
Kondisi Ayu pun membaik dan itu membuat Fikri bahagia. Ayu pun tampak telah mengikhlaskan kepergian anak mereka. Hal itu terbukti saat kedua orangtuanya datang menjenguk bersama Arafah, anak pertamanya dengan Fikri.
Arafah yang berusia dua tahun itu terus mengamati perut sang ibu. Seolah bayi itu ingin bertanya kenapa perut ibunya tak lagi membuncit dan dimana adik bayi yang selalu dijanjikan padanya itu berada.
Seolah bisa membaca kegelisahan anaknya, Ayu pun tersenyum lalu mulai menjelaskan apa yang terjadi.
"Perut Ummi udah ga besar lagi karena Adik bayinya udah lahir," kata Ayu sambil membawa telapak tangan Arafah untuk menyentuh perutnya.
"Ahil ...?" tanya Arafah bingung sambil menepuk lembut perut ibunya.
"Iya lahir. Adik udah keluar dari perut Ummi kemarin. Tapi Adiknya Arafah ga di sini sekarang. Adik Arafah bobok dulu di rumah Allah sambil nungguin Kita di sana. Insya Allah kapan-kapan Kita pasti ke sana ya," kata Ayu dengan suara bergetar.
"Iya," sahut Arafah sambil menganggukkan kepalanya dengan lucu.
"Anak pinter. Mulai sekarang Arafah harus doain Adik biar boboknya nyenyak ya," pinta Ayu.
"Adik angis ...?" tanya Arafah.
"Adik ga akan nangis karena Allah yang jagain. Supaya Adik ga nangis, Kita doain dari sini setiap hari. Ok ?" tanya Ayu sambil tersenyum.
"Ok," sahut Arafah cepat.
Kemudian Ayu dan Arafah nampak adu toast untuk menandai kesepakatan mereka tadi. Setelahnya Ayu memeluk Arafah sambil menciumi pipi bayi itu dengan sayang. Fikri yang berada di samping anak dan istrinya pun tersenyum lalu memeluk mereka.
Semua orang nampak terharu menyaksikan interaksi keluarga kecil Fikri itu. Bayan dan Nathan yang juga ada di sana pun ikut terharu menyaksikan ketegaran Ayu yang berusaha melewati rasa sakit akibat kehilangan bayi dari rahimnya.
"Ngeliat Mbak Ayu tadi, Aku jadi kepikiran sesuatu Yah," kata Nathan saat mereka telah berada di mobil menuju kearah Rumah.
__ADS_1
"Kepikiran apa ?" tanya Bayan sambil menoleh kearah Nathan yang sedang mengendarai mobil.
"Mmm ..., selama ini yang Aku tau kan kuyang itu aslinya manusia yang berjenis kelamin wanita ya Yah. Terus, apa mereka ga bisa hidup normal layaknya manusia ?" tanya Nathan.
"Hidup normal seperti apa maksud Kamu ?" tanya Bayan sambil mengerutkan keningnya.
"Yaa hidup normal seperti manusia pada umumnya Yah. Yang ngerasain jatuh cinta, pacaran, menikah, hamil, punya Anak. Apa kuyang itu ga ngerasain itu juga ?. Apa kehidupan mereka harus terfokus sama hasrat iblis yang menjijikkan itu ?!" tanya Nathan gusar.
"Menjijikkan ?" ulang Bayan.
"Iya dong Yah. Menghirup darah bayi dan ibu hamil atau apa pun namanya, bukan kah itu sangat menjijikkan," sahut Nathan sambil bergidik jijik.
"Oh tentu saja itu menjijikkan. Tapi makhluk seperti mereka mana kenal jijik sih Nath. Yang menjijikkan buat manusia adalah justru sesuatu yang nikmat dan menyenangkan buat mereka," kata Bayan sambil tersenyum.
"Ck, ngomonginnya aja Aku mual Yah. Apalagi ngebayanginnya," sahut Nathan sambil meringis hingga membuat Bayan kembali tersenyum.
Nathan pun mengangguk cepat. Entah mengapa saat Bayan menyebut nama Ira, pikirannya kembali melayang pada sosok wanita yang sempat menjadi kekasihnya itu.
