Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
170. Ayah Kandung Hilya


__ADS_3

Seseorang itu adalah pria yang nampak berdiri sambil menatap Hilya dari kejauhan. Tatapannya seolah terkunci pada sosok Hilya yang nampak tertawa bahagia hari itu.


Sesi foto bersama rekan sejawatnya di Rumah Sakit baru saja usai. Dan kini giliran rekan-rekan kerja Nathan yang akan berpose bersama pengantin.


"Siap ya ...!" kata sang fotografer memberi aba-aba.


"Siaaappp ...!" sahut Nathan dan rekan-rekannya bersamaan sambil berpose lucu.


Setelah puas berfoto bersama sang pengantin, kini giliran Nathan dan Hilya yang dikerjai. Mereka diminta melakukan adegan mesra di bawah tatapan semua orang.


"Pose apaan tuh, Aku ga mau !" tolak Hilya ketus.


"Yaaahh ... gagal deh. Payaaahh nih !" kata beberapa orang kecewa.


Tentu saja jawaban Hilya mengundang sorak sorai rekan-rekan Nathan. Mereka yang memang telah mengetahui bagaimana sifat dan karakter Hilya sama sekali tak tersinggung dengan sikap jutek Hilya. Mereka malah makin memanas-manasi Nathan agar mau menuruti keinginan mereka.


"Ayo Nath. Kapan lagi Lo tunjukin sama Kita kalo Hilya ini milik Lo ?!" tanya seorang rekan kerja Nathan mewakili rekan-rekannya.


"Emangnya ini aja ga cukup. Gue nikah sama Hilya, artinya Gue sama dia kan Suami Istri," sahut Nathan bingung.


"Kalo itu Kami juga tau. Kami mau Lo kasih satu pernyataan lewat perbuatan yang menyatakan Hilya itu milik Lo," kata salah seorang rekan kerja Nathan.


Nathan pun tersenyum sambil mengangguk. Kemudian ia melirik kearah Hilya yang kini telah berstatus istrinya itu dengan tatapan penuh makna. Menyadari sikap Nathan yang sedikit berbeda membuat Hilya melotot kesal.


"Kamu ga maksud nurutin keinginan mereka kan Sayang ?!" tanya Hilya gusar.


"Aku juga ga tau. Terus menurut Kamu gimana Sayang ?" tanya Nathan sambil menarik pinggang Hilya agar mendekat kearahnya.


"Ya ga usah diturutin. Anggap aja angin ...," ucapan Hilya terputus karena Nathan telah membungkam bibirnya dengan ciuman panjang.


Untuk sejenak susasana di pelaminan menjadi hening. Hilya yang tak menyangka akan mendapat 'serangan dadakan' dari Nathan pun hanya terdiam sambil menatap sang suami dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan rekan-rekan Nathan nampak bersorak gembira. Mereka bertepuk tangan sambil tertawa bahkan beberapa orang melakukan swafoto berlatar belakang Nathan dan Hilya yang sedang berciuman.


Bayan, Anna, kakek dan nenek Hilya nampak menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Nathan dan rekan-rekannya itu. Beruntung Hilya tak marah saat sadar dirinya dikerjai. Ia malah menyembunyikan wajahnya yang merona itu di pelukan Nathan yang tertawa puas.


"Udah turun sana. Ngapain lama-lama di sini. Ga liat ya di belakang Kalian masih banyak tamu yang ngantri mau ngasih ucapan selamat dan doa buat Gue !" kata Nathan pura-pura galak.

__ADS_1


"Iya iya. Sekali lagi selamat ya Nath, Hil. Semoga samawa dan cepet dapet momongan !" kata rekan-rekan Nathan saling bersahutan.


"Aamiin ...!" sahut Nathan dan Hilya tak kalah lantang hingga membuat suasana kembali ramai.


Dan setelah rekan-rekannya turun dari pelaminan, Nathan pun menoleh kearah Hilya.


"Maaf ya kalo bikin Kamu ga nyaman. Tapi Aku cuma mau mereka cepet turun aja. Abis kalo ga diturutin, mereka bisa ngomong macem-macem dan itu ganggu banget," kata Nathan sambil menyentuh wajah Hilya dengan lembut.


"Gapapa, santai aja. Aku cuma kaget aja karena Kamu ga kasih aba-aba atau peringatan dulu tadi," sahut Hilya sambil tersenyum.


"Oh, jadi kalo ada yang minta Kita adegan kissing lagi kaya tadi Kamu pasti mau kan ?" tanya Nathan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hilya.


"Ya ga gitu juga dong. Terlalu mengumbar kemesraan kan baik lho Sayang," sahut Hilya sambil membuang tatapannya kearah lain dengan wajah merona karena malu.


Nathan pun tertawa melihat sikap Hilya. Entah mengapa ia sedikit menyesal karena baru menikahi Hilya sekarang.


"Andai tau dari awal kalo Kamu seimut ini, udah sejak lama Aku nikahin Kamu lho Sayang," bisik Nathan di telinga Hilya hingga berbuah cubitan di pinggangnya.


