
Kematian Hesti membuat Anna sangat terpukul. Apalagi kepergian Hesti tanpa didampingi keluarganya.
Usut punya usut ternyata suami dan anak Hesti tak tahu menahu tentang luka yang menyebabkan Hesti meninggal dunia. Dan sampai detik terakhir pun mereka juga tak bisa menemui Hesti di Rumah Sakit karena masih di dalam perjalanan.
Sebelumnya pihak keluarga melaporkan hilangnya Hesti karena mengira Hesti diculik. Keluarga Hesti panik dan melapor ke polisi karena Hesti tak kembali ke rumah setelah pamit menemui temannya. Hingga saat Hesti ditemukan sekarat pun pihak keluarga tak tahu apa-apa.
Pihak Kepolisian lah yang memberi tahu keberadaan Hesti dan meminta keluarganya datang ke Rumah Sakit itu. Namun sayang sebelum keluarganya tiba, Hesti telah dinyatakan meninggal dunia.
Bayan yang penasaran dengan jalan cerita ditemukannya Hesti yang sekarat itu pun bertanya pada polisi yang bertugas mengawal jenasah Hesti hingga ke rumah suaminya.
Sang polisi mengatakan jika Hesti ditemukan di sebuah bangunan bekas SD yang hampir runtuh dan dalam kondisi mengenaskan.
"Waktu ditemukan kondisi Bu Hesti penuh luka dan darah Pak. Luka yang paling parah adalah luka di bagian leher. Selain masih basah dan mengeluarkan darah, luka itu juga berbau busuk. Dan setelah berhasil dievakuasi, Bu Hesti dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani pemeriksaan. Waktu dirontgen ternyata ditemukan banyak pecahan kaca di dalam tubuhnya terutama leher, paru-paru dan usus. Sampe sekarang Saya ga paham gimana benda tajam itu bisa masuk ke tubuh Bu Hesti," kata sang polisi.
Ucapan sang polisi tak membuat Bayan terkejut. Setelah Hesti mengakui dirinya sebagai jelmaan kuyang, maka rasa penasaran di hati Bayan mengenai luka-luka Hesti pun terjawab. Namun sayang jenasah Hesti telah dijemput keluarganya dan akan dibawa pulang ke rumah duka sebelum Bayan mengetahui hal lainnya.
Keesokan harinya Bayan kembali menemani Anna untuk melayat ke rumah Hesti. Kali ini tanpa membawa serta anak-anak mereka. Saat tiba di sana sedang terjadi kehebohan karena jasad Hesti raib, hilang tanpa jejak. Semua orang bingung dan saling menyalahkan termasuk polisi yang bertugas mengamankan lokasi.
Anna yang telah membaur dengan teman-temannya pun tampak tak percaya jika jasad Hesti hilang. Bahkan salah seorang diantaranya khawatir jika jasad Hesti diambil orang tak bertanggung jawab untuk dijadikan media dalam melakukan kejahatan. Bayan yang mendengar analisa teman-teman Anna hanya tersenyum kecut karena ia tahu kemana perginya jasad Hesti.
Bayan yakin jasad Hesti bukan hilang diculik tapi telah hancur jadi debu dan terbang ditiup angin seperti jasad Senja dulu. Namun Bayan tak ingin memberitahu hal itu karena merasa itu rahasia besar yang harus disimpannya rapat-rapat.
Setelah menunggu hampir dua jam tapi belum mendapatkan informasi dimana jasad Hesti berada, Bayan pun mengajak Anna pulang.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sore itu Bayan berada di ruang kerjanya di kantor. Ia berdiri di dekat jendela sambil menatap matahari yang terbenam perlahan di kaki langit. Senyum tipis nampak menghias wajah lelahnya.
Bayan kembali menghela nafas panjang seolah membuang beban berat yang dipikulnya. Bayan merasa lebih tenang setelah mengetahui biang keladi dari keonaran di hidupnya belakangan ini telah pergi untuk selamanya.
Bayan kembali mengingat saat pertama kali ia bertemu Hesti. Mereka bertemu di pesta pernikahannya dengan Anna. Saat itu Hesti tengah hamil besar. Namun Bayan melihat cara menatap Hesti pada wanita lain yang juga tengah hamil atau pun pada bayi sedikit berbeda. Saat Bayan menyampaikan itu pada Anna, ia justru ditertawai.
"Sejak hamil Hesti emang kaya gitu. Suka iri sama wanita yang lagi hamil padahal dirinya sendiri lagi hamil. Kalo sama anak kecil, Hesti merasa gemes aja. Mungkin itu yang namanya ngidam," kata Anna kala itu.
Bayan pun percaya meski pun selanjutnya ia masih kerap melihat perilaku Hesti yang aneh itu. Beberapa kali Hesti mampir ke rumah. Dan terakhir bertemu dengannya saat pesta ulang tahun Nathan.
