
Malam itu Rosi nampak mondar-mandir di dalam kamar. Ia gelisah karena tahu Suro akan berkunjung ke sana. Rosi merasa takut karena ia juga tahu apa yang akan terjadi nanti.
Tak seperti istri Suro lainnya yang akan menyambut kedatangannya dengan antusias, Rosi justru berbeda. Itu karena Rosi tahu jika ia akan mengalami rasa sakit saat Suro menyet*buhinya nanti. Meski pun setelahnya Suro akan memberinya hadiah dan uang yang sangat banyak, namun Rosi merasa tak layak mendapatkannya karena ia bukan wanita yang menginginkan pernikahan ini sejak awal.
Rosi tersentak kaget saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"Maaf Nyonya, Tuan sudah datang. Sekarang beliau ada di teras depan !" kata salah seorang pelayan.
"Iya, Aku tau !" sahut Rosi lantang.
Setelah merapikan penampilannya Rosi bergegas keluar kamar. Meski pun ia tak menyukai Suro, tapi ia berusaha tampil sebaik mungkin sesuai dengan keinginan Suro. Karena pria itu akan marah dan tak segan memukulnya di hadapan para pelayan jika ia melakukan kesalahan.
Rosi tersenyum manis saat melihat Suro memasuki ruangan. Ia berjalan mendekati Suro lalu memeluk pria itu sejenak. Setelahnya Rosi membantu melepaskan jaket yang dikenakan Suro.
"Tumben menyambutku semanis ini. Apa Kau sedang merencanakan sesuatu ?" tanya Suro ketus.
"Kenapa Aku selalu salah di matamu. Aku melakukannya karena Kau Suamiku. Bukan kah kewajiban seorang Istri menyambut Suaminya pulang ?" tanya Rosi sambil meletakkan jaket di sandaran sofa.
Ucapan Rosi membuat Suro tersenyum lebar. Ia senang karena istri pembangkangnya itu mulai menunjukkan sikap yang semestinya.
"Jadi di luar sana Kau belajar banyak rupanya. Keliatannya setelah kabur beberapa waktu Kau membawa sesuatu. Aku tak sabar untuk melihatnya," kata Suro.
Rosi tak menggubris ucapan suaminya itu. Ia hanya menunduk sambil menunggu apa yang akan Suro lakukan.
Rupanya Suro duduk di sofa sambil meluruskan kaki dan memejamkan mata, sedangkan Rosi nampak berjongkok lalu mulai memijit kaki Suro perlahan.
"Bangun lah. Kau justru membuat sesuatu milikku ikut bangun jika cara memijitmu seperti itu," kata Suro sambil tetap memejamkan mata.
"Oh, Aku memang sengaja melakukannya," bisik Rosi di telinga Suro hingga membuat pria tua itu membuka mata.
"Bukannya Kau selalu kesal tiap kali Aku mengajakmu bercinta. Kau marah karena Aku memperlakukanmu dengan buruk," kata Suro sambil menatap Rosi lekat.
"Itu dulu. Tapi sekarang Aku lebih siap. Aku janji tak akan menangis nanti," sahut Rosi malu-malu.
Ucapan Rosi membuat Suro tertawa. Ia menarik Rosi lalu menciuminya bertubi-tubi.
"Aku tak sabar ingin melihatmu menahan rasa sakit itu," kata Suro di sela tawanya.
"Sabar lah. Kita makan dulu ya. Bukan kah untuk melakukan itu diperlukan tenaga yang besar. Makan dulu untuk mengisi tenaga, istirahat sebentar. baru Kita mulai ke acara inti," kata Rosi sambil tersenyum penuh makna.
Suro mengangguk lalu mengikuti langkah Rosi yang membawanya ke ruang makan. Di sana Suro makan dengan lahap. Rosi hanya makan sedikit sekedar untuk menemani Suro.
__ADS_1
Perlahan malam pun kian larut. Kini Suro dan Rosi telah berada di dalam kamar. Rosi nampak telah berbaring pasrah di temoat tidur dengan tubuh yang nyaris telan**ng.
"Kau tau Rosi. Tanpamu Aku tersiksa. Aku sakit, Aku terluka. Hasratku tak bisa terlampiaskan dengan sempurna saat bukan Kau orangnya," kata Suro.
"Ya. Karena hanya Aku yang mau menampung hasrat gilamu itu. Istrimu yang lain ga akan sanggup menerima siksaanmu yang brutal itu," sahut Rosi ketus.
Ucapan Rosi tak membuat Suro marah. Pria itu justru tertawa. Kemudian Suro melangkah ke sudut ruangan untuk meraih cambuk yang tergantung di dinding.
Saat melihat benda apa yang akan digunakan Suro untuk menyiksanya kali ini, Rosi hanya tersenyum tipis. Ia nampak bersiap menerima cambukan di tubuhnya.
"Kita mulai Sayang !" kata Suro lantang sambil mengayunkan cambuknya lalu mendaratkannya di punggung Rosi.
Tak ada jeritan seperti biasa. Tak ada rintihan penuh permohonan dari mulut Rosi. Suro tersenyum dan makin mengeraskan cambukannya. Namun meski pun cambukan itu meninggalkan luka di punggung Rosi, wanita itu tak juga terusik dan tentu saja itu membuat Suro penasaran.
