Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
190. Senja ...?


__ADS_3

Dugaan Bayan jika Anna akan membaik usai menjauh semalam ternyata salah. Anna memang tetap melakukan tugasnya sebagai istri dengan menyiapkan semua keperluan Bayan, tapi tak lebih dari itu. Saat Bayan mendekat untuk mengecup keningnya seperti biasa, Anna nampak menghindar.


"Masih marah Bund ?" tanya Bayan.


"Pikir aja sendiri," sahut Anna ketus.


"Ayo lah Bund. Ngapain sih cemburu berlebihan kaya gini. Kita kan udah tua, udah punya cucu. Emang Kamu ga malu sama umur ?" tanya Bayan kesal.


"Yang harusnya malu tuh Kamu Yah. Udah tua tapi masih aja main api," sahut Anna.


"Aku ga main api Bund !" kata Bayan lantang.


"Kalo ga main api kenapa harus kaget ngeliat si Rosi. Bahkan Kamu hampir membunuhku semalam gara-gara terpukau waktu ngeliat dia !" kata Anna tak kalah lantang.


Bayan terdiam. Ia tahu tak akan mudah menjelaskan kesalah pahaman ini. Apalagi saat ini jam telah menunjukkan pukul delapan pagi. Bayan yakin ia akan terlambat ke kantor.


Tiba-tiba ponsel Bayan berdering dan Bayan segera meraihnya.


"Iya Rik, sebentar lagi otw. Lagi sarapan nih," kata Bayan sambil mengunyah sarapannya.


"Ok. Langsung ke lokasi aja Yan. Gue sama Rama juga lagi otw ke sana," kata Riko dari seberang telephon.


"Iya," sahut Bayan di akhir kalimatnya.


Anna yang duduk tak jauh dari Bayan tahu jika Riko, Rama dan Bayan sedang menangani proyek baru yang membutuhkan konsentrasi. Harusnya ia tak merongrong suaminya dengan masalah Rosi. Tapi entah mengapa Anna masih tak bisa terima saat Bayan hampir mencelakainya karena Rosi semalam.


"Aku pergi ya Bund. Mungkin ga pulang dua hari," kata Bayan tanpa menatap sang istri.


"Hmmm ..., sama siapa ?" tanya Anna.


"Rama dan Riko lah. Sama siapa lagi emangnya ?" tanya Bayan kesal.


"Sama Rosi mungkin," sahut Anna asal sambil berlalu.


Ucapan Anna membuat Bayan kesal. Ia bahkan membanting sendok dan garpu yang dipegangnya ke atas piring hingga menimbulkan suara berdenting yang sangat kencang.

__ADS_1


"Bund !" panggil Bayan lantang namun diabaikan oleh Anna.


Wanita itu bahkan pura-pura sibuk menyirami tanaman di teras samping.


Bayan menghela nafas panjang. Ia kesal karena terus dituduh memiliki hubungan dengan wanita yang bernama Rosi itu. Apalagi Bayan juga masih tak yakin jika Rosi adalah wanita yang datang dari masa lalunya.


Tak mau memperkeruh suasana, Bayan pun bangkit setelah menyelesaikan sarapan. Ia melangkah ke kamar untuk mengambil tas berisi pakaian yang telah disiapkan Anna tadi. Bayan nampal tersenyum diam-diam. Meski pun marah tapi Anna masih melakukan tugasnya dengan baik. Buktinya Anna telah menyiapkan keperluan yang akan ia bawa saat menginap nanti.


"Makasih Bunda Sayang. Aku pergi ya, Assalamualaikum ...," pamit Bayan sambil mengecup belakang kepala Anna yang terus menghindarinya.


"Wa alaikumsalam," sahut Anna cepat sambil bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menoleh kearah Bayan.


\=\=\=\=\=


Selama dua hari tak bertemu sang suami terasa sangat menyiksa untuk Anna. Apalagi saat itu benaknya dipenuhi rasa curiga pada hubungan Bayan dan Rosi.


Karena tak tahan lagi memendam rasa curiga, akhirnya Anna mendatangi Klinik Bersalin Hilya.


Saat tiba di sana ia berpapasan dengan Hilya yang juga baru saja turun dari mobil.


"Hai Nak. Kamu baru sampe juga ?" tanya Anna sambil tersenyum.


