
Setelah jati dirinya terungkap, Nathan pun memilih hengkang dari perusahaan milik Marco itu.
Alasannya karena Nathan tak nyaman saat semua orang memperlakukannya berbeda. Orang yang biasanya bersikap tak peduli padanya tiba-tiba menjadi ramah dan bersikap sangat baik. Dan orang-orang yang biasanya bersikap baik pun nampak mulai berhati-hati padanya seolah ia adalah virus yang sewaktu-waktu bisa membunuh siapa pun.
Namun dari sekian banyak orang yang 'berubah' Nathan bersyukur karena memiliki teman-teman yang tulus. Rekan-rekan kerja di divisi yang sama dengannya dulu masih bersikap santai seolah tak terjadi apa pun. Mereka masih mencandai Nathan seperti biasa. Dan salah satu hal yang tak berubah adalah mereka tetap meminta Nathan mentraktir mereka kapan pun dan dimana pun.
Hal seperti ini bukan barang baru buat Nathan. Sejak ia diangkat jadi body guard Mia, sejak saat itu lah rekan-rekannya berulah. Mereka menganggap gaji yang diterima Nathan pasti lebih besar dibanding mereka karena dia bekerja hampir 24 jam.
"Jadi wajar kan kalo Kita yang gajinya sedikit minta traktir sama Lo yang gajinya gede !" kata salah satu rekan Nathan kala itu.
Biasanya Nathan hanya mendengus kesal sambil menggelengkan kepala. Bukan karena jumlah uang yang harus ia keluarkan. Tapi tingkah rekan-rekannya yang 'norak' hingga kadang membuat Nathan malu.
Dan kali ini mereka kembali meminta Nathan mentraktir mereka.
"Sekarang apalagi alasannya ?" tanya Nathan saat tiba di restoran yang dimaksud.
Rupanya rekan-rekan Nathan telah datang lebih dulu ke restoran itu lalu menghubungi Nathan dan memintanya datang.
"Traktiran buat mereyakan sesuatu lah. Apalagi emangnya," sahut rekan Nathan sambil menaik turunkan alisnya.
"Merayakan apaan ?" tanya Nathan tak mengerti.
"Merayakan terbongkarnya kedok Lo sebagai Anak seorang pengusaha terkenal !" sahut rekan Nathan yang lain.
"Apaan sih Lo, ga jelas banget," kata Nathan sambil melengos.
"Bukannya selama ini Lo nyamar jadi karyawan biasa demi mendapatkan Mia yang cantik itu Nath ?. Nah sekarang Lo ketauan, jadi artinya Lo kalah. Makanya yang kalah nraktir. Kan emang gitu peraturannya !" kata rekan Nathan tak mau kalah.
Nathan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar siasat rekan-rekannya itu. Meski sadar dirinya dikerjai, tapi Nathan dengan senang hati mengiyakan permintaan mereka.
"Ok. Hari ini semua makanan dan minuman yang Kalian makan Gue bayarin !" kata Nathan sambil mengeluarkan dompetnya lalu meletakkannya di atas meja.
Wajah semua rekan Nathan nampak berbinar membayangkan isi dompet yang terlihat 'gemuk' itu. Lalu dengan antusias mereka mulai memesan menu yang mereka inginkan.
__ADS_1
"Pesen yang mahal sekalian biar ga nyesel !" kata Nathan mengingatkan.
"Ok, siapa takut !" sahut rekan-rekan Nathan hingga membuatnya tersenyum.
Dalam waktu singkat semua menu mahal andalan restoran itu telah tersaji di atas meja. Nathan dan rekan-rekannya pun dengan lahap memakan semuanya.
"Jadi hubungan Lo sama Mia udah sejauh mana Nath ?" tanya rekan Nathan usai mereka menghabiskan semuanya.
"Ga sejauh mana-mana karena emang ga ada hubungan apa pun antara Gue sama Mia," sahut Nathan santai.
"Masa sih. Yang bener Lo Nath !" kata rekan Nathan tak percaya.
"Terserah Lo mau percaya atau ga. Tapi ssbentar lagi Gue bakal resign dari kantor dan ga jadi body guardnya Mia lagi," kata Nathan hingga mengejutkan semua rekannya.
"Kenapa Nath ?. Lo marah ya gara-gara Kita sering minta traktir ?" tanya rekan Nathan.
"Bukan itu. Gue ga masalah kok nraktir Kalian, asal ga sering dan masuk akal. Tapi Gue emang harus pergi buat ngelanjutin kuliah S2 di luar negeri. Ini bukan perintah orangtua Gue tapi emang kemauan Gue. Kayanya udah cukup Gue main-main. Gue harus bersiap terjun ke dunia bisnis. Dan untuk itu Gue harus punya modal yang cukup biar bisa menghadapi persaingan bisnis dan dinamika bisnis yang ga bisa ditebak itu. Nah, Gue merasa modal S1 Gue ga bakal cukup makanya Gue harus sekolah lagi. Jadi tolong dukung Gue ya guys," kata Nathan panjang lebar.
