Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
163. Mirip Kuntilanak


__ADS_3

Bayan dan Nathan mengajak Fikri pulang. Agak sulit karena Fikri masih ingin bertahan di sana. Bahkan Fikri kembali melangkah ke makam Arafah.


"Bang ...!" panggil Nathan sambil bersiap mengejar Fikri.


"Biar aja Nath. Fikri butuh untuk melepaskan rasa sedihnya sekarang," kata Bayan sambil mencekal lengan Nathan.


"Tapi udah ga ada siapa-siapa di sana Yah. Aku khawatir Abang malah kesurupan nanti," sahut Nathan gusar.


Ucapan Nathan justru membuat Bayan tertawa.


"Kamu ga lupa kalo Abang Kamu udah dewasa kan Nath ?. Lagian Fikri terlalu kuat untuk dirasuki makhluk halus. Jadi Kamu ga usah khawatir. Dan liat, Abang Kamu ga sendirian kok. Ada Pak Adang juga di sana," kata Bayan sambil menunjuk kearah Adang dan Fikri.


Nathan menoleh kearah yang ditunjuk sang ayah. Ia tersenyum melihat Adang nampak berdiri menemani Fikri yang tengah berjongkok di samping lubang makam Arafah.


Lima belas menit kemudian Fikri nampak menghampiri Bayan dan Nathan. Di sampingnya tampak Adang yang memegangi bahunya karena khawatir Fikri jatuh tersungkur ke tanah karena melangkah dalam kondisi limbung.


"Gimana Fik ?. Apa Kamu masih mau bertahan di sini ?" tanya Bayan yang disambut dengan gelengan kepala Fikri.


"Mas Fikri mau pulang kok Pak. Keliatannya Mas Fikri juga udah capek dan ngantuk," sahut Adang mewakili sambil melirik kearah Fikri.


"Gitu ya. Ok, Kami pulang sekarang ya Pak Adang. Makasih lho udah ngabarin Kami tentang masalah ini," kata Bayan sambil menjabat tangan Adang disusul Fikri dan Nathan.


"Sama-sama Pak, ini kan emang tanggung jawab Saya. Insya Allah Saya bakal kabari lagi kalo ada kabar lanjutan nanti," sahut Adang sambil tersenyum.


Kemudian Bayan dan Fikri lebih dulu masuk ke dalam mobil, disusul Nathan kemudian.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Nathan menyelipkan amplop berisi uang ke saku baju Adang. Pria itu nampak terkejut dan ingin menolak. Namun saat Nathan menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya, Adang pun mengangguk lalu mengucapkan terima kasih.


Saat mobil yang dikemudikan Nathan bergerak meninggalkan area pemakaman, Adang pun melangkah mendekati motornya. Sebelum menstarter motornya Adang mencoba mengecek isi amplop yang diselipkan Nathan tadi. Wajah pria itu nampak berbinar saat melihat jumlah uang di dalam amplop.


"Masya Allah, Alhamdulillah ...," gumam Adang sambil mendekap amplop berisi uang itu di dadanya.


Setelah memasukkan amplop itu ke dalam saku bajunya, Adang pun menstarter motornya lalu bergegas meninggalkan area pemakaman.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Hampir setiap hari Fikri mendatangi Rumah Sakit dan kantor polisi untuk mencari informasi tentang jasad yang diduga Arafah itu. Ia ditemani Ayu yang setia mendampinginya kemana pun ia pergi.


"Kamu di rumah aja Mi. Ini bakal melelahkan lho. Abi ga tega ngeliat Ummi kecapean gara-gara ngikutin Abi mondar-mandir," kata Fikri kala itu.


"Ga mau. Lebih baik Ummi ikut Abi daripada bengong di rumah. Sendirian di rumah bikin Ummi inget sama Arafah Bi. Jadi tolong jangan larang Ummi untuk ikut ya ...," pinta Ayu sungguh-sungguh.


Fikri nampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk. Ayu pun tersenyum melihat anggukan kepala Fikri.


"Makasih ya Bi," bisik Ayu sambil memeluk Fikri erat.


"Sama-sama Sayang," sahut Fikri sambil mengecup kening sang istri dengan lembut.


Akhirnya usaha Fikri dan istrinya pun membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian Fikri mendapat kepastian tentang jasad anak kecil yang ditemukan di sekitar area pemakaman itu.


Dan sore itu Fikri tampak berdiri di dekat makam Arafah ditemani Ayu, Bayan dan Anna. Nathan tak bisa hadir karena harus menghadiri sebuah pertemuan penting. Sedangkan Nicko harus menemani Ramadhanti yang mengalami sedikit keluhan pada kehamilannya.


Pemakaman Arafah kali ini terasa menguras emosi. Bagaimana tidak, kronologi kepergian Arafah mirip sebuah drama di televisi. Berawal dari penculikan, kemudian masuk Rumah Sakit karena dehidrasi akut, berlanjut dengan meninggalnya Arafah yang tiba-tiba, disusul hilangnya jasad Arafah setelah seminggu pemakaman membuat Fikri hampir depresi. Namun ia harus tegar karena masih ada Ayu yang membutuhkan dirinya.


