Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
137. Mau Nikah


__ADS_3

Setelah mengantar Hilya pulang, Nicko pun pamit. Kakek dan nenek Hilya masih tersenyum melepas kepergian Nicko.


"Kakek sama Nenek ga lagi kagum sama Nicko kan ?" tanya Hilya cemas.


"Emang ga boleh ?. Nicko itu lucu dan menyenangkan. Kami rasa dia cocok sama Kamu yang galak ini. Kalo ada Nicko, pikiranmu lebih relaks jadi ga marah-marah terus. Iya kan Kek ?" tanya nenek Hilya sambil menoleh kearah suaminya.


"Iya Nek," sahut Kakek Hilya sambil tersenyum.


"Ish, apaan sih. Aku ga mau sama Nicko Nek !" kata Hilya sambil melotot.


"Kenapa ga mau ?" tanya nenek Hilya.


"Umur Nicko itu dua tahun lwbih muda dari Aku. Masa Aku nikah sama berondong sih," sahut Hilya sambil melengos.


"Gapapa, Kakek sama Nenek ga keberatan kok. Asal dia bisa bikin Kamu bahagia Kami pasti setuju," kata sang Kakek.


"Ga usah ngarang bebas deh Kek. Pokoknya Aku ga mau," sahut Hilya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


"Kalo sama Nathan gimana ?!" tanya nenek Hilya lantang.


"Aku mau, tapi sayangnya Nathan udah nikah Nek. Jadi lupain aja impian Nenek sama Kakek buat bermantukan Nathan atau menikahkan Aku dalam waktu dekat. Aku masih mau kerja, ngumpulin uang banyak biar bisa jalan-jalan keluar negeri !" sahut Hilya cepat lalu masuk ke kamar dan menutup pintu.


Kakek dan Nenek Hilya saling menatap dengan bingung.


"Jadi Nathan itu Suami orang Kek ?" tanya nenek Hilya tak percaya.


"Ga mungkin Nek. Kakek udah cek dan tanya sana sini kok. Semua orang bilang Nathan itu bujangan, emang pernah hampir menikah tapi gagal karena calon Istrinya meninggal dunia," sahut Kakek Hilya.


"Tapi kok Hilya ngomong gitu tadi ?" tanya nenek Hilya.


"Kayanya ada yang salah paham nih. Nenek tenang aja. Sebentar lagi semua bakalan jelas dan pasti," sahut sang Kakek sambil tersenyum penuh makna.


Nenek Hilya pun mengangguk karena percaya pada cara sang suami menyelesaikan kesalah pahaman ini.


\=\=\=\=\=


"Siluman babi ?" tanya Nathan sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Rupanya Nicko sedang menceritakan apa yang ia temui di jalan tadi pada sang kakak. Saat ini mereka tengah berbincang di kamar Nathan.


"Iya Bang. Tapi ternyata itu cuma nama yang disebut sama cewek itu. Aslinya sih makhluk itu kuyang yang ngikutin dia dari Rumah Sakit sampe tempat dia jatuh tadi," sahut Nicko.


"Dari Rumah Sakit. Emang siapa nama cewek itu ?" tanya Nathan karena tiba-tiba ia teringat dengan Hilya yang juga bekerja di Rumah Sakit.


"Hilya," sahut Nicko cepat hingga membuat kedua mata Nathan membulat karena terkejut.


"Kamu nganterin ke rumahnya juga tadi ?, ketemu sama Kakek dan Neneknya ga?. Terus gimana respon mereka sama Kamu ?" tanya Nathan beruntun.


"Apaan sih Bang. Satu-satu dong nanyanya," kata Nicko sambil tertawa.


"Udah jawab aja," kata Nathan tak sabar.


Nicko pun menjelaskan apa yang ingin Nathan tahu dengan seksama, tak ada satu pun yang terlewat. Nathan nampak mengusak rambutnya dengan kasar pertanda ia sedang cemas.


"Abang kenapa ?" tanya Nicko.


"Hilya itu cewek yang lagi Abang deketin Nick. Abang punya niat mau ngelamar dia tapi sayangnya dia ngeles mulu kalo diajak ngomong serius. Kalo Kakek sama Neneknya kagum sama Kamu, bisa-bisa usaha Abang selama ini sia-sia dong Nick," sahut Nathan gusar.


Jawaban Nathan membuat Nicko tertawa geli. Ia tak menyangka jika sang kakak cemburu padanya. Melihat Nicko tertawa membuat Nathan makin kesal. Ia menatap tajam kearah sang adik seolah ingin menelannya bulat-bulat.


"Masa sih. Siapa ?" tanya Nathan penasaran.


"Ramadhanti, Anaknya Ustadz Zul. Aku lagi minta tolong Bang Fikri buat jembatanin hubunganku sama dia. Kalo Aku berhasil dan dia mau nikah sama Aku, kayanya Aku harus siapin pelangkah sebagai ungkapan permintaan maaf karena ngeduluin Abang," sahut Nicko sambil tersenyum penuh makna.