"Pergi lah Nath. Lo emang berhak untuk itu karena Lo punya tanggung jawab yang berat,"
"Iya Nath. Selamat jalan,"
"Senang pernah mengenal orang sebaik Lo Nath. Walau nanti Lo lupa sama Kami, Kami maklum kok,"
Ucapan rekan-rekannya membuat Nathan terharu. Ia hanya mengangguk sambil mempererat pelukannya.
"Gue juga bersyukur bisa punya teman sebaik Kalian. Teman yang tulus, yang ga pernah menjadikan harta ssbagai ukuran, teman yang siap pasang badan saat Gue diomelin Pak Haris. Walau yang terakhir bo'ong tapi Gue tetep berterima kasih," kata Nathan sambil tersenyum dan mengurai pelukannya.
Semua rekan Nathan nampak membisu sejenak seolah sedang berusaha mencerna ucapan Nathan. Dan saat mereka sadar jika Nathan sedang menyindir mereka, mereka pun tertawa.
\=\=\=\=\=
Nathan sedang duduk di hadapan Marco. Ia ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya. Semula Marco tampak kecewa, namun saat Nathan menjelaskan alasannya yang akan melanjutkan kuliah S2 di luar negeri, Marco pun setuju.
__ADS_1
"Maafkan Saya karena ga mengenali Kamu sebagai Anaknya Pak Bayan ya Nath," kata Marco.
"Iya Pak. Saya juga minta maaf karena ga bilang sama Bapak kalo Saya Anak rekan bisnisnya Bapak. Saya cuma mau mandiri dan bekerja profesional. Saya ingin Bapak dan semua orang memperlakukan Saya karena Saya memang layak mendapatkannya dan bukan karena nama besar Ayah Saya," kata Nathan menjelaskan.
"Justru sikap Kamu ini bikin Saya terharu sekaligus bangga. Selamat jalan, semoga Kamu bisa lulus dengan nilai memuaskan supaya bisa meneruskan perusahaan Ayahmu," kata Marco sambil tersenyum.
"Untuk lulus dengan nilai terbaik rasanya Saya harus bekerja extra Pak. Tapi gapapa, Saya akan berusaha yang terbaik supaya ga mengecewakan orangtua Saya dan semua orang yang berharap banyak sama Saya," sahut Nathan sambil tersenyum.
"Bagus !. Lakukan yang terbaik karena hasil ga akan mengkhianati usaha dan kerja keras. Ini ada uang gaji terakhir dan pesangon yang memang hak Kamu. Dan ini sedikit tambahan dari Saya untuk uang jajan Kamu di luar negeri nanti," kata Marco sambil menyodorkan dua amplop berisi uang dan selembar cek.
Nathan nampak terkejut. Kedua matanya berkaca-kaca menerima pemberian Marco.
"Makasih banyak Pak. Saya pamit sekarang," kata Nathan setelah mencium punggung tangan Marco.
Sejak Marco mengetahui Nathan adalah anak rekan bisnisnya, sikap Nathan pun berubah lebih santun. Jika biasanya ia hanya akan menundukkan kepalanya dengan takzim saat bertemu Marco, kini Nathan mencium punggung tangan Marco sebagai bentuk penghormatan.
Entah mengapa melihat kepergian Nathan membuat Marco sedih.
Sedang di luar rumah Nathan dihadang oleh Mia. Gadis itu tak terima saat Nathan mengundurkan diri tanpa sepengetahuan dirinya.
"Mbak Mia ...," panggil Nathan.
"Ga usah panggil Aku Mbak. Umur Kamu kan lebih tua dari Aku," kata Mia ketus namun membuat Nathan tersenyum.
"Ok Mia. Sekarang Aku pamit ya, ke depannya Aku ga bakal ngawal Kamu lagi. Aku cuma pesen hati-hati dalam bergaul, bijak lah memilih teman, karena yang terlihat baik belum tentu tulus," kata Nathan.
"Sok tau. Ga usah ngajarin Aku ya !" kata Mia dengan suara tercekat.
Nathan terdiam. Ia tahu Mia tengah berusaha menyembunyikan air matanya. Perlahan Nathan menarik Mia ke dalam pelukannya dan Mia pun menangis di sana.
Dari jendela ruang kerjanya Marco dan istrinya nampak menatap Nathan dan Mia yang sedang berpelukan itu. Mereka sedih namun mereka sadar tak akan mungkin menahan Nathan di sisi mereka selamanya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1