
Setelah insiden di kantin itu Haris tak lagi terlihat di kantor. Nampaknya ia malu dan sengaja menyembunyikan diri. Marco pun bertanya-tanya kemana Haris pergi dan mengapa tak ada kabar sama sekali.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Haris pergi tanpa pamit ?. Pekerjaan belum selesai dan dihubungi juga susah. Siapa yang bisa kasih tau Saya apa yang terjadi selama Saya ga di kantor ?!" tanya Marco gusar.
Saat itu Marco memang sengaja memanggil beberapa karyawan ke ruangannya untuk bertanya perihal Haris yang raib tanpa kabar
"Maaf kalo Saya lancang Pak," kata salah satu karyawan.
"Gapapa, apa yang Kamu ketahui ?" tanya Marco.
"Mungkin Pak Haris pergi karena malu Pak !" sahut sang karyawan.
"Malu ?, apa yang bikin Haris malu ?" tanya Marco tak mengerti.
Kemudian karyawan itu menceritakan apa yang terjadi di kantin beberapa hari yang lalu. Marco nampak terkrjut karena tak menyangka ada kejadian memalukan seperti itu.
Karena keberadaan Haris tak diketahui, akhirnya Marco memilih manager baru untuk mengisi posisi manager yang kosong itu.
"Bagaimana kalo Pak Haris balik lagi dan marah sama Saya gara-gara posisinya Saya tempati Pak ?" tanya sang karyawan.
"Kamu ga usah khawatir. Haris ga akan berani protes karena dia hanya karyawan di sini sedangkan Saya adalah pemilik perusahaan ini. Kalo dia menentang Keputusan Saya, dia bisa hengkang dari perusahaan ini selamanya. Lagian ini juga salahnya, kenapa dia pergi tanpa kabar. Perusahaan memang butuh Manager tapi bukan yang payah kaya dia. Perusahaan berhak menunjuk siapa pun tanpa harus memikirkan perasaan orang lain karena yang Kami butuhkan orang yang berdedikasi tinggi. Memangnya dia pikir siapa dia bisa seenaknya di sini," sahut Marco tegas.
Ucapan Marco diangguki semua orang. Mereka merasa lega karena Marco yang akan menagani Haris jika terjadi sesuatu nanti.
Sedangkan di saat yang sama kondisi Mia berangsur membaik. Kini gadis itu bisa duduk dan makan makanan berat. Padahal sebelumnya ia hanya makan makanan lunak seperti bubur.
__ADS_1
Kondisi ini jelas membuat Marco dan istrinya bahagia. Untuk mensyukuri kesembuhan Mia, Marco pun menggelar tasyakuran sekaligus merayakan hari ulang tahun perusahaannya. Dalam acara besar itu juga disisipkan acara pembagian santunan kepada anak yatim, janda dan duafa.
Bayan, Rama dan Riko juga hadir memenuhi undangan Marco. Bersama mereka hadir juga rekan bisnis Marco lainnya.
Nathan pun kembali menjalankan tugasnya mengawal Mia. Ia terus berada di sisi Mia yang selalu berada tak jauh dari kedua orangtuanya itu. Ketika Bayan, Rama dan Riko menyapa Marco, Nathan tampak terkejut sekaligus senang.
Usai menyalami Marco dan istrinya juga Mia, kemudian Bayan beralih pada Nathan yang menyambutnya dengan takzim. Nathan mencium punggung tangan Bayan dan mereka berpelukan erat hingga membuat Marco dan keluarganya juga semua karyawan terkejut.
"Tunggu sebentar. Apa Pak Bayan mengenal Nathan ?" tanya Marco mewakili rasa ingin tahu semua orang.
"Tentu saja Pak Marco. Nathan kan Anak sulung Pak Bayan," sela Rama dari samping Bayan.
Ucapan Rama mengejutkan semua orang terutama Marco. Ia merasa tak enak hati karena menjadikan Nathan body guard Mia. Padahal ia pernah mendengar meski pun Nathan hanya lulusan S1, tapi Nathan memiliki kemampuan memimpin sebuah perusahaan. Saat ini Nathan memilih bekerja di luar perusahaan ayahnya karena ingin mencari pengalaman. Dan Marco tak menyangka jika perusahaan miliknya yang jadi tujuan Nathan.
"Astaghfirullah aladziim ..., maafkan Saya Pak Bayan. Saya ga bermaksud merendahkan Anda. Saya ga tau kalo Nathan Anak Pak Bayan," kata Marco salah tingkah.
"Iya Yah," sahut Nathan sambil tersenyum.
"Wah wah ..., Saya salut sama Pak Bayan. Ternyata begini cara Pak Bayan mendidik Anak hingga bisa menjadi orang yang santun dan beradab seperti ini. Ini bagus banget Pak Bayan. Jika Nathan duduk di posisi tertinggi nanti, dia tau gimana rasanya jadi bawahan. Dan itu bisa membuatnya jadi pimpinan yang bijak dan tak memihak," puji salah satu rekan bisnis Marco dan Bayan.
