Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
206. Rosi Kembali ...


__ADS_3

Setelah Ambulans menjauh, Rosi mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Sebelumnya Rosi sengaja bertahan di sekitar rumahnya hanya karena ingin tahu bagaimana kelanjutan kisah Suro. Hidup kah atau mati ?.


Dan saat mendengar kasak-kusuk warga yang berdiri di sampingnya tadi Rosi pun senang.


"Ternyata Pak Suro membunuh Istrinya," kata salah seorang warga.


"Istri yang mana ?. Istri Pak Suro kan banyak," kata warga lainnya.


"Yang muda itu lho. Yang katanya mantan PSK itu. Siapa namanya, Minar ya ?" tanya salah satu warga sambil menoleh ke samping.


"Oh pantes. Bukan apa-apa. Minar itu memang keterlaluan. Udah diangkat dari lumpur dan diberi kehormatan dengan cara dinikahi kok masih aja main api. Dasar ga punya otak dan ga pandai bersyukur. Padahal banyak perempuan lac*r seperti dia yang memimpikan diberi status oleh laki-laki, tapi saat dia memperolehnya dia justru merusak kepercayaan Pak Suro," kata warga sambil mencibir.


"Jadi Anak yang dikandungnya bukan Anak Pak Suro ?" tanya beberapa warga bersamaan.


"Iya. Pasti itu yang bikin Pak Suro kecewa lalu membunuhnya. Tapi sayangnya Pak Suro juga kehabisan darah karena ternyata Minar juga berhasil melukainya," sahut warga.


"Jadi Pak Suro ikut mati ?" tanya yang lain tak percaya.


"Meninggal. Sebutan mati kan hanya untuk hewan," sahut seorang warga meluruskan hingga membuat beberapa warga tersenyum sambil mengangguk.


"Tapi kelakuan Suro memang mirip hewan. Bahkan lebih brutal dari hewan buas," batin Rosi sambil tersenyum getir.


"Sayang banget ya. Pak Suro memang kaya raya. Tapi dia ga beruntung karena mendapatkan Istri yang ga baik dan meninggal dengan cara yang ga baik juga," kata salah satu warga prihatin.


"Mungkin itu karma karena Pak Suro mendapatkan kekayaan dengan cara menindas orang lain," sahut seorang warga sambil berlalu.


Dan ucapan warga yang terakhir itu mampu membungkam mulut semua orang. Karena setelahnya warga membubarkan diri satu per satu meninggalkan tempat itu begitu pula Rosi.


Kini Rosi melangkah tanpa arah dan tujuan. Rosi pergi mengikuti instingnya. Dimana banyak wanita hamil dan bayi, ke sana lah ia akan menuju.


\=\=\=\=\=


Siang itu Rosi nampak berdiri di seberang jalan sambil mengamati Klinik Bersalin Hilya.


"Jadi Klinik itu sudah kembali beroperasi. Hmmm ..., kenapa kebetulan sekali," gumam Rosi sambil tersenyum.

__ADS_1


Rosi senang karena akhirnya menemukan tempat untuk pulang. Ya, Rosi memang menganggap Klinik Bersalin Hilya adalah rumahnya.


Rosi pun mendatangi Klinik Bersalin Hilya dan menyapa Riza yang kebetulan bertugas saat itu.


Riza pun terkejut saat melihat Rosi. Wajah pria itu tampak bingung dan itu membuat Rosi ikut bingung.


"Kenapa Riz. Kamu ga suka ya ngeliat Saya ?" tanya Rosi.


"Bukan gitu. Bu Rosi kemana aja, kenapa baru nongol sekarang ?" tanya Riza.


"Saya kerja di tempat lain Riz. Saya ga bisa nunggu Klinik ini buka dan mempekerjakan Saya lagi karena Saya kan juga butuh makan," sahut Rosi berbohong.


"Oh gitu. Syukur lah," kata Riza sambil menghela nafas lega.


"Emang sejak kapan Klinik ini beroperasi lagi Riz ?" tanya Rosi sambil menatap ke dalam klinik yang ramai pengunjung siang itu.


"Dua minggu setelah disegel Bu. Walau pun jam operasionalnya dibatasi, tapi Klinik masih bisa melayani pasien secara maksimal. Dan sekarang Klinik ini udah beroperasi normal seperti semula," sahut Riza sambil tersenyum.


"Dua minggu setelah disegel, itu artinya ...," Rosi menggantung ucapannya karena ia tak tahu kapan itu terjadi.


Rosi memang hampir tak bisa membedakan waktu selama ditawan oleh Suro.


Jawaban Riza membuat Rosi terkejut. Ia tak menyangka jika ia akan disekap selama itu oleh Suro. Dan saat Rosi menoleh, ia melihat seorang wanita sebaya dirinya tengah menyiram tanaman di halaman klinik.


