
Di waktu yang telah ditentukan, Nathan dan Nicko pun pergi memenuhi undangan wisata malam dari panitya penyelenggara lomba melukis yang diikuti Nicko. Mereka diminta datang jam tujuh malam di jalan Pemuda tepat di sebrang gedung Lawang Sewu berada.
Saat Nathan dan Nicko tiba di tempat yang dimaksud sebagai titik kumpul itu, mereka disambut oleh salah satu panitya yang memang telah mengenal Nicko sebelumnya.
"Akhirnya datang juga. Selamat malam Mas Nicko," sapa panitya bernama Adam dengan ramah.
"Selamat malam Mas Adam. Apa Saya terlambat ?" tanya Nicko basa basi.
"Oh ga kok. Kita masih nunggu Ratri, juara ke dua lomba lukis kemarin. Ngomong-ngomong Mas Nicko ngajak siapa untuk wisata malam kali ini ?" tanya Adam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Saya bgajak Abang Saya Mas. Tuh orangnya," sahut Nicko sambil menunjuk Nathan yang sedang berjalan kearah mereka.
Nathan yang tahu dirinya sedang jadi bahan perbincangan pun nampak tersenyum. Saat Nicko memperkenalkannya dengan Adam, Nathan pun dengan santun menyambutnya. Melihat sikap santun Nathan dan Nicko membuat Adam tersenyum kagum.
"Kalian beneran dari Jakarta ya ?" tanya Adam.
"Iya Mas, emangnya kenapa Mas ?" tanya Nicko sambil mengerutkan keningnya.
"Gapapa sih. Tapi sikap Kalian tuh santun banget, ramah lagi. Beda banget sama Anak Jakarta yang pernah Saya kenal. Mereka tuh urakan, songong dan terkesan sok tau. Saya jadi kesel kalo inget sama mereka," sahut Adam sambil mendengus kesal.
Ucaoan Adam mau tak mau membuat Nathan dan Nicko tertawa. Sesaat kemudian tawa mereka berhenti saat mendengar suara seorang wanita menyapa Adam. Saat mereka menoleh mereka melihat sosok gadis manis berkaca mata dengan pakaian kasual berdiri sambil tersenyum.
"Eh Ratri. Sama siapa Rat ?" tanya Adam sambil menjabat tangan Ratri.
"Sendiri Mas. Temen Saya ga ada yang mau ikut. Waktu Saya bilang kalo wisata malamnya mampir ke Lawang Sewu, mereka langsung mundur ketakutan," sahut Ratri.
"Kita emang mau wisata malam, tapi ga seratus persen perjalanan horror kok. Sengaja kasih hadiah yang beda biar unik dan beda sama hadiah lomba di tempat lainnya. Harusnya jangan bilang kalo Kita mau mampir ke Lawang Sewu Rat, biar Kamu ada temennya. Kalo kaya gini Kamu jadi sendirian lho ga ada partnernya. Sedangkan Saya kan sibuk dan ga bisa stand by sama satu peserta aja," kata Adam sedikit kecewa.
"Gitu ya Mas. Terus gimana dong, apa Saya mundur aja ya biar ga ngerepotin Mas Adam?" tanya Ratri tak enak hati.
Mendengar pembicaraan Adam dan Ratri membuat Nathan dan Nicko terusik. Mereka jelas melihat jika Ratri sangat ingin ikut wisata malam. Selain itu memang haknya sebagai juara ke dua, nampaknya Ratri juga suka mencoba hal baru.
__ADS_1
Nathan dan Nicko nampak saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Kemudian Nicko menyela pembicaraan Adam dan Ratri.
"Maaf kalo terkesan lancang. Kalo Kamu mau ikut, Kamu bisa gabung sama Saya dan Abang Saya. Gimana, Kamu mau ga ?" tanya Nicko hati-hati.
Ucapan Nicko membuat Adam tersenyum namun Ratri nampak berpikir sejenak.
"Nah bener tuh. Gimana Rat, Kamu bisa gabung di teamnya Nicko. Daripada Kamu pulang tanpa hasil padahal udah jauh-jauh ke sini, lebih baik Kamu terima aja tawaran Nicko tadi," kata Adam antusias.
"Mmm ..., tapi Aku ganggu ga ?" tanya Ratri ragu.
"Ga kok !" sahut Nathan dan Nicko bersamaan.
Jawaban kedua kakak beradik itu melegakan Ratri. Gadis itu pun mengangguk dan itu membuat ketiga pria di hadapannya tersenyum lebar.
Kemudian Nathan, Nicko dan Ratri saling berjabat tangan sebagai salam perkenalan. Adam nampak senang mengetahui Ratri tak sendiri karena itu bisa mengurangi bebannya malam ini.
