Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
235. Masa Lalu


__ADS_3

Bayan pun mengusap matanya yang basah usai ingatannya berakhir. Lalu perlahan Bayan mendongakkan kepalanya. Ia menatap Rosi dengan tatapan marah.


"Jangan bohongi Aku Rosi !. Ibu kandung Senja bernama Rusti bukan Rosi !" kata Bayan lantang.


Rosi memejamkan matanya. Rasa sakit di area leher kembali mendera dan itu membuatnya limbung lalu jatuh tersungkur di tanah.


Melihat Rosi tersungkur tak membuat Bayan iba. Ia masih kesal karena merasa dibohongi.


Tiba-tiba Rosi meraih kaki Bayan dan memeluknya erat. Rosi menggelengkan kepalanya dengan kaku karena lehernya terganjal besi dan pecahan kaca.


Bayan terkejut melihat kakinya dipegangi oleh Rosi. Melihat kondisi Rosi yang mengenaskan itu menyadarkan Bayan jika wanita yang berbaring di hadapannya bukan lah manusia melainkan siluman.


"Lepaskan, jangan sentuh Aku !" kata Bayan sambil berusaha melepaskan cekalan Rosi di kakinya.


Rosi pun menggeleng sambil berusaha bicara. Seolah tahu jika Rosi akan mengatakan sesuatu padanya, Bayan akhirnya mengalah.


"Baik lah, Aku akan mendengarmu. Tapi tolong lepaskan Aku sekarang," pinta Bayan sungguh-sungguh.


Rosi kembali menggeleng. Ia mengulurkan telapak tangannya kearah Bayan seolah meminta pria itu menyentuh telapak tangannya itu. Dengan ragu Bayan meraih telapak tangan Rosi yang terulur padanya.


Saat jemarinya menyentuh tangan Rosi, saat itu Bayan merasa seperti terkena aliran listrik sebesar ribuan volt. Tubuhnya menegang seketika disertai rasa sakit yang luar biasa. Saat itu lah Bayan seperti dibawa berkelana ke masa silam. Masa dimana semua peristiwa berawal.


Bayan diajak ke sebuah masa dimana ia diperlihatkan api unggun besar yang dikelilingi banyak orang berpakaian aneh. Bayan bingung karena merasa asing. Apalagi tak satu pun diantara orang-orang itu yang ia kenal.


Tiba-tiba dari salah satu sisi lingkaran masuk lah segerombolan orang yang membawa seorang tawanan wanita yang diikat kedua tangan dan kakinya.


Wanita itu nampak menundukkan kepalanya saat tubuhnya ditarik memasuki lingkaran untuk mendekati api unggun. Sedangkan orang-orang yang berada di keliling api unggun nampak bersorak memaki dan menghinanya.


Kemudian wanita itu berhenti tepat di samping tiang yang ada di dekat api unggun. Wanita itu hanya bisa pasrah dan memejamkan mata saat kedua tangannya diangkat ke atas lalu diikat ke tiang. Wanita itu tetap diam selama orang-orang itu mengikatnya. Wanita itu baru membuka mata saat suara orang-orang di keliling api unggun mulai memaki dan meneriakinya.


"Bakaaarrr ..., bakaarrr ...!" seru orang-orang dengan lantang disambut suara lain yang saling bersahutan.

__ADS_1


Saat suasana kacau balau, tiba-tiba berlari lah seorang anak perempuan berkepang dua lalu menerobos masuk ke dalam lingkaran. Kemudian gadis cilik itu menghambur memeluk wanita yang diikat ke tiang yang diyakini Bayan sebagai ibunya.


"Ibuuu ...!" kata anak perempuan itu sambil menangis.


"Anakku. Jangan ke sini, pergi lah. Pergi sekarang Nak," sahut wanita yang diikat itu sambil menatap nanar ke sekelilingnya.


"Aku ga mau Bu. Aku ga mau pergi sendirian. Ibu harus ikut Aku. Ayo Kita pergi dari sini sama-sama ya Bu ...," ajak anak perempuan itu sambil menangis.


Wanita itu menggeleng sambil menatap sang anak dengan tatapan sedih.


"Kamu yang harus pergi. Ibu di sini untuk menebus semua kesalah pahaman ini Sayang," kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


"Kesalah pahaman apa Bu ?. Bukan Ibu yang membunuh mereka tapi kenapa Ibu yang dihukum ?" tanya anak perempuan itu tak mengerti.


"Sssttt ..., jangan bilang begitu. Ibu gapapa kalo harus menanggung semuanya asal mereka melepaskan Kamu dan tak menyentuhmu," sahut wanita itu sambil terus menggelengkan kepala.


"Ini ga adil Bu. Kenapa Kita yang harus menanggung semuanya ?" tanya anak perempuan itu sambil menangis.


Mendengar ucapan sang ibu membuat anak perempuan itu terkejut. Ia menatap sang ibu sejenak lalu mengangguk.


"Aku pergi Bu. Aku pergi asal itu bikin Ibu senang. Selamat tinggal Bu ...," kata anak perempuan itu sambil menangis.


