Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
151. Arafah Sakit


__ADS_3

Hilya nampak sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Berkali-kali ia menghela nafas panjang seolah ingin menanggalkan beban berat yang ada di hatinya.


Setelah mendengar cerita tiga sepupunya tadi Hilya pun sadar jika ia telah 'kehilangan' Nathan.


"Kenapa Kamu menyerah saat Aku mulai membuka hati Nath ...," gumam Hilya sambil memejamkan matanya.


Dan saat memejamkan mata itu lah Hilya melihat bayangan Nathan berseliweran di benaknya. Nathan yang sedang tersenyum, marah, bingung dan gemas silih berganti tampil hingga membuat dada Hilya terasa sesak. Dan tanpa Hilya sadari air mata telah jatuh berderai di wajahnya.


Hampir satu jam Hilya menangis. Setelah puas menangis Hilya bangkit lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Hilya kembali dengan wajah yang lebih fresh dan perasaan yang jauh lebih baik.


Hilya mematut diri di depan cermin sejenak lalu tersenyum.


"Jangan menangis lagi Hilya. Jika dia memang jodohmu, dia pasti kembali padamu. Jika tidak, Allah pasti akan kirim pengganti yang lebih baik nanti," gumam Hilya sambil tersenyum.


Setelah mengucapkan kalimat itu Hilya pun kembali berbaring lalu memejamkan matanya. Rupanya Hilya sudah mengikhlaskan kepergian Nathan karena sadar dirinya tak layak untuk pria sehebat Nathan.


\=\=\=\=\=


Dua bulan kemudian.


Hilya terkejut saat melihat Ayu datang ke Rumah Sakit seorang diri sambil menggendong Arafah. Wajah Ayu terlihat tegang sedangkan Arafah terus mengejang di dalam dekapannya.


"Mbak Ayu !" panggil Hilya sambil bergegas menghampiri Ayu.


"Alhamdulillah, untung Kamu di sini Hilya. Tolong bantu Mbak, Arafah sakit ...," kata Ayu panik.


Hilya pun meraih Arafah dari gendongan Ayu lalu membawanya masuk ke ruang IGD. Di sana Arafah segera mendapat pertolongan.


Saat itu kedua mata Arafah mendelik ke atas, tubuhnya mengejang karena gadis cilik itu demam tinggi hingga mencapai 40° Celcius. Dokter pun menyarankan agar Arafah dirawat agar mudah memantau kondisinya nanti.


Mendengar Arafah akan dirawat membuat Ayu makin panik. Ia yakin jika sakit Arafah sangat serius dan bukan demam biasa.


"Mbak Ayu gapapa kan ?" tanya Hilya hati-hati.


"Aku bingung, soalnya Abinya Arafah lagi ga di rumah karena ikut Ustadz Zulkifli ke Solo," sahut Ayu.


"Coba telephon Nicko atau ... Nathan mungkin," saran Hilya ragu.


"Aku di sini !. Aku yang bakal bertanggung jawab selama Bang Fikri pergi. Jadi Arafah sakit apa Mbak ?" tanya Nathan dari belakang Hilya.


Hilya dan Ayu menoleh bersamaan. Jika Ayu nampak tersenyum lega melihat kehadiran Nathan, sedangkan Hilya nampak sedikit gugup. Apalagi saat itu Nathan juga tampak mengabaikan kehadiran Hilya di sana.


Kemudian Ayu terlibat pembicaraan serius dengan Nathan. Hilya pun menyingkir diam-diam dan kembali ke dalam ruangan Arafah.


Kini Arafah terlihat lebih tenang meski pun beberapa selang menempel di tubuhnya. Rupanya kadar darah dalam tubuh Arafah berada di bawah normal hingga dokter memutuskan melakukan transfusi darah.


"Jadi sakit apa Anak ini dok ?" tanya Hilya.

__ADS_1


"Kita tunggu hasil lab besok pagi ya Sus. Saya harap ini bukan penyakit serius," sahut sang dokter sambil tersenyum.


"Aamiin ...," kata Hilya lirih.


"Apa dia keluarga Kamu Suster ?" tanya sang dokter.


"Bukan dok. Orangtuanya teman Saya jadi Anak ini udah seperti keponakan Saya," sahut Hilya sambil tersenyum.


"Oh begitu. Beruntung orangtua Anak ini tanggap dan segera membawanya ke sini. Kalo ga, mungkin Anak ini udah meninggal kehabisan darah Sus," kata sang dokter hingga membuat Hilya terkejut.


Setelah memastikan Arafah baik-baik saja, dokter meminta wali Arafah untuk menemuinya. Hilya pun bergegas memberitahu Ayu.


"Sekarang ya Mbak," pinta Hilya sambil berlalu.


"Iya Hil. Ayo Nath, temenin Mbak nemuin dokter," ajak Ayu.


"Iya Mbak," sahut Nathan sambil menatap punggung Hilya yang menjauh.


\=\=\=\=\=


Malam itu Nathan dan Nicko berjaga di luar kamar Arafah sedangkan Ayu, Anna dan Bayan berada di dalam kamar. Ramadhanti tak bisa ikut ke Rumah Sakit karena sedang hamil muda. Nicko meminta istrinya istirahat saja di rumah.