Setelah semua peserta berkumpul, mereka pun melangkah bersama memasuki area gedung Lawang Sewu.
"Maaf ya Mas Nathan. Tapi Saya takut banget. Sumpah !" kata Ratri setengah berbisik.
"Kalo takut ngapain datang. Udah sampe sini, ya terima nasib aja lah," sahut Nathan ketus.
Ucapan Nathan membuat Ratri kesal. Ia pun beralih pada Nicko yang terlihat lebih serius mengamati sekitarnya. Saat Ratri menarik ujung jaketnya Nicko pun menoleh lalu tersenyum. Ia tahu Ratri sedang ketakutan. Karenanya ia membiarkan Ratri memegangi ujung jaketnya selama perjalanan menelusuri gedung Lawang Sewu itu.
Saat guide menjelaskan sejarah berdirinya Lawang Sewu termasuk peruntukannya selama masa penjajahan, semua orang di dalam rombongan nampak terkagum-kagum. Namun saat sang guide memberitahu jika saat ini mereka berada di lantai bawah tanah yang terkenal keangkerannya, semua peserta nampak gelisah terutama Ratri.
Tubuh Ratri nampak sedikit bergetar dengan wajah yang memucat. Sudah dipastikan saat itu Ratri sangat ketakutan. Salah seorang peserta wisata malam pun bertanya mengapa aura di lantai bawah itu terasa berbeda dibanding dua lantai sebelumnya. Jawaban sang guide membuat semua orang terdiam.
"Saat masa transisi dari masa penjajahan Belanda ke masa penjajahan Jepang, tempat ini dijadikan tempat penyiksaan para tawanan perang termasuk rakyat pribumi Mas. Makanya ga heran kalo di sini terasa lebih mencekam dan dingin dibanding di lantai sebelumnya," sahut sang guide.
Ucapan sang guide membuat semua peserta saling menatap dengan tatapan tak terbaca. Ratri makin merapatkan tubuhnya kearah Nicko dan itu membuat Nathan tak suka.
__ADS_1
Saat Nathan ingin melontarkan kekesalannya, Nicko mencegahnya sambil menggelengkan kepala.
"Kalo Abang ga mau dideketin sama dia gapapa, biar Aku aja. Kasian Bang, Ratri itu kan cewek. Ada di tempat menyeramkan jam segini jelas aja bikin dia ga nyaman. Ga pingsan aja udah bagus. Jadi jangan dimarahin ya," bisik Nicko.
"Abang bukan ga kasian sama dia. Tapi Abang harus menjaga perasaan Ira. Gimana kalo ada orang liat terus disampein ke Ira dan Kami jadi ribut. Abang cuma ga mau ada salah paham aja sama Ira," sahut Nathan tak enak hati.
Nicko pun mengangguk mencoba memaklumi sang kakak lalu menoleh kearah Ratri.
"Masih takut Mbak ?. Kalo masih, sini deketan lagi," kata Nicko sambil bergeser untuk memberi tempat pada Ratri.
Ratri pun mengangguk lalu mendekati Nicko. Kelegaan terlihat di wajah Ratri saat ia berada diantara Nathan dan Nicko. Sesekali Nicko menoleh saat Ratri mencengkram lengannya.
Dan setelah hampir satu jam setengah berkeliling gedung Lawang Sewu, rombongan pun tiba di luar gedung. Semua orang nampak menghela nafas lega karena berhasil keluar dari tempat dengan suasana yang menakutkan itu.
"Semua aman kan ?!" tanya Adam lantang untuk memastikan semua peserta baik-baik saja.
"Amaaannn !" sahut semua peserta termasuk Nicko dan Ratri.
"Alhamdulillah, bagus. Selanjutnya Kita akan pergi ke tempat lainnya yang suasananya sama sekali berbeda dengan tempat ini. Kalo Lawang Sewu terkenal dengan suasana horror dan mistisnya, maka Kita akan pergi ke sebuah tempat yang romantis, hangat dan santai. Kita bisa healing sejenak supaya bisa keluar dari tekanan rasa takut yang baru saja Kita alami !" kata Adam sambil tersenyum.
"Setuju ...!"
"Berangkat sekarang Mas Adam ...!"
"Ayo cepetan ...!"
Kata para peserta silih berganti. Adam pun mengangguk lalu mengarahkan para peserta ke mini bus yang tersedia. Tak lama kemudian mini bus nampak melaju meninggalkan gedung Lawang Sewu menuju tempat yang dimaksud Adam tadi.
Di dalam mini bus itu Ratri duduk tepat di samping Nicko. Ia terlihat lebih tenang karena bisa tertawa. Namun apa yang Ratri ucapkan kemudian cukup membuat Nicko terkejut.
\=\=\=\=\=
__ADS_1