Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
220. Terdeteksi


__ADS_3

Malam kian merangkak naik saat Rosi berusaha bangun dari posisi berbaringnya lalu duduk tegak di atas tempat tidur. Ia nampak mengamati seluruh ruangan dengan tatapan mata yang tersembunyi di balik balutan perban di wajahnya.


Seringai licik nampak menghias wajah Rosi saat mengingat isi pembicaraan Nathan dengan dokter Yusuf tadi.


"Jadi dia akan melahirkan. Bukan hanya satu tapi tiga. Hmmm ..., keliatannya bayi-bayi itu bisa menjadi makanan pembuka yang sangat manis. Dan itu lebih dari cukup untuk menutup rasa dahagaku setelah sekian waktu," gumam Rosi lalu tertawa.


Namun tawa Rosi harus terhenti saat ia merasa nyeri di sekitar wajah dan lehernya.


"Ck, perban ini mengganggu sekali !" kata Rosi sambil berusaha menarik perban yang menutupi wajahnya hingga ke leher itu.


Seorang perawat yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat inap Rosi pun terkejut melihat Rosi sedang berusaha melepas perban yang membalut wajahnya itu. Perawat itu bergegas maju lalu memegangi kedua tangan Rosi sambil sesekali berusaha mengembalikan posisi perban.


"Jangan Bu. Luka Ibu bisa infeksi kalo kena udara dan debu nanti !" kata sang perawat dengan lantang sambil menahan kedua tangan Rosi.


"Lepasin Suster !. Saya ga betah, perban ini sangat mengganggu gerakan Saya !" kata Rosi sambil menepis tangan sang perawat.


"Sabar ya Bu. Luka di wajah Ibu memang sangat parah. Saya dapat tugas dari dokter supaya mengawasi Ibu. Dokter bilang kalo luka Ibu sampe infeksi, akan sulit untuk ditolong meski pun dengan operasi plastik sekali pun," kata sang perawat dengan mimik wajah serius.


Rosi berhenti meronta lalu terdiam. Wanita itu masih berusaha menarik nafas panjang pertanda ia sangat lelah.


"Seberapa parah Suster ?" tanya Rosi tiba-tiba.


"Apa Bu ?" tanya sang perawat tak mengerti.


"Luka Saya Suster. Seberapa parah luka Saya ?. Kalo boleh Saya mau liat langsung, sekarang !" kata Rosi sambil menatap lekat kearah sang perawat.


Perawat itu menggeleng karena tak berani melangkahi wewenang dokter. Meski pun perawat telah mengatakan alasannya toh Rosi tak peduli.


"Sebentar lagi dokter ke sini Bu. Nanti Ibu bisa bicara langsung sama dokter tentang keluhan dan keinginan Ibu," kata sang perawat kemudian.


Tak lama kemudian dokter masuk ke dalam ruangan. Sang perawat pun membantu Rosi menyampaikan keinginannya. Dokter wanita itu nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab permintaan Rosi.

__ADS_1


"Saya akan perlihatkan luka Ibu sebentar lagi. Tapi apa Ibu yakin mau ngeliat lukanya ?" tanya sang dokter.


"Iya dok. Kalo sekiranya ga parah, ya ga usah dioperasi dok," sahut Rosi cepat.


Dokter dan perawat saling menatap sejenak lalu mengangguk.


"Tolong sarung tangan dan alat-alatnya Suster," pinta sang dokter.


"Baik dok," sahut sang perawat.


Kemudian dokter dibantu perawat pun mulai membuka balutan perban di wajah dan leher Rosi.


Saat perban dibuka Rosi merasa perih menyapa permukaan kulitnya. Udara dingin karena AC saja membuat Rosi meringis menahan sakit apalagi jika di tempat umum dan terbuka.


"Tolong cerminnya Sus," pinta sang dokter sambil menjulurkan telapak tangannya di hadapan sang perawat.


Perawat pun mengangguk lalu menyerahkan cermin seukuran telapak tangan orang dewasa kepada sang dokter.


"Silakan Bu," kata sang dokter sambil mengarahkan cermin ke wajah Rosi.


"Ini ...," ucapan Rosi terputus saat sang dokter memotong cepat.


