Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
109. Bayi Fikri


__ADS_3

Bayan dan Nathan masih bertahan di kamar rawat inap Ayu. Mereka masih penasaran dengan apa yang dilihat Ayu hingga membuatnya jatuh dan mengalami pendarahan.


Kemudian Fikri memperkenalkan istrinya kepada Bayan dan Nathan. Ayu nampak menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai salam perkenalan.


"Jadi apa kata dokter Bii ?" tanya Ayu.


"Mmm ..., dokter ga bilang apa-apa," sahut Fikri berbohong.


"Masa sih ?" kata Ayu tak percaya.


Fikri menghela nafas panjang sebelum mengatakan apa yang terjadi. Perlahan Fikri mendekati istrinya lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Ayu menatap suaminya dengan lekat seolah menunggu apa yang hendak dikatakan suaminya.


"Kata dokter ..., bayi Kita ga bisa selamat. Saat diUSG tadi, tubuhnya udah ga lengkap lagi alias udah ga utuh. Jadi dengan terpaksa Kamu harus menjalani operasi untuk mengeluarkan bayi Kita Sayang. Dan rencananya operasi akan dilakukan besok. Insya Allah," kata Fikri hati-hati.


Ucapan Fikri, meski pun diucapkan hati-hati, namun membuat Ayu, Bayan dan Nathan terkejut. Sedetik kemudian Ayu nampak menangis karena tak kuasa menahan sedih akibat kehilangan bayinya.


Rupanya awalnya Ayu mengira ia dan bayinya baik-baik saja setelah dilarikan ke Rumah Sakit. Apalagi ia langsung mendapat pertolongan dari dokter tadi. Tapi ucapan Fikri membuatnya marah sekaligus kesal pada makhluk yang telah membuatnya celaka.


"Ini semua gara-gara makhluk itu Bii. Kalo dia ga datang tiba-tiba, pasti Aku ga kaget dan ga jatuh tadi," kata Ayu di sela isak tangisnya.


"Maaf Mbak Ayu, makhluk apa yang Mbak Ayu maksud ?" tanya Nathan tak sabar.


Ayu berusaha menghentikan tangisnya namun sulit. Bahkan Fikri harus beberapa kali membisikkan kalimat hiburan ke telinga Ayu agar sang istri mau menghentikan tangisnya.


"Jangan lupa Mi. Anak yang pergi mendahului Kita sebelum dia dilahirkan akan menjadi tabungan Kita di akherat kelak. Dia lah yang akan menjemput Kita dan mengajak Kita masuk ke dalam surga nanti. Tinggal bagaimana Kita menjalankan hidup ini. Mau berakhir baik atau tidak. Jadi jangan tangisi dia lagi ya," pinta Fikri sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.


Dan berhasil. Ucapan Fikri membuat Ayu lebih tenang. Setelah menghapus air matanya, Ayu pun menoleh kearah Nathan sambil menjawab pertanyaan tadi.

__ADS_1


"Makhluk itu datang dari jendela Mas. Wujudnya hanya kepala tanpa badan. Mukanya serem banget. Gigi bertaring, mulut lebar, rambut gimbal, mata merah. Pokoknya serem Mas," kata Ayu sambil menerawang jauh ke depan.


"Dia ..., maksud Saya apa dia langsung menyerang bagian bawah tubuh Mbak Ayu ?" tanya Nathan.


"Iya !. Bayi Saya. Dia menyerang bayi Saya Mas !. Keliatannya dia memang makhluk yang sering memangsa bayi. Mmm ..., apa tuh namanya. Kuyang kan ?" tanya Ayu ragu.


Bayan dan Nathan mengangguk lalu saling menatap sejenak.


"Setau Saya makhluk itu hanya ada di daerah dan bukan di kota besar seperti ini. Tapi bisa jadi makhluk itu kebetulan sedang berada di kota. Saat melihat Mbak Ayu hasrat jahatnya tumbuh hingga mengejar Mbak Ayu," kata Bayan.


Ucapan Bayan membuat Fikri dan Ayu bingung. Mereka merasa Bayan tahu banyak tentang makhluk yang memangsa bayi mereka itu.


Seolah bisa membaca pikiran Fikri dan istrinya, Bayan pun tersenyum lalu menjelaskan apa yang ia ketahui berdasarkan pengalamannya dulu. Tapi tentu saja Bayan menyamarkan semua nama tokoh dalam ceritanya.


Nathan juga menambahkan cerita Bayan dengan kisah Diana yang meninggal karena diduga dimangsa kuyang.


