
# Assalamualaikum readers tersayang. Mohon maaf jika seminggu ini Titisan Kuyang upnya sedikit kacau. Itu karena Author sedang berduka. Kakak ipar Author baru saja meninggal dunia dan saat ini keluarga masih sibuk mengurus semuanya. Mohon pengertiannya yaa... Makasih... #
Setelah melihat 'wujud lain' ibunya malam itu, Fikri makin tak sabar ingin bertemu dengan mak Ejah. Namun karena tak mengenal mak Ejah, Fikri pun meminta Bayan untuk mengantar.
"Jangan sekarang ya Fik. Ayah sibuk," kata Bayan saat Fikri menemuinya di depan rumah.
"Terus kapan dong Yah. Apa harus malam hari lagi Kita datang ke sana. Bisa kan Kita bertamu siang hari secara normal ?" tanya Fikri.
"Kayanya ga mungkin. Ibumu sengaja sembunyi di sana karena memang tak ingin bertemu dengan orang yang dia kenal termasuk Kita. Ibumu pasti tau hanya orang tertentu yang bisa masuk ke sana. Kalo orang asing kaya Kita nongol di sana pasti akan mengundang perhatian dan dicurigai. Karena mereka pikir Kita adalah antek suruhan pemerintah yang bakal menggusur pemukiman itu," kata Bayan.
"Maksudnya gimana Yah ?" tanya Fikri tak mengerti.
Kemudian Bayan mulai menjelaskan kejadian kebakaran yang menimpa pemukiman kumuh di salah satu sudut kota Jakarta.
Selama ini warga yang menghuni lahan milik pemerintah itu mengklaim tanah yang mereka tempati sebagai milik mereka. Jadi saat ada penertiban dan lahan akan digunakan kembali oleh pemerintah, warga di sana menolak pindah. Lalu dengan beringas mereka menuntut ganti rugi. Dan saat tuntutan tak terpenuhi, mereka sengaja membuat kerusuhan hingga menimbulkan banyak korban. Tak hanya materi tapi juga korban luka bahkan meninggal dunia.
Di tempat lain kasus berbeda terjadi pada pemukiman kumuh yang dilanda kebakaran hebat. Kabar burung mengatakan jika perumahan kumuh itu bukan terbakar tapi sengaja dibakar.
Warga di sana mengatakan jika sebelumnya ada orang asing yang masuk ke wilayah mereka seolah mencari alamat. Dan selang dua hari setelah kedatangan orang asing itu, pemukiman terbakar. Warga mengira orang asing itu adalah mata-mata yang dikirim untuk memberi informasi titik mana saja yang rawan terbakar. Karena itu warga pemukiman kumuh biasanya akan menangkap bahkan memukuli orang asing yang datang ke sana.
Fikri nampak menganggukkan kepalanya usai mendengar penjelasan Bayan.
"Jadi Aku harus sabar ya Yah," kata Fikri dengan mimik wajah kecewa.
"Iya Fik. Ayah minta maaf karena belum bisa mempertemukan Kamu dengan Ibu kandungmu itu," kata Bayan tak enak hati.
"Gapapa Yah. Aku tau Ayah sibuk makanya Kita harus cari waktu luang biar bisa cari Ibu. Andai Ayah punya foto Ibu, mungkin Aku bisa mencarinya sendiri. Tapi Aku yakin Ayah ga bakal mau nyimpen foto wanita berhati iblis seperti dia," sahut Fikri sambil tersenyum getir.
Bayan pun mengangguk karena dia memang tak pernah ingin menyimpan foto wanita yang telah menghancurkan saudara kembarnya itu.
Setelah menyampaikan keinginannya, Fikri pun pamit. Bayan hanya bisa menatap kepergian Fikri dengan iba.
\=\=\=\=\=
Malam itu Nathan dan Bayan baru saja keluar dari sebuah restoran. Rupanya mereka baru saja bertemu dengan rekan bisnis perusahaan.
"Biar Aku yang bawa mobilnya ya Yah," kata Nathan.
"Ok," sahut Bayan sambil melemparkan kunci mobil kearah Nathan.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil nampak bergerak perlahan meninggalkan area restoran. Saat mobil berbelok untuk masuk ke jalan raya, saat itu lah Bayan melihat sosok wanita mirip mak Ejah sedang berjalan di trotoar.
Bayan menajamkan penglihatannya untuk meyakinkan diri jika wanita itu memang mak Ejah. Setelah yakin, Bayan mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Fikri.
"Perlambat mobilnya Nath. Kita mampir sebentar di warung kopi di depan sana," pinta Bayan sambil terus mencoba menghubungi Fikri.
"Ayah mau ngopi ?" tanya Nathan.
"Iya. Sekalian nunggu Fikri di sana," sahut Bayan.
Tak ingin banyak tanya, Nathan pun mengangguk lalu melajukan mobilnya ke tempat yang dimaksud sang ayah.
