Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
145. Tubuh Tanpa Kepala


__ADS_3

Tapi Fikri bukan anak kecil yang akan begitu saja menuruti permintaan ibunya. Saat sosok mak Ejah tak terlihat lagi, Fikri pun berlari ke warung kopi untuk mengambil motor milik Nicko yang ia titip di sana tadi.


Rupanya selama ini Fikri selalu menggunakan motor untuk bertemu ibunya. Tapi kali ini ia terpaksa meminjam motor Nicko karena motornya hilang dicuri orang. Dan ia sengaja menyembunyikan motor di warung kopi karena tak ingin ibunya curiga. Selama ini Fikri selalu datang lebih awal hingga mak Ejah menduga Fikri menggunakan Taxi untuk tiba di tempat itu.


"Makasih ya Pak !" kata Fikri sambil meletakkan selembar uang berwarna merah di hadapan pemilik warung.


"Sama-sama Mas !" sahut pemilik warung antusias karena mendapat uang yang jumlahnya cukup besar sebagai jasa menjaga motor yang dititipkan tadi.


Kemudian Fikri melajukan motornya kearah hilangnya mak Ejah. Awalnya Fikri ingin pergi ke pemukiman kumuh itu namun ia urungkan karena Bayan menghubunginya dan memintanya menunggu.


Tak lama kemudian Bayan pun datang. Fikri menoleh saat mendengar suara deru mobil Bayan. Ia mengerutkan keningnya karena melihat Bayan datang ditemani Nathan. Jujur saat itu Fikri merasa tak suka karena khawatir rahasia kelam sang ibu diketahui oleh Nathan.


Seolah bisa membaca kekhawatiran Fikri, Bayan pun menjelaskan tujuannya mengajak Nathan kali ini.


"Jangan khawatir Nak. Adikmu ini juga punya pengalaman berhadapan dengan makhluk siluman itu. Ayah sengaja mengajaknya supaya dia bisa mendampingi Kamu nanti," kata Bayan.


"Betul Bang. Pacarku dulu ehm ... maksudku mantan pacarku dulu juga siluman kuyang. Aku bahkan menyaksikan perubahan wujudnya dari manusia menjadi kuyang dan sebaliknya yaitu saat kepalanya kembali ke badannya," kata Nathan sambil tersenyum kecut.


"Masa sih. Apa Kamu ga takut Nath ?" tanya Fikri penasaran.


"Kalo takut mah jangan ditanya lagi Bang. Aku takut banget sampe gemeteran seluruh badan. Untung Aku ga ngompol waktu itu," sahut Nathan cepat.


"Ngobrolnya nanti aja. Sekarang Kita harus bergerak cepat Anak-anak. Kalian ikutin Ayah dari belakang ya !" sela Bayan mengingatkan.


"Iya Yah !" sahut Fikri dan Nathan bersamaan.


Nathan bergegas duduk membonceng di belakang Fikri sedangkan Bayan duduk mengemudi mobil seorang diri. Dan sesaat kemudian Bayan memacu mobilnya dengan cepat diikuti oleh Fikri.


Meski tak mengerti mengapa arah yang ditempuh berbeda dengan arah menghilangnya mak Ejah, namun Fikri percaya jika jalan yang diambil Bayan adalah yang terbaik. Dan itu terbukti. Bayan menghentikan mobilnya di suatu tempat. Fikri pun ikut berhenti tepat di samping mobil Bayan.


"Di sini Yah ?" tanya Fikri.


"Iya. Matikan mesin motor sekarang. Usahakan jangan ada suara apa pun saat Kita mengintai nanti," kata Bayan yang diangguki Fikri.

__ADS_1


Nathan turun lebih dulu lalu mengikuti ayahnya yang berjalan ke suatu tempat sedangkan Fikri memarkir motor lalu menyusul kemudian.


"Liat itu," kata Bayan sambil menunjuk ke atas tepat ke balik pohon.


Fikri dan Nathan nampak menahan nafas saat melihat sosok kepala dengan organ tubuh bagian dalam menggantung di bawahnya itu sembunyi di balik dedaunan. Sesaat kemudian suara gemerisik daun pun terdengar bersamaan dengan melesatnya kepala tanpa tubuh itu.


Fikri pun terkejut lalu bergerak untuk mengejar. Namun langkahnya terhenti saat Nathan mencekal lengannya.


"Jangan dikejar Bang," kata Nathan.


