
Kemudian Bayan duduk di samping Nathan. Ia sempat mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Saat tatapannya membentur Usman dan mak Ejah, Bayan pun mengangguk sambil tersenyum.
Usman yang melihat senyum tulus Bayan pun balas tersenyum sedangkan mak Ejah nampak tak peduli. Wanita itu bahkan menutupi sebagian wajahnya dengan syal biru yang ia kenakan.
Bayan pun berusaha maklum dan yakin jika mak Ejah adalah wanita yang diceritakan Nathan sebagai ibu Rosiana.
Tatapan Bayan pun beralih pada Rosiana yang duduk di tengah ruangan dan berhadapan dengan hakim. Di kanan kiri Rosiana tampak beberapa pria yang diyakini sebagai penuntut umum dan pengacara Rosiana. Karena pengadilan dilakukan tertutup, maka tak banyak orang yang hadir di sana.
Pengadilan berjalan lancar karena Rosiana mengakui perbuatannya. Rupanya ia juga tak ingin membuang waktu karena yakin dirinya toh akan tetap dipenjara.
Semua pihak nampak puas dengan sidang hari itu. Hanya mak Ejah yang terlihat gusar karena ia tak rela jika Rosiana harus dipenjara.
"Kita pulang Mak," ajak Usman saat sidang berakhir.
Kini dia dan mak Ejah sudah berada di luar ruangan.
"Tunggu sebentar Man. Mak mau ngomong dulu sama Oci," kata mak Ejah.
"Kayanya ga bisa Mak. Oci udah dikawal sama Polisi tuh," sahut Usman.
"Ayo lah Man. Tolong minta waktu sebentar aja supaya Mak bisa ngbrol sama Oci," pinta mak Ejah.
Rupanya prmintaan mak Ejah didengar olah Nathan. Ia pun menepuk bahu salah seorang polisi dan meminta sedikit waktu agar mak Ejah bisa bicara dengan Rosiana.
Polisi itu mengangguk lalu meminta rekannya yang mengawal Rosiana berhenti dan membiarkan Rosiana untuk menemui mak Ejah.
Mak Ejah pun tersenyum bahagia karena bisa memeluk Rosiana dengan erat.
"Jangan takut Ci. Jalani aja semuanya dengan tenang. Mak yakin hukumanmu ga akan berat karena Kamu mau mengakuinya langsung tanpa berbelit-belit tadi," kata mak Ejah sambil mengusap kepala Rosiana dengan lembut.
"Tapi Aku takut Mak ...," rintih Rosiana sambil terisak.
__ADS_1
"Kamu tenang aja Ci. Aku akan bicara sama Ayah tunangan wanita itu. Keliatannya dari semua orang yang terluka dan kehilangan, hanya dia yang bisa diajak bicara," kata Usman.
"Maksudmu Pak Bayan ?. Dia Bosku Man. Tunangan wanita itu Anaknya," kata Rosiana gusar.
Ucapan Rosiana membuat Usman dan mak Ejah saling menatap sejenak dengan tatapan tak terbaca. Kemudian mak Ejah menengahi dan mengijinkan Usman bicara dengan Bayan.
"Mak setuju. Ga ada salahnya dicoba kan Ci ?" tanya mak Ejah yang diangguki Usman.
"Terserah Kalian aja. Aku hanya berharap bisa menebus kesalahanku nanti," kata Rosiana.
Mak Ejah dan Usman pun mengangguk. Tiba-tiba seorang polwan datang mendekat bermaksud menjemput Rosiana. Dengan terpaksa mereka berpisah. Rosiana pergi dengan mobil polisi untuk kembali ke tahanan.
Usman bergegas menghampiri Bayan saat dilihatnya pria itu hendak masuk ke dalam mobil. Usman sempat mengajak mak Ejah mendekati Bayan namun wanita itu menolak.
"Kamu aja yang ngomong Man. Mak tunggu di sini," kata mak Ejah.
"Tapi Mak ...," ucapan Usman terputus karena mak Ejah memotong cepat.
"Cepetan Man. Ntar Bapak itu keburu pergi," kata mak Ejah sambil menunjuk Bayan yang berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman pengadilan.
"Permisi Pak. Apa Kita bisa bicara sebentar ?!" tanya Usman lantang hingga membuat Bayan menoleh.
"Anda bicara dengan Saya ?" tanya Bayan.
"Iya Pak. Kenalkan, Saya Usman. Saya kerabat Rosiana," kata Usman memperkenalkan diri.