Ucapan Nicko membuat Nathan terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka jika sang adik yang terlihat kalem itu ternyata lebih gercep darinya.


"Kamu serius Nick ?" tanya Nathan.


"Serius lah Bang. Hal ginian kan ga bisa dibuat mainan," sahut Nicko mantap.


"Terus Ayah Bunda udah tau belum ?" tanya Nathan.


"Belum. Sebenernya Aku mau kasih surprise buat Abang, Ayah dan Bunda. Tapi ngeliat Abang yang cemburu gini Aku jadi ga tahan buat cerita. Pokoknya Abang tenang aja ya. Aku ga bakal nikung Abang karena Aku juga punya calon sendiri," kata Nicko sambil menepuk pundak sang kakak.


Nathan pun menghela nafas panjang. Ia mengangguk lalu tersenyum.

__ADS_1


"Sekarang ceritain gimana Kamu bisa tertarik sama Anaknya Ustadz Zul," pinta Nathan sambil menarik tangan Nicko agar duduk lebih dekat dengannya.


Nicko tersenyum kemudian menceritakan awal pertemuannya dengan Ramadhanti, anak gadis ustadz Zulkifli pemilik klinik Thibun Nabawi tempat Fikri bekerja.


Nathan menatap Nicko lekat seolah tak percaya jika pria yang berusia tiga tahun lebih muda darinya itu ternyata kini telah tumbuh menjadi pria dewasa. Padahal selama ini Ia dan kedua orangtuanya selalu menganggap Nicko adalah bungsu yang masih harus diperhatikan segala kebutuhannya.


Nathan tersenyum melihat cara bicara Nicko yang entah mengapa terlihat sangat dewasa dan lebih matang di usianya yang menginjak ke dua puluh lima tahun itu.


"Abang dengerin Aku ngomong ga sih ?" tanya Nicko usai menceritakan usahanya mendekati Ramadhanti dan bagaimana perasaannya sekarang.


"Denger dong," sahut Nathan sambil tersenyum.


"Terus menurut Abang gimana ?" tanya Nicko.


"Ya lanjut aja," sahut Nathan cepat.


"Jadi Abang ga keberatan kalo Aku nikah duluan ?!" tanya Nicko antusias.


"Iya," sahut Nathan cepat.


"Tolong Abang kasih tau alasannya biar Aku tenang ngejalanin semuanya nanti," pinta Nicko.


Nathan nampak menghela nafas panjang ssbelum akhirnya bicara.


"Abang pikir-pikir emang lebih baik Abang nunda rencana untuk nikah tahun ini. Bukan apa-apa. Walau pun Orangtua Mia ga keberatan Abang nikah cepet, tapi Abang masih perlu waktu untuk menata hati dan pikiran agar bisa menerima sosok baru di hidup Abang. Selama ini Abang emang terkesan buru-buru karena mau segera move on dari Mia. Tapi ternyata tindakan Abang salah. Bukan dapat respon yang baik, Abang justru dapat penolakan dari Hilya. Ga cuma sekali tapi beberapa kali. Jadi untuk selanjutnya Abang mau rehat sebentar, ngaso dari pikiran menikah biar lebih relaks. Andai Kamu mau menikah duluan karena udah nemu calon Istri yang tepat ya silakan. Abang ga keberatan kok. Dan Abang pasti dukung apa pun keputusan Kamu Nick," kata Nathan bijak.


Nicko terharu mendengar ucapan sang kakak. Dia menghambur ke pelukan Nathan yang menyambutnya dengan hangat. Untuk sejenak kedua kakak adik itu saling memeluk.


"Abang ga nyangka kalo Adik kecil Abang ini ternyata udah dewasa dan siap jadi Suami orang," kata Nathan sambil tersenyum dan menepuk pipi Nicko dengan telapak tangannya.


"Abang aja yang ga nyadar kalo Aku udah dewasa. Asal Abang tau ya, sebenernya Aku siap nikah sejak dua tahun yang lalu lho. Kalo ga mandang Kak Mia, rasanya udah pengen Aku duluin aja dari dulu," gurau Nicko.


"Masa sih ?. Emangnya dua tahun yang lalu Kamu udah punya calon ?. Bukannya Kamu bilang kenal sama Ramadhanti karena sering ngeliat dia di klinik saat nganterin Abang berobat. Itu kan artinya baru setengah tahun ini Kamu punya calon Istri," kata Nathan.


"Oh ternyata Abang nyimak ceritaku tadi ya. Kirain pikirannya melayang kemana-mana. Soalnya pas Aku cerita Abang cuma bengong aja tadi," sahut Nicko sambil tertawa.


"Sia*an," kata Nathan sambil menjitak kepala Nicko hingga membuat sang adik tertawa makin keras.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2