
Setelah berhasil menguasai diri agar tak jatuh ke lantai, Bayan pun kembali berdiri tegak. Nafasnya sedikit memburu, jantungnya pun berdetak lebih cepat. Ternyata ucapan ustadz Mustafa mampu memporak porandakan perasaan Bayan saat itu.
"Maksud Ustadz, rumah ini juga didatangi kuyang ?!" tanya Bayan dengan suara bergetar.
"Iya," sahut ustadz Mustafa cepat.
"Apa suara mendesis yang didengar Yumi dan Arti juga pertanda hadirnya kuyang Ustadz ?" tanya Bayan setengah berbisik.
Ustadz Mustafa mengangguk dan itu membuat Bayan bertambah panik.
"Kok bisa Ustadz. Bukannya Senja udah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu, apa mungkin dia hidup lagi ?!" tanya Bayan tak mengerti.
" Ini bukan Senja !. Ini kuyang lain Bayan. Bagaimana bisa Kamu menyalahkan Senja untuk sesuatu yang ga dia lakukan !" kata ustadz Mustafa sambil menatap Bayan dengan tatapan marah.
Ucapan ustadz Mustafa mengejutkan Bayan. Bayan yang sadar dengan kesalahannya itu nampak menundukkan kepala. Ia menyesali kebodohannya karena telah menjadikan Senja sebagai tersangka utama dari terror yang dialaminya selama ini.
"Maafkan Saya Ustadz, Saya ...."
"Fokus lah pada masa depan. Jangan terus melihat ke belakang apalagi hanya untuk menjadikannya kambing hitam. Senja itu wanita yang baik. Dia telah mengorbankan hidup dan cintanya untuk keselamatan umat manusia. Hargai itu Bayan !" kata ustadz Mustafa mengingatkan.
"Astaghfirullah aladziim ..., maafin Aku Sayang, maaf. Iya Ustadz. Saya mengaku salah," sahut Bayan dengan suara rendah.
Melihat ekspresi wajah Bayan yang penuh penyesalan membuat ustadz Mustafa iba. Ia menghela nafas panjang lalu menepuk pundak Bayan dan meminta Bayan mengajaknya melihat ke tempat lain. Bayan pun mengangguk lalu kembali mendorong kursi roda sang ustadz.
Kali ini Bayan menuruti keinginan ustadz Mustafa. Untuk beberapa waktu keduanya nampak berkeliling di sekitar rumah Bayan sambil mengamati situasi. Pada kesempatan itu Ustadz Mustafa juga meminta Bayan agar memangkas beberapa pohon besar yang tumbuh di halaman rumahnya.
"Jangan sediakan tempat untuk makhluk itu sembunyi. Selain itu pohon yang tumbuh terlalu besar juga berbahaya untuk manusia. Bayangkan saat ada hujan petir, bisa aja pohon tersambar petir lalu jatuh menimpa rumahmu. Kamu juga bisa liat kabel listrik yang melintas di sela dedaunan, itu akan membahayakan karena bisa terjadi korsleting listrik," kata ustadz Mustafa saat Bayan bertanya alasan kenapa ia harus memangkas pohon besar itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bayan nampak duduk di samping ustadz Mustafa yang tertidur di atas kasur yang disiapkan Arti tadi. Rupanya ustadz Mustafa memang terbiasa tidur siang selama ia sakit dan mengonsumsi obat.
Sambil menunggui ustadz Mustafa bangun dari tidurnya, Bayan pun kembali mengingat semua percakapan mereka tadi.
"Kalo kuyang itu bukan jelmaan Mona dan Arti, terus siapa dong. Siapa yang kenal keluargaku dan tau kalo Aku punya bayi ?. Tetangga mungkin, tapi kenapa baru sekarang. Kalo mau, sejak Anna hamil muda kuyang itu udah menyerang dan mencoba menyakiti Anna juga Nathan. Apalagi saat itu Nathan belum berumur tiga tahun," batin Bayan sambil menghela nafas panjang.
"Yang terpenting cari cara untuk menanggulangi serangannya. Jangan gara-gara sibuk mencari sosok aslinya, Kamu lalai menjaga Anna dan Anak-anak Bayan," kata ustadz Mustafa tiba-tiba.
Bayan terkejut lalu menoleh kearah ustadz Mustafa. Ia tersenyum melihat sang ustadz terjaga. Bayan pun bergegas membantu ustadz Mustafa untuk duduk. Setelahnya Bayan meraih gelas berisi air minum dan menyodorkannya kearah ustadz Mustafa.
Setelah meneguk air minumnya, ustadz Mustafa tampak lebih baik dan itu membuat Bayan senang. Itu artinya ia bisa kembali mengungkapkan banyak hal yang memenuhi benaknya saat itu.
"Apa Saya harus mendekor ulang rumah Saya Ustadz ?" tanya Bayan.
