
Makan malam perdana Bayan bersama anak dan istrinya setelah ia kembali dilakukan di sebuah restoran. Di sana lah Bayan bisa tertawa lepas setelah sebulan lebih terpuruk dalam situasi yang tak ia mengerti.
Anna nampak tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Meski tertawa, namun berkali-kali Anna mengusap matanya yang basah. Bayan yang menyadari itu pun tersenyum lalu membantu Anna menyeka matanya yang basah itu.
"Jangan nangis lagi Sayang. Aku janji ga akan pergi lagi kok," bisik Bayan sambil menggelengkan kepala.
"Iya, Aku percaya," sahut Anna sambil tersenyum.
"Makasih Bund," kata Bayan sambil mengecup kening sang istri.
"Ehm ..., inget Yah. Ada orang lain lho di sini," sindir Nicko sambil mengerucutkan bibirnya.
Ucapan Nicko membuat Bayan, Anna dan Nathan tertawa. Bayan pun melepaskan rengkuhan lengannya dari pundak Anna lalu kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.
Perbincangan pun mengalir lancar. Bayan bersyukur karena tak seorang pun yang menyinggung alasan kepergiannya selama ini. Mereka justru asyik membahas kepindahan ustadz Fikri dan keluarganya juga hukuman untuk Rosiana.
Saat membicarakan Rosiana, Bayan pun akhirnya punya kesempatan bertanya tentang jati diri Mak Ejah pada Nathan.
"Terus Ibu dan calon Suaminya gimana ?. Apa mereka bisa menerima keputusan Hakim ?" tanya Bayan sambil menatap Nathan lekat.
"Mau ga mau mereka harus terima Yah. Tapi Aku agak bingung juga. Soalnya sejak awal kan Ibu angkatnya Rosiana itu ga percaya kalo Anaknya udah melakukan kejahatan yang menyebabkan Mia meninggal. Dia juga ngomel terus karena merasa Anaknya itu didzolimi. Tapi di hari itu dia keliatan pasrah aja," sahut Nathan cepat.
"Jadi wanita itu Ibu angkatnya ?" tanya Bayan mirip seperti gumaman.
"Iya Yah. Aku juga baru tau belakangan dari Usman. Kata Usman, Mak Ejah itu dulunya tinggal sendirian tanpa Anak dan Suami. Usman hanya tahu Mak Ejah mengangkat Rosiana sebagai Anaknya setelah beberapa tahun tinggal di lingkungan rumahnya. Waktu diangkat jadi Anak, usia Rosiana sekitar sembilan atau sepuluh tahun gitu lah. Makanya Rosiana tau kalo Mak Ejah bukan Ibu kandungnya. Tapi rasa sayang antar Rosiana dan Mak Ejah tulus, bahkan Rosiana nolak tawaran kerja di luar negeri hanya karena ga tega ninggalin Mak Ejah sendirian. Rosiana sempet ngajak Mak Ejah pindah ke Jakarta, tapi Mak Ejah menolak. Jadi Rosiana terpaksa mengirim sebagian gajinya ke Mak Ejah karena dia harus bekerja untuk membiayai hidup mereka," kata Nathan menjelaskan.
"Terus gimana sama Anak kandung dan Suami Mak Ejah ?" tanya Nicko.
"Kata Usman, sejak Mak Ejah tinggal di lingkungan rumahnya, tak sekali pun Suami atau Anaknya datang. Mungkin mereka udah bercerai dan Anaknya dibawa sama Mantan Suaminya itu," sahut Nathan.
"Oh gitu. Kasian juga ya nasibnya. Sekalinya punya Anak, bukannya bikin seneng eh malah terlibat kasus pembunuhan. Pasti Mak Ejah kecewa banget tuh," kata Nicko prihatin.
"Iya. Eh, tapi sebentar. Aku kan beberapa kali ketemu Mak Ejah. Nah tiap kali ngeliat Aku Mak Ejah keliatan panik dan selalu berusaha menghindar. Yang terakhir ketemu pas vonis untuk Rosiana, matanya malah berkaca-kaca kaya orang mau nangis gitu. Kenapa ya ?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Ck, masa futu aja masih nanya sih Bang. Jelas aja Mak Ejah kesel. Kenapa Abang milih Kak Mia daripada Rosiana. Kalo Abang milih Rosiana, mungkin Kak Mia ga akan meninggal karena berusaha mempertahankan Abang," kata Nicko cepat.
Ucapan Nicko membuat Nathan terdiam. Sesaat ia merasa bersalah karena dirinya lah Mia meninggal. Namun bentakan sang bunda membuat Nathan terkejut lalu menoleh.
