Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
236. Dimana Senja ?


__ADS_3

Bayan menghela nafas usai melihat kilasan masa lalu Rosi. Ia menoleh kearah Rosi dan melihat wanita itu juga sedang menatapnya.


Rupanya cerita Rosi belum selesai. Wanita siluman itu masih ingin melanjutkan ceritanya. Nampaknya dia ingin menunjukkan sesuatu kepada Bayan.


Bayan pun mengangguk lalu mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Rosi yang mulai membeku itu.


Bayan kembali diperlihatkan pelarian Rusti. Ternyata wanita itu lari ke hutan karena tak ingin Senja tahu siapa dirinya. Dia tak ingin menurunkan kutukan itu pada anak semata wayangnya.


Namun Rusti harus menelan kecewa. Saat ia masih sembunyi di hutan, Genta alias Karto datang menemuinya. Ayah kandung Senja itu menceritakan semuanya. Tentang pertemuannya dengan Senja dan kondisi sang anak saat itu.


Rusti yang sembunyi di balik pohon mendengarkan semua yang diucapkan Genta. Ia tersenyum bahagia mendengar Senja telah menikah dan hampir menjadi ibu. Namun senyum Rusti hilang sast Genta mengatakan jika Senja juga menanggung kutukan itu. Dan Genta datang untuk meminta Rusti membatalkan kutukan itu karena Senja tengah mengandung.


Rusti terkejut. Ia tak kuasa menahan tangis saat mengetahui anak semata wayangnya juga mengemban kutukan itu. Tapi Rusti sungguh tak tahu bagaimana cara mengakhiri semuanya. Akhirnya Rusti hanya bisa menatap kepergian Genta.


Setelah kepergian Genta, Rusti pun pergi mengembara dari satu kota ke kota lainnya. Selama perjalanan ia masih memangsa para bayi dan itu membuat Bayan geram.


"Hentikan !. Aku tak mau tau lagi bagaimana kisah hidupmu. Aku muak !" kata Bayan sambil menarik tangannya hingga genggaman mereka terlepas.


Rosi nampak menggelengkan kepala. Ia memaksa meraih tangan Bayan kembali. Meski pun menolak namun Bayan tak kuasa saat diperlihatkan kilasan peristiwa dimana Rusti mengubah namanya menjadi Rosi.


Selama puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun, wanita itu selalu menyebut dirinya Rusti. Tapi saat pelariannya yang terakhir ia bertemu Suro sang rentenir yang kemudian memaksanya menikah. Saat pertama kali bertemu Suro, nama Rosi lah yang terlintas di benaknya hingga kemudian nama itu lah yang ia gunakan hingga saat ini.


Bayan kembali menepis tangan Rosi lalu menjauh. Wanita itu kembali mencekal kaki Bayan. Ia berharap Bayan memberitahunya dimana Senja berada.


"A ... ku tak per-nah melihat Sen ... ja ada di sekitarmu. Di ... mana Senja ?" tanya Rosi terbata-bata.


Belum sempat Bayan menjawab, sebuah suara Nathan terdengar lantang memanggil. Bayan pun menoleh dan terkejut melihat kehadiran sang anak di sana.


"Ayah !. Ayah di sana ya ?!" tanya Nathan lantang.


"Iya Nath. Kemari lah dan kunci pintunya !" pinta Bayan.


Nathan pun mengangguk lalu mengunci pintu pagar yang membatasi tanah kosong itu. Setelahnya ia menerobos masuk untuk menemui ayahnya.


Nathan menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita terkapar di tanah. Ia membulatkan matanya saat mengetahui wanita itu adalah Rosi, wanita yang menjelma jadi kuyang yang sedang dicarinya.

__ADS_1


"Ayah ini ...," ucapan Nathan terputus saat Bayan memotong cepat.


"Darimana Kamu tau Ayah di sini Nath ?" tanya Bayan.


"Aku tanya sama security di gerbang Rumah Sakit Yah. Katanya Ayah nanyain jalan ke sini, makanya Aku mutusin ke sini juga," sahut Nathan sambil terus menatap Rosi tanpa berkedip.


"Terus gimana yang lain, apa mereka baik-baik aja ?" tanya Bayan.


"Alhamdulillah luka Hilya dan dokter Yusuf langsung ditangani sama dokter Abraham. Bunda dan si kembar juga aman. Sekarang mereka udah dipindahin ke ruang rawat inap Hilya sedangkan dokter Yusuf terpaksa dirawat karena lukanya lumayan dalam," sahut Nathan cepat.


"Alhamdulillah ..., syukur lah kalo begitu," kata Bayan sambil tersenyum.


Saat Nathan dan Bayan mengucapkan hamdalah, saat itu Rosi merasa tubuhnya seperti terbakar. Dia pun menggeram sambil menggeliat kesakitan. Dan saat Rosi menggeliat itu lah Nathan bisa melihat dengan jelas bagian leher Rosi yang tak terkatup rapat karena ada luka menganga di sana. Bahkan terlihat juga potongan besi dan pecahan kaca yang menyembul di luka yang ada di leher Rosi.