Setelah mengucapkan kalimat itu sang anak berlari cepat meninggalkan tempat itu. Tak ada seorang pun yang menghadang langkahnya karena begitu lah isi perjanjian wanita yang diikat itu dengan mereka.


"Maafkan Ibu Rusti. Hanya ini satu-satunya cara agar Kamu tetap hidup. Balasan dendamku pada mereka semua yang menyakitiku Rusti. Habisi mereka bahkan sebelum mereka bisa mengenal dunia," gumam wanita itu yang didengar jelas oleh Bayan.


Dan tiba-tiba beberapa orang pria maju lalu meraih kayu untuk menyulut api. Setelahnya mereka membakar tiang dimana wanita itu terikat. Wanita itu hanya diam dan tetap diam meski pun api menyelimuti seluruh tubuhnya. Tak ada jeritan yang keluar dari mulutnya namun kedua matanya menatap tajam kearah orang-orang yang membakarnya.


Di kejauhan anak perempuan berkepang dua yang kemudian diketahui bernama Rusti nampak menangis keras sambil memanggil-manggil sang ibu. Ia menyaksikan ibunya dilalap api.


Karena tak sanggup melihat penderitaan sang ibu, anak perempuan itu pun lari meninggalkan tempat itu tanpa pernah menoleh lagi.

__ADS_1


Kemudian Bayan diperlihatkan masa dimana Rusti dewasa sedang berlari menghindari kejaran para pria yang menginginkan tubuhnya. Rusti menghiba, memohon agar mereka tak menyakitinya dan merusak masa depannya. Namun nampaknya mereka terlanjur dikuasai b*rahi hingga melecehkan Rusti tanpa belas kasihan.


Sesuatu pun terjadi. Rusti yang masih terkapar tak berdaya usai dilecehkan secara bergilir itu pun nampak bangkit. Dan tiba-tiba kepalanya terpisah dari tubuhnya begitu saja. Dan itu adalah pertama kali Rusti berubah menjadi siluman kuyang.


Setelahnya siluman kuyang jelmaan Rusti mengejar para pria yang melecehkannya itu hingga ke rumah mereka masing-masing. Saat mengetahui dua pria diantara mereka memiliki bayi dan istri yang sedang hamil, maka siluman kuyang jelmaan Rusti pun membantainya dengan sadis sebagai bentuk balas dendam perdananya karena telah dilecehkan.


"Jadi dia mau ngasih tau kalo darah siluman dalam dirinya terpancing keluar gara-gara dia dilecehkan oleh para pria bejat itu," batin Bayan sambil menggelengkan kepalanya.


Namun setelahnya Rusti tak bisa mengendalikan diri. Dia selalu punya keinginan untuk memangsa para bayi dan ibu hamil. Dia juga membantai warga yang telah membakar ibunya. Karena tak sanggup menghadapi kenyataan, Rusti memutuskan sembunyi di dalam hutan agar bisa menekan hasrat membunuhnya itu.


Namun takdir cinta Rusti mempertemukannya dengan para pria yang datang silih berganti di hidupnya. Karena Rusti tak pernah tua, beberapa kali ia jatuh cinta dan menikah. Namun semua pernikahannya kandas karena tak beroleh momongan.


Akhirnya Rusti bertemu dengan cinta sejatinya. Seorang pria bersahaja dan baik hati bernama Genta.


Bayan mengerutkan keningnya saat melihat Genta muda. Ia merasa mengenal Genta. Tak ingin merusak jalan cerita yang sedang diperlihatkan padanya, Bayan pun memilih diam.


Kemudian Bayan melihat kebahagiaan Rusti dan Genta hingga mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Senja. Saat itu lah Bayan baru mengerti jika Genta adalah Karto, mantan supir sekaligus mertuanya.


"Pantesan kaya pernah ngeliat Genta muda. Ga taunya itu Pak Karto," gumam Bayan sambil tersenyum.


Namun senyum Bayan memudar saat melihat apa yang terjadi pada keluarga kecil Rusti. Lagi-lagi Bayan melihat Rusti berubah jadi siluman kuyang. Suatu saat aksinya 'kepergok' oleh Genta alias Karto. Malam itu Genta bertemu dengan Rusti dalam wujudnya yang lain. Kemudian Genta pulang ke rumah dan menemui tubuhnya yang tanpa kepala itu di dalam kamar tidur mereka.


Setelahnya Bayan melihat Genta melarikan diri meninggalkan anak dan istrinya karena takut dan tak percaya jika istrinya adalah siluman kuyang.


Kepergian Genta membuat Rusti sedih. Belasan tahun ia menunggu Genta pulang hingga tak terasa Senja tumbuh dewasa dan bekerja di kota lain.


Bayan menghela nafas saat diperlihatkan perjuangan Rusti untuk berhenti dan mengakhiri kutukan itu. Juga bagaimana kondisinya saat ia melarikan diri karena tak ingin menjadi beban Senja.


Melihat kilasan peristiwa itu membuat Bayan ingin percaya jika wanita yang tersungkur di hadapannya itu memang ibu mertuanya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2