
Malam itu suasana sangat mencekam. Tak ada angin, tak ada suara, bahkan bulan pun bersinar redup.
Seorang pria berpakaian seragam security lengkap nampak mondar-mandir mengamati situasi di sekitar rumah Bayan. Dia adalah Yunus, mantan OB yang sekarang bekerja di rumah pribadi Bayan.
Meski pun bekerja seorang diri, namun Yunus nampak tenang. Tak ada raut ketakutan atau kelelahan di wajahnya saat menghadapi suasana yang tak menyenangkan seperti malam itu.
Setelah hampir sebulan bekerja di rumah Bayan, akhirnya Yunus tahu apa yang tengah terjadi di rumah itu. Apalagi Yumi dan Arti beberapa kali menceritakan ketakutan mereka terhadap suara aneh yang kerap mereka dengar saat malam hari.
"Tapi anehnya suara itu terdengar kalo Bapak ga di rumah Mas. Ntar kalo Bapak ada di rumah atau mobilnya baru aja sampe halaman, suara itu langsung hilang begitu aja. Kayanya yang nerror itu kenal sama Bapak deh. Dan kayanya juga dia sengaja bikin Kita ketakutan supaya dimarahin Bapak," kata Yumi.
"Iya Mas. Soalnya pernah Bapak sampe salah paham sama Kami karena dikiranya Kami merencanakan sesuatu karena kemana-mana selalu berdua. Padahal Kami tuh lagi ketakutan karena denger suara aneh di jendela," kata Arti menambahkan.
"Terus reaksi Bapak gimana pas tau kalo Mbak berdua ini lagi ketakutan ?" tanya Yunus.
"Bapak sih ga marah, justru kasian sama Kami. Besoknya Bapak ngajak Mas Yunus dan bilang kalo Mas Yunus bakal jadi security yang jagain rumah khusus malam hari. Jujur Kami seneng banget Mas !. Makanya biar pun Bapak pulang telat atau bahkan ga pulang sekali pun, Kami ga khawatir lagi karena ada Mas Yunus yang nemenin," sahut Yumi yang diangguki Arti.
Yunus mengangguk paham. Ia mengerti bagaimana perasaan Yumi dan Arti yang harus tinggal di rumah besar berdua saja. Meski pun siang hari, namun suasana di sekitar rumah juga sepi hingga membuat keduanya tak berani keluar jika tak dalam kondisi mendesak.
"Kalo ga karena butuh uang, rasanya Saya udah pengen berhenti kerja aja Mas. Abisnya Saya ga bisa tenang, gaji gede tapi tiap hari selalu was-was. Belum lagi denger suara aneh tiap malam yang bikin bulu kuduk merinding. Hiiiyy ...," kata Arti saat Yunus bertanya alasannya bertahan di rumah itu.
Sedangkan Yumi lebih bijak menjawab. Ia mengatakan memilih bertahan di sana karena ia menyayangi keluarga Bayan sama seperti keluarganya sendiri. Kebaikan Anna dan Bayan padanya membuat Yumi berhutang budi. Apalagi ia juga tak bisa jauh dari Nathan, majikan kecil yang membuatnya bisa merasakan menjadi ibu.
"Saya yakin ini cuma sementara aja kok. Rumah emang terasa sepi sejak Nathan ga ada di rumah. Tapi setelah Bapak berhasil mengatasi keadaan, Bapak pasti jemput Ibu dan Anak-anak pulang ke sini," kata Yumi sambil tersenyum.
__ADS_1
Apa yang diucapkan Yumi terbukti. Seminggu yang lalu Bayan menjemput anak dan istrinya dari rumah sang mertua. Sejak saat itu suasana di rumah lebih terasa hidup dan berwarna.
Namun suasana yang menyenangkan itu harus terusik dengan kepergian Arti. Seperti permintaan Arti di awal dulu, ia minta ijin tiga hari setiap tiga bulan sekali untuk mengunjungi anak dan ibunya. Anna dan Bayan pun mengijinkan Arti pergi karena itu memang hak Arti.
Selama Arti pergi, tanggung jawab mengasuh Nathan pun beralih kepada Yumi. Bisa diduga bagaimana antusiasnya Yumi saat diberi kesempatan mengasuh Nathan. Ia melakukan banyak hal agar Nathan bahagia termasuk memasak makanan kesukaan Nathan selama tiga hari berturut-turut.
Sebenarnya selama tiga hari Anna juga membebaskan Yumi dari tugas memasak. Itu karena Anna tahu betapa repotnya menjaga Nathan sambil memasak. Namun Yumi menolak. Ia tetap memasak untuk keluarga Bayan sambil mengasuh Nathan. Hal itu tentu saja membuat Bayan dan Anna kagum.
