Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
179. Lapor Polisi


__ADS_3

Bukan tanpa alasan Hilya dan Ayu menyebut nama Lupita. Karena selama ini hanya Lupita lah pasien yang meninggal usai melahirkan. Itu pun bukan karena pendarahan karena melahirkan melainkan karena bunuh diri.


"Lupita ?" ulang Bayan sambil mengerutkan keningnya.


"Iya Yah !" sahut Ayu dan Hilya bersamaan.


Kemudian Hilya menceritakan apa yang terjadi. Mulai dari kedatangan Lupita yang memohon pertolongan, melahirkan di kkinik itu lalu mengakhiri hidup dengan menabrakkan diri ke kendaraan yang tengah melaju cepat. Hilya juga menceritakan bayi Lupita yang diasuh Ayu sementara waktu. Hilya mengatakan kondisi anak Lupita sehat dan menggemaskan hingga membuat siapa pun yang melihatnya pasti jatuh hati tak terkecuali keluarga Lupita.


Bayan memang baru mendengar cerita itu karena seminggu ini dia keluar kota untuk urusan bisnis. Kemarin dia tiba namun belum sempat bertanya banyak tentang anak yang digendong Ayu. Ternyata Bayan juga sempat melihat Ayu menggendong bayi saat dia melintas persis di depan rumah Fikri. Bayan ingin menyapa namun saat itu Ayu tampak bergegas menutup pintu.


Setelah mendengar cerita Hilya, Bayan pun mengangguk paham.


"Terus sekarang dimana bayinya Lupita ?" tanya Bayan.


"Dijemput sama keluarganya Yah," sahut Hilya cepat.


"Kapan ?" tanya Bayan.


"Tadi siang. Sebenernya Aku ragu sama mereka. Tapi Polisi yang mendampingi memaksa Aku untuk percaya. Apalagi mereka juga menunjukkan bukti berupa KK dan hasil tes DNA. Yah, mau ga mau Aku harus relain Pita sama mereka," sahut Ayu sedih.


"Siapa Pita ?" tanya Bayan.


"Itu nama bayi yang dititipin ke Aku Yah. Aku memberinya nama Pita untuk mengingatkan Aku kalo dia bukan Anakku tapi Anaknya Lupita. Jadi suatu waktu ada yang datang buat jemput dia, Aku ga bakal nangis. Tapi ternyata Aku nangis juga tadi," sahut Ayu sedih.


"Begitu ya. Seharusnya Lupita ga marah dong kalo Anaknya diasuh sama keluarganya. Tapi dia marah banget tadi. Coba Kalian ingat, apa selama Pita ada sama Kalian, ada hal aneh di klinik atau di rumah Kalian ga ?" tanya Bayan.


"Ga ada Yah," sahut Ayu dan Hilya sambil menggeleng.


"Nah itu jawabannya. Keliatannya Lupita ga suka Anaknya diasuh oleh mereka yang katanya keluarganya itu. Mungkin ada sesuatu yang bikin dia ga percaya Anaknya bakal aman di sana. Kayanya Kita harus melakukan sesuatu," kata Bayan.


"Melakukan apa Yah ?" tanya Nathan.


"Kita pergi ke kantor Polisi. Cari info sebanyak-banyaknya mengenai keluarga Lupita. Mudah-mudahan Kita juga bisa membantu Polisi mengungkap kematian Lupita," sahut Bayan.

__ADS_1


"Baik Yah," sahut Nathan cepat.


"Dan untuk sementara Klinik ini tutup dulu ya Hil. Bilang aja kalo Kamu lagi ada urusan keluarga biar pasien yang datang bisa cari hari lain nanti," kata Bayan.


"Iya Yah," sahut Hilya cepat.


Setelahnya Bayan pun mengajak anak dan menantunya itu pulang ke rumah.


\=\=\=\=\=


Esoknya Bayan dan Nathan mendatangi kantor polisi untuk mencari tahu tentang keluarga Lupita.


"Apa ada masalah Pak ?" tanya polisi yang memang telah mengenal Nathan itu.


"Sedikit. Istri dan Kakak ipar Saya merasa ga tenang menyerahkan bayi Lupita ke keluarganya. Mereka bilang keluarganya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Saya datang ke sini karena ingin memastikan bayi itu baik-baik saja. Karena Saya merasa ikut bertanggung jawab pada nasib bayi yang lahir di Klinik istri Saya," sahut Nathan.


"Oh begitu," kata sang polisi sambil mengangguk.


"Kalo boleh tau, apa Polisi sudah mengetahui motif Lupita melakukan bunuh diri ?" tanya Nathan.


"Maksudnya gimana ya Pak ?" tanya Nathan tak mengerti.


