
Langkah Bayan dan Nathan berhenti di depan ruang operasi dimana rencananya operasi Rosi akan dilaksanakan. Namun keduanya justru melihat brankar berisi tubuh Rosi sedang didorong keluar dari dalam ruang operasi. Dan itu mengejutkan sekaligus membingungkan.
Dari percakapan dua perawat yang mendorong brankar bisa disimpulkan terjadi miss komunikasi di sana.
"Kok bisa gini ya. Padahal tadi katanya udah Ok," kata perawat pertama.
"Ga tau tuh," sahut perawat kedua sambil menggedikkan bahunya.
"Tapi selama ini ga pernah ada kejadian kaya gini lho. Masa iya semua ruang operasi mendadak penuh dan kepake," kata perawat pertama tak percaya.
"Bisa aja. Kan hari ini banyak pasien yang udah punya jadwal operasi. Justru pasien ini yang dijadwalkan mendadak. Berhubung operasi yang udah terjadwal itu belum selesai, terpaksa Kita yang ngalah," sahut perawat kedua.
Pembicaraan kedua perawat mengejutkan Bayan dan Nathan. Mereka saling menatap bingung karena tak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya bisa menatap brankar yang menjauh sambil terdiam.
Tak lama kemudian Bayan dan Nathan melihat dokter Yusuf keluar dari salah satu ruang operasi. Pria itu nampak membuka masker yang menutupi wajahnya lalu memberi kode pada Bayan dan Nathan agar mengikuti langkahnya.
Bayan dan Nathan mengangguk lalu mengikuti dokter Yusuf dari belakang. Mereka bertemu di taman kecil dekat ruang operasi dan bicara di sana.
"Ada apa dok ?" tanya Nathan tak sabar.
"Apa Kalian liat brankar yang baru aja keluar ?" tanya dokter Yusuf.
"Iya. Itu bukannya Bu Rosi dok ?" tanya Nathan.
"Betul. Saya yang sengaja mengatur supaya semua ruang operasi terkesan penuh. Karena dengan begitu, waktu operasinya bakal tertunda beberapa waktu," sahut dokter Yusuf sambil tersenyum bangga.
"Berapa lama dok ?" tanya Bayan.
"Harusnya bisa sampe besok pagi ya. Tapi gimana jadinya, Kita liat gimana nanti," sahut dokter Yusuf.
__ADS_1
"Apa dokter sengaja memperlambat waktu operasi ?. Apa itu ga membahayakan pasien dok ?" tanya Nathan cemas.
"Saya ga segila itu Mas Nathan. Saya ga mungkin membahayakan nyawa pasien hanya untuk siluman macam dia. Bisa besar kepala dia nanti," sahut dokter Yusuf.
"Syukur lah. Jadi apa yang dokter lakukan ?" tanya Nathan penasaran.
"Saya hanya membuat beberapa alat di ruang operasi lain tak berfungsi sebagaimana mestinya. Saya sampaikan ke dokter Mutia kalo beberapa alat terganggu. Dan kalo dokter Mutia memaksa melakukan operasi akan berbahaya untuk pasien. Apalagi kondisi pasien belum stabil saat ini. Dokter Mutia paham apa maksud Saya. Lalu dia sendiri yang bilang kamar operasi penuh pada perawat dan pasiennya tadi. Itu lebih masuk akal karena Saya juga mikirin kredibilitas Rumah Sakit ini saat berbohong tadi. Saya ga mau nama baik Rumah Sakit tercemar karena peralatannya dikabarkan rusak sehingga pasien harus menunda operasi," sahut dokter Yusuf.
Ucapan dokter Yusuf membuat Bayan dan Nathan saling menatap sambil menghela nafas lega.
"Yang penting sekarang Kalian manfaatkan moment ini sebaik mungkin," kata dokter Yusuf sambil menghapus peluh di dahinya.
"Kalo gitu Kita bergerak sekarang Nath," kata Bayan kemudian.
"Iya Yah," sahut Nathan antusias.
"Saya nyusul nanti karena masih harus sedikit mengacau di sini," kata dokter Yusuf sambil tersenyum penuh makna.
\=\=\=\=\=
Di ruang rawat inap kelas dua terlihat Rosi sedang terbaring di atas tempat tidur. Kedua matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan sedangkan kedua tangannya nampak mengepal kuat.
Rupanya Rosi marah saat mengetahui jadwal operasinya diundur untuk waktu yang belum ditentukan. Rosi merasa dipermainkan dan itu membuatnya marah.
Dua perawat yang tadi membantunya pun kini pamit undur diri dan meninggalkan Rosi seorang diri di kamar itu.
