Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
126. Tes DNA


__ADS_3

Setelah hampir sebulan menunggu hasil tes DNA, akhirnya Bayan bisa menghela nafas lega. Ternyata darah Bayan dan Fikri dinyatakan memiliki kesamaan.


"Jadi artinya apa dok ?" tanya Bayan dengan suara tercekat.


"Artinya Bapak dengan si pemilik darah punya hubungan keluarga karena memiliki garis keturunan yang sama," sahut sang dokter.


"Alhamdulillah ... akhirnya," kata Bayan sambil menatap kertas di tangannya dengan mata berkaca-kaca.


"Semoga hasil tes ini bisa membantu Bapak menemukan keluarga yang hilang itu," kata sang dokter sambil tersenyum.


"Sebenernya Saya sudah lama menemukannya dok. Hanya Saya ga tau kalo dia adalah keponakan kandung Saya. Saya hanya merasa dekat dengannya tanpa sebab. Semacam ada getaran di hati saat pertama kali melihatnya. Dan waktu sepupu Saya bilang kalo saudara kembar Saya punya Anak, Saya pun tergugah untuk mencarinya. Dan di luar dugaan, ternyata keponakan yang Saya cari itu justru udah ada di dekat Saya. Sangat dekat malah," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Itu namanya ikatan batin Pak. Allah memang Maha Adil karena telah mempertemukan Bapak dengan keponakan yang tak pernah Pak Bayan tau keberadaannya. Semoga dengan bukti tes DNA ini bisa membantu Pak Bayan mengukuhkan hubungan dengan keponakan Bapak itu," kata dokter.


"Iya, Saya bakal tunjukin ini sama dia nanti. Semoga dia mau menerima Saya sebagai Omnya. Terima kasih dok," kata Bayan antusias.


"Sama-sama Pak," sahut sang dokter sambil tersenyum.


Bayan pun keluar dari ruangan dokter yang juga rekan lamanya itu dengan wajah berbinar. Ia tak sabar memberi tahu hasil tes DNA itu kepada keluarganya.


Karena terlalu bahagia, Bayan pun tak memperhatikan sekitarnya. Ia tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berlatih berjalan usai melahirkan bayinya. Usut punya usut ternyata wanita yang melahirkan melalui operasi Caesar itu memang sengaja berlatih berjalan di luar kamar sambil menunggu suaminya.


Jeritan tertahan terdengar saat Bayan menabrak wanita itu. Bayan yang terkejut pun refleks menangkap lengan wanita yang hampir tersungkur itu.


"Ya Allah. Ibu gapapa kan ?!" tanya Bayan panik.


"Aduuuhh ... sakit banget," keluh wanita bernama Wida itu sambil meringis memegangi perutnya.


"Sakit ?, apanya Bu ?" tanya Bayan bingung karena seingatnya ia tak menyentuh perut wanita itu sama sekali.


Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar menyapa hingga membuat Bayan dan wanita itu menoleh.


"Lho ada apa ini ?. Kenapa Bu Wida ada di sini?" tanya wanita yang ternyata adalah Hilya.

__ADS_1


"Eh Bu bidan. Tolong Saya Bu, Bapak ini yang nabrak Saya," sahut Wida.


Ucapan Wida membuat Bayan terkejut. Namun karena tak ingin berdebat, Bayan pun memilih diam.


Nampaknya Hilya juga tahu bahwa bukan Bayan yang sengaja menabrak Wida tapi Wida lah yang berlatih berjalan di tempat tak seharusnya. Hilya tahu persis jika perawat telah mengarahkan Wida agar berlatih di kamar bukan di koridor yang ramai dengan pengunjung di saat jam bezuk seperti ini.


Tak ingin memperpanjang masalah, Hilya pun memutuskan membantu Wida untuk kembali ke kamar.


"Kalo gitu Saya bantu ke kamar yuk Bu," kata Hilya dengan sabar.


"Tapi Saya mau menyambut Suami Saya," sahut Wida sedih.


"Iya Saya tau. Tapi kan bisa nunggu di kamar aja," kata Hilya.


"Saya pengen Suami Saya liat kalo Saya udah sehat dan siap diajak pulang ke rumah baru. Saya ga mau keduluan sama wanita itu. Saya yang melahirkan Anaknya kenapa wanita itu yang dijadiin ratu di rumahnya," kata Wida meracau.


Ucapan Wida membuat Bayan mengerti. Dari keluhan Wida itu Bayan bisa menarik kesimpulan jika wanita itu adalah orang ke tiga dalam rumah tangga seseorang.


Melihat Hilya kewalahan menghadapi Wida, Bayan pun tergerak membantu. Ia menarik kursi roda yang kosong lalu membantu Hilya mendudukkan Wida di kursi itu. Karena Wida terus meronta, Bayan terpaksa merangkulnya agar tak melukai Hilya.