"Lepasin Nath, Aku mau liat apa yang dia lakuin !" sahut Fikri gusar.


"Percuma Kamu ngejar dia karena Kamu ga akan bisa melakukan apa pun di sana nanti. Lagian kepala itu bergerak lebih cepat daripada Kamu Bang," kata Nathan.


"Terus Kita di sini aja nungguin siluman itu balik lagi ?!" tanya Fikri.


"Kita ga ngikutin siluman itu tapi Kita bakal menghadang dia di sana. Ayo ikut !" kata Bayan sambil melangkah cepat menuju suatu tempat.


Bayan nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu, demikian pula dengan Nathan. Sikap mereka membuat Fikri bingung.


"Kalian nyari apaan sih ?" tanya Fikri.


Bukannya menjawab, Bayan dan Nathan kompak menatap ke atas sambil berseru.


"Di atas !" kata Bayan dan Nathan bersamaan sambil menunjuk ke atas pohon.


"Apanya ?" tanya Fikri tak mengerti.


"Tubuh Ibumu," sahut Nathan cepat hingga membuat Fikri terkejut.


"Sekarang Kamu naik dan turunkan tubuh Ibumu ke bawah Fik. Cepat !" perintah Bayan.


"Aku Yah ?" tanya Fikri tak percaya.

__ADS_1


"Ck, bantu Abangmu Nath !" kata Bayan tak sabar.


"Iya Yah. Ayo Bang !" ajak Nathan sambil menarik tangan Fikri.


Fikri pun terpaksa menuruti perintah Bayan. Ia naik ke atas pohon lebih dulu lalu Nathan menyusul kemudian. Sedangkan Bayan nampak meraih ranting-ranting kering yang berserakan di sekitarnya lalu mematahkannya menjadi beberapa potongan berukuran kecil.


Di atas pohon Nathan tampak menggerutu karena gerakannya terhadang oleh Fikri. Rupanya saat tiba di dahan yang paling besar, Fikri terkejut dan berhenti memanjat. Saking terkejutnya Fikri hampir saja terjatuh ke bawah. Beruntung Nathan sigap menahan tubuh Fikri lalu mengembalikan posisi kedua tangannya agar kembali berpegangan di batang pohon.


"Makasih Nath," kata Fikri lirih yang diangguki Nathan.


Saat itu di hadapan Fikri dan Nathan tampak sosok tubuh tanpa kepala tengah duduk bersandar di dahan pohon. Fikri menganga tak percaya saat mengenali gaun yang dikenakan sosok tubuh tanpa kepala itu sama persis seperti yang dikenakan mak Ejah tadi.


Entah mengapa perasaan sedih, takut, marah dan kecewa bercampur aduk dirasakan Fikri. Tanpa sadar Fikri pun menangis di hadapan tubuh tanpa kepala itu.


Dengan tangan gemetar Fikri mencoba menyentuh sosok di hadapannya itu. Ia menggelengkan kepala sambil menangis saat mengenali tanda di telapak tangan mak Ejah.


"Cepat sedikit Anak-anak !" kata Bayan dari bawah pohon.


Nathan pun mengangguk lalu menoleh kearah Fikri.


"Ayo Bang, jangan nangis aja. Cepetan bantu Aku nurunin tubuh ini !" kata Nathan.


Fikri pun mengangguk. Sambil menangis ia membantu Nathan menurunkan tubuh milik Mak Ejah dari atas pohon. Karena gugup, pegangan tangan Fikri pada tubuh mak Ejah pun terlepas. Nathan yang ada di samping Fikri pun terpaksa melepaskan pegangannya juga karena tak kuat menanggung bobot tubuh mak Ejah seorang diri. Akibatnya tubuh mak Ejah meluncur jatuh ke tanah tepat di hadapan Bayan.


Bayan nampak menggelengkan kepala melihat kecerobohan Nathan dan Fikri.


"Maaf Yah, abis berat banget. Abang ngelepasin pegangannya tadi !" kata Nathan sambil nyengir.


Bayan pun menghela nafas panjang. Tak ingin membuang waktu, Bayan pun segera menaburkan patahan ranting dan tusuk gigi yang dibawanya di potongan leher mak Ejah. Fikri yang baru turun dari pohon pun terkejut melihat aksi Bayan. Saat ia ingin bertanya, Nathan menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya sebagai isyarat agar Fikri diam.


Fikri pun mengangguk lalu melanjutkan dzikir dalam hati yang dibacanya sejak tadi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2