Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
88. Disantet


__ADS_3

Saat Nathan menceritakan dirinya ditugaskan mengawal Mia, Bayan nampak tak suka.


"Apa-apaan si Marco ini. Masa Anak Gue dijadiin body guard Anaknya !" kata Bayan kesal.


"Emang kenapa Yan ?. Bukannya bagus ya. Kali aja Lo sama Marco bisa jadi besan gara-gara ini. Kalo Nathan jadi pengawal Anaknya Marco, otomatis hubungan mereka jadi deket. Dan Lo ga perlu pusing nyariin Nathan pasangan," sahut Rama santai.


"Betul Ram. Lagian setau Gue Anaknya Marco itu cantik dan baik kok. Cocok lah sama kepribadian Nathan," kata Riko.


"Ok, Gue sih ga masalah kalo Nathan sama Mia jadi deket bahkan pacaran. Cuma masalahnya, kemampuan Nathan dengan gelar Sarjananya itu jadi sia-sia dong. Kalo cuma jadi body guard, Nathan ga perlu kuliah jauh-jauh sampe ke Semarang segala," kata Bayan kesal.


"Kalo itu masalahnya, berarti sia-sia juga Nathan jadi Anak Lo yang punya perusahaan tapi dia masih cari nafkah di perusahaan orang lain," sindir Rama sambil mencibir.


Ucapan Rama membuat Bayan terdiam namun membuat Riko tertawa. Kemudian Riko dan Rama saling adu toast di depan Bayan dengan puas sambil tertawa-tawa.


"Udah lah Yan. Terima aja keputusan Marco. Selain dia ga tau kalo Nathan Anak Lo, jadi pengawal sementara waktu juga bagus untuk Nathan. Biar dia belajar dan punya pengalaman banyak dalam hidup," kata Riko bijak sambil menepuk pundak Bayan.


Bayan nampak mendengus kesal. Namun setelahnya ia mengangguk mengiyakan ucapan sang sahabat.


\=\=\=\=\=


Sejak menjadi pengawal pribadi Mia, Nathan tak lagi terlihat di perusahaan Marco. Para karyawan yang mengenal Nathan sebagai pribadi yang baik pun bertanya-tanya kemana Nathan pergi.


"Kalian ga usah nyari Nathan lagi. Dia ditarik jadi pembantu di rumahnya Pak Marco," kata Haris tiba-tiba.


Ucapan Haris mengejutkan semua karyawan yang saat itu sedang duduk di kantin saat jam makan siang.


"Jadi pembantu gimana sih maksudnya Pak Haris ?" tanya seorang karyawan.


"Ya jadi pembantu. Security lebih tepatnya. Karena Nathan dipekerjakan di rumah Pak Marco untuk menjaga salah satu anggota keluarganya," sahut Haris sambil berlalu.


Para karyawan tak percaya dengan ucapan Haris. Mereka tahu sikap Haris belakangan berubah sejak Marco memuji kinerja Nathan di depan para karyawan. Mereka yakin Haris iri karena Nathan ditarik ke lingkungan terdekat Marco. Meski pun hanya sebagai security, itu artinya Marco percaya dan nyaman dengan kehadiran Nathan di sekitarnya.


Beberapa hari kemudian para karyawan bisa membuktikan ucapan Haris. Saat Mia berkunjung ke perusahaan, mereka melihat Nathan berjalan di belakang Mia dan mengikuti kemana pun gadis itu pergi. Nathan berhenti mengikuti Mia saat gadis itu masuk ke ruangan ayahnya.


Kesempatan itu digunakan Nathan untuk menyapa teman-temannya.

__ADS_1


"Jadi Lo beneran jadi Security Nath ?" tanya salah seorang karyawan setelah menjabat tangan Nathan.


"Iya. Security yang ngawal Mbak Mia kemana-mana," sahut Nathan sambil tersenyum.


Nathan memang memanggil Mia dengan sebutan 'Mbak' sebagai bentuk kesopanan meski pun usia Mia lebih muda darinya.


"Wah hebat. Penampilan Lo juga keren Nath. Beda sama Security kebanyakan," kata karyawan lain.


"Oh ini karena Mbak Mia yang minta. Dia ga mau dikawal sama orang berseragam karena bikin ga nyaman katanya. Jadi Gue pake baju casual aja. Tapi tetep mengutamakan kerapian dan kesopanan," sahut Nathan hingga membuat semua temannya mengangguk.


"Masih jam kerja kenapa malah ngobrol ga guna !. Ingat, perusahaan menggaji Kalian untuk kerja bukan bergosip !" kata Haris lantang hingga mengejutkan semua orang.


Semua karyawan yang sedang mengerumuni Nathan pun bergegas kembali ke meja masing-masing. Nathan sendiri nampak tak enak hati mendengar 'teguran' Haris tadi. Ia berbalik lalu tersenyum dan menyapa Haris.


