
Karena disibukan dengan urusan pekerjaan, untuk sementara waktu Bayan menepikan urusan Rosi. Selain itu Bayan tak ingin melukai perasaan istrinya dengan terus mencari tahu tentang kehidupan pribadi Rosi.
Kini fokus semua orang terutama keluarga Bayan adalah Ayu. Kehamilannya yang semakin membesar menimbulkan kebahagiaan sekaligus rasa cemas. Kecemasan itu tentu saja hanya dimiliki oleh Bayan, Fikri dan Nathan karena mereka tahu persis apa yang terjadi.
Meski pun bayi dalam kandungan Ayu digadang-gadang akan berkelamin laki-laki, namun itu tak menghilangkan kecemasan yang dirasakan Bayan, Fikri dan Nathan.
"Kutukan bisa aja terputus saat ini jika Anak yang Ayu lahirkan memang laki-laki. Tapi Kita juga ga bisa duduk santai karena serangan kuyang bisa datang kapan pun dan tak mengenal jenis kelamin. Siluman itu tak memilih gender tertentu untuk jadi mangsanya," kata Bayan mengingatkan.
"Iya Yah," sahut Fikri dan Nathan bersamaan.
"Apa setelah ini kutukan akan terputus di keluargaku Yah ?" tanya Fikri penuh harap.
"Insya Allah. Ayah juga ga tau pasti Nak. Tapi ga ada salahnya Kita berharap bukan ?" tanya Bayan sambil menepuk bahu Fikri dengan lembut.
"Iya Yah," sahut Fikri.
"Ga usah pikirin kutukan itu dulu Bang. Itu kan masih lama banget, masih bertahun-tahun ke depan kejadiannya. Sekaramg fokus aja sama keselamatan bayi dan Ibunya dulu," kata Nathan mengingatkan.
"Betul. Fokus aja sama Ayu dan bayi Kalian. Jangan lupa titipkan Afiah mulai sekarang biar ga rewel saat tiba waktunya bersalin," kata Bayan sebelum melangkah.
"Kayanya Aku bakal cari baby sittter aja untuk ngasuh Afiah. Aku ga mau ngerepotin Bunda karena Afiah kan aktif banget Yah. Aku khawatir Bunda sakit karena kelelahan ngurus Àfiah," sahut Fikri.
"Begitu juga boleh. Tapi jangan lupa libatkan Bunda untuk cari pengasuh ya. Karena nanti Afiah akan ada di bawah pengawasan Bunda meski pun udah ada pengasuh khusus. Jadi secara ga langsung Kita bagi-bagi tugas. Bunda ngawasin Afiah dan Kita ngawasin bayi yang dikandung Ayu" kata Bayan.
Fikri mengangguk senang karena idenya untuk mencari pengasuh didukung Bayan.
\=\=\=\=\=
Pagi itu Hilya bangun dalam keadaan uring-uringan. Ia merasa kesal tanpa sebab pada suaminya. Tiap kali Nathan mendekat Hilya akan langsung menjauh. Dan Hilya juga mengabaikan pesan atau telephon Nathan.
Awalnya Nathan tak mempermasalahkan hal itu. Namun saat sikap Hilya berlangsung selama seharian, mau tak mau Nathan pun bertanya.
"Ada apa Sayang. Kenapa Kamu kesel banget sama Aku. Apa salahku sampe Kamu cuekin Aku kaya gini ?" tanya Nathan dari seberang telephon saat Hilya mau menerima telephon.
"Ga ada," sahut Hilya cuek.
__ADS_1
"Tapi Kamu ...," ucapan Nathan terputus saat Hilya memotong cepat.
"Maaf, ada pasien darurat di sini. Kita ngobrol nanti ya," kata Hilya lalu memutuskan sambungan telephon secara sepihak.
Nathan mematung tak percaya mendengar ucapan istrinya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dan itu membuatnya tak nyaman.
"Pasien yang mana. Bukannya dia bilang belum ada pasien yang akan melahirkan dalam waktu dekat kecuali Mbak Ayu," gumam Nathan.
Tiba-tiba Nathan teringat Fikri. Ia menghubungi Fikri karena khawatir sang kakak belum mengetahui kondisi Ayu.
"Assalamualaikum, dimana Bang ?" tanya Nathan saat Fikri merespon telephonnya.
"Wa alaikumsalam, di klinik Ustadz Zul. Rencananya sih mau lembur. Kenapa Nath ?" tanya Fikri santai.
"Barusan Hilya bilang Mbak Ayu mau melahirkan. Apa Abang ga tau itu ?" tanya Nathan.
"Ya Allah, yang bener Nath. Tapi ga ada seorang pun yang ngasih tau tuh," kata Fikri gusar.
"Mungkin ga sempet Bang. Coba Abang ke sana aja. Aku kok khawatir ya sama Mbak Ayu dan ... Hilya," kata Nathan ragu.
