
Kini Bayan dan Rama telah ada di dalam perjalanan menuju Jakarta. Rama sesekali melirik kearah Bayan yang nampak tak semangat itu.
"Ga usah lebay deh Yan. Kan bukan baru sekarang Lo pisah sama Nathan. Lagian tuh Anak udah gede, udah bisa mandiri. Harusnya Lo bangga kan. Siapa tau sebentar lagi Nathan bikin kejutan. Bikin perusahaan kaya Lo, atau justru married sama Ira dulu baru bikin perusahaan," kata Rama sambil menepuk bahu sang sahabat.
Rupanya Rama mengira Bayan sedih karena harus berpisah dengan anak sulungnya, Rama terus bicara mengeluarkan kalimat-kalimat penghibur yang justru membuat Bayan muak. Bayan pun menutup telinganya lalu memejamkan mata.
"Dasar sableng, dihibur malah tidur," gumam Rama sambil melirik kesal kearah Bayan.
"Gue denger !" sahut Bayan.
"Terus kenapa kalo Lo denger. Lo pikir Gue takut ?" tanya Rama.
"Terusin aja nyumpahon Gue. Ntar bonus Lo ilang baru tau rasa Lo," ancam Bayan.
Ucapan Bayan terbukti ampuh membungkam.mulut Rama. Daripada kehilangan bonus karena mengantar Bayan yang baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan pengusaha Singapura itu, Rama memilih diam. Ia kembali fokus mengamati jalan raya di depannya sambil bersiul mengikuti irama lagu yang terdengar menggema di dalam mobil.
\=\=\=\=\=
Setelah melepas kepergian ayahnya, Nathan dibuat dilema. Satu sisi ia ingin percaya pada ucapan sang ayah, tapi sisi lainnya ia sangat menyayangi Ira. Baginya Ira berbeda dengan wanita lain yang pernah ia temui.
Dan ucapan ayahnya telah mempengaruhi sikap Nathan pada Ira. Perlahan namun pasti Nathan mulai menjaga jarak dari Ira. Meski berat, tapi Nathan terpaksa melakukannya karena tak ingin Ira sakit hati nanti. Selain itu Nathan juga mulai menyelidiki Ira diam-diam.
Ira yang menyadari perbedaan sikap Nathan pun berusaha maklum. Ira mengira jika Nathan mendapat pesan khusus dari sang ayah yang memintanya lebih fokus agar bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat. Ira tahu, sebagai anak sulung pasti Nathan memiliki tanggung jawab yang besar untuk melanjutkan perusahaan ayahnya nanti.
Dan setelah dua Minggu Nathan mencoba menjaga jarak dari Ira, kali ini Nathan tak bisa mengelak lagi. Ira sudah berada tepat di depannya. Jangankan menghindar, untuk membalikkan tubuh pun Nathan tak sempat.
"Eh, ada Ira. Masih pagi udah ke sini aja. Pasti mau nagih uang kost ya ?!" tanya Narko lantang.
"Iya. Maaf kalo kepagian. Karena Aku mau pergi sama teman-teman Aku, Ibu jadi nyuruh Aku ke sini sekarang," sahut Ira tanpa menatap Nathan.
__ADS_1
"Gapapa. Kebetulan Kami udah siapin uangnya kok. Iya kan Nath ?" tanya Mario sambil melirik Nathan.
"Iya," sahut Nathan lesu.
Melihat sikap Nathan dan Ira yang berbeda membuat Mario tersenyum. Ia tahu telah terjadi sesuatu diantara sepasang sejoli itu.
"Kalian lagi musuhan ya, kok diem-dieman aja daritadi ?" tanya Mario usil.
"Ck, ga usah banyak tanya. Buruan kasih uangnya, kasian Ira kalo nunggu kelamaan," kata Nathan ketus.
Mario pun mengangguk. Setelah Ira menyerahkan kuitansi pembayaran uang kost, Ira pun pamit. Mario memberi kode pada Nathan agar menyelesaikan masalahnya dengan Ira. Mario tak ingin Nathan menyesal nanti. Nathan pun mengangguk lalu segera mengikuti Ira.
"Mau pergi kemana Ra, pulang jam berapa, mau dijemput ga ?" tanya Nathan saat Ira melangkah keluar rumah.
Ira tersenyum diam-diam mendengar pertanyaan Nathan. Ira sempat mengira Nathan menjauhinya karena benci padanya. Tapi pertanyaan Nathan barusan membuatnya yakin jika Nathan masih menyayanginya.
"Harus Aku jawab ya ?" tanya Ira sambil membalikkan tubuhnya agar bisa menatap Nathan.
