Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
38. Makhluk Rambut Bola


__ADS_3

Kepala tanpa tubuh alias kuyang itu melesat perlahan menuju kamar Bayan. Nampaknya kuyang itu tahu di sana lah calon mangsa utamanya berada.


Kuyang itu berhenti lalu mendekati ventilasi untuk mengintip ke dalam kamar di mana Nicko berada. Saat itu lah Nicko terbangun. Bayi mungil itu nampak menggeliat gelisah di box bayi. Dan sesaat kemudian bayi itu mulai menangis, awalnya lirih namun makin lama makin keras. Namun anehnya tak satu pun yang peduli. Bahkan Anna dan Bayan yang ada di kamar yang sama pun sama sekali tak terusik seolah tak mendengar tangis bayinya itu.


Gerakan sang bayi yang menangis itu justru membuat rasa dahaga kuyang itu memuncak. Sekali lagi kuyang itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kondisi aman. Dan setelahnya kuyang itu pun mengambil ancang-ancang untuk menerobos masuk ke dalam kamar.


Kemudian kuyang itu nampak mengecil membentuk bola berukuran kecil lalu melesat masuk ke dalam kamar melalui ventilasi udara di kamar Bayan. Namun sesaat kemudian kuyang itu menjerit saat merasakan sesuatu merobek kulitnya. Kuyang itu menarik dirinya keluar dari lubang ventilasi dalam kondisi wajah dan organ tubuh bersimbah darah.


Rupanya pecahan kaca yang dipasang di sekitar ventilasi udara itu telah berhasil melukai wajah dan sebagian organ tubuhnya yang menggantung itu. Kuyang itu menjerit sekali lagi karena merasa sakit dan marah di saat bersamaan. Darah pun nampak menetes dari lukanya yang menganga itu.


Meski pun dirinya telah terluka parah, namun kuyang itu tak menyerah. Ia bergeser ke kamar Nathan. Ia berharap bisa mendapatkan Nathan. Kali ini kuyang itu tak ingin membuang waktu. Tanpa mengamati keadaan di sekitarnya, kuyang itu langsung menerobos masuk ke kamar Nathan begitu saja.


Namun kuyang itu harus kecewa karena hal serupa ia temui di sana. Bahkan akibat dua kali menerobos ventilasi yang dipenuhi pecahan kaca membuat luka di tubuh kuyang itu bertambah parah. Kuyang itu menggeram marah. Setelah melayang sesaat dengan limbung, kuyang itu pun melesat pergi meninggalkan rumah Bayan tanpa hasil.


Saat kuyang pergi, tangis Nicko pun mereda. Hanya isak tangisnya yang tersisa dan justru itu yang membuat Anna terusik. Wanita itu membuka matanya lalu menoleh kearah box bayi yang berada tepat di sampingnya. Anna bangkit lalu mengecek bayinya. Ia terkejut mendapati selimut bayinya sudah terbuka dan Nicko sedang terisak pertanda baru saja menangis.


Anna pun bergegas meraih Nicko dan mengendongnya. Anna mengerutkan keningnya saat menyadari sekujur tubuh dan pakaian Nicko yang basah kuyup. Anna juga bingung mendapati kaos tangan dan kaos kaki yang dipakai Nicko basah.


"Ya Allah, Kamu kenapa Nak. Kok basah banget sih. Padahal day persnya masih kering kok," kata Anna sambil menatap bayinya.


Seolah mengerti ucapan sang bunda, Nicko pun kembali menangis. Anna pun berusaha menenangkan Nicko dengan cara menyusuinya.


Suara tangis Nicko yang berbeda itu juga membangunkan Bayan. Saat membuka mata ia melihat Anna sedang menggendong sambil menyusui bayinya. Tapi di saat yang sama Anna juga nampak sibuk menyiapkan pakaian ganti untuk Nicko.


"Kenapa Bund, Nicko pipis ya ?" tanya Bayan sambil mendekati sang istri.


"Nicko ga pipis tapi bajunya basah kuyup Yah. Coba deh pegang," kata Anna sambil memperlihatkan bayinya.


Bayan pun menyentuh Nicko dan terkejut. Ia pun bergegas membantu Anna mengganti pakaian Nicko. Karena Bayan kesulitan memasang pakaian Nicko, Anna sedikit mengurai pelukannya. Namun ia tersentak kaget karena Nicko langsung menangis keras seolah tak ingin jauh dari sang Bunda. Dan itu terjadi beberapa kali hingga membuat Anna dan Bayan saling menatap cemas.

__ADS_1


Akhirnya Nicko berhasil berganti pakaian meski pun dalam posisi tetap menempel pada sang bunda.


Setelah meletakkan pakaian kotor di keranjang, Bayan pun kembali mendekati Anna yang masih menyusui Nicko.