"Menambahkan sedikit pecahan kaca sebagai ornamen Saya rasa cukup. Selain bisa mempercantik rumah, pecahan kaca juga bisa menghalau makhluk itu agar menjauh dari rumah ini. Letakkan di semua ventilasi. Jangan lupa buat secantik mungkin biar tak terlalu mencolok," sahut ustadz Mustafa.
"Baik Ustadz," sahut Bayan.
Bayan pun mengangguk. Ia berniat mendekor ulang rumahnya besok. Bayan juga menghubungi Rama dan Riko untuk menyampaikan keinginannya. Meski terkejut karena merasa permintaan Bayan terlalu mendadak, namun kedua sahabat Bayan itu bersedia membantu.
"Gue perlu kamar baru buat Nathan," kata Bayan singkat saat Rama dan Riko menanyakan alasannya mendekor rumah secara mendadak.
Jawaban singkat Bayan membuat ustadz Mustafa yang duduk di sampingnya tersenyum. Ia senang karena Bayan menuruti nasehatnya. Ustadz Bayan pun kembali memejamkan mata saat Bayan kembali melajukan kendaraannya untuk mengantarnya pulang.
Satu jam kemudian mobil Bayan telah tiba di rumah ustadz Mustafa. Di sana terlihat Mirza yang berdiri gelisah. Saat melihat mobil Bayan memasuki pekarangan rumahnya, Mirza pun tersenyum.
Bayan membuka pintu lalu menghampiri Mirza dan mereka pun saling berjabat tangan.
"Apa Saya terlambat ?" tanya Bayan basa basi.
__ADS_1
"Ga sama sekali," sahut Mirza sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima sore.
"Alhamdulillah," kata Bayan sambil tersenyum.
Mirza pun ikut tersenyum. Kemudian Bayan dan Mirza bergotong royong menurunkan ustadz Mustafa dari mobil. Mirza menggendong sang ayah masuk ke dalam rumah sedangkan Bayan mengangkat kursi roda.
Saat adzan Maghrib berkumandang, Mirza juga membantu ustadz Mustafa berwudhu. Setelahnya Mirza menjadi imam saat sholat Maghrib berjamaah di rumah dengan Bayan dan ustadz Mustafa sebagai makmumnya.
Malam itu Mirza juga mengundang Bayan untuk makan malam di rumah mereka. Bayan pun setuju. Saat itu Bayan merasa perlu menjalin hubungan baik dengan Mirza agar ke depannya ia tak perlu sungkan lagi saat hendak mengunjungi ustadz Mustafa.
Pada kesempatan itu Bayan mencoba bertanya pada Mirza tentang siapa yang telah mencelakai ustadz Mustafa. Mirza nampak bingung dan itu membuat Bayan curiga. Apalagi saat Mirza mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
"Apa Kamu kenal sama oknum pejabat yang telah mencelakai Ustadz Mustafa Mas ?" tanya Bayan penuh selidik.
"Darimana Mas Bayan tau kalo yang nabrak Bapak okunum pejabat ?" tanya Mirza sambil mengamati Bayan dengan lekat.
Bayan mengepalkan tangannya diam-diam karena merasa salah langkah. Ia pernah berjanji pada ustadz Mustafa untuk tak membahas itu dengan siapa pun. Tapi kini ia justru memaksa Mirza mengakui sesuatu.
"Ehm, Mas Mirza juga tau kan siapa Saya ?. Pergaulan Saya lumayan luas, dan buat Saya mudah saja untuk mencari tau apa yang terjadi," kata Bayan untuk sedikit menekan Mirza.
Mirza nampak mengangguk. Ia tahu Bayan adalah salah seorang pengusaha muda yang handal dan sukses di bidangnya. Jadi tak akan sulit buat Bayan untuk mencari informasi mengenai kecelakaan yang menimpa sang ayah.
Selain itu Mirza juga sadar, sepandai apa pun dia menyembunyikan kenyataan sebenarnya, ia yakin suatu saat akan ada orang yang berusaha membukanya. Mirza yakin Bayan orang baik, karena itu ia tak ragu menceritakan apa yang terjadi.
"Bapak sengaja ditabrak karena Bapak tau sesuatu. Dan sialnya belakangan Saya baru tau kalo pejabat yang dimaksud Bapak adalah pemilik perusahaan tempat Saya bekerja. Saya ga bisa menuntut karena dia sudah mengeluarkan uang banyak untuk pengobatan Bapak termasuk biaya operasi yang mencapai puluhan juta itu. Awalnya Saya merasa berhutang budi. Tapi sekarang Saya bingung. Saya juga merasa bersalah karena ga bisa membela hak Bapak dan bersikap tegas sama orang itu," kata Mirza dengan suara rendah.
Ucapan Mirza mengejutkan Bayan. Kini ia mengerti mengapa Mirza terlihat bingung tiap kali ia membicarakan kesehatan sang ustadz. Rupanya Mirza berada di bawah tekanan.
Dalam hati Bayan bertekad untuk membantu Mirza dan ustadz Mustafa setelah masalahnya selesai nanti.
__ADS_1
\=\=\=\=\=