\=\=\=\=\=


Di tempat lain sosok wanita yang baru saja menjelma jadi kuyang nampak sedang meringis sambil memegangi lehernya. Jika mampu, rasanya ia ingin memuntahkan darah bayi yang baru saja dimangsanya. Namun setelah beberapa kali berusaha mengeluarkannya, ia gagal dan itu membuatnya kesal bukan kepalang.


Wanita itu adalah Mak Ejah. Rupanya kuyang yang telah memangsa bayi Fikri adalah dia.


Setelah lelah mencoba namun tak membuahkan hasil, Mak Ijah pun menggelosor di lantai. Tanpa ia sadari air mata pun mengalir di wajahnya.


"Kenapa Aku merasa sakit saat wanita itu mengerang tadi. Dan darahnya. Darah bayi itu kenapa terasa aneh di lidahku," gumam Mak Ejah sambil menggelengkan kepalanya.


Mak Ejah kembali teringat saat ia datang ke Rumah Fikri dan memangsa bayi dalam kandungan istri Fikri itu.

__ADS_1


Awalnya mak Ejah tak sengaja berpapasan dengan Ayu yang saat itu pulang dari membeli sayuran di tukang sayur keliling. Selama di Jakarta Mak Ejah memang tinggal di rumah yang disewa Usman yang letaknya tak jauh dari kontrakan Fikri.


Mak Ejah memang sengaja berjalan-jalan hanya untuk melemaskan otot kakinya yang terasa kaku.


Saat melihat Ayu dengan perut buncitnya itu, hasrat iblis dalam diri Mak Ejah pun bangkit. Ia berniat menghampiri Ayu hanya untuk pura-pura menyapa. Namun sayangnya niat mak Ejah gagal karena ia menyadari Ayu sedang berdzikir menyebut nama Allah saat itu.


Semula Mak Ejah memang berniat menandai bayi dalam rahim Ayu sebagai calon target berikutnya. Namun rasa panas yang menguar dari tubuh Ayu saat berdzikir membuat Mak Ejah mengurungkan niatnya menyapa Ayu.


Akhirnya Mak Ejah hanya mengamati Ayu dari kejauhan. Saat mak Ejah tahu dimana Ayu tinggal, ia pun nampak tersenyum puas.


Dan malam harinya Mak Ejah memulai aksinya. Dia yang tinggal sendiri di rumah itu bisa leluasa menjalankan aksinya karena tak seorang pun menyangka jika ia adalah wanita siluman kuyang, termasuk Usman.


Pria baik itu sengaja menyewakan rumah untuk Mak Ejah agar tak perlu jauh-jauh saat ingin menjenguk Rosiana. Rupanya Usman iba pada kondisi Mak Ejah yang ringkih itu. Usman tak pernah tahu jika di balik tubuh ringkih Mak Ejah tersembunyi siluman yang kejam dan haus darah.


Setelah memadamkan lampu di dalam rumah, Mak Ejah memulai ritual untuk menjadi siluman. Sesaat kemudian kepalanya terlepas dari tubuhnya. Setelah menyeringai sambil berputar di atas tubuhnya sebentar, kepala itu pun melesat cepat menuju Rumah Fikri.


Dengan mudah ia bisa menemukan rumah Fikri. Ia sembunyi di balik rimbun dedaunan untuk mengamati keadaan. Saat semua warga mulai menutup pintu karena hari mulai larut, saat itu lah kuyang jelmaan Mak Ejah beraksi.


Dengan cepat ia menyelinap masuk ke rumah Fikri melalui ventilasi di atas kamar mandi. Kepala yang bisa berubah elastis itu langsung menyerang Ayu yang saat itu baru saja akan mengganti gaunnya dengan gaun tidur.


Ayu yang terkejut dan panik tak sempat menyelamatkan diri. Ayu pun menjerit sekencang-kencangnya saat tubuhnya jatuh terhempas ke lantai. Ayu menjerit sekali lagi saat melihat makhluk itu menyerang bagian bawah tubuhnya. Sadar apa yang terjadi, Ayu pun meraih sapu lidi pembersih tempat tidur lalu menyabetkannya kearah kepala kuyang yang menyerangnya sambil bertakbir berkali-kali.


Jeritan Ayu dan sabetan sapu lidi membuat kuyang itu limbung. Ia bergegas meninggalkan tempat itu saat terdengar warga berdatangan.


Dan saat kuyang itu melesat keluar dari rumah Fikri, ia merasa sesuatu yang aneh di lidahnya usai meneguk darah dari rahim Ayu tadi. Rasa aneh itu terus terbawa hingga kepala kuyang dan tubuh Mak Ejah kembali bersatu.


Mak Ejah menduga jika dzikir Ayu lah yang membuat darah bayinya berbeda dari darah bayi lain yang pernah ia mangsa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2