Hilya dan Bayan pun nampak menghela nafas lega sambil menatap kepergian Wida.


"Makasih atas bantuannya Pak," kata Hilya sambil tersenyum.


"Sama-sama. Maaf kalo lancang. Keliatannya pasien itu ...," ucapan Bayan terputus karena Hilya memotong cepat.


"Namanya Wida. Dia menikah siri dengan pria kaya yang telah berkeluarga. Karena silau dengan materi Wida rela menggadaikan harga dirinya. Dia pikir setelah berhasil melahirkan Anak pria itu dia akan diakui, tapi ternyata zonk. Jangankan datang menjenguk, pria itu kabarnya justru lagi asyik memanjakan Istri sahnya dengan rumah mewah yang baru saja dibelinya. Dan yang menyedihkan adalah karena rumah itu pilihan Wida. Wida kira dia yang bakal diajak tinggal di sana, ternyata salah. Rumah itu justru diberikan pria itu pada Istri sahnya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka. Akibatnya Wida depresi. Dia selalu mengira pria-pria di sekitarnya adalah Suaminya atau orang yang mengenal Suaminya. Bapak liat kan gimana sikap Wida kepada dua perawat pria itu tadi," kata Hilya panjang lebar.


"Kasian ya," kata Bayan iba.


"Iya. Tapi itu resiko yang harus dia tanggung karena berani jadi orang ketiga," sahut Hilya dengan enggan.


Di saat itu lah suara Nathan yang memanggil ayahnya terdengar menggema di koridor hingga membuat Bayan dan Hilya menoleh. Jika Bayan tersenyum melihat kehadiran Nathan, Hilya justru terlihat gelisah.

__ADS_1


"Ada apa Yah, kenapa Ayah ke Rumah Sakit. apa Ayah sakit ?" tanya Nathan beruntun saat telah tiba di hadapan Bayan.


"Ayah ga sakit. Siapa yang bilang Ayah sakit ?" tanya Bayan.


Nathan pun nampak menghela nafas lega. Kemudian ia menoleh kearah Hilya dan terkejut mengetahui Hilya lah yang sedang berbincang dengan ayahnya tadi. Nathan pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan bangga ia memperkenalkan Hilya pada ayahnya.


Bayan tersenyum tulus saat Hilya mencium punggung tangannya dengan takzim. Ia senang mengetahui Hilya berteman dengan anaknya.


"Aku kaget waktu Pak Yunus bilang Ayah ke Rumah Sakit. Makanya Aku buru-buru nyusul ke sini. Kalo ga sakit ngapain Ayah ke sini ?" tanya Nathan kemudian.


"Ayah baru aja ngambil bukti tes DNA Ayah sama Fikri. Dan Kamu tau gimana hasilnya ?. Ternyata positif. Fikri memang keponakan Ayah dan sepupu Kamu !" kata Bayan sambil tersenyum.


"Alhamdulillah. Yang bener Yah ?!" tanya Nathan antusias.


"Iya. Ini buktinya," sahut Bayan sambil memperlihatkan hasil tes DNA di tangannya.


"Kalo kaya gini Bang Fikri ga bisa nolak Kita Yah," kata Nathan dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja. Kalo dia nolak, Kita bikin hidupnya ga tenang karena kemana-mana bakal selalu ketemu sama Kita. Kebayang kan gimana paniknya dia karena selalu ngeliat Kita. Ayah juga bakal pasang banner yang menyatakan dia adalah keluarga Kita di depan rumahnya biar dia ga bisa berkutik nanti. Kalo udah kaya gitu mau ga mau dia pasti mau mengakui Kita sebagai keluarganya," gurau Bayan hingga membuat Nathan tertawa.


Interaksi Nathan dengan ayahnya menimbulkan sedikit rasa iri di hati Hilya. Gadis itu pun pamit undur diri dengan alasan akan melanjutkan pekerjaannya.


Bayan nampak mengerutkan keningnya melihat sikap Hilya yang tak biasa itu.


"Apa Ayah salah ngomong tadi ?" tanya Bayan sambil menatap Hilya yang menjauh.


"Ga Yah, Kita ga salah ngomong. Hilya emang sedikit sensitif kalo ngebahas tentang hubungan keluarga," sahut Nathan sambil tersenyum.


"Oh gitu. Emang ada apa sama keluarganya ?" tanya Bayan.


"Aku ceritain sambil jalan ya Yah," sahut Nathan sambil merangkul bahu sang ayah.


Bayan pun mengangguk lalu mengikuti langkah Nathan yang membawanya keluar dari Rumah Sakit.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2