Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
161. Jasad Arafah Hilang !


__ADS_3

Ternyata Adang datang membawa berita buruk yang membuat semua orang di ruangan itu membeku di tempatnya masing-masing.


"Maaf sebelumnya. Kedatangan Saya ke sini mau ngasih tau kalo makamnya Arafah hancur," kata Adang mengawali pembicaraan setelah berbasa basi.


"Hancur gimana maksudnya Pak ?" tanya Fikri gusar.


"Iya hancur Mas, berantakan dan ga berbentuk lagi. Nisannya yang dari papan itu udah copot, tanah makam berserakan dan ...," Adang menggantung ucapannya karena ragu.


"Dan apa Pak ?" tanya Bayan dan Fikri tak sabar.


"Dan jasad Arafah juga hilang Mas ...," sahut Adang dengan suara bergetar.


"Apa ...?!" kata semua orang tak percaya.


" Iya Mas. Jasad Arafah hilang. Tapi Mas ga perlu khawatir, Saya udah ke kantor Polisi buat ngelapor tadi. Mudah-mudahan Polisi bisa segera menguak misteri hilangnya Arafah dan menangkap pelakunya. Abis dari sana Saya langsung ke sini. Saya sengaja ga nelepon Mas Fikri karena Saya tau kalo Mas lagi ngadain pengajian nujuh hari Arafah malam ini. Saya cuma ga mau ganggu dan bikin gempar aja. Karena kalo Saya telepon dan Mas Fikri jadi panik kan ga enak. Apalagi kalo warga sampe tau. Bisa-bisa yang ga berkepentingan ikut komentar dan jadiin ini berita yang dibumbui macem-macem. Makanya lebih baik Saya datang untuk bicara langsung sama Mas Fikri dan keluarga biar ga simpang siur beritanya," kata Adang panjang lebar.


Hening sejenak tak ada suara karena semua orang membisu. Tiba-tiba suara Ayu terdengar memecah keheningan.


"Abi ..., Arafah Bi ...," kata Ayu lirih dengan suara bergetar.


Diantara semua orang yang ada di ruangan itu Ayu lah yang nampak paling shock. Ia mencengkram lengan baju suaminya sambil mulai menitikkan air mata.


Fikri menoleh dan terkejut melihat wajah istrinya telah basah dengan air mata. Kemudian Fikri menarik Ayu ke dalam pelukannya dan membiarkan wanita itu menangis di sana.


Isak tangis memilukan keluar dari mulut Ayu. Semua orang pun iba melihat kondisi Ayu. Wanita yang semula terlihat tegar itu kini harus kembali rapuh karena berita yang dibawa Adang.


"Jadi ... gimana Pak Adang, apa yang harus Kami lakukan ?" tanya Bayan dengan suara berat.


"Saya juga ga tau Pak. Selama Saya jadi pengurus makam, ini pertama kalinya Saya ngadepin kejadian kaya gini. Dan setau Saya, kejadian ilangnya jenasah cuma ada di kampung bukan di kota besar kaya gini. Makanya Saya juga sempet bingung tadi. Alhamdulillah Saya inget Bapak Saya yang jadi penjaga makam juga. Saya telepon Bapak Saya buat nanyain apa yang harus Saya lakukan karena bingung harus ngapain. Untung Bapak Saya biasa ngadepin hal kaya gini. Bapak Saya juga yang ngingetin Saya buat lapor Polisi dan datang ke sini," sahut Adang gusar.


"Gimana kalo Kita ke makam Arafah sekarang Yah !" sela Nathan.


"Boleh juga. Ayo Kita ke sana sekarang," kata Bayan.

__ADS_1


"Siap Yah !" sahut Nathan antusias.


"Aku ikut ya Yah ...," pinta Ayu tiba-tiba sambil menatap Bayan penuh harap.


"Maaf Yu. Sebaiknya Kamu di rumah aja ya. Kondisi Kamu lagi lemah, Ayah ga mau Kamu jadi sakit nanti," sahut Bayan dengan lembut.


"Tapi Yah ...," ucapan Ayu terputus karena Fikri memotong cepat.


"Ayah betul. Kamu di rumah aja Mi. Sekalian Kamu temenin Hilya dan Danti ya. Tenang aja, Bunda sama Nicko juga di sini kok," kata Fikri yang diangguki Anna dan Nicko.


Ayu nampak menghela nafas berat. Ia sadar tak mungkin membantah ucapan suaminya. Ayu pun mengangguk pelan dan itu membuat Fikri tersenyum.


"Alhamdulillah, Istri Abi emang pinter. Jadi tambah sayang deh," bisik Fikri sambil mengecup kening Ayu dengan lembut.


Ayu pun tersenyum sambil menghapus air matanya.


Tak lama kemudian mobil yang membawa Bayan, Nathan dan Fikri pun melaju meninggalkan rumah. Sedangkan Adang yang menggunakan motor nampak melaju lebih dulu menuju makam Arafah.


