Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
106. Dia Bukan Saba


__ADS_3

Jika Rosiana mengira ia bisa sembunyi dari kejaran Nathan dan polisi, maka Rosiana salah. Ternyata polisi berhasil menemukan Rosiana. Dan hari itu Nathan beserta polisi datang ke rumah mak Ejah untuk menangkap Rosiana.


Saat Nathan dan polisi datang, Rosiana dan mak Ejah sedang duduk di dipan yang ada di depan rumah. Keduanya sedang memilah sayur yang dibeli Usman. Rosiana senang melihat mak Ejah tertawa karena itu artinya wanita itu bisa melupakan kesedihannya usai mengalami mimpi buruk tentang bayinya yang hilang itu.


Tiba-tiba Rosiana dan mak Ejah dikejutkan dengan kedatangan polisi berpakaian preman. Mereka mendekati Rosiana dan menggertak agar wanita itu tak melarikan diri.


"Siapa mereka Ci ?. Kenapa mereka nangkap Kamu ?!" tanya mak Ejah panik saat melihat Rosiana dibawa menjauh darinya.


"Jangan ke sini Mak. Aku gapapa kok !" sahut Rosiana.


Mak Ejah yang tak percaya dengan jawaban Rosiana pun berusaha mendekat. Karena tergesa-gesa mak Ejah tersandung dan hampir terjatuh. Nathan yang ada bersama para polisi itu mendekati mak Ejah dan sigap menahan lengannya agar tak tersungkur jatuh.


"Hati-hati Bu ...!" kata Nathan.


Mak Ejah menoleh dan terkejut melihat Nathan. Sesaat kemudian mak Ejah langsung memeluk Nathan dengan erat sambil menangis hingga mengejutkan semua orang.


"Dia bukan Kang Saba Mak. Dia Bos Aku di kantor !" kata Rosiana lantang hingga membuat mak Ejah berhenti menangis.


Kemudian mak Ejah mengurai pelukannya namun tatapannya tetap mengarah ke wajah Nathan hingga membuatnya salah tingkah.


Perlahan Nathan mengurai cekalan tangan mak Ejah. Kemudian dia tersenyum dan mulai menjelaskan alasan mengapa Rosiana ditangkap. Saat itu para polisi memperlihatkan lencana mereka hingga membuat mak Ejah mengangguk tanda mengerti.


"Kenapa Kamu sejahat itu Ci. Mak ga pernah ngajarin Kamu buat membunuh orang kan ...?" kata mak Ejah dengan suara parau.


"Maafin Aku Mak. Aku ga berniat membunuhnya. Aku cuma mau ngasih dia pelajaran karena dia udah bikin Aku sakit hati dulu," sahut Rosiana sambil menundukkan kepala.


"Mak pikir Kamu udah melupakan semuanya Ci. Bukannya Mak bilang dendam hanya akan membuat hidupmu sengsara. Sekarang liat buktinya, Kamu ditangkap Polisi gara-gara terlibat kematian temanmu itu," kata mak Ejah sambil mengusap wajahnya.


Rosiana terdiam. Ia menyadari kesalahannya dan bagaimana pun ia harus mempertanggung jawabkan semuanya cepat atau lambat.


Tiba-tiba Usman datang. Ia terkejut melihat kedua tangan Rosiana diborgol. Usman tahu jika para pria di hadapannya adalah polisi, tapi ia tak tahu apa salah Rosiana.


"Ijinkan Saya bicara sebentar sama cowok itu Pak," pinta Rosiana sambil menatap Nathan penuh harap.

__ADS_1


"Baik lah, sepuluh menit !" kata Nathan sambil melangkah meninggalkan tempat itu.


Rosiana mengangguk lalu mengajak Usman bergeser menjauh agar bisa bicara empat mata. Rosiana menjelaskan apa yang telah ia lakukan dengan cepat hingga membuat Usman menggeleng kecewa.


"Aku ga nyangka, selain ambisius ternyata Kamu juga jahat Ci. Kamu bahkan tega membunuh temanmu," kata Usman.


"Aku ga berniat membunuhnya Usman !" sangkal Rosiana gusar.


Usman terdiam karena tak tahu harus bicara apa lagi.


"Aku tau Kamu benci sama Aku sekarang. Tapi tolong jaga Mak Ejah selama Aku di penjara nanti ya Man. Aku ga tau berapa lama dipenjara nanti. Tapi Aku tenang karena ada seseorang yang jagain Mak. Itu pun kalo Kamu bersedia," kata Rosiana.


"Pergi lah Ci, jalani saja hukumanmu dengan tenang. Tanpa Kamu minta Aku juga udah jagain Mak Ejah karena Beliau sudah seperti Ibuku sendiri," sahut Usman sambil melengos.