Yunus juga bisa merasakan ketulusan Yumi pada Nathan. Kadang kala Yunus juga ikut tertawa mendengar percakapan Yumi dengan Nathan.
Lamunan Yunus pun buyar saat ia mendengar suara lolongan anjing di kejauhan. Yunus pun menghela nafas panjang lalu kembali melangkah sambil mengamati sekelilingnya.
Tiba-tiba Yunus mendengar suara bergemerisik di atas pohon mangga yang sedang berbuah. Yunus segera mengarahkan senter yang dibawanya ke atas pohon. Sesaat kemudian Yunus nampak menggelengkan kepala karena melihat kelelawar tengah menggerogoti buah mangga.
Tanpa Yunus sadari, sebuah kepala tanpa tubuh tengah melayang di udara dan sembunyi di balik rimbunan pohon mangga. Selain wujudnya menyeramkan, kepala tanpa tubuh itu nampak menyeringai melihat aksi berani Yunus tadi.
Kepala tanpa tubuh yang tak lain makhluk malam yang tengah dihindari Bayan itu nampak berdiam di balik rimbunan daun pohon mangga. Dari ketinggian ia bisa menatap jendela kamar Bayan dimana Bayan dan istrinya berada. Makhluk itu juga kembali menyeringai saat menatap ke jendala lain yang tak jauh dari kamar Bayan. Nampaknya makhluk itu tahu betul jika kamar itu dihuni oleh Nathan, anak sulung Bayan dan Anna.
Makhluk malam yang disebut kuyang itu tetap bertahan di sana hingga larut malam. Ia terus mengamati rumah Bayan karena ada sesuatu di sana yang menarik hatinya. Bisa ditebak jika kuyang itu sedang menanti kesempatan untuk memangsa Nicko, bayi yang belum genap berusia empat puluh hari itu.
Di saat yang sama di dalam rumah Bayan, terlihat Yumi sedang membujuk Nathan untuk tidur. Namun sayang bocah berusia tiga tahun itu masih ingin bermain. Nathan nampak berlari ke sana kemari dengan gembira. Nathan baru berhenti berlari saat sang ayah menegurnya.
"Udah malam Nak, bobo dulu ya. Besok dilanjut lagi mainnya. Anak kecil ga boleh bobo malam-malam ntar ga bisa besar badannya," kata Bayan.
__ADS_1
"Kalo badannya ga bisa besar emang kenapa Yah ?" tanya Nathan.
"Nanti ga bisa sekolah. Emangnya Nathan ga mau sekolah ?. Kalo ga sekolah, ntar ga punya teman dan jadi orang bodoh lho," kata Bayan.
Nathan nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. Bayan tersenyum kemudian meraih bocah tiga tahun itu ke dalam pelukannya. Bayan membasuh wajah dan kedua kaki Nathan dengan air lalu membawanya ke kamar setelah mengucapkan salam kepada Anna dan Nicko. Yumi yang mengekori Nathan sejak tadi nampak tersenyum melihat kepatuhan Nathan pada ayahnya.
Bayan menemani Nathan sejenak hingga sang anak tertidur. Setelahnya ia keluar dari kamar dan meminta Yumi menemani sang anak. Yumi pun mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Nathan.
Anna yang masih menunggu di ruang tengah pun tersenyum mengetahui sang suami berhasil menidurkan Nathan. Ia pun bangkit lalu melangkah menuju ke kamar sambil menggendong Nicko.
"Suasana malam ini terasa agak beda ya Yah. Iya ga sih ?" tanya Anna saat sang suami meraih Nicko dari dekapannya lalu meletakkannya di box bayi.
"Biasa aja kok, perasaan Bunda aja kali," sahut Bayan sambil tersenyum.
"Masa sih, tapi ...," ucapan Anna terputus saat Bayan mendaratkan ciuman di keningnya.
"Selamat malam Sayang," bisik Bayan.
Setelah mengucapkan kalimat itu Bayan pun membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Anna tersenyum lalu ikut berbaring. Tak lama kemudian keduanya terlelap dengan posisi saling memeluk.
Malam kian merangkak naik. Suasana sepi dan mencekam ditambah udara malam yang dingin membuat Yunus yang biasanya kuat bergadang itu nampak mulai terkantuk-kantuk. Beberapa kali pria itu menguap pertanda jika ia sangat mengantuk. Dan sesaat kemudian Yunus pun tertidur dalam posisi duduk bersandar di kursi tepat di teras rumah.
Sesuatu yang sejak tadi mengintai rumah Bayan nampak tersenyum lebar menyaksikan Yunus tertidur. Ia merasa kini tiba waktunya untuk beraksi. Perlahan namun pasti makhluk malam berwujud kepala tanpa tubuh itu keluar dari persembunyiannya lalu melayang mendekati rumah Bayan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=