Tak lama kemudian dokter datang berkunjung ditemani Hilya dan seorang perawat lainnya. Usai memeriksa kondisi Arafah, dokter pun keluar dari ruangan. Saat mereka melintas Nathan pun memberanikan diri menyapa sang dokter.


"Boleh Saya bicara sebentar dengan Suster Hilya dok ?" tanya Nathan hingga mengejutkan Hilya dan semua orang yang ada di sana.


Dokter pun tersenyum lalu mengangguk.


"Baik dok," sahut Hilya cepat.


Kemudian Nathan mengajak Hilya bicara di taman Rumah Sakit. Nathan melangkah lebih dulu sedangkan Hilya mengekor di belakangnya. Hilya terkejut karena dahinya membentur punggung Nathan yang berhenti tiba-tiba.


"Ngomong kek kalo mau berhenti," kata Hilya sambil meraba dahinya.


"Maaf ...," kata Nathan.


"Apa ?" tanya Hilya tak mengerti.


"Gapapa. Gimana kabarmu ?" tanya Nathan sambil menatap Hilya lekat.


"Alhamdulillah, seperti yang Kamu liat. Aku baik-baik aja," sahut Hilya cepat.


"Syukur lah. Aku kira tak berkabar bikin Kamu sedih atau kehilangan. Ternyata Aku salah. Dan Aku baru tau sekarang kalo Aku memang ga pernah penting untukmu," kata Nathan sambil tersenyum getir.


Ucapan Nathan membuat Hilya terkejut sekaligus bahagia. Gadis itu bahkan mengerjapkan matanya berkali-kali karena terharu.


Karena mengira tak mendapat respon dari Hilya, Nathan pun bersiap pergi. Namun langkahnya terhenti karena Hilya mencekal lengannya. Nathan menoleh dan mendapati Hilya tengah menatapnya.

__ADS_1


"Siapa cewek itu ?" tanya Hilya tiba-tiba.


"Cewek yang mana ?" tanya Nathan sambil mengerutkan keningnya.


"Ck. Yang tangannya dibalut perban. Aku liat dia sama Kamu di Rumah Sakit," sahut Hilya sambil melengos karena tak kuasa menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Kamu ... cemburu ?" tanya Nathan hati-hati.


"Ck, kalo ditanya tuh jawab aja bisa ga sih. Kenapa harus balik nanya segala ?!" kata Hilya ketus.


Ucapan Hilya yang bernada cemburu itu membuat Nathan tersenyum bahagia. Bukan kah itu artinya Hilya juga memiliki perasaan yang sama dengannya ?.


"Oh cewek itu temanku," kata Nathan sambil menatap Hilya lembut.


"Cuma teman ?" tanya Hilya sambil mendongakkan kepalanya untuk bisa membalas tatapan Nathan.


"Iya. Kenapa ?" tanya Nathan sambil mendekatkan wajahnya.


"Aku ... Aku ga suka liat Kamu jalan sama cewek lain. Apalagi sambil pegangan tangan dan nyenderin kepala segala," sahut Hilya sambil menundukkan kepala.


"Jadi Kamu cemburu ?" tanya Nathan lagi sambil menyentuh wajah Hilya agar mau menatapnya.


"Apa masih perlu diperjelas juga ?. Iya, Aku cemburu !. Puas Kamu ?!" kata Hilya sambil menatap Nathan marah.


Jawaban Hilya membuat Nathan tertawa. Dengan gemas Nathan menarik Hilya ke dalam pelukannya lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kepala gadis itu. Hilya pun balas memeluk Nathan sambil menyembunyikan wajahnya di sana.


"Ya Allah, capek banget nunggu pengakuan Kamu kaya gini," gumam Nathan yang masih bisa didengar oleh Hilya.


"Maaf ...," bisik Hilya sambil mendongakkan kepalanya.


Nathan pun tersenyum lalu menyentuh wajah Hilya dengan lembut.


"Iya, maafin Aku juga karena bikin Kamu ga nyaman. Jujur Aku sempet punya rencana pergi jauh supaya ga ketemu Kamu lagi kalo ga dapat pengakuan Kamu malam ini," kata Nathan hingga membuat Hilya terkejut.


" Tapi Kamu ga jadi pergi kan ?" tanya Hilya sambil mengurai pelukannya.


"Menurut Kamu ?" tanya Nathan.


"Ayo lah Nath. Kenapa Kamu seneng banget berteka-teki. Aku nih ga pinter, jadi please jangan suruh Aku nebak-nebak," pinta Hilya.


"Oh pantesan. Udah dikasih sinyal masih aja cuek. Ternyata Kamu nih bodoh ya," gurau Nathan sambil tertawa.


Ucapan Nathan membuat Hilya melotot. Namun sedetik kemudian gadis itu ikut tertawa. Bahkan ia tak menolak saat Nathan kembali memeluknya.


Di kejauhan Bayan dan Anna nampak tersenyum bahagia menyaksikan kebahagiaan Nathan dan Hilya.


"Kayanya sebentar lagi Kita harus siapin mahar untuk melamar Hilya Bund," kata Bayan sambil merengkuh bahu sang istri.

__ADS_1


"Iya Yah. Tapi Ayah tenang aja. Bunda udah siapin semuanya jauh hari sebelum mereka menyadari perasaan mereka," sahut Anna sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


__ADS_2