"Saya hanya mencoba berbuat adil Pak. Saat ini Saya memberi Nathan kesempatan untuk mencari pengalaman. Tapi saat tiba waktunya, mau ga mau dia harus duduk menggantikan Saya nanti," sahut Bayan tegas sambil tersenyum penuh makna.
Ucapan Bayan disambut tawa Marco dan rekan-rekan bisnis mereka. Sedangkan Nathan hanya membisu karena paham maksud ucapan sang ayah.
Tak jauh dari para pria yang tertawa bahagia itu ada istri Marco, Mia dan Sofia yang nampak berdiri dengan kaku. Ketiga wanita itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Jika istri Marco nampak canggung karena ingat telah memperlakukan Nathan layaknya security, maka Mia nampak tersenyum. Rupanya diam-diam gadis itu tertarik pada Nathan yang tampan, gagah dan santun itu. Dan Mia merasa jalannya untuk dekat dengan Nathan akan terbuka setelah ibunya tahu siapa Nathan.
Ternyata selama ini istri Marco melarang Mia untuk jatuh cinta pada Nathan. Instingnya sebagai seorang ibu mengatakan jika anak perempuannya tertarik pada body guardnya itu. Ia melarang Mia jatuh cinta pada Nathan karena tak ingin sang anak depresi saat cintanya tak direstui Marco nanti. Namun saat mengetahui Nathan adalah anak dari rekan bisnis terbaik Marco, istri Marco itu pun merasa malu sekaligus menyesal.
Di sisi lain Sofia nampak gusar. Ia ingat pernah menolak bantuan Nathan untuk menyelesaikan pekerjaannya karena merasa Nathan tak akan sanggup. Sofia menganggap jabatan body guard yang ditempati Nathan diperoleh sebagai rasa terima kasih Marco karena Nathan pernah menyelamatkan anaknya.
"Duh gawat nih. Ternyata selama ini Gue udah ngeremehin orang yang salah. Nathan bukan hanya punya kemampuan jadi body guard tapi juga calon penerus perusahaan Pak Bayan. Nih mulut emang suka berlebihan kalo ngomong. Mudah-mudaha Nathan ga tersinggung dan benci sama Gue," gumam Sofia sambil berkali-kali mengusap peluh di keningnya.
Kabar jika Nathan adalah anak dari seorang pengusaha pun dengan cepat menyebar di seantero kantor. Semua rekan kerja Nathan nampak shock. Namun sesaat kemudian mereka nampak tertawa bahagia karena telah memilih teman yang tepat.
Di tempat lain nampak seorang pria tengah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Pria itu adalah Haris. Ia terlihat sangat marah.
Rupanya Haris baru saja menerima kabar dari orang kepercayaannya yang juga bekerja di perusahaan milik Marco. Haris baru tahu posisinya sebagai manager digantikan oleh orang lain. Dan yang lebih mengejutkan adalah karena orang yang dianggap musuhnya, yaitu Nathan, adalah anak kandung Bayan sang pengusaha terkenal.
"Sia*an !. Sejak kapan hidup Gue jadi sesial ini. Sekarang semua musnah sudah. Mia ga bisa Gue miliki, jabatan melayang, musuh makin berjaya dan penyakit menjijikkan ini bikin Gue ga bisa kemana-mana karena takut dikatain orang !" kata Haris sambil melempar semua benda di dekatnya hingga hancur berkeping-keping.
Di luar kamar tampak asisten Haris tengah duduk meringkuk ketakutan. Rupanya ia takut jika akan kembali jadi sasaran kemarahan Haris.
Tiap kali Haris usai mengamuk, maka dia akan masuk ke dalam kamar untuk membereskan kekacauan yang dibuat sang majikan. Biasanya Haris akan memarahinya dan memukulnya jika merasa tak puas dengan pekerjaannya.
Asisten rumah tangga Haris ingin lari meninggalkan rumah itu namun tak tega karena mengingat kebaikan Haris padanya dulu. Ia tak bisa meninggalkan Haris yang sakit. Kondisi Haris kini bak mayat hidup yang tak bisa kemana-mana. Kedua kakinya lumpuh hingga menyebabkan Haris hanya bisa 'ngesot' saat berjalan. Tubuhnya juga ditumbuhi koreng yang berlendir dan berbau amis. Sayangnya Haris menolak berobat. Dan itu membuat penyakitnya kian parah.
Haris berkilah jika penyakitnya tak akan bisa sembuh dengan obat biasa karena itu adalah karma yang harus dia tanggung karena telah berniat menyakiti orang.
Haris sadar jika potongan ular mati yang keluar bersama muntahannya waktu itu adalah simbol kekalahannya. Haris yang berniat jahat pada Nathan dan Mia ibarat ular yang licik dan kejam. Dan saat ular itu mati, maka artinya Haris kalah dan harus siap menanggung resikonya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=