Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
49. Cemas


__ADS_3

Kegelisahan Anna tak bisa disembunyikan lagi. Ia ingin segera menyampaikan apa yang didengarnya tadi kepada suaminya. Namun sayangnya Bayan tak bisa dihubungi dan itu membuat Anna kesal.


Anna terus menunggu suaminya hingga larut malam. Saat itu berkali-kali ia menoleh ke pintu pagar berharap sang suami segera tiba. Yunus yang melihat Anna masih terjaga pun menyapanya.


"Kenapa masih di luar Bu ?" tanya Yunus.


"Saya nunggu Bapak Mas. Kenapa udah jam segini belum pulang juga. Ditelephon ga diangkat, dichat ga dibalas, Saya khawatir Mas Yunus," sahut Anna cepat.


Yunus mengangguk karena ia juga tak tahu harus bicara apa. Dan tak lama kemudian terdengar suara deru mobil Bayan di depan pintu pagar. Yunus dan Anna saling menatap sejenak sambil tersenyum lalu Yunus bergegas membuka pintu pagar.


Melihat sang istri menunggunya di teras rumah membuat Bayan tersenyum. Ia tahu sang istri pasti cemas karena tak beroleh kabar apa pun darinya tadi. Bayan pun turun dari mobil sambil menyapa sang istri.


"Belum tidur Bund ?" sapa Bayan.


"Ga usah basa-basi !. Ayah kemana aja sih, kenapa telephon sama chat Aku ga dibalas?. Ayah tau ga kalo Aku tuh khawatir sama Ayah. Kok bisa-bisanya ga kasih kabar apa-apa. Kalo emang ponsel Ayah mati, kan Ayah bisa pinjem telephon Bang Rama atau Bang Riko buat kasih tau Aku !" kata Anna beruntun.


Bukannya menjawab omelan sang istri, Bayan justru merengkuh Anna lalu mengecup keningnya dengan cepat. Aksi Bayan membuat Anna terdiam dan Yunus tersenyum. Yunus pun menyingkir dari hadapan kedua majikannya karena tak ingin menyaksikan sesuatu yang lebih int*m lagi.


"Ayah !" kata Anna kemudian sambil melotot dan mencubit pinggang Bayan dengan gemas.


Bayan pun meringis lalu membawa Anna masuk ke dalam rumah. Anna terus mengomel, namun Bayan hanya diam mendengarkan.


Setelah selesai membersihkan diri, Bayan pun menemui Anna yang sedang menyiapkan makan malam.


"Aku udah makan Bund, ga usah siapin makan buat Aku," kata Bayan sambil mendekati Anna.


"Aku yang belum makan gara-gara nungguin Kamu !" sahut Anna ketus hingga membuat Bayan terkejut.


"Kenapa harus nunggu Aku Bund ?. Aku kan udah bilang makan aja kalo Kamu lapar. Aku ga mau Kamu sakit lho Sayang," kata Bayan sambil mengusap kepala Anna dengan lembut.

__ADS_1


"Gimana Aku bisa makan kalo kepalaku penuh dan dadaku sesak," sahut Anna sambil mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Ucapan Anna membuat Bayan mengerutkan keningnya. Ia mengamati sang istri dan melihat wajah Anna yang pucat dengan mata yang memerah. Bayan tahu jika sang istri baru saja menangis. Tapi kenapa ?.


"Kamu ga mungkin kesel sama Aku sampe nangis kan Bund ?. Maafin Aku ya, Hp Aku emang lowbatt tadi. Kebetulan Hpnya Rama sama Riko ketinggalan di mobil. Jadi ga satu pun diantara Kami yang bisa menghubungi keluarga tadi," kata Bayan lembut.


Anna terdiam dan berusaha menyelesaikan makannya dengan cepat. Setelahnya ia menatap Bayan lekat sambil mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini.


"Anak-anak Kita dalam bahaya Yah," kata Anna.


"Bahaya apa Bund ?" tanya Bayan cemas.


"Nathan diikutin kuyang," sahut Anna cepat.


"Apa ?!" kata Bayan tak percaya.


Anna mengangguk kemudian menceritakan apa yang ia ketahui dari Nathan dan Nicko tadi. Tentang gambar Nicko dan sesuatu yang diyakini sebagai kuyang yang mengikuti Nathan.