"Sama seperti Istri dan Kakak ipar Pak Nathan, sejujurnya Kami juga mencurigai keluarga Lupita," kata sang polisi.


"Kalo masih curiga, kenapa menyerahkan bayi yang tak berdosa itu ke mereka Pak ?" tanya Bayan kesal.


"Kami akui itu adalah siasat Kami untuk menangkap penjahat dan dalang di balik kasus bunuh diri Lupita. Tapi Kami janji akan mengawasi bayi itu agar tetap aman dan hidup," sahut sang polisi.


"Aman dan hidup ?" ulang Bayan dan Nathan bersamaan sambil saling menatap bingung.


Kemudian polisi mulai menjelaskan apa sebenarnya yang membuat mereka mencurigai keluarga Lupita.


Malam di saat Lupita melahirkan adalah malam dimana Lupita berhasil melarikan diri dari sekapan keluarganya. Rupanya selama ini Lupita disekap oleh keluarganya di sebuah kamar sempit.

__ADS_1


Mereka marah karena Lupita hamil dengan pria lain yang bukan suaminya. Tentu saja, siapa pun akan marah jika anggota keluarga mereka yang telah memiliki pasangan justru selingkuh dan hamil.


Keluarga Lupita marah karena kehamilan Lupita menyebabkan tambang emas mereka hilang. Suami Lupita yang kaya raya itu menceraikan Lupita dan mengembalikannya pada pihak keluarga.


Saat pulang ke rumah Lupita mendapat siksaan mental dan fisik dari keluarganya itu. Mereka menyebut Lupita anak durhaka, wanita jal*ng, dan berbagai sebutan lain yang tak pantas didengar.


Karena lelah mendengar omelan keluarganya, Lupita pun berontak lalu kabur. Ia berhasil menemui kekasihnya dan mereka berjanji akan pergi bersama malam itu.


Tapi naas. Kekasih Lupita justru dibunuh di depan matanya oleh orang suruhan keluarganya.


"Tapi kenapa Lupita harus bunuh diri Pak ?" tanya Nathan tak mengerti.


"Dugaan Kami Lupita marah dan putus asa. Saat Kami meneliti amplop yang dibawa Lupita, ada sepucuk surat berisi perjanjian tak manusiawi antara kedua orangtua Lupita dengan mantan suami Lupita. Di sana tertulis jika Lupita dijadikan alat pembayaran untuk melunasi hutang kedua orangtua Lupita pada pria yang kemudian jadi suami Lupita. Jika Lupita hamil lalu melahirkan, bayinya akan diambil oleh Suaminya. Lalu perjanjian berakhir, hutang pun lunas. Lupita tak tau hal itu. Ia hamil dengan kekasihnya hanya agar sang suami menceraikannya. Tapi Lupita salah perhitungan. Setelah dicerai oleh Suaminya, Lupita justru dikembalikan dan disekap oleh keluarganya. Ia lari untuk menyelamatkan bayinya yang katanya masih akan dijadikan alat pembayaran hutang kedua orangtuanya itu. Makanya saat mengetahui kekasihnya meninggal, Lupita jadi putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya," kata sang polisi.


Bayan dan Nathan pun menggelengkan kepala mendengar penuturan sang polisi.


"Nah dengan bukti yang Kami kantongi, Polisi sudah menangkap kedua orangtua Lupita. Sayangnya bayi Lupita hilang. Kedua orangtua Lupita masih diinterogasi agar mau mengatakan dimana bayi itu," kata polisi kemudian.


"Jangan-jangan ... bayi itu dijual Pak. Kalo dijual untuk diadopsi mungkin masih bisa dimaafkan. Tapi kalo dijual hanya untuk diambil organ dalamnya gimana Pak," kata Nathan cemas.


"Itu juga yang Kami khawatirkan Pak. Kami sekarang sedang mengejar mereka. Orang pilihan Kami juga sudah menempati posisinya masing-masing. Kami harap dalam waktu dekat bayi itu bisa segera ditemukan," kata sang polisi.


"Aamiin," sahut Bayan dan Nathan bersamaan.


Tiba-tiba ponsel sang polisi berdering. Ia nampak bicara sesuatu dengan seseorang di seberang sana.


"Maaf Pak. Saya harus ke lapangan karena rekan Saya sudah menemukan dimana bayi itu berada," kata sang polisi.


"Apa Kami boleh ikut Pak ?" tanya Nathan mencoba peruntungan.


"Maaf Pak, ga bisa. Kami akan kabari secepatnya apa pun hasilnya nanti," kata sang polisi sambil bersiap-siap.


Nathan dan Bayan nampak kecewa namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Keduanya hanya bisa berharap agar bayi Lupita selamat dan hidup.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2