Nathan menepi lalu turun lebih dulu. Ia segera memesan dua gelas kopi pada pemilik warung. Sedangkan Bayan nampak bicara dengan Fikri melalui sambungan telephon.
"Ayah liat Ibumu Fikri. Sekarang Ayah lagi berusaha menunda kepergiannya. Kalo bisa Kamu cepet ke sini ya," kata Bayan.
"Iya Yah. Aku langsung otw ke sana," sahut Fikri antusias.
Bayan mengangguk lalu duduk di samping Nathan.
"Ada apaan sih Yah, kenapa Kita berhrnti di sini ?" tanya Nathan penasaran.
"Oh ya ?. Mana orangnya Yah ?" tanya Nathan sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
"Sebentar lagi dia lewat sini," sahut Bayan.
Nathan pun mengangguk lalu mencoba menunggu sambil meneguk kopi yang terhidang di depannya.
Tak lama kemudian mak Ejah lewat di trotoar. Wanita itu melangkah santai sambil membawa sebuah tas. Penampilannya saat itu terlihat apik, bersih dan wangi. Nampaknya mak Ejah baru saja menghadiri sebuah acara. Sayangnya mak Ejah tak menyadari kehadiran Bayan dan Nathan karena posisi keduanya membelakangi trotoar.
"Itu Mak Ejah lewat Yah," kata Nathan sambil berbisik.
" Iya, Ayah tau," sahut Bayan cepat hingga mengejutkan Nathan.
"Terus ...?" tanya Nathan tak mengerti.
"Ga ada terus-terus. Tugas Kita cuma mengawasi supaya wanita itu ga pergi jauh," sahut Bayan.
"Siap Yah," kata Nathan dengan mimik lucu hingga membuat Bayan tersenyum.
__ADS_1
Saat jarak mak Ejah mencapai sepuluh meter dari Bayan dan Nathan, Fikri pun tiba di sana.
"Dimana Ibuku Yah ?!" tanya Fikri tak sabar.
"Itu di sana," sahut Bayan sambil menunjuk kearah mak Ejah yang kian menjauh.
"Itu ?. Ga salah Yah. Kok Ayah ga menyapanya atau mengajaknya ngobrol ?" tanya Fikri tak mengerti.
"Kejar dia Fikri. Sekarang, atau Kamu bakal kehilangan dia selamanya !" kata Bayan kesal.
"Ok," sahut Fikri sambil berlari kecil mengikuti mak Ejah.
"Bagaimana cara memanggil Mak Ejah, Yah ?. Kan Bang Fikri ga tau siapa namanya ?" tanya Nathan sambil menoleh kearah Bayan.
"Kita liat aja gimana cara Fikri mendapatkan Ibunya," sahut Bayan sambil menatap lekat kearah Fikri dan Mak Ejah.
Di kejauhan Fikri nampak mengejar mak Ejah. Saat langkahnya berjarak dua meter lagi, Fikri pun memanggil mak Ejah dengan suara lantang.
"Ibuuu ...!. Tunggu Aku Bu ...!" panggil Fikri.
Mak Ejah refleks berhenti melangkah lalu menoleh kearah Fikri. Ia tertegun tak percaya menyaksikan Fikri sedang berlari kecil. Saat itu jantung mak Ejah berdetak cepat karena yakin Fikri sedang berlari kearahnya. Kemudian saat Fikri tiba di depannya lalu memeluknya erat, Mak Ejah hanya mematung bingung karena tak menyangka akan dipeluk oleh Fikri.
"Ibu ...," panggil Fikri sambil mengurai pelukannya.
Kedua mata Mak Ejah nampak berkaca-kaca. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Fikri.
"Saba ...," panggil Mak Ejah lirih.
"Iya Bu. Aku Saba, Anak Ibu ...," sahut Fikri dengan suara bergetar sambil menggenggam jemari mak Ejah yang menyentuh wajahnya.
"Kamu ...," ucapan mak Ejah terputus saat Bayan dan Nathan datang mendekat.
Saat itu lah mak Ejah sadar jika Bayan adalah dalang di balik pertemuannya dengan Fikri. Mak Ejah juga yakin jika Bayan telah memberitahu Fikri tentang jati dirinya termasuk ilmu hitam yang dianutnya.
"Ini semua pasti ulahmu. Iya kan Bayan ?" tanya Mak Ejah sambil menatap Bayan lekat.
"Betul Jah. Kenapa ?, apa Aku salah. Anakmu sendiri yang datang padaku dan minta Aku menunjukkan dimana Ibunya berada. Lagi pula sudah waktunya Kamu tampil kan Jah ?" tanya Bayan sambil tersenyum penuh makna.
Mak Ejah nampak membisu sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat karena merasa dijebak.
__ADS_1
\=\=\=\=\=