
Rosiana turun di tepi jalan raya lalu berjalan kaki menuju sebuah tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian. Rosiana tersenyum saat melihat seorang wanita tengah berada di depan sebuah rumah yang akan ia tuju.
"Maaakk ...!" panggil Rosiana lantang sambil berlari kecil.
Wanita yang dipanggil 'mak' itu menoleh lalu tersenyum melihat Rosiana. Ia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Rosiana. Kedua wanita itu pun saling memeluk melepas rindu.
"Aku kangen sama Mak," kata Rosiana sambil mengurai pelukannya.
"Masa sih. Bukan karena ga punya tempat kabur makanya Kamu datang ke sini ?" tanya wanita yang bernama mak Ejah itu sambil menepuk pipi Rosiana dengan lembut.
Rosiana tertawa karena ternyata mak Ejah tahu alasan kedatangannya kali ini. Kemudian Rosiana mengikuti langkah mak Ejah yang masuk ke dalam rumah.
Mak Ejah adalah ibu angkat Rosiana. Dia lah yang telah mengasuh Rosiana sejak ia kecil. Rosiana bahkan tak ingat siapa orangtua kandungnya karena saat ia mulai mampu mengingat, hanya wajah mak Ejah yang terlintas di kepalanya.
Rosiana meletakkan tasnya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya menatap ke sekelilingnya dengan tatapan tak terbaca. Ia tersenyum saat mak Ejah meletakkan segelas air di hadapannya. Dengan sigap Rosiana meraih gelas itu lalu meneguk isinya dengan cepat.
Setelah meneguk air pemberian mak Ejah, Rosiana merasa lelah di tubuhnya lenyap seketika. Itu adalah salah satu hal yang ia sukai saat berkunjung ke rumah itu. Rosiana selalu menunggu mak Ejah menyodorkan segelas air padanya. Air putih ajaib, begitu lah Rosiana menyebutnya. Karena tiap kali ia meminum air itu maka segala gundah dan lelah yang ia rasakan akan lenyap seketika tanpa bekas.
Mak Ejah tersenyum melihat reaksi Rosiana usai meneguk air buatannya itu.
Tiba-tiba suara seorang pria terdengar memanggil namanya di luar sana.
"Mak Ejaahh...!. Sayurannya taro di mana ?" tanya pria bernama Usman dari luar rumah.
Mak Ejah pun bergegas keluar untuk menemui Usman.
"Tolong bawa masuk sekalian aja Man ...!" kata mak Ejah.
"Iya Mak," sahut Usman lalu masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak kayu besar penuh berisi sayuran.
Saat melintas di ruang tamu tak ssngaja Usman meluhat Rosiana. Ia terkejut namun akhirnya tersenyum. Usman pun menyapa Rosiana.
"Baru datang Ci ?" sapa Usman karena ia melihat tas milik Rosiana yang tergeletak di lantai begitu saja.
__ADS_1
"Iya Man. Apa kabar ?" tanya Rosiana basa-basi.
"Alhamdulillah baik," sahut Usman sambil melangkah masuk menuju dapur rumah mak Ejah.
Melihat interaksi Usman dan Rosiana yang tampak kaku membuat mak Ejah geleng-geleng kepala.
"Jangan kemana-mana dulu Man. Makan dulu, Mak udah masak banyak hari ini," kata Mak Ejah sambil menahan lengan Usman.
"Tapi Mak ...," ucapan Usman terputus karena mak Ejah memotong cepat.
"Ga ada tapi. Udah cuci tangan sana !" kata mak Ejah ketus.
Dengan terpaksa Usman menuruti kemauan mak Ejah. Ia mencuci tangannya di luar rumah lalu kembali dan duduk di hadapan Rosiana. Melihat Rosiana membuat Usman salah tingkah. Ia hanya menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya.
Usman dan Rosiana adalah teman semasa SMP. Rosiana yang manis dan pintar telah membuat Usman jatuh hati. Apalagi saat Rosiana berhasil masuk ke sekolah elit melalui jalur prestasi membuat kekaguman Usman bertambah.
Saat duduk di kelas 2 SMA, Usman mencoba menyatakan perasaannya pada Rosiana namun ditolak. Usman yang kecewa akhirnya memilih menikah dengan gadis pilihan ibunya saat mereka lulus SMA.
Dan setahun lalu Usman bercerai dengan istrinya tanpa sebab yang jelas. Usman pun kembali ke daerah itu dan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satunya membantu mak Ejah membeli sayuran dan keperluan dapur lainnya.