"Selamat pagi Pak Haris, apa kabar ?" sapa Nathan sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat pagi. Saya baik-baik aja seperti yang Kamu liat," sahut Harus sambil berlalu dan mengabaikan tangan Nathan yang ingin menjabat tangannya.


Nathan menghela nafas panjang mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti itu. Saat Nathan akan kembali ke depan ruangan Marco, saat itu lah Haris memanggilnya.


Ucapan Haris membuat Nathan tersinggung. Apalagi itu dilakukan di tengah ruangan hingga didengar oleh semua karyawan.


Namun Nathan nampak menyikapinya dengan sabar. Nathan pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sambil tersenyum Nathan mendekati Haris lalu mengatakan sesuatu yang membuat Haris mati kutu.


"Pak Haris ga perlu khawatir. Saya hanya menyapa mereka tadi. Satu lagi, Saya bahagia dengan pekerjaan Saya sekarang. Karena Saya bisa santai dan ga harus kerja di bawah tekanan atasan yang akalnya cuma setengah kaya Bapak," kata Nathan ketus sambil melangkah meninggalkan Haris.


Ucapan Nathan membuat Haris terkejut namun membuat semua karyawan yang mendengarnya mengulum senyum.


"Kurang ajar. Ke sini Kamu Nathan, Saya belum selesai bicara !" panggil Haris.


"Sorry Pak. Saya bukan karyawan di sini lagi, jadi Bapak ga bisa perintah Saya seenaknya. Cuma perintah Pak Marco dan Mbak Mia yang bakal Saya patuhi sekarang !" sahut Nathan sambil terus melangkah tanpa mau menoleh lagi.


Aksi Nathan mau tak mau membuat para karyawan tertawa. Namun tawa mereka terhenti saat Haris menatap marah kearah mereka.


Dengan geram Haris kembali ke ruangannya. Ia membanting semua benda yang ada di dekatnya ke lantai hingga hancur.

__ADS_1


"Tunggu aja Nathan. Gue bakal kasih Lo pelajaran. Lo pikir setelah jadi body guardnya Mia Lo bisa deket sama mereka. Lo salah Nathan. Sebentar lagi Pak Marco bakal ngusir Lo dari perusahaan dan dari hidupnya. Selamanya ...," gumam Harus sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.


\=\=\=\=\=


Rupanya rasa iri dan marah yang memuncak telah membuat Haris gelap mata. Ia menggunakan jasa seorang dukun untuk menyingkirkan Nathan. Haris memilih santet sebagai alat untuk menyakiti Nathan.


Namun santet yang dikirim dukun suruhan Haris tak hanya menyakiti Nathan tapi juga Mia. Jika Nathan masih bisa menahan serangan santet dan pura-pura tak tahu jika dirinya 'dikerjai' secara ghaib, tapi berbeda dengan Mia.


Mia mengalami sakit tiba-tiba yang membuat Marco panik karena tak menemukan obat dari penyakit sang anak. Kebetulan saat itu Nathan sedang berada di rumah karena jam kerjanya telah berakhir.


Marco memanggil Nathan dan memintanya datang ke Rumah Sakit. Nathan pun bergegas pergi karena khawatir dengan kondisi Mia.


"Mau kemana, udah malam lho," tegur Anna saat Nathan pamit padanya.


"Mau ke Rumah Sakit Bund. Mia sakit dan Pak Marco minta Aku datang ke sana," sahut Nathan sambil mengenakan jaket.


"Bukannya ini udah di luar jam kerja Kamu Nak ?. Lagian di sana kan ada dokter dan perawat, kenapa Kamu yang dipanggil ?" protes Anna.


Bayan yang baru saja tiba dan berpapasan dengan Nathan di teras rumah pun nampak mengerutkan keningnya melihat Nathan yang tergesa-gesa. Apalagi ia juga sempat mendengar ucapan istrinya tadi.


"Aku juga ga tau Bund. Mungkin Pak Marco mau nanya apa aja yang Mia lakukan sampe bisa sakit mendadak," kata Nathan sambil mencium punggung tangan ayahnya.


Sesaat kemudian Nathan nampak melajukan motornya meninggalkan rumah. Bayan dan Anna hanya terdiam sambil saling menatap. Seolah mengerti apa yang diinginkan istrinya, Bayan pun menghubungi orang kepercayaannya.


"Cari tau apa penyakit Mia !" kata Bayan.


"Siap Pak !" sahut pria dari seberang telephon.


Bayan pun mengakhiri pembicaraan lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian Bayan menerima kabar tentang penyakit yang diderita Mia.


"Gimana Yah ?" tanya Anna.


"Sakit Mia ga terdeteksi Bund. Keliatannya ada orang yang main belakang. Mungkin tujuannya ingin menyakiti Marco atau justru Anak Kita Nathan," sahut Bayan hati-hati.


Ucapan Bayan membuat Anna khawatir. Ia mengusap wajahnya sambil mengucap istighfar beberapa kali.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2