Bukannya menjerit kesakitan, Nathan justru kembali tertawa dan itu membuat semua orang yang mengamatinya sejak tadi ikut tertawa termasuk Fikri dan Nicko.


"Iya. Keliatannya bersama Hilya memang bisa membuat beban yang ditanggungnya selama ini hilang begitu saja," sahut Fikri sambil merengkuh bahu Nicko.


Kemudian Nicko dan Fikri pun melangkah menghampiri istri mereka masing-masing yang saat itu duduk tak jauh dari panggung pelaminan. Melihat kebersamaan Dhanti dan Ayu membuat mereka tersenyum bahagia.


Sementara itu Nathan dan Hilya kembali disibukkan dengan para tamu yang memberi ucapan selamat dan doa untuk mereka. Kebahagiaan jelas tercetak jelas di wajah sepasang pengantin itu. Namun senyum bahagia di wajah Hilya memudar saat ia melihat seorang pria berdiri mengamati dari kejauhan.


Nathan yang menyadari perubahan sikap istrinya itu pun bertanya-tanya apa yang terjadi hingga Hilya berubah drastis. Dan saat ia mengikuti arah tatapan Hilya, ia pun mengerutkan keningnya.


"Dia ... siapa Sayang ?" tanya Nathan hati-hati.


"Bukan siapa-siapa. Aku juga ga kenal dia kok," sahut Hilya sambil melengos.


"Kamu yakin ga kenal sama dia ?. Tapi tadi Kamu sempet keliatan shock banget waktu ngeliat dia Sayang," kata Nathan.


"Aku cuma kaget aja sedikit," sahut Hilya sambil duduk.

__ADS_1


Nathan pun ikut duduk di samping sang istri. Ia melihat Hilya gelisah sambil memijit pelipisnya. Dengan sigap Nathan menyodorkan sebotol air mineral kearah sang istri. Hilya pun menerima botol itu dan meneguk isinya perlahan. Setelah meneguk air Hilya terlihat lebih baik.


"Makasih ya Sayang," kata Hilya sambil tersenyum tulus.


"Sama-sama. Masih kuat ga ?, atau ...," ucapan Nathan terputus karena Hilya memotong cepat.


"Insya Allah Aku kuat kok. Aku ga bakal tumbang cuma gara-gara satu orang dari masa lalu yang datang ke sini kan," sahut Hilya sambil tersenyum getir.


"Maksud Kamu siapa Sayang ?" tanya Nathan tak mengerti.


"Laki-laki di sana itu. Dia adalah Ayahku. Ayah kandungku yang telah pergi meninggalkan Aku dan Ibuku," kata Hilya dengan suara bergetar sambil menatap lekat kearah pria yang masih menatapnya dengan intens sejak tadi.


"Kenapa Kamu ga bilang daritadi Sayang. Ayo Kita temuin Beliau. Bagaimana pun Beliau adalah wali sahmu, orang yang seharusnya Aku temui sejak awal untuk untuk meminang putri cantiknya ini," kata Nathan sambil bangkit dari duduknya.


Hilya menggelengkan kepalanya lalu meminta Nathan menatap kearah ayahnya.


"Kamu ga usah ke sana, Ayahku yang akan ke sini. Dia tau dia akan jadi pusat perhatian kalo Kita yang ke sana menghampirinya. Kita tunggu aja di sini. Dan tunggu apa yang mau dia sampein nanti," kata Hilya dengan suara tercekat.


Nathan pun mengangguk karena ia juga melihat ayah Hilya nampak melangkah mendekati panggung pelaminan.


Dari kejauhan kakek dan nenek Hilya nampak gelisah melihat kedatangan mantan menantunya itu. Mereka tak menyangka jika Heri datang di acara penting Hilya.


"Jangan Nek. Biarkan dia bicara sama Hilya," kata kakek Hilya saat ia melihat sang istri akan beranjak mendekati Heri.


"Tapi Kek. Aku ga mau dia nyakitin Hilya lagi. Ini acara penting Hilya. Aku ga mau dia bikin ulah," sahut nenek Hilya gusar.


"Itu ga akan terjadi. Ada Nathan yang bakal melindungi Hilya sekarang. Aku yakin Nathan ga akan membiarkan siapa pun menyakiti Hilya meski pun itu Ayah kandung Hilya," kata kakek Hilya mantap.


Nenek Hilya pun menggela nafas panjang lalu kembali duduk. Kedua matanya menatap lekat kearah panggung pelaminan seolah menanti apa yang akan dilakukan Heri pada cucu perempuannya itu.


Akhirnya Heri tiba di hadapan Nathan dan Hilya sambil tersenyum. Nathan pun bergegas menyambut. Ia mencium punggung tangan Heri dengan takzim beberapa saat kemudian memeluknya dengan erat. Heri nampak menepuk punggung Nathan dengan lembut sambil mengucapkan beberapa pesan. Sedangkan Hilya nampak menatap keduanya dengan jantung yang berdetak cepat.


Saat Heri mengurai pelukannya lalu menoleh kearah Hilya, istri Nathan itu nampak membeku di tempat. Gadis itu terlihat bingung, gugup dan cemas di saat bersamaan hingga tak menyadari sapaan Heri untuknya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2