"Iya Bund. Dari Bogor langsung ke sini," sahut Hilya sambil mencium punggung tangan sang mertua.


"Terus Nathan mana ?" tanya Anna sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Nathan.


"Abis nganter Aku langsung ke kantor Bund. Tadi pagi Ayah telephon dan minta Bang Nathan masuk kantor karena katanya ada tamu yang bakal datang nanti," sahut Hilya cepat.


"Oh gitu. Eh, Kamu panggil apa tadi, Bang Nathan ?" tanya Anna tak percaya.


"Iya Bund. Aku tau Aku salah selama ini karena udah ga bersikap hormat sama Suamiku. Kami bicara banyak kemarin dan Kami sepakat untuk memperbaiki semuanya termasuk sebutanku untuknya," sahut Hilya malu-malu.


Anna tersenyum lalu memeluk Hilya erat. Ia senang karena akhirnya Hilya tahu bagaimana seharusnya bersikap pada Nathan.


"Ayo masuk Bund. Aku tau Bunda pasti bete di rumah karena Ayah ga pulang dua hari," ajak Hilya setelah Anna mengurai pelukannya.

__ADS_1


Anna mengangguk lalu mengikuti Hilya dari belakang.


Saat melangkah memasuki klinik, semua karyawan Hilya menyapa termasuk Ayu. Mereka sempat berbincang beberapa saat sebelum akhirnya Anna kembali melangkah mengekori Hilya.


Saat akan masuk ke dalam ruangan Hilya, Anna melihat Afiah sedang digendong oleh seorang wanita yang seusia dengannya. Anna berhenti dan menatap wanita itu dengan lekat.


"Itu siapa yang lagi gendong Afiah, Hil ?" tanya Anna.


"Oh itu Bu Rosi Bund. Dia karyawan juga di sini," sahut Hilya sambil membuka pintu.


"Karyawan bagian apa, kok jam segini masih sibuk main sama Afiah ?" tanya Anna sambil mendudukkan diri di sofa yang ada di ruangan Hilya.


"Karyawan serabutan Bund. Tugasnya ga tetap tapi dia siap membantu siapa pun yang butuh bantuan di Klinik ini," sahut Hilya.


Kemudian Hilya menjelaskan apa tugas Rosi di sana. Hilya juga menceritakan dari mana Rosi berasal.


"Keluarganya dimana, kok dia tinggal di sini ?" tanya Anna.


"Dia pendatang Bund. Ga kenal siapa-siapa di sini. Makanya Aku kasih dia tempat tinggal di belakang. Yah, hitung-hitung Bu Rosi bisa sekalian nemenin orang yang jagain Klinik Bund," sahut Hilya.


Anna nampak menganggukkan kepala mendengar cerita Hilya. Saat perawat datang sambil membawa seorang pasien masuk ke dalam ruangan Hilya, Anna pun keluar karena tak ingin mengganggu.


\=\=\=\=\=


Bayan mengerutkan keningnya saat tak mendapati Anna di rumah. Bayan panik karena mengira sang istri kabur saat ia menyelesaikan pekerjaannya di luar kota selama dua hari. Namun Bayan tersenyum saat Yunus memberitahu Anna sedang berada di Klinik Bersalin Hilya.


Dengan semangat tinggi Bayan pun pergi ke klinik untuk menjemput Anna. Saat itu ia telah membersihkan diri dan berganti pakaian. Bayan nampak tak sabar bertemu dengan sang istri karena dua hari Anna selalu menolak bicara dengannya. Anna tak membalas pesannya juga tak menjawab telephonnya. Dan itu membuat Bayan rindu.


Bayan pun melajukan mobilnya dengan cepat. Ia turun dari mobil dengan segera saat melihat Anna sedang bermain dengan Afiah di halaman klinik. Namun langkah Bayan terhenti saat melihat sosok wanita yang menjadi sumber pertengkarannya dengan Anna datang mendekati Anna dan Afiah. Apalagi kemudian Anna dan Rosi nampak berbincang sambil tertawa.


Bayan terkejut melihat keakraban Anna dan Rosi.


Seolah sadar ada yang tengah mengamati, Rosi pun menoleh. Bayan pun membeku di tempat saat melihat wajah Rosi. Tubuhnya bahkan bergetar hebat karena tak kuasa menahan haru.


"Senja ...?" gumam Bayan dengan suara lirih hingga terdengar seperti bisikan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2