"Aku takut Yah ...," kata Anna lirih.


"Iya Sayang, Aku ngerti. Kamu tenang aja ya. Biar Aku yang cari cara buat melindungi Anak-anak. Sekarang Kamu tidur, Kamu pasti capek mikirin ini seharian. Maafin Aku karena udah bikin Kamu cemas seharian," kata Bayan sambil mendaratkan ciuman di wajah Anna.


Anna mengangguk. Setelah Bayan mengurai pelukannya Anna pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Anna memang lelah dan ingin istirahat. Meski belum bisa memejamkan mata tapi Anna merasa jauh lebih tenang melihat Bayan ada di sisinya.


Sedangkan Bayan justru terlihat gelisah. Ia tak menyangka jika keluarganya harus terlibat dengan sosok hantu kepala tanpa tubuh itu.


"Kamu juga harus tidur Yah, ini udah dini hari lho," kata Anna sambil mengusap lengan Bayan.


"Iya Bund. Sebentar lagi Ayah tidur kok," sahut Bayan sambil tersenyum.

__ADS_1


Anna ikut tersenyum lalu mulai memejamkan matanya.


\=\=\=\=\=


Pagi itu Bayan sengaja tak pergi ke kantor. Ia ingin meluangkan waktu untuk bicara dengan istrinya.


Setelah sarapan, Bayan mengajak Anna keluar dan meminta kedua anaknya menunggu di rumah.


"Kenapa Aku ga boleh ikut Yah ?" tanya Nicko sambil menatap Bayan dan Anna bergantian.


"Ayah sama Bunda cuma pergi sebentar kok," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Iya tau, tapi kenapa Aku ga boleh ikut. Emangnya Ayah sama Bunda mau kemana sih ?" tanya Nicko lagi.


"Udah ga usah rewel. Kamu kan udah besar, udah ga seharusnya ngintilin Bunda terus. Emangnya Kamu ga mau punya Adik cewek, kan Bunda sama Ayah mau cari bahan buat bikin Adik," sela Nathan dari belakang Nicko.


Ucapan Nathan mengejutkan Bayan, Anna dan Nicko. Jika Nicko langsung menoleh kearah Nathan, maka Bayan dan Nathan hanya bisa saling menatap bingung.


"Emang gitu Bang ?" tanya Nicko antusias.


"Iya. Tanya aja sama Bunda kalo ga percaya," sahut Nathan sambil melir kearah sang bunda.


"Ehm, begini ya Anak-anak. Soal Adik cewek, Bunda sama Ayah lagi usahakan. Tapi hasil akhir Kita serahkan sama Allah aja ya. Kalo Allah berkehendak ada Anak perempuan di rumah ini, Kita harus bersyukur. Tapi kalo ga, ya gapapa kan. Artinya Ayah sama Bunda bisa lebih fokus sama Kalian. Dan kenapa Bunda ga ngajak Nicko sekarang, itu karena Bunda mau pergi ke pasar tradisional dianter Ayah. Bukannya Nicko ga suka ke pasar tradisional ?. Kan Nicko bilang di sana becek, kotor, bau. Makanya Bunda ga ngajak Nicko," kata Anna panjang lebar.


Mendengar jawaban sang bunda membuat Nicko meringis jijik. Ia memang tak suka pergi ke pasar tradisional karena pernah dipatuk ayam yang kabur dari kandangnya sesaat sebelum dipotong. Selain mematuk, ayam itu juga mengepakkan sayapnya hingga membuat pakaian Nicko kotor terkena cipratan lumpur. Saat itu Nicko menangis keras, bukan karena dipatuk ayam tapi karena bajunya yang kotor.


Mengingat hal itu membuat Nathan tertawa geli. Nicko hanya cemberut melihat sang kakak menertawakannya.


"Ok. Aku ga ikut. Bunda sama Ayah hati-hati ya. Tapi jangan lama-lama ke pasarnya, ntar bau kaya ayam potong," kata Nicko sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


Tingkah Nicko membuat Bayan, Anna dan Nathan tertawa. Kemudian Nathan dan Nicko mengantar kedua orangtuanya hingga ke teras rumah lalu menutup pintu pagar saat mobil keluar dari halaman rumah.


\=\=\=\=\=


__ADS_2