Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
146. Serangan Siluman Kuyang


__ADS_3

Sambil terus berdzikir Fikri menatap tubuh tanpa kepala di hadapannya itu dengan perasaan tak menentu. Air mata pun jatuh membasahi pipinya begitu saja tanpa bisa ditahan lagi. Sedangkan Bayan dan Nathan sibuk mengatur potongan ranting dan tusuk gigi di potongan leher mak Ejah agar bagian runcingnya menghadap ke atas.


"Sekarang Kita pergi dari sini," ajak Bayan sambil melangkah mendahului Nathan dan Fikri.


Nathan hampir bergerak namun urung saat dilihatnya Fikri mematung di hadapan tubuh tanpa kepala yang duduk bersandar di batang pohon itu.


"Aku mau di sini menyaksikan semuanya," kata Fikri tiba-tiba.


"Jangan konyol Bang !. Tindakan Abang itu membahayakan karena bisa aja siluman kuyang itu menyakiti Abang nanti," kata Nathan gusar.


"Yang Kamu bilang siluman kuyang itu Ibuku Nath. Ibu kandungku !" kata Fikri tak suka.


"Sorry kalo ucapanku menyakiti perasaan Abang. Aku ga berniat ngelarang Abang untuk menyaksikan semuanya. Tapi sekarang Kita harus pergi dari sini secepatnya. Kita bisa amati makhluk ini dari tempat yang agak jauh dan tersembunyi nanti," kata Nathan dengan sabar.


Fikri nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. Kemudian ia mengikuti Nathan yang melangkah ke tempat dimana Bayan sembunyi.


"Apa tempat ini aman Yah ?" bisik Nathan.


"Asal ga bersuara dan tetap tenang, insya Allah Kita bakal aman," sahut Bayan.


Nathan mengangguk sambil melirik kearah Fikri. Saat itu Fikri nampak berkali-kali mengusap matanya yang basah. Nathan pun merengkuh bahu Fikri untuk menguatkannya.


"Abang harus kuat. Sesuatu yang bakal Abang liat nanti mungkin akan sedikit menakutkan. Tapi Abang jangan teriak ya. Kalo ga sanggup nahan, Abang tutup mulut aja. Pokoknya usahakan jangan bersuara," pesan Nathan sungguh-sungguh.


Fikri menatap Nathan dengan tatapan tak terbaca. Ia merasa saat itu Nathan menjelma jadi sosok yang sangat dewasa melebihi darinya. Sedangkan Bayan nampak mengulum senyum mendengar ucapan anaknya itu.

__ADS_1


"Sssttt ..., dia datang," kata Bayan sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Nathan dan Fikri pun menoleh lalu segera mengambil posisi di samping kanan dan kiri Bayan. Lalu ketiganya menatap jauh ke depan tepatnya ke bawah pohon dimana tubuh mak Ejah berada.


Jantung Fikri berdetak cepat saat menyaksikan potongan kepala dengan organ dalam yang menjuntai itu sedang melayang cepat di udara. Ia membelalakkan matanya karena mengenali sosok siluman kepala itu adalah sosok yang sama yang menyerang anaknya dulu.


"Ya Allah. Jadi ... siluman kepala itu memang jelmaan Ibuku. Dia juga yang menyerang Anak dan Istriku dulu," batin Fikri gusar.


Siluman kuyang jelmaan Mak Ejah nampak melayang cepat menuju pohon dimana ia menyembunyikan tubuhnya tadi. Saat hampir tiba di pohon yang dimaksud, siluman kuyang itu melambat lalu menerobos masuk ke dalam rimbunnya dedaunan.


Namun sesaat kemudian siluman kuyang itu keluar dari rimbunan pohon. Ia mengelilingi pohon seolah ingin memastikan jika pohon itu adalah pohon tempat ia 'menitipkan' tubuhnya tadi. Setelah keliling satu putaran, siluman kuyang itu kembali menerobos masuk ke dalam rimbun dedaunan lalu keluar lagi. Merobos masuk lagi dan keluar lagi. Begitu seterusnya dan berulang-ulang hingga siluman kuyang itu ia mulai merasa putus asa lalu menggeram marah.


Suara geraman yang disertai lengkingan itu terdengar membahana memecah malam. Suara itu terdengar aneh dan menakutkan untuk Fikri hingga tanpa sadar ia bergidik ngeri.


"Kenapa Bang ?" tanya Nathan sambil berbisik.


"Sssttt ...," sela Bayan sambil menggelengkan kepala untuk mengingatkan Nathan dan Fikri agar tak bersuara.