Nathan bergidik ngeri melihat pemandangan tak lazim itu.


"Astaghfirullah aladziim ..., Bu Rosi masih hidup dengan luka separah ini Yah ?. Kok bisa sih ?!" tanya Nathan tak percaya.


"Sssttt ... pelankan suaramu Nath. Tentu saja dia masih hidup. Kan dia punya ilmu hitam yang membuatnya hidup abadi meski dengan luka separah apa pun," sahut Bayan.


"Jadi Kamu masih ingin memberi wanita ini kesempatan untuk hidup Nath ?" tanya Bayan.


"Ga Yah. Kesalahannya udah terlalu banyak. Dan Aku ga mau ngambil resiko dengan membiarkannya hidup. Karena bisa aja dia membalas dendam pada keluargaku lalu menyakiti mereka. Maaf, Aku ga sebaik dan ga sebodoh itu," sahut Nathan tegas.


Jawaban Nathan memang membuat Bayan tersenyum tapi justru membuat Rosi merintih. Nampaknya Rosi masih penasaran dengan keberadaan Senja, anak semata wayang yang pernah ia lahirkan yang merupakan buah cintanya dengan Genta.


"Senjaaaa ..., Senjaaa ...," kata Rosi lirih dan susah payah.


Tentu saja Nathan terkejut mengetahui Rosi masih bicara dengan luka parah di lehernya itu. Bahkan saking terkejutnya Nathan mundur beberapa langkah ke belakang untuk menjauh dari Rosi.


"Dia ... dia masih bisa ngomong Yah ?. Apa pita suaranya ga putus. Kan ada pecahan kaca dan besi yang melukai lehernya ?!" kata Nathan bingung.


Bayan tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Nathan.


"Jawabannya sama kaya tadi Nath. Rosi kan menganut ilmu siluman. Makanya luka itu tak berarti apa pun untuknya. Dia cuma ga nyaman karena ga bisa hidup normal seperti manusia biasa karena pasti bakal jadi pusat perhatian dan menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat. Sekarang bayangkan gimana reaksi warga saat melihat Rosi yang terluka parah kaya gini tapi masih bisa mondar-mandir dan bicara seperti layaknya orang yang sehat," kata Bayan.

__ADS_1


Nathan pun mengangguk paham. Ia menatap Rosi tanpa berkedip dan kembali teringat dengan ucapan Rosi tadi.


"Tadi Bu Rosi bilang Senja. Apa maksudnya Mama Senja Yah ?" tanya Nathan sambil menatap sang ayah lekat.


Bayan mengangguk sedangkan Rosi langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar Nathan menyebut nama sang anak dan memanggilnya dengan sebutan Mama Senja.


Rosi terharu. Ia tak menyangka jika Bayan mendidik anaknya untuk menghormati Senja sedemikian rupa. Bahkan Nathan menyebutnya dengan lugas dan tanpa canggung seolah menyiratkan kasih sayang di dalam ucapannya tadi.


"Sen ... jaaa ...," kata Rosi lagi sambil menatap Bayan dan Nathan bergantian.


"Tunggu sebentar. Apa hubungannya Bu Rosi sama Mama Senja Yah ?. Kenapa dia terus nyebut nama Mama Senja berulang-ulang ?" tanya Nathan penasaran.


Bayan pun menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang anak.


"Rosi adalah Ibu kandung Mama Senja Nak," sahut Bayan lirih namun mengejutkan Nathan.


"Jadi Mama Senja juga siluman kuyang kaya Bu Rosi Yah ?!" tanya Nathan histeris.


"Iya Nak," sahut Bayan cepat.


Nathan memggelengkan kepala karena tak percaya dengan apa yang didengarnya. Untuk sejenak suasana di sana menjadi hening. Nathan masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang memburu usai mendengar pengakuan Bayan.


"Keliatannya Kita harus melakukan sesuatu Nath," kata Bayan tiba-tiba.


"Melakukan apa Yah ?" tanya Nathan.


"Ayah mau mengajaknya ke peternakan. Ayah mau di akhir hidupnya dia bisa menuntaskan semuanya biar ga mati penasaran. Jadi Kamu ambil mobil dan Kita ke peternakan sekarang," pinta Bayan sambil menatap Nathan lekat.


"Apa ga bahaya Yah ?. Gimana kalo dia menyerang Kita nanti ?" tanya Nathan cemas.


"Dia ga akan lakukan itu karena jika itu terjadi maka dia akan mati penasaran," sahut Bayan cepat.


Meski tak mengerti dengan jalan pikiran sang ayah, namun Nathan pun menuruti permintaannya. Ia bergegas keluar untuk mengambil mobil yang terparkir di parkiran Rumah Sakit dan kembali beberapa saat kemudian.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2