau si-siapa Ibumu ini kan ... Saba ?" tanya mak Ejah terputus-putus.
Fikri hanya mengangguk dengan wajah berurai air mata. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan mak Ejah yang berangsur menjadi dingin dan membeku.
"Jadi ... ternyata Ibu juga yang udah menyerang Anak dan Istriku ?. Iya kan Bu ?" tanya Fikri dengan suara bergetar.
Mak Ejah mengangguk tanpa suara. Wajahnya kian memucat dan nafasnya pun tersengal-sengal. Sementara darah dari luka di lehernya kian deras dan telah membasahi pakaian yang ia kenakan.
"Kenapa Bu. Kenapa Ibu kaya gini. Apa yang Ibu mau. Apa Ibu ga kasian sama semua korban Ibu yang rata-rata adalah bayi dan Ibu hamil itu ?" tanya Fikri sambil menitikkan air mata.
Mak Ejah menggelengkan kepala. Ia sadar jawabannya tak akan memuaskan keingin tahuan Fikri.
"I-ni ku-tu-kan Saba. A-Aku juga ga ingin ta-tapi ... sulit ...," kata mak Ejah terbata-bata.
"Apa Ibu tau, diantara para korban Ibu ada Anak dan Istriku di sana ?" tanya Fikri.
Mak Ejah mengangguk sambil berurai air mata.
"Aku tau me-mereka keluargamu se-setelah melihat tanda lahirmu. Apalagi darah bayimu berbeda dengan darah bayi lainnya yang pernah Aku nikmati," sahut mak Ejah sambil menitikkan air mata.
Fikri mengusap air matanya dengan kasar usai mendengar pengakuan Mak Ejah. Kemudian ia mengusap lembut kepala mak Ejah yang kian melemah itu dengan tangannya yang gemetar.
"Bertobat lah Bu. Bertobat lah ...," pinta Fikri dengan suara bergetar.
__ADS_1
Mak Ejah nampak tersenyum seolah menikmati belaian kasih sayang anak semata wayangnya itu. Dan perlahan mautnya pun tiba.
Sebelum nafasnya benar pergi dari raganya, mak Ejah menyentuh wajah Fikri sambil mengucapkan permintaan maaf sekali lagi.
"Ma-afkan Aku Saba. To-tolong jangan benci A-Aku ...," kata mak Ejah lirih.
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, mak Ejah pun mendelikkan matanya. Sesaat kemudian mak Ejah meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan dengan leher terkoyak, mulut mnyeringai dan kedua mata melotot.
Mengetahui sang ibu telah pergi untuk selamanya, Fikri pun mengucap istirja sambil berusaha menutup rapat mulut dan kedua mata mak Ejah dengan mengusapnya secara perlahan sambil berdzikir.
Upaya Fikri pun berhasil membuat mata dan mulut Mak Ejah tertutup sempurna.
"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun ...," kata Fikri lirih diikuti Bayan dan Nathan.
Kemudian Fikri memeluk jasad mak Ejah beberapa saat. Hingga Bayan menepuk bahunya dan meminta Fikri melepaskan Mak Ejah.
"Lepaskan Ibumu Fikri," kata Bayan.
"Iya Yah. Aku sudah mengikhlaskannya," sahut Fikri sedih.
"Maksudku lepaskan jasad Ibumu dalam arti sesungguhnya sekarang. Sebentar lagi akan ada kejadian tak terduga," kata Bayan dengan mimik wajah serius.
Fikri pun mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Ia berdiri bersama Bayan dan Nathan sambil menatap jasad mak Ejah yang mengenaskan itu.
Sesuatu yang di luar nalar pun terjadi. Kedua mata mak Ejah yang semula terpejam itu tiba-tiba terbuka meski pun tatapannya kosong. Begitu pun mulut Mak Ejah yang semula tertutup rapat kini terbuka dan menampilkan gigi-gigi taring yang tajam mencuat memenuhi rongga mulutnya.
Belum hilang rasa terkejut Bayan, Nathan dan Fikri, tiba-tiba jasad mak Ejah menyusut lalu hancur menjadi debu. Kemudian debu dari jasad mak Ejah terbang terbawa angin fajar yang berhembus dingin dan hilang begitu saja tanpa bekas.
"Selesai sudah ...," kata Bayan sambil mengusap wajahnya.
"Kemana debu itu pergi Yah ?" tanya Fikri.
"Ayah ga tau Nak. Tapi yang pasti jiwa Ibumu telah kembali ke sang pemilik kehidupan yaitu Allah Yang Maha Hidup," sahut Bayan sambil tersenyum.
"Boleh kah Aku mengubur pakaian terakhir Ibuku Yah ?" tanya Fikri penuh harap.
"Tentu saja," sahut Bayan cepat.
__ADS_1
Fikri tersenyum lalu bergegas meraih sisa pakaian mak Ejah yang teronggok di tanah. Kemudian ia menggali tanah tak jauh dari pohon lalu mengubur pakaian mak Ejah di sana.
\=\=\=\=\=