Seolah mengerti jika ada sesuatu yang terjadi antara Nathan dan Hilya, Fikri pun mengiyakan permintaan Nathan. Ia bergegas pergi ke Klinik Bersalin Hilya.
"Ada apa Bi, kenapa ke sini jam segini. Katanya mau lembur ?" tanya Ayu.
"Gapapa Mi. Cuma mau mastiin kondisi Ummi dan bayi Kita aja. Perasaan Abi ga nyaman aja daritadi, khawatir terjadi sesuatu sama Kalian. Tapi ngeliat Kamu baik-baik aja Aku jadi tenang," sahut Fikri sambil mengusap perut buncit sang istri dengan lembut.
Ayu tersenyum lalu menenangkan suaminya. Ia juga berjanji akan menghubungi Fikri jika sudah mulai merasa kontraksi. Fikri pun mengangguk.
"Dimana Hilya, kok ga keliatan ?" tanya Fikri sambil menatap ke sekelilingnya.
"Lagi ngecek pasien Bi. Apa Abi mau ngomong sama Hilya ?" tanya Ayu.
"Ga usah, nanti aja di rumah. Kalo gitu Aku pulang dulu ya, mau ngeliat Afiah sebentar. Nanti Aku ke sini lagi jemput Kamu," pamit Fikri yang diangguki Ayu.
"Iya Bi. Hati- ha ... ssshhh, aawww ...," kata Ayu tiba-tiba hingga mengejutkan Fikri.
__ADS_1
Saat itu tubuh Ayu mendadak oleng. Beruntung Fikri sigap meraih pinggang Ayu lalu memeluknya dengan erat.
"Ummi kenapa Mi ?. Apa sekarang waktunya ?" tanya Fikri sambil menahan tubuh Ayu agar tak tersungkur di lantai.
Saat itu Ayu nampak meringis sambil memegangi perutnya. Wajahnya yang semula ceria tiba-tiba memucat, tubuhnya pun bergetar. Ada cairan yang merembes membasahi gamis Hilya dan itu membuat Fikri cemas.
"Ini udah waktunya Mi," kata Fikri yang diangguki Ayu.
Di saat genting itu kebetulan Rosi melintas. Wanita itu terkejut melihat Ayu yang kesakitan. Dengan sigap Rosi mengambil kursi roda lalu membantu Fikri mendudukkan Ayu di sana.
"Saya panggil Mbak Hilya dulu ya Mas," kata Rosi sambil berlalu.
"Iya Bu, makasih," sahut Fikri sambil mendorong kursi roda kearah yang ditunjuk Ayu.
Dalam sekejap klinik Hilya pun menjadi sibuk. Sedikit berbeda karena kali ini yang akan melahirkan adalah keluarga yang juga karyawan di sana. Namun di saat yang sama kondisi Hilya juga sedang tak fit. Ia terlihat pucat dan lesu hingga membuat perawat yang mendampinginya khawatir.
"Apa Bu Hilya gapapa ?. Kita panggil Bu Intan aja ya," kata sang perawat.
Intan adalah asisten Bidan. Dengan Intan lah biasanya Hilya berbagi tugas utama. Dan sejak kehadiran Intan di klinik, Hilya jadi punya banyak waktu untuk dirinya sendiri dan suaminya.
Karena tak mendapat jawaban dari Hilya, sang perawat pun bergegas menghubungi Intan. Beruntung rumah Intan tak terlalu jauh dari klinik hingga dalam waktu kurang dari sepuluh menit Intan sudah berada di klinik.
"Apa pasien udah di ruang bersalin Sus ?!" tanya Intan dari ambang pintu.
"Udah Bu," sahut sang perawat.
Mendengar suara Intan membuat Hilya yang sedang memijit kepalanya itu terkejut. Ia menatap sang perawat dengan tatapan kesal.
"Maaf Bu. Saya terpaksa panggil Bu Intan. Saya khawatir karena Ibu keliatan lagi ga sehat. Saya ga mau terjadi sesuatu di dalam sana nanti," kata sang perawat.
Hilya mendengus kesal lalu mengangguk pasrah. Padahal ia ingin sekali membantu persalinan Hilya, sesuatu yang memang telah lama ia niatkan. Tapi entah mengapa tubuhnya tak bisa diajak bekerja sama kali ini. Bahkan ia limbung dan hampir pingsan saat langkahnya hampir mencapai ruang bersalin tadi.
Karena kondisinya tak memungkinkan membuat Hilya terpaksa merelakan Intan membantu Ayu melahirkan. Kini Hilya sedang berbaring di sofa di ruang kerjanya sambil memijit kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.
Sementara itu di ruang bersalin Ayu tengah berjuang melahirkan bayinya. Fikri juga nampak setia mendampingi sang istri sambil terus berdzikir untuk menyemangatinya.
__ADS_1
Di saat semua orang di ruang bersalin fokus menatap Ayu yang mengejan, sebuah benda aneh tampak menyelinap masuk ke ruang bersalin tanpa disadari oleh siapa pun.
\=\=\=\=\=