"Kenapa harus dijawab. Bukannya Kita udah selesai ya ?" tanya Ira ragu.
"Kamu mikir gitu Ra ?" tanya Nathan tak percaya.
"Iya. Ga pernah jawab chat dan telepon Aku, ga nyapa saat ketemu, menghindar kalo ngeliat Aku. Apa itu bukan selesai namanya ?" tanya Ira kesal.
"Maaf Ra, Aku lagi sibuk. Tugasku banyak. Ditambah tekanan dari Ayahku bikin Aku ...," ucapan Nathan terputus karena Ira memotong cepat.
"Iya, Aku ngerti kok. Dan Aku juga ngerti kalo Kamu lagi berusaha menjauhi Aku pelan-pelan karena sebentar lagi Kamu bakal lulus dan pergi dari sini," kata Ira sambil tersenyum getir.
Nathan terdiam karena yang Ira ucapkan sebagian memang benar. Ia tahu ini tak adil untuk Ira. Namun ia juga tak bisa mengesampingkan pesan ayahnya. Apalagi kecurigaannya pada Ira hampir terbukti.
__ADS_1
Karena tak mendapat respon dari Nathan, Ira pun kembali melangkah meninggalkan tempat itu. Dan saat itu lah keduanya sadar jika hubungan mereka tak hanya merenggang tapi telah berakhir.
"Maaf Ra. Aku emang sayang sama Kamu, tapi Aku lebih sayang sama orangtuaku. Jika Kamu bukan siluman seperti yang Ayah bilang, semoga Kamu akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dariku nanti. Dan seandainya Kamu memang siluman, Aku berharap Kamu segera bertobat," kata Nathan dalam hati.
Setelah mengucapkan kalimat itu dalam hati, Nathan pun kembali ke dalam rumah.
\=\=\=\=\=
Malam telah larut saat Nathan tiba di depan rumah. Suasana juga terasa dingin dan mencekam. Nathan pun menutup pintu pagar sambil menggerutu.
"Giliran Gue pulang telat ga ada satu pun yang nungguin di teras. Dasar temen ga punya aklak," gumam Nathan kesal.
Kemudian Nathan melangkah perlahan menuju teras rumah sambil mencari anak kunci di dalam tasnya.
Saat berhasil menemukan benda yang dimaksud, Nathan dikejutkan dengan hembusan angin di atas kepalanya. Nathan pun refleks mendongak ke atas untuk melihat benda apa kah yang baru saja melintas di atas kepalanya.
Nathan terkejut hingga tak sengaja menjatuhkan tas yang ada di bahunya. Rupanya Nathan baru saja melihat sosok kepala tanpa tubuh melesat cepat menuju ke selatan. Tanpa membuang waktu Nathan pun bergegas keluar pagar untuk mengejar kuyang itu.
Nathan tiba di jalan di depan rumah kost sambil terus menatap ke atas untuk memastikan kemana kuyang itu pergi. Dan Nathan menganga tak percaya saat melihat kuyang itu melesat kearah kediaman orangtua Ira yang juga pemilik kost.
Nathan masih berharap jika kuyang itu hanya singgah sebentar karena tersesat atau karena kelelahan. Tapi saat melihat kuyang itu menyelinap masuk ke dalam kamar Ira melalui jendela yang terbuka, saat itu lah harapan Nathan hancur berkeping-keping.
Dengan kekuatan yang tersisa Nathan pun memanjat tembok pemisah antara rumah kost dan rumah orangtua Ira. Dan saat tiba di atas pagar pemisah, Nathan pun melompat ke balkon tempat kamar Ira berada.
Setelah berhasil mencapai balkon, Nathan pun mengendap-endap di depan jendela. Dan nafas Nathan seolah terhenti saat ia melihat ke dalam kamar melalui jendela yang masih terbuka itu.
Di sana, di dalam kamar. Nathan melihat sosok kepala yang tadi dilihatnya, kini sedang melayang mengelilingi tubuh tanpa kepala yang duduk bersandar di atas tempat tidur. Dari gaun yang dikenakan oleh tubuh tanpa kepala itu Nathan tahu jika itu milik Ira. Dan sesaat kemudian tubuh Nathan bergetar hebat saat menyaksikan penyatuan kepala dan tubuh Ira !.
Nathan menutup mulutnya dengan telapak tangan agar jeritannya tak terdengar oleh siluman jelmaan Ira.
__ADS_1
Dengan tubuh gemetar dan mata yang basah oleh air mata, Nathan menyaksikan siluman itu berubah menjadi sosok Ira, wanita yang ia cintai selama ini.
\=\=\=\=\=