
Bayan dan Nathan tiba di Klinik Bersalin Hilya satu jam kemudian. Saat tiba di sana mereka disambut Riza yang nampak cemas.
"Alhamdulillah Mas Nathan dan Pak Bayan datang," kata Riza.
"Kenapa Riz, ada apa ?" tanya Bayan mewakili Nathan.
"Mbak Hilya Pak. Tadi jatuh di kamar mandi," sahut Riza cepat.
"Astaghfirullah aladziim ...," kata Bayan sambil bergegas menyusul Nathan yang lebih dulu lari ke dalam klinik.
Bayan dan Nathan langsung masuk ke ruang kerja Hilya. Mereka terkejut melihat Intan tengah mengecek kondisi Hilya. Sedangkan Anna nampak berdiri cemas di samping tempat tidur.
"Sayang !" panggil Nathan sambil menghambur kearah Hilya.
Hilya menoleh sedangkan Bidan Intan yang tengah mengecek kondisi Hilya pun tersenyum melihat kecemasan di wajah Nathan.
"Sabar Pak. Bu Hilya gapapa kok. Cuma kakinya aja yang keseleo," sahut Intan mencoba menenangkan Nathan dan semua orang.
"Terus bayinya gimana ?" tanya Anna tak sabar.
"Alhamdulillah bayinya juga baik-baik aja Bu. Cuma kram sedikit karena guncangan saat jatuh tadi. Tapi setelah dicek bayi dalam posisi aman dan baik-baik aja," sahut Intan sàmbil tersenyum.
"Alhamdulillah ...," kata semua orang di ruangan itu bersamaan.
Setelah memastikan kondisi Hilya aman, bidan Intan pun pamit undur diri.
"Kenapa bisa jatuh sih Sayang ?" tanya Nathan sambil menciumi kening Hilya karena cemas.
"Aku juga ga tau kenapa bisa jatuh. Padahal Aku udah hati-hati tadi," sahut Hilya bingung.
"Coba diinget-inget apa ada sesuatu sebelum Kamu jatuh tadi ?" tanya Bayan hati-hati.
Hilya nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.
Hilya ingat saat itu sedang memeriksa pasien bayi yang mengalami susah makan. Tiba-tiba Hilya kebelet buang air kecil. Sesuatu yang wajar mengingat kehamilan Hilya yang masuk usia enam bulan.
__ADS_1
Setelah pasien dan orangtuanya keluar, Hilya pun bergegas masuk ke toilet yang ada di sudut ruangan kerjanya.
Saat hendak masuk ke toilet Hilya memang sempat ragu karena merasa ruangan toilet sedikit lebih suram dan itu jelas berbeda dari biasanya. Hilya mendongak ke atas untuk meluhat lampu toilet.
"Ga ada apa-apa tapi kenapa suram kaya mau putus sih," gumam Hilya kala itu.
Karena tak sanggup menahan keinginan buang air kecil, Hilya pun masuk ke dalam toilet. Hilya hanya menutup pintu tanpa menguncinya. Itu adalah peraturan yang Nathan buat untuk menjaga Hilya dari kemungkinan terburuk. Dan kini peraturan itu lah yang menyelamatkan Hilya.
Usai Hilya menuntaskan hajatnya, penerangan makin suram dan itu membuat Hilya tak nyaman. Ia bergegas membersihkan diri dan bersiap keluar dari toilet. Saat Hilya mengulurkan tangannya, ada sejumput rambut yang jatuh di lengannya dan Hilya yakin itu bukan miliknya. Hilya terkejut dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk.
Jeritan Hilya terdengar oleh Perawat yang membantu Hilya memanggilkan pasien.
Perawat itu bergegas masuk dan melihat Hilya terduduk di lantai toilet dengan wajah pucat pasi. Setelahnya sang perawat memanggil security dan memintanya membantu mengangkat Hilya ke atas tempat tidur.
"Maksud Kamu rambut apa yang jatuh di lengan Kamu tadi Hil. Apa Kamu ga salah liat ya ?" tanya Anna tak mengerti.
"Aku yakin itu rambut Bund. Cuma beda sama rambut Aku. Lagian kan rambut Aku sebahu, mana mungkin jatuh ke lenganku kan ?" tanya Hilya gusar.