"Menangis lah Sayang. Tapi berjanji lah jika ini adalah tangisan terakhir Kamu untuk Arafah. Setelah ini Kita harus bersiap menata masa depan Kita. Gimana, apa Kamu siap ?" bisik Fikri di telinga Ayu.


"Insya Allah Aku siap. Makasih Bi," sahut Ayu lirih di sela isak tangisnya.


Fikri mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.


Anna yang juga mendengar ucapan Fikri dan Ayu pun nampak terharu. Ia ikut mengusap punggung Ayu dengan lembut untuk memberi dukungan.


"Selesai. Silakan kalo mau didoain Mas !" kata Adang usai memakamkan Arafah kembali dibantu dua orang rekannya.


"Iya Pak," sahut Fikri sambil mengurai pelukannya.


Setelahnya semua orang berjongkok di sekitar makam Arafah. Fikri memimpin doa dan yang lain mengaminkan.

__ADS_1


Suasana sore di sekitar makam Arafah terasa mencekam hingga membuat beberapa orang bergidik tak nyaman. Bayan yang diam-diam mengamati sekelilingnya pun tahu apa penyebab ketidak nyamanan itu.


Sebelumnya, saat jasad Arafah kembali dimasukkan ke liang kubur, saat itu lah Bayan mendengar suara berdepak mirip kepakan sayap burung besar. Bayan pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Dan tatapan Bayan berhenti pada sebuah pohon kamboja yang terletak tak jauh dari makam Arafah. Di sana ia melihat sosok hantu wanita bertengger di atas pohon. Jika ditilik dari penampilannya, Bayan menduga jika wanita itu adalah hantu wanita yang dikenal dengan sebutan kuntilanak.


Dan saat Fikri melantunkan doa, saat itu lah hantu wanita yang mirip kuntilanak itu menggeram marah. Nampaknya ia tak suka mendengar doa yang dilantunkan khusus untuk Arafah itu. Ia melayang gelisah dari satu pohon ke pohon lainnya untuk memecah konsentrasi semua orang yang sedang berdoa. Namun sayang usahanya gagal karena semua orang nampak khusu berdoa.


Bayan pun mengusap wajahnya setelah Fikri mengakhiri doa. Tak lama kemudian semua orang bergerak meninggalkan makam Arafah. Tinggal Bayan, Anna, Fikri dan Ayu yang tersisa di sana.


"Kita pulang sekarang yuk," ajak Anna beberapa saat kemudian.


"Boleh sebentar lagi ga Bund ?. Aku mau mengatakan sesuatu sama Arafah," pinta Ayu penuh harap.


"Oh tentu. Kalo gitu Bunda sama Ayah tunggu di depan ya," kata Anna sambil mengusap kepala Ayu dengan lembut.


"Iya Bund," sahut Ayu sambil tersenyum.


Anna dan Bayan pun melangkah bersama menuju gerbang pemakaman. Sedangkan Ayu dan Fikri masih menatap makam Arafah dengan tatapan sendu.


Bayan dan Anna pun duduk menunggu di dalam mobil. Dari sana Bayan bisa melihat hantu wanita yang sejak tadi berusaha merusak konsentrasi semua orang masih ada di sana. Bahkan kini hantu wanita itu berada lebih dekat dengan makam Arafah.


Saat Fikri dan Ayu bangkit lalu melangkah meninggalkan makam Arafah, saat itu lah hantu wanita yang mirip kuntilanak itu bergerak mendekati makam Arafah.


Namun sesuatu terjadi. Bayan terkejut melihat hantu wanita yang mirip kuntilanak itu terhempas begitu saja seolah ada satu kekuatan yang menyerangnya secara tiba-tiba.


"Ayah ...!" panggil Anna, Fikri dan Ayu bersamaan hingga membuat Bayan terkejut lalu menoleh.


"Eh i-iya. Kenapa Kalian kompak banget sih manggilnya ?" tanya Bayan gugup.


"Abisnya Ayah ga denger dipanggilin daritadi. Emangnya Ayah lagi ngeliatin apaan sampe ga denger diajak ngomong ?" tanya Anna sambil ikut menatap kearah yang ditatap Bayan.


"Bukan apa-apa kok. Udah semua kan ?, sekarang Kita pulang ya ...," kata Bayan sambil menstarter mobilnya.


Dan tak lama kemudian mobil Bayan pun bergerak meninggalkan area pemakaman. Dari kaca spion Bayan mencoba mengintip ke makam Arafah karena penasaran dengan nasib hantu wanita itu. Bayan pun menghela nafas panjang karena tak bisa melihat apa pun di sana.

__ADS_1


Mobil terus melaju diiringi kumandang adzan Maghrib yang menggema di udara.


\=\=\=\=\=


__ADS_2