"Apa-apaan sih Kamu Nick ?!. Kematian Mia bukan salah Abang Kamu ya. Itu udah takdir. Selain itu, dendam Rosiana yang ga abis-abis lah yang bikin Mia terbunuh !. Dan ingat, saat kejadian kan Abang Kamu ga ada di sana. Jadi jangan sembarangan ngomong Kamu !" kata Anna lantang sambil melotot.
"Iya Bund, maaf. Aku kan cuma bercanda tadi," sahut Nicko.
"Ga ada yang boleh jadiin kasus kematian Mia sebagai bahan candaan. Ngerti ga Kalian ?!" kata Anna lagi sambil menatap Nathan dan Nicko bergantian.
"Siap Bund," sahut Nathan dan Nicko bersamaan.
Di bawah meja tangan Nathan nampak meraih tangan Nicko yang terulur kearahnya.
"Maaf Bang," bisik Nicko lirih karena sadar telah mengorek luka hati Nathan.
Nathan mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban. Nathan merasa sudah waktunya dia move on karena tak selamanya ia hidup bersama bayangan Mia.
\=\=\=\=\=
Namun serapat apa pun menyimpan bara, toh suatu saat akan menimbulkan api juga. Seperti itu lah yang terjadi dalam hubungan Bayan dan istrinya.
Semula Anna tak ingin tahu alasan kepergian Bayan selama sebulan lebih itu. Namun saat Jojo datang ke rumah dan menceritakan apa yang ia temui setelah Bayan pulang, Anna pun kesal.
Sebelumnya Anna masuk ke dalam rumah untuk menyeduh kopi. Ia juga bermaksud mengambilkan makanan ringan untuk menjamu Jojo yang saat itu memilih duduk di teras.
Namun sesaat kemudian Anna mengerutkan keningnya saat tak mendengar suara apa pun di luar sana padahal sebelumnya Jojo dan Bayan bicara dengan suara keras.
Karena curiga Anna pun mengendap-endap keluar untuk mencuri dengar apa yang dibahas oleh suami dan sepupunya itu. Anna menutup mulut sambil membulatkan mata saat mendengar Jojo bicara tentang seorang wanita yang hampir bunuh diri dengan terjun di laut.
"Dan Lo tau siapa cewek yang Gue selametin itu Yan ?" tanya Jono sambil merendahkan suaranya.
"Siapa ?" tanya Bayan dengan enggan.
__ADS_1
Jojo membisikkan sebuah nama di telinga Bayan hingga Bayan terkejut.
"Apa ?!. Ga mungkin, jangan ngaco Lo Jo !" kata Bayan lantang.
"Sssttt ..., ga usah teriak bisa ga sih. Gue ga enak sama Anna kalo dia dengar nanti," kata Jojo sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Tapi yang Lo omongin barusan emang ga masuk akal Jo," sahut Bayan gusar.
"Terserah, mau percaya atau ga. Asal Lo tau ya, awalnya juga Gue ga percaya Yan. Tapi waktu dia bilang anggap Kita ga pernah ketemu, Gue jadi yakin kalo itu dia. Ternyata dia ...," ucapan Jojo terputus saat Anna muncul dari balik pintu.
"Jadi begitu rupanya. Kamu pergi karena kepincut wanita lain Yah ?!" kata Anna sambil berkacak pinggang.
"Eh, Kamu salah paham Bund. Aku ga ...," ucapan Bayan terputus karena Anna langsung melempar apron yang dipakainya ke wajah Bayan.
"Bodohnya Aku. Sia-sia Aku nangis tiap malam. Aku pikir Aku yang udah bikin kesalahan fatal hingga Suamiku pergi tanpa pamit. Ternyata Suamiku pergi karena kepincut perempuan lain dan mengejarnya sampe ke pantai !" kata Anna murka sambil mendorong Bayan hingga membentur kursi teras.
Bayan segera bangkit lalu mengejar Anna yang lari ke dalam rumah. Di dalam rumah terdengar suara Anna dan Bayan saling bersahutan.
Jojo nampak menepuk dahi. Ia tak menyangka jika berita yang dibawanya telah membuat Bayan dan istrinya bertengkar hebat.
Tak lama kemudian Anna keluar sambil membawa koper besar. Di belakangnya Bayan mengejar dan mencoba menahan kepergiannya tapi gagal. Anna masuk ke dalam Taxi yang kebetulan melintas lalu pergi entah kemana.
Bayan menoleh kearah Jojo yang nampak salah tingkah.
"Breng**k !. Ini semua gara-gara Lo !" kata Bayan kesal sambil membanting tubuhnya di kursi teras.
"Sorry Yan. Gue ...," ucapan Jojo terputus karena Bayan memotong cepat.
"Diem Jo !. Ga usah ngomong lagi atau Lo tanggung akibatnya !" bentak Bayan.
Jono terdiam karena tahu jika Bayan tak main-main dengan ucapannya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1