"Betul. Itu wajah Ibu sekarang. Kulit dan hidung Ibu hilang karena tergerus aspal. Bulu mata dan alis pun sebagian lenyap, dan itu bikin Ibu ga nyaman saat membuka mata. Makanya diperban supaya luka di kulit ini ga infeksi dan melindungi mata dari sinar yang masuk dari luar," kata dokter.


"Rambut ...," kata Rosi sambil melihat kepalanya yang pitak.


"Iya Bu. Kulit kepala Ibu juga luka parah dan rambut Ibu terlepas. Kami harus melakukan treatment khusus untuk menumbuhkan lagi rambut di kepala Ibu ini nanti," sahut sang dokter.


Rosi terdiam mendengar ucapan dokter dan melihat kenyataan di depannya. Meski pun sempat merasa senang karena masih bisa bertahan hidup dan memiliki wajah lain, tapi Rosi tak mau wajah yang cacat. Apalagi ia tahu hidupnya masih panjang, bisa ratusan tahun lagi dan akan sangat menyiksa jika hidup dengan kondisi fisik seperti itu.


"Baik lah. Saya mau dioperasi dok. Tolong lakukan yang terbaik supaya Saya bisa pulih seperti semula," kata Rosi.

__ADS_1


"Tentu Bu. Tapi sebelumnya ada beberapa prosedur yang harus Ibu jalani. Saya harap Ibu patuh pada aturan supaya bisa mendapatkan hasil maksimal nanti," sahut sang dokter.


"Saya janji akan turuti semua ucapan dokter selagi itu demi kesembuhan Saya," kata Rosi dengan cepat.


"Bagus. Sekarang bisa Ibu ingat siapa nama Ibu ?" tanya sang dokter.


"Mmm ..., kalo itu Saya lupa dok. Saya ga masalah dipanggil apa pun," sahut Rosi pura-pura lupa.


Sang dokter tersenyum lalu memberi kode pada sang perawat agar mengeluarkan catatan medis milik Rosi.


"Di sini tercatat nama Ibu adalah Rosi, Istri dari Pak Suro. Beralamat di Kramat Sentiong. Apa Ibu ingat ?" tanya sang dokter.


"Rosi ?" ulang Rosi ragu.


"Betul. Itu nama Ibu sesuai KTP," sahut dokter sambil memperlihatkan catatan data diri Rosi yang dipegangnya.


"Jangan-jangan Bu Rosi mengalami amnesia dok," sela sang perawat sambil berbisik.


"Masuk akal. Tapi setelah diobservasi, harusnya ini hanya amnesia sementara. Jadi ga masalah kalo lupa sebentar sama semua kejadian sebelum kecelakaan termasuk semua masa lalunya Suster," kata sang dokter sambil tersenyum.


"Iya dok," sahut sang perawat sambil menganggukkan kepala.


Kemudian sang dokter kembali melanjutkan membaca data diri pasien di dalam catatan itu.


"Di sini dijelaskan jika Ibu akan membayar semua tagihan biaya Rumah Sakit dengan uang pribadi milik Ibu. Rencananya akan ada beberapa kali operasi yang harus dijalani agar Ibu bisa pulih seperti sediakala kala," kata sang dokter kemudian.


Tanpa berpikir panjang Rosi mengiyakan pernyataan sang dokter. Rosi tak pernah menyadari jika uang yang dia gunakan adalah milik Suro. Dan pengacara Suro selalu memantau pengeluaran dari kartu kredit milik Suro yang diberikan kepada istri-istrinya itu.


Setelah Suro meninggal beberapa bulan yang lalu, pergerakan Rosi sulit dipantau. Dan kali ini notifikasi dari Bank yang masuk ke nomor ponsel Suro memberitahu dimana keberadaan Rosi dan untuk apa uang yang dia keluarkan itu.


Di tempat lain seorang pria nampak sedang sibuk mempelajari beberapa dokumen di hadapannya. Pria itu adalah pengacara pribadi Suro.

__ADS_1


Pria bernama Zaki itu nampak tersenyum lebar saat menerima notifikasi di ponselnya. Di sana tertulis jumlah uang yang dikeluarkan oleh Rosi dari rekening tabungan milik Suro. Nampaknya ia bahagia karena sebentar lagi bisa bertemu dengan Rosi untuk membuat perhitungan dengan wanita yang masih berstatus istri Suro itu.


\=\=\=\=\=


__ADS_2