"Apa yang terjadi. Memohon lah Rosi, ayo memohon lah !" kata Suro lantang sambil terus mencambuki punggung Rosi.
"Aku kan udah bilang kalo Aku ga bakal menangis kali ini Suro !" sahut Rosi santai sambil tersenyum kearah suaminya itu.
"Haahhh ... Aku tak suka. Memohon lah Rosi !" kata Suro lagi.
Rosi menggelengkan kepala pertanda ia tak akan lagi memohon.
"Kenapa berhenti Ssyang ?" tanya Rosi sambil menoleh kearah suaminya.
Suro mengabaikan pertanyaan Rosi. Ia meninggalkan Rosi lalu meraih air minum yang tersedia di meja. Setelahnya Suro duduk sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal itu.
Rosi pun bangkit dari posisi berbaringnya lalu melangkah mendekati Suro. Ia tersenyum mengejek melihat Suro kelelahan.
"Kenapa berhenti ?" ulang Rosi sambil meraih cambuk yang tergeletak di lantai.
"Ini ga seperti biasanya. Harusnya Kamu merintih Rosi. Menghiba dan memohon seperti biasanya. Dengan begitu Aku akan mendapatkan pelepasan yang sempurna," sahut Suro kesal.
"Jadi menurutmu ini ga seru ?" tanya Rosi.
"Tentu saja !" sahut Suro kesal.
Gantian Rosi yang tertawa. Hal itu membuat Suro bertambah kesal.
"Gimana kalo posisinya ditukar ?" tanya Rosi tiba-tiba.
"Apa maksudmu ?" tanya Suro.
__ADS_1
"Aku juga ingin mendengar jeritanmu Sayang," sahut Rosi sambil mengayunkan cambuk di atas kepalanya lalu mendaratkannya di tubuh Suro.
Suro menjerit saat ujung cambuk mendarat di tubuhnya hingga meninggalkan rasa perih. Suara jeritan Suro membuat Rosi tertawa.
"Kau ..., Kau sengaja menyakitiku Rosi !" kata Suro marah sambil menarik ujung cambuk yang dipegang Rosi.
Lalu terjadi lah tarik menarik antara Rosi dan Suro. Tak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya tubuh Suro terjengkang karena tak kuasa menarik ujung cambuk.
Suro melotot karena tak menyangka akan mendapat perlakuan tak menyenangkan dari Rosi. Saat Suro akan bangkit, Rosi kembali melayangkan cambukan. Tak hanya sekali tapi berkali-kali.
Jeritan pun membahana di kamar itu. Sayangnya tak seorang pun mendengarnya karena Suro memang sengaja membangun kamar kedap suara itu untuk tempatnya bercinta dengan Rosi.
Tubuh Suro yang berlumuran darah nampak telah melemah. Namun Rosi tak berhenti mengayunkan cambuknya itu.
"To-tolong hentikan Rosiiii ...," rintih Suro menghiba.
"Tak akan. Kau juga harus merasakan apa yang pernah Aku rasakan. Bagaimana Suro, rasanya menyenangkan bukan ?!" kata Rosi lantang.
Suro menggelengkan kepalanya. Ia bingung mengapa ia menjadi lemah sekarang. Diantara rasa sakit yang terus mendera punggungnya Suro pun berpikir apa yang menyebabkannya lemah.
"Kau !. Kau mencampurkan sesuatu di makanan itu Rosi !" kata Suro lantang saat ingat menu makan malamnya tadi.
"Itu betul Sayang. Aku masukkan sedikit racun yang akan membuat persendianmu lemàh secara perlahan. Semakin banyak Kau bergerak, maka tubuhmu semakin lemah. Bukan kah itu menyenangkan Sayang ?" sahut Rosi sambil tersenyum mengejek.
Suro menjerit marah lalu berusaha bangkit. Namun racun di tubuhnya telah membuatnya tak berdaya. Apalagi Rosi terus mencambuknya.
Rosi baru berhenti menyiksa Suro saat dilihatnya pria itu tak bergerak.
"Dimana benda terkutuk itu Kau sembunyikan ?" tanya Rosi tiba-tiba.
"Benda apa maksudmu ?" tanya Suro pura-pura tak tahu.
"Benda yang Kau gunakan untuk mengancamku. Benda yang selalu membawaku kembali lagi padamu meski pun Aku tak ingin," sahut Rosi.
"Aku tak punya benda semacam itu Rosi. Kau kembali padaku karena keinginanmu sendiri," kata Suro sambil tersenyum penuh makna.
"Oh, Kau pikir Aku tak tau dimana Kau menyimpannya. Kau liat apa yang akan Aku lakukan untuk menemukan benda itu Suro !" kata Rosi sambil melempar cambuk yang dipegangnya tadi ke sembarang arah.
Kemudian Rosi melangkah cepat kearah Suro. Pria tua itu nampak mulai gentar melihat kedua mata Rosi yang menatap kearahnya drngan tatapan penuh dendam.
\=\=\=\=\=
__ADS_1