Rosiana tersenyum. Entah mengapa ucapan Usman mampu melebur semuanya. Dan saat itu Rosiana sadar jika Usman adalah pria yang baik dan tulus. Ia menyesal karena pernah mengabaikan Usman dulu.


"Makasih Usman," kata Rosiana dengan tulus.


Kemudian Rosiana melangkah mendekati dua polisi yang masih menunggunya di depan rumah. Ia juga meminta maaf pada mak Ejah sekali lagi.


Dengan berat hati mak Ejah dan Usman melepas kepergian Rosiana. Bahkan mereka ikut mengantar Rosiana hingga ke jalan raya. Saat Rosiana akan masuk ke dalam mobil polisi, ia menoleh kearah Usman.


"Kalo Kamu masih mau menungguku, Aku janji akan kembali untukmu Usman," kata Rosiana sambil tersenyum.


Ucapan Rosiana membuat Usman dan Mak Ejah terkejut. Keduanya masih saling menatap saat mobil yang membawa Rosiana melaju meninggalkan tempat itu. Wajah Usman nampak berbinar usai mendengar janji Rosiana tadi. Dalam hati Usman pun berjanji akan menunggu Rosiana.


Di samping Usman terlihat Mak Ejah menatap kearah mobil yang terus menjauh itu. Tatapannya terkunci pada satu titik. Bukan pada mobil polisi yang membawa Rosiana tapi pada mobil lain yang dikemudikan Nathan.


"Dia ... Aku menemukan sosoknya pada Anak itu. Mungkin kah dia ...," batin mak Ejah.


Lamunan mak Ejah buyar saat Usman menyentuh tangannya dan mengajaknya melangkah.


"Ayo Saya antar pulang Mak," kata Usman.

__ADS_1


Mak Ejah pun mengangguk lalu melangkah mengikuti Usman. Pikirannya terus berkelana pada sosok Nathan. Melihat Nathan membuat mak Ejah gusar karena kembali teringat dengan masa lalunya.


\=\=\=\=\=


Sejak pertemuannya dengan Nathan, mak Ejah seolah menemukan harapan baru. Ia merasa jika Nathan akan membantu mempertemukan dirinya dengan anak laki-lakinya yang hilang itu.


"Mengendus aroma tubuhnya mengingatkan Aku pada seseorang. Dan kenapa aromanya mirip dengan Saba. Atau jangan-jangan justru Anak laki-laki itu adalah Anakku Saba," gumam mak Ejah resah.


Saat itu mak Ejah sedang menanti Usman dengan gelisah. Setelah beberapa hari Rosiana ditangkap, mak Ejah mulai khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Kemudian mak Ejah meminta Usman mengantarnya menjenguk Rosiana di penjara.


Tak lama kemudian Usman dan mak Ejah tampak telah berada di dalam bis luar kota menuju kantor polisi tempat Rosiana ditahan.


Saat kakinya turun dari bus, tubuh Mak Ejah nampak sedikit bergetar. Ia harus menguatkan diri karena dipaksa kembali ke kota dimana ia mengalami masa terburuk dalam hidupnya.


"Mak gapapa kan ?" tanya Usman saat melihat wajah mak Ejah yang memucat.


"Mak baik-baik aja Man. Ayo, sekarang Kita harus jalan kearah mana ?" tanya mak Ejah.


"Kita jalan sedikit ke sana Mak. Nah di ujung jalan itu lah kantor polisi tempat Rosiana ditahan sampe berkasnya siap dilimpahkan ke pengadilan," sahut Usman.


Mak Ejah mengangguk. Dibantu Usman ia pun melangkah perlahan. Mak Ejah bukan nenek tua renta yang harus dibantu saat berjalan. Tapi entah mengapa persendiannya terasa linu sejak turun dari bis tadi hingga membuat Usman iba dan memapahnya.


Saat memasuki area kantor polisi, saat itu lah mereka berpapasan dengan mobil yang baru saja keluar. Tubuh mak Ejah membeku saat mengetahui siapa pria yang ada di dalam mobil itu. Jantungnya berdetak cepat, keringat pun mengalir deras. Dan sesaat kemudian tubuh mak Ejah pun limbung. Beruntung Usman sigap menahan tubuh wanita itu hingga tak jatuh tersungkur di tanah.


Dari kejauhan nampak seorang polisi muda berlari menghampiri Usman dan mak Ejah.


"Kita bawa ke dalam aja Mas," kata sang polisi.


"Baik Pak, makasih," sahut Usman.


Kemudian Usman dan polisi muda itu membawa mak Ejah ke sebuah ruangan lalu meletakkannya di kursi panjang. Saat Usman dan polisi muda itu keluar dari ruangan, mak Ejah pun menangis diam-diam.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2