Rosi bangkit perlahan dari posisi berbaringnya. Meski pun untuk duduk memerlukan tenaga yang cukup besar tapi Rosi tak peduli. Apalagi tiap kali bergerak Rosi merasa sakit yang amat sangat di sekitar bahu dan lehernya.
"Sia*an. Harusnya malam ini semua selesai dan Aku sudah bisa memulai perburuan lagi. Tapi ternyata gagal karena alasan ga jelas. Kenapa Aku curiga sama dokter itu tadi ya," gumam Rosi sambil berusaha mengingat sosok dokter Yusuf.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Rosi berpikir seperti itu. Sebelumnya dokter Mutia mengatakan jika perban yang membalut leher dan wajahnya akan diganti dengan yang baru. Rupanya selama ini Rosi kesulitan melepaskan kepalanya dari tubuhnya yang dibalut menyatu itu saat ia ingin menjelma jadi kuyang. Jika selama ini wajah dan lehernya dibalut secara menyatu, maka setelah operasi akan dibalut terpisah. Dan itu memudahkan Rosi untuk bergerak saat ia menjelma menjadi siluman kuyang nanti.
Sebelumnya Rosi tahu jika Rumah Sakit besar itu memiliki beberapa ruang operasi. Jadi Rumah Sakit bisa memberi pelayanan pada pasien yang membutuhkan penanganan segera. Tapi Rosi bingung kenapa semua ruang operasi mendadak penuh.
Rosi ingat, saat tiba di depan ruang operasi yang dimaksud mereka dihadang oleh seorang perawat yang mengatakan ruang operasi penuh karena pasien masih belum selesai dioperasi. Saat itu dua perawat yang mengawal Rosi nampak bingung. Bahkan dokter Mutia pun masuk ke dalam salah satu ruangan untuk membuktikan ucapan sang perawat.
Tak lama kemudian dokter Mutia keluar bersama seorang dokter yang kemudian diketahui bernama Yusuf. Kemudian kedua dokter itu terlibat pembicaraan seru. Dan akhirnya berujung pemberitahuan jika semua ruang operasi sedang digunakan untuk membantu para pasien.
Dokter Yusuf juga memberikan pendapatnya terkait kondisi Rosi yang tak memungkinkan untuk dilakukan operasi saat itu juga.
Dokter Mutia nampak mengangguk paham dengan apa yang diucapkan rekannya itu. Nampaknya dokter Mutia juga 'mulai sadar' jika waktu operasi Rosi harus dijadwal ulang mengingat kondisinya yang masih belum stabil.
Usut punya usut ternyata dokter Mutia memang mendaftarkan nama Rosi sebagai pasien yang akan dioperasi hari ini atas desakan Rosi.
Jika diingat dengan baik, dokter Mutia melakukannya saat tak sadar. Diduga dokter Mutia ada di bawah pengaruh hipnotis yang dilancarkan Rosi. Karena setelahnya dokter Mutia nampak bingung dengan keputusannya itu.
Beruntung dokter Yusuf berhasil menyadarkan dokter Mutia agar tak melakukan sesuatu yang akan membahayakan banyak orang nanti, meski pun penundaan jadwal operasi itu menyebabkan Rosi kecewa sekaligus marah.
Rosi menoleh kearah jendela saat melihat bayangan dua orang melintas di sana. Rosi mengerutkan keningnya karena merasa itu adalah hal yang tak wajar.
"Mustahil ada orang yang bersihin jendela di jam segini kan. Ini udah terlalu sore untuk membersihkan jendela," gumam Rosi sambil menggelengkan kepala.
Dan sesaat kemudian Rosi terbatuk-batuk karena ada aroma wangi yang aneh memenuhi udara di dalam ruangan ber-AC itu. Rosi mengepalkan tangannya karena merasa kesal. Ia tak suka aroma wangi itu karena membuat nafasnya sesak. Selain itu udara beraroma wangi itu juga telah menimbulkan rasa gatal di tenggorokannya hingga memaksanya batuk, lagi dan lagi.
"Apa ini. Kenapa rasanya gatal dan ... sakit," kata Rosi sambil berusaha menggapai gelas berisi air minum yang terletak di nakas.
Sedikit lagi ujung jemari Rosi akan menyentuh gelas, tiba-tiba jendela dimana ia melihat bayangan orang melintas tadi pecah. Bahkan suara pecahan kaca jendela terdengar memekakkan telinga.
Saat Rosi masih mengamati pecahan kaca yang berhamburan di lantai, saat itu masuk lah dua orang pria ke dalam ruangan itu melalui jendela yang pecah tadi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=