Ssat itu Anna nampak mendekap bayinya dengan erat sambil sesekali menciuminya dengan sayang. Air mata nampak menggenangi kedua matanya pertanda ia sangat terpukul melihat kondisi bayinya. Bayan pun merengkuh bahu sang istri untuk menenangkannya. Namun aksi Bayan justru membuat air mata Anna turun dengan derasnya.


"Pasti terjadi sesuatu sama Nicko tadi tapi Kita ga tau. Kita ini orangtua macam apa sih Yah, kok bisa-bisanya tidur pules saat anaknya sedang ga baik-baik aja," kata Anna sambil terisak.


Bayan terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. Dalam hati Bayan mengutuk dirinya sendiri yang lalai menjaga anaknya. Bayan juga tak mengerti mengapa ia tak mendengar apa pun tadi. Melihat kondisi Nicko yang basah kuyup, Bayan yakin jika bayinya menangis dalam jangka waktu lama dan dalam kondisi ketakutan.


Setelah beberapa saat membiarkan Anna menangis melepas uneg-unegnya, Bayan pun mengurai pelukannya lalu membantu Anna menghapus air matanya.


"Jangan menangis lagi Bund. Kalo Kamu sedih, Nicko pasti ikut sedih dan itu ga baik buat dia. Kita harus bersyukur karena Allah masih melindungi Nicko," kata Bayan.


"Tapi ini aneh banget Yah !. Jangan-jangan makhluk rambut bola itu yang datang dan membuat Nicko takut. Wajar aja kalo Nicko takut, Aku aja takut ngeliat sosoknya yang aneh itu. Pasti saking takutnya Nicko nangis sampe keringetan kaya gini Yah," kata Anna.


Ucapan Anna mengejutkan Bayan. Ia bergegas bangkit lalu melangkah cepat menuju jendela. Kemudian Bayan menyibak tirai jendela untuk melihat keluar rumah.


Melihat sang suami melangkah cepat menuju pintu Anna pun panik.


"Ada apa Yah ?!" tanya Anna.


"Pantesan aja Nicko ga baik-baik aja, ternyata lampu di atas makam ari-arinya mati Bund. Ayah mau keluar dulu buat nyalain lampunya," kata Bayan.


"Jangan Yah !" kata Anna lantang hingga menghentikan langkah Bayan.


Kemudian Bayan menoleh kearah Anna dan bertanya mengapa Anna melarangnya memperbaiki lampu di atas makam ari-ari Nicko.


"Sekarang masih jam dua dini hari Yah. Bahaya kalo buka pintu jam segini. Apalagi ada Anak-anak di rumah ini," kata Anna gusar.

__ADS_1


"Tapi Bund ...."


"Pokoknya ga boleh !. Ayah sadar ga sih kalo ini siasat yang dibuat makhluk tak kasat mata untuk menjebak Kita. Bisa aja pas Ayah buka pintu makhluk rambut bola atau sejenisnya masuk lalu menyakiti Anak-anak Kita, gimana Yah ?!" kata Anna lantang sambil menatap Bayan lekat.


Ucapan Anna menyadarkan Bayan. Ia mengucap istighfar berkali-kali sambil mengusap wajahnya. Kemudian Bayan meraih ponselnya lalu menghubungi Yunus dan memintanya mengecek lampu yang padam itu.


"Siap Pak," sahut Yunus dari seberang telephon.


"Makasih ya Nus," kata Bayan di akhir kalimatnya.


Setelahnya Bayan tampak melangkah kearah pintu hingga membuat Anna panik. Namun penjelasan Bayan membuat Anna mengerti.


"Ayah mau liat Nathan dulu. Ayah khawatir sama Nathan Bund," kata Bayan.


"Aku ikut Yah !" kata Anna lalu bergegas turun dari tempat tidur sambil terus menyusui bayinya.


Bayan pun mengangguk lalu membawa Anna keluar dari kamar menuju kamar Nathan.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya Yumi pun membuka pintu. Melihat Bayan dan Anna yang menerobos masuk ke dalam kamar membuat Yumi terkejut.


"Ada apa Pak, Bu ?" tanya Yumi.


"Gapapa Yum, Kami kirain Nathan rewel. Kan tadi tidurnya udah lumayan larut," sahut Bayan berbohong.


"Alhamdulillah Nathan pules daritadi Pak. Ngerengek sebentar sih barusan. Tapi pas udah pegang robot kesayangannya Nathan tidur lagi kok," sahut Yumi.


"Alhamdulillah ...," kata Bayan dan Anna bersamaan hingga membuat Yumi tersenyum.


Malam itu Bayan, Anna dan Yumi terus berjaga hingga Subuh di kamar itu. Mereka berbincang banyak hal termasuk kekhawatiran Yumi dengan sesuatu yang dilihat Anna.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2