"Seperti apa tekstur rambutnya Hil ?" tanya Bayan.
Jawaban Hilya membuat Bayan dan Nathan saling menatap sejenak lalu mengangguk.
"Sebaiknya bawa Hilya pulang Nath. Dirawat di rumah aja atau di Rumah Sakit lain," kata Bayan.
"Tapi Yah ...," ucapan Hilya terputus karena Nathan memotong cepat.
"Aku setuju Yah. Aku bakal bawa Hilya ke Rumah Sakit lain nanti. Keliatannya Hilya perlu pemeriksaan menyeluruh dan istirahat untuk beberapa hari," kata Nathan cepat.
"Sayang ...," panggil Hilya mencoba membujuk Nathan dengan menggenggam jemari sang suami.
"Maaf Sayang. Kali ini Aku ga bisa nurutin keinginan Kamu," sahut Nathan tegas hingga membuat Hilya menghela nafas pasrah.
Dan sore itu Hilya dipindahkan dari Klinik ke Rumah Sakit. Meski dilakukan diam-diam namun tetap menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang yang mengenal keluarga Bayan itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
"Itu pasti dia. Iya kan Yah ?" tanya Nathan saat ia keluar dari ruang rawat inap Hilya.
"Keliatannya begitu Nath. Ayah ga abis pikir kenapa dia bisa bertindak secepat ini," sahut Bayan sambil menggeleng tak percaya.
"Mungkin karena dia terlalu lama ga memangsa bayi Yah," sela Fikri.
"Masuk akal," kata Nathan.
"Justru sebaliknya. Bisa jadi karena dia baru saja memangsa bayi dengan cara tak biasa makanya dia ingin mengulang lagi sensasi yang dia rasakan saat mengonsumsi bayi tak berdosa itu Fik," kata Bayan.
"Astaghfirullah aladziim ..., apa bisa begitu Yah ?" tanya Fikri.
"Tentu bisa Bang. Siluman kan suka sesuatu yang kasar, sadis, kejam dan semacamnya. Mungkin menakutkan untuk manusia biasa seperti Kita tapi menyenangkan untuk mereka !" sahut Nathan kesal.
"Sssttt ... pelankan suaramu Nath. Kamu ga mau kan kalo Istrimu jadi panik dan ketakutan. Itu berbahaya untuknya dan bayi Kalian," kata Bayan sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Maaf Yah. Abis Aku kesel banget," sahut Nathan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ayah paham gimana perasaanmu. Tapi tolong kendalikan dirimu Nath. Siluman kuyang kali ini bukan siluman sembarangan. Dia bahkan bisa bertindak kapan pun tanpa kenal waktu seperti siang dan sore hari. Itu beda banget sama siluman kuyang yang pernah Ayah kenal," kata Bayan.
"Dan itu berarti Kita harus bertindak cepat Yah," sahut Nathan.
"Betul. Tapi bertindak juga harus punya perhitungan Nath. Jangan sampe gara-gara pengen cepet selesai, Kita justru mengabaikan keselamatan diri Kita sendiri. Kalo Ayah mungkin ga masalah karena Bunda udah biasa menghadapi masalah kaya gini, tapi gimana sama Kamu. Ada Hilya dan bayi Kalian yang membutuhkan kehadiranmu. Ayah ga mau Mereka justru menderita gara-gara kecerobohanmu," kata Bayan tegas.
"Maaf Yah. Aku ga mikir sampe sana karena Aku ...," ucapan Nathan terputus saat Bayan menepuk bahunya.
"Kamu jaga Hilya dan bayi Kalian baik-baik. Biar Ayah dan Fikri yang akan menyelesaikan semuanya nanti. Mengerti Nath ?" tanya Bayan sambil menatap Nathan lekat.
"Iya Yah. Tapi tolong jangan sembunyikan kabar sekecil apa pun tentang siluman itu karena Aku berhak tau," pinta Nathan sungguh-sungguh.
"Deal. Kami ga akan sembunyikan apa pun dari Kamu nanti," kata Bayan sambil tersenyum.
Nathan pun ikut tersenyum. Meski pun rasanya tak puas karena tak bisa menghadapi siluman kuyang itu secara langsung, tapi Nathan juga tak bisa mengabaikan keselamatan Hilya dan bayi mereka.
\=\=\=\=\=
__ADS_1