Karena sibuk menyambut tamu dan mengawasi Nathan, Bayan pun mengabaikan sikap Hesti pada wanita hamil dan anak di bawah usia lima tahun itu. Bayan yakin saat itu lah Hesti melihat Kayla yang sehat dan menggemaskan itu lalu mencoba mencari informasi dari Anna tentang jati diri dan alamat rumah Kayla.
Bayan marah karena Hesti menjadikan istrinya sebagai informan. Apalagi Hesti juga menargetkan anak-anaknya. Namun setelah ia menyaksikan sendiri kematian Hesti di depan matanya, Bayan merasa puas.
Lamunan Bayan buyar saat Rama dan Riko masuk ke dalam ruangan lalu ikut berdiri di samping kanan dan kirinya.
"Biasa aja," sahut Rama cepat namun membuat Bayan menoleh.
Riko yang memang menemani Rama pun menjelaskan apa yang terjadi di ruang sidang tadi.
"Ga ada hasilnya Yan. Rama tetep keukeuh mau cerai sama Dita. Padahal Dita dan kedua orangtuanya memohon diberi kesempatan," kata Riko.
"Buat apa lagi dilanjutin kalo cuma bakal bikin sakit hati. Dita dan orangtuanya cuma takut miskin makanya minta supaya Gue batalin niat Gue menceraikan Dita. Andai pernikahan ini dilanjut lagi, pasti Gue juga yang harus ngalah terus kaya kemarin. Gue capek, bosen," sahut Rama kesal.
Ucapan Rama membuat Bayan dan Riko tersenyum.
__ADS_1
"Terus gimana kalo Kayla ketemu dan Dita jadiin itu senjata buat ngiket Lo lagi ?" tanya Riko.
"Apa pun yang terjadi Gue bakal tetep cerai dari Dita. Soal Kayla, andai dia masih hidup pun Gue pasti bertanggung jawab kok," sahut Rama.
"Kenapa Lo yakin banget kalo Kayla udah meninggal ?. Tiap kali Kita ngebahas Kayla, Lo selalu bilang kaya gini," kata Bayan tak mengerti.
"Ok, Gue bakal jujur. Sebenernya di malam kedua Kayla menghilang, Gue mimpi ketemu dia. Dalam mimpi tuh Kayla tampil beda banget, lain dari biasanya. Dia pake baju serba putih, pake bandana bunga juga yang warnanya putih, tapi sayangnya dia ga mau Gue sentuh. Kayla bilang dia udah bersih. Dia juga bilang kalo dia nunggu Gue di tempat yang warnanya putih kaya bajunya. Dan waktu Gue bangun, Gue nyium aroma harum di sekitar Gue. Nah setelah Gue pikir-pikir, akhirnya Gue yakin kalo Kayla emang udah mendahului Gue dan pamit sama Gue melalui mimpi itu," kata Rama sambil mengusap matanya yang basah.
Bayan dan Riko yang mendengar pengakuan Rama pun memeluknya untuk mensuport sang sahabat.
"Kalo Lo yakin Kayla udah pergi, ada baiknya Lo doain dia. Kirimin Al Fatihah biar dia seneng. Itu adalah hadiah terindah untuk orang yang sudah meninggal dunia dan bukti kalo Lo sayang sama dia," kata Bayan bijak.
"Iya, makasih Yan," sahut Rama dengan suara bergetar.
Kemudian Bayan, Rama dan Riko saling mengurai pelukan. Bayan pun memimpin doa untuk Kayla sedangkan Rama dan Riko mengaminkan doa tersebut.
Awalnya Bayan memang ingin memberitahu Rama jika Kayla memang telah meninggal dunia karena dimangsa kuyang jelmaan Hesti. Namun Bayan mengurungkan niatnya dan berniat menyimpannya rapat-rapat.
Selesai berdoa, ketiga sahabat itu pun keluar dari ruangan Bayan lalu bergegas pergi menuju ke rumah Riko untuk menghadiri jamuan makan malam.
Rupanya saat ini Mona tengah hamil anak pertamanya dengan Riko. Itu diketahui Riko saat mengantar istrinya ke Rumah Sakit untuk memeriksskan luka di kepalanya. Saat itu lah diketahui jika Mona tengah hamil tujuh minggu. Mungkin karena fokus dengan luka di kepalanya, Mona tak sadar jika dirinya hamil.
Dan untuk merayakannya Riko mengundang Bayan dan keluarganya juga Rama untuk makan malam bersama di rumah.
Tadi sore Anna telah memberitahu Bayan jika ia pergi lebih dulu ke rumah Riko bersama Arti dan kedua anak mereka, jadi Bayan tak perlu pulang ke rumah untuk menjemput mereka. Bayan pun setuju karena ia tahu Mona bukan lah jelmaan kuyang yang akan membahayakan istri dan kedua anaknya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=