Di depan sana siluman kuyang kembali mengelilingi pohon itu, kali ini sedikit lebih rendah hingga ia bisa melihat ke bagian bawah pohon. Siluman kuyang itu nampak menyeringai saat melihat tubuhnya duduk bersandar di batang pohon. Nampaknya ia menduga jika tubuhnya jatuh saat ia tinggalkan tadi.


Tanpa membuang waktu siluman kuyang itu melesat cepat menuju tubuhnya yang duduk di tanah sambil bersandar di batang pohon. Disaksikan Bayan, Nathan dan Fikri, siluman kuyang itu nampak berusaha menyatukan kepala dengan tubuhnya.


Namun sedetik kemudian suara jeritan kembali terdengar saat siluman kuyang itu gagal menyatukan kepala dengan tubuhnya. Namun berbeda dengan jeritan sebelumnya yang diwarnai aroma kemarahan, kali ini suara jeritan yang keluar dari mulut siluman kuyang itu terdengar sangat memilukan. Nampaknya siluman kuyang itu tahu jika telah terjadi sesuatu pada tubuhnya.


Siluman kuyang itu berputar-putar di atas tubuhnya seolah ingin mencari penyebab tubuh itu menolak dirinya. Ia membelalakkan matanya saat melihat potongan lehernya dipenuhi serpihan ranting dan tusuk gigi yang runcing. Itu lah sebabnya mengapa lehernya terasa sakit saat disatukan tadi.

__ADS_1


Sadar ada seseorang yang meletakkan potongan ranting dan tusuk gigi di sana, siluman kuyang itu menggeram marah lalu melesat ke atas. Di sana ia berhenti sejenak untuk mengamati sekelilingnya. Setelahnya ia menukik turun lalu bergerak cepat menuju tempat persembunyian Bayan, Nathan dan Fikri.


"Awas Anak-anak !" kata Bayan lantang sambil mendorong Nathan dan Fikri ke samping.


Karena gerakan refleksnya yang mendorong Ntahan dan Fikri tadi mengakibatkan Bayan kehilangan kesempatan untuk menghindar. Ia pun menerima serangan telak dari siluman kuyang itu.


Fikri dan Nathan yang terjengkang di tanah pun terkejut menyaksikan siluman kuyang itu menyerang Bayan dengan brutal layaknya hewan buas yang mendapatkan mangsanya.


"Ayaahhh ...!" panggil Nathan dan Fikri bersamaan.


"Jangan ke sini Anak-anak. Lariii ...!" kata Bayan sambil menyerang balik siluman kuyang itu dengan tinju dan tendangannya.


Namun Nathan dan Fikri tak mengindahkan perintah Bayan. Mereka justru mendekat untuk membantu Bayan. Bahkan Fikri meraih potongan dahan kayu yang tergeletak tak jauh darinya untuk mempersenjatai diri.


Saat Fikri menoleh, ia melihat Nathan sedang berusaha menarik siluman kuyang yang sedang menggigit lengan ayahnya itu.


"Minggir Nath ...!" kata Fikri lantang sambil mengayunkan dahan pohon yang dipegangnya kearah siluman kuyang itu.


Nathan pun menepi sedangkan Bayan memalingkan wajahnya kearah lain. Sesaat kemudian potongan dahan pohon berhasil membentur siluman kuyang itu hingga terhempas jauh lalu jatuh ke tanah. Bahkan potongan kepala itu sempat menggelinding beberapa kali di tanah sebelum akhirnya benar-benar berhenti.


Terlihat ceceran darah di tanah yang arahnya berhenti tepat dimana siluman kuyang itu berada. Saat itu Bayan, Nathan dan Fikri yakin jika siluman kuyang itu terluka akibat pukulan Fikri tadi.


Seolah tersadar telah melukai ibunya, Fikri pun membuang dahan pohon itu ke sembarang arah. Suara berdebum pun terdengar hingga membuat siluman kuyang yang tengah memejamkan mata untuk mengatur nafas itu pun terkejut. Ia membuka matanya dan melihat tiga pria berdiri dalam jarak tiga meter di depannya.


Siluman kuyang itu nampak menggeliat lalu kembali bangkit dan tegak di atas permukaan tanah. Kini ia melayang sejajar dengan tinggi manusia normal lalu menatap tiga pria di hadapannya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Saat mengenali tiga pria di hadapannya, siluman kuyang itu pun terkejut lalu menjerit marah.


\=\=\=\=\=


__ADS_2