"Saya Bayan. Ayah dari tunangan Mia," sahut Bayan sambil tersenyum.
"Iya Pak, Saya tau. Mmm ..., maaf kalo terdengar lancang. Saya menemui Bapak karena ingin meminta agar keluarga Bapak dan Mia berkenan memaafkan Rosiana. Saya tau kesalahannya tak termaafkan. Tapi Ibu Rosiana sangat sedih dan terpukul mengetahui Rosiana akan dipenjara. Jika boleh, bisa kah Bapak membantu Kami agar Hakim tak menjatuhkan hukuman berat untuk Rosiana," kata Usman hati-hati.
Bayan mengamati Usman sejenak. Sekali melihat saja Bayan tahu jika Usman menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Apa Kamu mencintai Rosiana ?" tanya Bayan tiba-tiba.
Pertanyaan Bayan itu mengejutkan Usman.Saat melihat pria di hadapannya salah tingkah, Bayan pun tersenyum karena ia tahu jawabannya.
"Kamu tenang aja. Meski pun Anak Saya sangat mencintai tunagannya itu, tapi dia masih punya sisi kemanusiaan yang baik. Dia pasti memaafkan Rosiana. Kami bisa saja mencabut laporan, tapi itu tak mendidik bukan ?. Biarkan Rosiana bertanggung jawab atas perbuatannya. Meski pun sebentar, setidaknya itu cukup untuk membuatnya belajar bahwa dia harus berpikir seribu kali sebelum bertindak konyol. Dan ke depannya dia bisa lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap," kata Bayan bijak.
"Jadi hukuman Rosiana ga bakal lama Pak ?" tanya Usman antusias.
"Iya. Ini hanya untuk membuatnya jera. Tapi saran Saya, jangan kasih tau kabar ini sama Rosiana. Biarkan dia merenungi kesalahannya selama dia di penjara nanti," kata Bayan sambil tersenyum.
"Makasih Pak. Saya janji akan merahasiakan ini nanti," kata Usman sambil menjabat tangan Bayan dengan erat.
Setelahnya Usman bergegas menghampiri mak Ejah lalu mengajak wanita itu pergi meninggalkan area pengadilan.
Dari dalam mobil Bayan terus mengamati pergerakan Usman dari jauh. Saat itu Bayan penasaran dengan sosok mak Ejah yang menutupi kepalanya dengan kerudung biru. Dari cara wanita itu memakai kerudung Bayan tahu jika wanita itu hanya memakai kerudung sekenanya. Karena terlihat tak rapi dan warnanya pun tak sesuai dengan out fit yang dikenakan saat itu.
Seolah tahu jika sedang diamati, mak Ejah pun menoleh kearah Bayan sambil menutupi wajahnya dengan kerudung. Untuk sejenak tatapan keduanya pun bertemu. Meski pun terhalang kaca mobil karena saat itu Bayan berada di dalam mobil, namun Bayan tahu jika saat itu mak Ejah sedang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
Bayan pun tersentak kaget mendapati sorot mata mak Ejah yang terarah kepadanya. Perlahan Bayan membuka kaca mata hitam yang saat itu ia kenakan agar bisa melihat mak Ejah dengan jelas.
"Aneh. Kenapa sorot matanya ga asing. Aku yakin pernah melihatnya. Tapi dimana ya ?" gumam Bayan gelisah.
Suara sang supir pribadi mengejutkan Bayan hingga ia mengalihkan tatapannya. Rupanya sang supir menunggu perintah Bayan hendak kemana mereka setelah ini.
"Maaf ijin bertanya Pak. Kita mau kembali ke kantor sekarang atau Bapak mau mampir ke tempat lain dulu ?" tanya sang supir.
"Kita balik ke kantor aja," sahut Bayan sambil kembali menyandarkan tubuhnya.
"Baik Pak," sahut supir pribadi Bayan sambil menstarter mobil.
Tak lama kemudian mobil Bayan tampak melaju meninggalkan area pengadilan. Saat melintas di samping trotoar yang dilalui Usman dan mak Ejah, Bayan pun melambaikan tangannya kearah Usman. Dan saat itu lah Bayan bisa melihat wajah mak Ejah dari dekat meski pun sekilas.
__ADS_1
Seolah khawatir Bayan bisa mengenalinya, mak Ejah pun kembli menutupi wajahnya dengan kain biru yang dipakainya.
\=\=\=\=\=