Ucapan mak Ejah sukses membuat Rosiana dan Usman salah tingkah. Bahkan Rosiana terbatuk-batuk hingga membuat Usman refleks menyodorkan gelasnya kearah Rosiana.
"Makasih," kata Rosiana setelah meneguk air dari gelas Usman.
"Sama-sama," sahut Usman lirih dengan wajah bersemu merah.
Mak Ejah pun tersenyum puas melihat interaksi Rosiana dan Usman. Ia yakin jika cinta Usman untuk Rosiana masih ada dan Rosiana hanya perlu menyadari ketulusan Usman padanya. Mak Ejah berharap suatu saat nanti Rosiana dan Usman bisa bersatu.
Setelah menghabiskan makanan yang disuguhkan mak Ejah, Usman pun pamit. Nampaknya pria itu sudah tak sabar ingin teriak untuk meluapkan kebahagiaannya karena minum di satu gelas yang sama dengan Rosiana tadi.
\=\=\=\=\=
Malam itu mak Ejah nampak tertidur dengan gelisah. Rupanya wanita itu sedang mimpi buruk.
__ADS_1
Dalam mimpinya mak Ejah seolah dibawa kembali ke masa puluhan tahun silam. Ia melihat bayi yang ia lahirkan direnggut dengan paksa. Ia menangis saat itu. Ia memohon agar diberi kesempatan ssbentar saja untuk memeluk bayinya.
"Ijinkan Aku memeluknya sebentar ... aja. Aku janji hanya sebentar," kata Ejah muda menghiba.
"Baik lah. Sebelum tengah malam Aku akan datang untuk mengambilnya. Terserah jika Kamu bilang Aku jahat. Aku lakukan itu demi kebaikanmu dan bayi itu," kata seorang pria.
Mak Ejah mengangguk dan memeluk bayinya sambil menangis. Sebelumnya pria itu memintanya untuk tak menyusui bayi itu. Namun naluri keibuan yang ia miliki menuntun Ejah untuk memberikan ASInya pada sang bayi.
"Maafkan Ibu ya Nak. Ini adalah ASI pertama dan terakhir yang bisa Ibu berikan. Setelah ini Kita ga akan pernah ketemu lagi karena Kamu harus pergi jauh. Jangan nakal di tempat baru nanti ya Nak. Turuti semua yang dikatakan orangtua asuhmu. Semoga tetap sehat, kuat dan tumbuh jadi Anak yang baik. Jika Tuhan menghendaki, Kita pasti ketemu lagi suatu saat nanti," kata Ejah sambil menangis.
Tiba-tiba pintu terbuka. Pria itu nampak marah saat mengetahui Ejah menyusui bayinya.
"Apa yang Kau lakukan ?!. Sadar kah apa yang Kamu lakukan bisa menularkan penyakit pada bayimu !" kata pria itu marah sambil merenggut paksa bayi Ejah dari pelukannya.
"Saba ... Saba...," kata Ejah berulang kali.
"Apa maksudmu ?!" tanya pria itu sambil menyeka mulut bayi dengan air untuk menghilangkan jejak ASI Ejah dari mulut sang bayi.
"Namanya Saba ...," sahut Ejah lirih sambil mengulurkan tangannya untuk menggapai bayinya.
"Iya iya, Aku ingat itu. Jangan cari dia lagi atau Aku tak akan membantumu lagi !" ancam pria itu sambil menutup pintu.
Mak Ejah terbangun dengan peluh dan air mata di wajahnya. Ia mengeratkan pegangannya pada selimut sambil memanggil nama anak lelakinya itu.
"Dimana Kamu sekarang Nak. Bagaimana keadaanmu. Apakah Kamu ingat sama Ibu yang telah melahirkanmu ini ...?" tanya mak Ejah sambil terisak.
Dan suara isakan mak Ejah terdengar oleh Rosiana. Ia menerobos masuk ke dalam kamar lalu memeluk ibu angkatnya itu.
"Mak ingat Kang Saba lagi ya ?" tanya Rosiana dengan mata berkaca-kaca.
Mak Ejah mengangguk dan itu membuat Rosiana sedih. Hal yang membuatnya lemah hanya lah melihat mak Ejah menangis.
Yang Rosiana tahu bayi laki-laki mak Ejah dibawa pergi oleh ayah mak Ejah dan diserahkan pada orang lain. Sejak bayinya diambil paksa, sejak saat itu Mak Ejah memutuskan pergi dari rumah dan akhirnya terdampar di tempat itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=