Mengerti arti tatapan Rosi, Riza pun menjelaskan siapa wanita itu sebenarnya.


"Namanya Bi Esih. Dia yang mengerjakan tugas Bu Rosi dan menempati kamar yang dulu Bu Rosi tempati. Mmm ..., sebenernya saat Klinik dibuka Mbak Hilya udah berusaha mencari Bu Rosi. Kan sebelumnya beliau juga yang memberitahu Kami kalo Klinik boleh beroperasi lagi. Tapi sayangnya ga ketemu. Saya dan karyawan lain kan emang ga tau dimana Bu Rosi tinggal. Makanya setelah menunggu sebulan dan Bu Rosi ga kembali, Mbak Hilya menerima Bi Esih kerja di sini," kata Riza menjelaskan.


Penjelasan Riza membuat Rosi tersenyum. Meski kecewa ia tak bisa berbuat apa-apa. Rosi tak mungkin memaksa masuk dan meminta pekerjaan lagi karena posisinya telah digantikan oleh Esih.


"Gapapa Riz, Saya ngerti kok," kata Rosi kemudian.


"Terus sekarang Bu Rosi mau kemana ?" tanya Riza.


"Pulang," sahut Rosi cepat.

__ADS_1


"Pulang kemana ?. Bukannya Bu Rosi pernah bilang ga punya rumah, saudara atau kerabat di sini ?" tanya Riza.


"Tadi Saya kan udah bilang kalo Saya kerja di tempat lain sekarang. Apa Kamu lupa Riz ?" tanya Rosi.


"Astaghfirullah, maaf Saya lupa Bu," sahut Riza sambil menepuk dahinya.


"Gapapa. Kalo gitu Saya pergi ya Riz. Saya ga mau majikan Saya nyariin Saya nanti," kata Rosi sambil tersenyum.


"Iya Bu, hati-hati. Sering-sering main ke sini nanti ya Bu. Walau pun ga kerja di tempat yang sama, Kita akan tetap berteman...," pinta Riza yang diangguki Rosi.


Dengan cepat Rosi melangkah meninggalkan Klinik Bersalin Hilya. Ia marah karena kesempatannya untuk bisa kembali ke klinik itu hilang sudah. Sedangkan di belakangnya Riza hanya bisa menatap Rosi dengan tatapan iba. Riza baru mengalihkan tatapannya saat wanita itu lenyap di tikungan jalan.


Berita tentang kembalinya Rosi juga sampai di telinga Bayan. Nathan yang menceritakan langsung padanya saat mereka bertemu untuk makan siang di kantin.


"Bagus. Setidaknya sementara ini Kita berhasil menjauhkan Rosi dari Hilya dan pasiennya," kata Bayan sambil tersenyum.


"Tapi justru itu bikin Aku khawatir Yah. Bu Rosi ga mungkin pergi begitu aja tanpa rencana matang di kepalanya. Bayangkan kalo Kita ada di posisinya," bisik Nathan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena khawatir pembicaraannya dengan sang ayah didengar orang lain.


Ucapan Nathan menyentak Bayan. Pria itu menatap lekat sang anak yang kini nampak kacau.


Dalam hati Bayan membenarkan ucapan Nathan. Rosi memang pergi tapi Rosi pasti kembali. Bagaimana mungkin Rosi rela meninggalkan tempat dimana dia bisa mendapatkan mangsanya dengan mudah bukan ?.


Saat Bayan dan Nathan sedang terdiam sambil berpikir, tiba-tiba ponsel Nathan berdering. Nathan meraih ponselnya dan tersenyum saat melihat nama sang istri di layar ponselnya.


"Assalamualaikum Sayang. Kenapa nelephon lagi. Padahal baru sepuluh menit yang lalu lho Kita ngobrol. Apa Kamu sekangen itu sama Aku ?" sapa Nathan sambil tersenyum.


Ucapan Nathan tentu saja membuat Bayan menggelengkan kepala.


"Wa alaikumsalam. Sa-Sayang Kamu dimana ?, bisa ga Kamu ke Klinik sekarang ?" tanya Hilya dari seberang telephon.


Menyadari nada suara Hilya yang berbeda membuat Nathan panik. Bahkan ia bangkit dari duduknya begitu saja.


"Iya Aku ke sana sekarang. Kamu ... Kamu gapapa kan ?" tanya Nathan.


"Aku jatuh Sayang. Ini ...," ucapan Hilya terputus karena Nathan segera memutus sambungan telephonnya lalu melangkah cepat meninggalkan sang ayah.

__ADS_1


Tak ingin bertanya karena tahu sesuatu telah terjadi pada menantunya, Bayan pun menyudahi makan siangnya lalu mengikuti Nathan dari belakang.


\=\=\=\=\=


__ADS_2