Nathan mengingat moment pertemuan pertama kali dengan Ira. Ada sesuatu pada gadis itu yang membuat Nathan tertarik. Meski pun Ira tak secantik Diana, namun Nathan sangat menyayanginya. Sikap Ira yang sangat menghormati kedua orangtuanya, yang kemudian Nathan ketahui sebagai orangtua angkat, juga mampu menghipnotis Nathan dan membuatnya jatuh hati.
Hari-hari yang mereka lalui terasa indah dan menyenangkan. Tak seperti pasangan lain yang kerap bertengkar. Nathan dan Ira hampir tak pernah bertrngkar. Pertengkaran terjadi justru saat mereka tak lagi menyandang status sebagai kekasih, tepat dimana Nathan mengetahui jati diri Ira yang sebenarnya.
Nathan menghela nafas panjang. Andai ia tak tahu siapa Ira sebenarnya, mungkin sekarang ia sudah menikah dengan Ira. Dan pasti Nathan akan menanggung rasa bersalah hingga akhir hayatnya karena ternyata istrinya adalah siluman pemangsa bayi.
Lamunan Nathan buyar. Ia pun menoleh kearah sang ayah yang ternyata tengah memejamkan mata. Nampaknya Bayan tertidur karena kelelahan usai menemani Fikri di Rumah Sakit semalam.
Nathan tersenyum lalu kembali mengalihkan tatapannya ke depan sambil menambah kecepatan laju mobil agar bisa tiba di rumah lebih cepat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Sidang perdana kasus kematian Mia yang melibatkan Rosiana pun digelar secara tertutup.
Saat itu dari pihak Rosiana hadir mak Ejah dan Usman. Sedangkan dari pihak Mia dihadiri oleh Marco dan istrinya juga Nathan.
Saat kembali melihat Nathan jantung mak Ejah kembali berdetak cepat. Aliran darahnya seolah mengalir lebih cepat dan itu membuat mak Ejah gelisah. Usman yang duduk di samping wanita itu nampak mengamati dengan cermat sambil mengerutkan keningnya.
"Mak ... gapapa kan ?" tanya Usman hati-hati.
"Iya Man. Mak gapapa," sahut mak Ejah sambil merapikan kerudung biru yang menutupi kepalanya.
"Sejak kapan Mak pake kerudung ?. Saya kok baru liat Mak ?" tanya Usman.
"Ini bukan kerudung tapi syal. Mak pake ini karena Mak yakin bakal banyak menangis nanti. Mak pikir tissu aja ga bakal cukup buat menghapus air mata Mak. Selain itu syal ini juga bisa dipake buat nutupin muka Mak yang sembab karena kebanyakan menangis," sahut mak Ejah sambil tersenyum getir.
Usman pun mengangguk karena paham arah pembicaraan mak Ejah.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Bayan nampak tersenyum di balik pintu. Hal itu tentu saja membuat semua orang menoleh. Nathan, Marco dan istrinya nampak tersenyum melihat kehadiran Bayan, sedangkan Rosiana nampak salah tingkah.
Rosiana merasa gugup karena persidangan disaksikan oleh bos tempatnya bekerja. Saat itu Rosiana memang masih berstatus karyawan di perusahaan Bayan. Rosiana juga masih menerima gaji meski pun tak menjalankan kewajibannya.
Nathan pun tak mengerti dengan jalan pikiran sang ayah yang tetap mempekerjakan Rosiana dan membayar gajinya meski pun wanita itu tak menyelesaikan pekerjaannya.
"Kita ga pernah tau apa yang Rosiana alami. Mungkin saja di luar sana dia masih harus menanggung hidup seseorang. Bayangkan jika itu terhenti sedangkan orang itu bergantung sama Rosiana selama ini. Kalo orang itu sampe meninggal karena tak menerima uang untuk membiayai hidupnya, Ayah pasti akan merasa sangat bersalah.Masalah yang dibuat Rosiana adalah tanggung jawabnya sendiri. Jadi biar Rosiana yang menanggungnya tapi jangan orang lain. Berikan saja haknya karena Kita tak tahu apa-apa tentang kehidupan pribadinya," kata Bayan kala Nathan bertanya padanya mengapa Bayan tak memecat Rosiana padahal wanita itu terbukti telah mencelakai calon menantunya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1