"Aku ga bisa percaya jasad Arafah ilang Mas," kata Ramadhanti gusar.


"Tapi untuk apa Mas ?. Untuk apa mereka ngambil jasad Anak sekecil Arafah ?" tanya Ramadhanti bingung.


"Mungkin untuk ritual. Karena hanya orang yang nganut ilmu hitam yang tega ngambil jasad Arafah dari liang kubur. Makanya Kita harus secepatnya nemuin jasad Arafah sebelum orang yang ga bertanggung jawab itu menggunakan jasad Arafah untuk sesuatu yang ga baik," kata Nicko.


"Subhanallah ..., mudah-mudahan Arafah bisa cepet ditemuin dan dimakamin seperti semula ya Mas," kata Ramadhanti prihatin.


"Aamiin ...," sahut Nicko cepat.


Percakapan Nicko dan Ramadhanti juga didengar oleh Ayu hingga membuat Ayu kembali menangis. Ia sedih saat mengetahui jasad anaknya akan digunakan untuk ritual ilmu hitam. Tentu saja tangis Ayu membuat Anna, Hilya dan Ramadhanti terkejut.


"Kamu bisa diem ga sih Nick !. Ga usah berspekulasi kalo cuma bikin Ayu tambah sedih !" kata Anna kesal.


"Maaf Bund. Aku kan cuma ...," ucapan Nicko terputus saat Anna memotong cepat.

__ADS_1


"Ga usah ngomong lagi Nick !" kata Anna sambil melotot galak.


Nicko pun mengangguk. Ia bangkit lalu menjauh dari para wanita yang sibuk menghibur Ayu. Nicko memilih duduk di teras rumah sambil menunggu tangis Ayu mereda.


Sementara itu Bayan, Nathan dan Fikri baru saja tiba di area pemakaman. Mereka melihat beberapa polisi juga keluar masuk di area pemakaman. Kemudian mereka turun dari mobil lalu bergegas menghampiri Adang yang sedang bicara dengan dua orang polisi.


"Assalamualaikum Bapak-bapak !" sapa Bayan sedikit lantang hingga membuat Adang dan dua polisi itu menoleh.


"Wa alaikumsalam ...," sahut Adang dan dua polisi bersamaan.


"Nah ini keluarga jenasah yang hilang itu Pak," kata Adang.


Bayan, Fikri dan Nathan pun menjabat tangan kedua polisi itu sambil memperkenalkan diri masing-masing. Setelahnya kedua polisi itu membawa mereka ke makam Arafah.


Dari kejauhan Fikri bisa melihat kondisi makam Arafah yang rusak parah. Tak terasa air mata pun menitik begitu saja di wajahnya. Nathan yang setia berdiri di sampingnya pun langsung merengkuh bahu Fikri untuk menenangkannya.


"Sabar ya Bang, yang kuat," bisik Nathan.


"Ya Allah ..., liat Nath. Liat makamnya Arafah, kok bisa hancur kaya gini. Padahal tadi pagi waktu Aku sama Ayu ke sini makamnya masih baik-baik aja," kata Fikri sambil mengusap matanya yang basah.


Saat melangkah kearah makam, Fikri, Bayan dan Nathan bisa menyaksikan makam Arafah yang hancur lebur. Sayangnya mereka tak bisa melangkah lebih dekat lagi karena saat itu makam Arafah sudah dipasangi police line pertanda kasus hilangnya jasad Arafah sudah ditangani pihak kepolisian.


Bayan, Fikri dan Nathan nampak menatap nanar kearah makam Arafah. Ada lubang menganga tepat dimana jasad Arafah dimakamkan. Tanah yang awalnya menggunung di atas makam Arafah pun kini nampak berserakan tak beraturan. Papan nisan Arafah yang semula menancap tegak di atas makam kini tergeletak begitu saja seolah dicabut paksa.


"Laa haula wala quwwata ilaa billahill aliyyil adziim ...," gumam Fikri berkali-kali.


"Kami sedang berusaha mencari ke sekitar tempat ini. Kami harap belum terlambat dan jasad Arafah bisa segera ditemukan," kata seorang polisi.


"Apa Kami boleh membantu Pak ?" tanya Nathan.


"Tentu saja. Kalo Mas mau, Mas bisa pergi ke sebelah selatan. Rekan-rekan Kami masih bergerak di utara dan barat. Sebentar lagi Saya dan rekan Saya ini akan bergerak ke timur," sahut sang polisi sambil tersenyum.


"Baik Pak. Ayo Yah, Bang !" ajak Nathan.

__ADS_1


Bayan dan Fikri pun mengangguk lalu bergegas melangkah kearah selatan area pemakaman. Mereka menggunakan senter di ponsel masing-masing untuk membantu menerangi sekitar. Dalam hati mereka berharap bisa menemukan jasad Arafah malam itu juga.


\=\=\=\=\=


__ADS_2