Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
75. Masih Tentang Ira


__ADS_3

Sebelum Ferdi, Mario dan teman-temannya berpisah dengan Nathan, mereka masih sempat membicarakan Ira. Meski Nathan keberatan, toh mereka tak peduli. Mereka membicarakan Ira dengan santai seolah tak ada Nathan di sana.


"Liat kan waktu pagi-pagi Ira dimarahin Ibunya karena pulang terlambat ?" tanya salah seorang teman kost Mario.


"Liat dong. Gue rasa semua orang juga tau karena suara Ibu kost yang melengking kaya periwitan gitu," sahut Mario sambil tertawa.


"Sebentar deh, jujur Gue ga paham kenapa Ira dimarahin sama Ibunya. Emang ada apaan sih ?" tanya Ferdi penasaran.


"Jadi ceritanya gini Fer. Pagi itu Ira pulang ke rumah dalam kondisi kusut dan bau. Waktu dia sampe di rumah tuh sekitar jam enam lah, yang pasti udah banyak orang lewat dan beraktifitas deh pokoknya. Nah, Ibu kost tuh marahin Ira di luar rumah lho. Jelas aja Ira malu. Apalagi kanan kiri kan ada kost-kostan cowok. Kalo dipikir-pikir tindakan Ibu kost marahin Ira kaya gitu emang keterlaluan sih. Bagaimana pun juga Ira kan punya perasaan. Yah, kan ada baiknya ngomong atau negurnya di dalam rumah bukan di luar kaya gitu," kata Mario panjang lebar.


"Terus Ira jawab apaan ?" tanya Ferdi.


"Itu dia masalahnya. Si Ira diem aja waktu Ibunya nuduh macem-macem. Harusnya Ira jelasin kenapa bisa pulang telat supaya semua orang yang udah terlanjur denger dan ngeliat dia dimarahin jadi ga suudzon sama dia. Ira justru diem dan dengerin aja Ibunya ngomel-ngomel. Pas Ibunya berhenti ngomel lalu masuk ke dalam rumah, eh Iranya ikutan juga. Emosi ga Lo jadinya," sahut Mario berapi-api.


"Ga tuh, biasa aja. Kan yang dimarahin Ira bukan Gue," sahut Ferdi hingga membuat Nathan dan teman-temannya kembali tertawa.


Pembicaraan tentang Ira masih berlanjut. Sebagian menyampaikan gosip yang mereka dengar yang mengatakan jika Ira sudah salah bergaul.


" Cewek pulang pagi dalam kondisi kusut dan bau, apalagi yang bisa ditebak kalo bukan abis ngelakuin perbuatan maksiat," kata salah seorang teman Nathan sambil mencibir.


Semua nampak mengangguk setuju meski pun ada sedikit pembelaan. Sedangkan Nathan tampak membisu karena enggan berkomentar. Nathan yakin saat Ira pulang terlambat di pagi itu adalah saat dimana ia berhasil melumpuhkan Ira. Dan Nathan menyimpannya rapat-rapat hingga ia berpisah dengan teman-temannya itu.


\=\=\=\=\=


Usai bertemu dengan teman-temannya, Nathan pun pulang ke rumah. Bukan rumah kost seperti sebelumnya tapi sebuah rumah kontrakan. Rumah berukuran 3 x 7 meter persegi yang disewanya itu terasa nyaman ditempati hingga membuat Nathan betah di sana.


Setelah membasuh wajah dan kakinya, Nathan pun membaringkan tubuhnya di atas kasur yang dibeli dengan uang tabungannya. Saat Nathan akan terpejam, ponselnya berdering. Nathan tersenyum melihat nama 'Ayah' di layar ponselnya itu. Dengan sigap Nathan menerima panggilan telephon sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Assalamualaikum. Kenapa Yah ?" sapa Nathan.


"Wa alaikumsalam. Gimana kabarmu Nak, sehat kan ?" tanya Bayan dari seberang telephon.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik Yah," sahut Nathan cepat.


"Kok sepi, apa semua temenmu udah tidur ?. Tumben, ini masih sore lho?" tanya Bayan sambil mengerutkan keningnya.


"Mmm ... Aku udah ga di rumah kost lagi Yah. Aku pindah ke rumah baru sekarang," sahut Nathan.


Jawaban Nathan mengejutkan sekaligus membahagiakan Bayan. Ia bahkan mematung sesaat karena tak menyangka jika Nathan menepati janjinya.


"Ayah ...!" panggil Nathan saat tak mendengar suara apa pun.


"Iya Nak. Ayah seneng dengernya. Itu artinya apa yang Ayah bilang tentang Ira terbukti. Iya kan ?" tanya Bayan sambil tersenyum penuh kemenangan.


Nathan mengangguk meski ia tahu sang ayah tak akan bisa melihat anggukan kepalanya. Kemudian Nathan menceritakan pengalamannya dua kali bertemu dengan sosok kuyang jelmaan Ira itu. Nathan juga menceritakan bagaimana ia menyaksikan perubahan fisik Ira dari siluman menjadi manusia.


Bayan nampak mendengarkan dengan seksama. Ia khawatir pada anak sulungnya itu karena belum bisa berbuat apa-apa sekarang.


"Sebentar, darimana Kamu tau kalo Kamu harus melumuri bawang putih supaya Ira ga bisa mengendus jejakmu ?. Soalnya seinget Ayah, Ayah belum pernah kasih tau bagaimana cara menghindari makhluk siluman kepala tanpa tubuh itu lho Nak," kata Bayan bingung.


"Tapi Ira kan tau dimana kampusmu. Apa dia ga mencoba mengejar ke sana ?" tanya Bayan.


"Sampe hari ini sih aman Yah. Aku ga pernah ngeliat Ira di kampus," sahut Nathan cepat.


"Alhamdulillah. Terus gimana perasaan Kamu sekarang Nak ?" tanya Bayan.


"Mmm ... awalnya sih shock Yah. Aku ga percaya sama seperti saat pertama kali Ayah ngasih tau Aku. Tapi sekarang Aku justru menyesal pernah mencintai Ira," sahut Nathan sambil mengusap wajahnya.


"Ga perlu menyesali cinta yang pernah Kamu miliki untuknya. Kamu menjauh darinya dan merahasiakan jati dirinya itu udah cukup. Sekarang Kamu fokus sama kuliahmu yang tinggal beberapa bulan aja. Setelah selesai, Kamu bisa pindah dari kota itu. Balik ke Jakarta atau hijrah ke kota lain, itu ga masalah. Usahakan ga usah terlibat sama Ira, baik saat jadi manusia apalagi saat jadi siluman," kata Bayan bijak.


"Baik Yah," sahut Nathan.


Sesaat kemudian pembicaraan Nathan dan Ayahnya melalui sambungan telephon itu pun berakhir. Nathan menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum. Rasa benci yang sempat ia miliki untuk Ira perlahan memudar saat ia kembali mengingat kebersamaannya dengan Ira dulu.

__ADS_1


"Ayah benar, ga seharusnya Aku benci sama Ira. Kutukan yang dibawanya pasti udah merupakan beban tersendiri buatnya. Semoga Ira segera bertobat dan menemukan seseorang yang bisa membantunya keluar dari kutukan itu," doa Nathan tulus.


Kemudian Nathan merubah posisi berbaringnya agar lebih nyaman. Dan tak lama berselang Nathan pun terlelap.


\=\=\=\=\=


Sementara itu, di waktu yang sama di tempat lain.


Ira nampak mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar. Sesekali ia menyibak tirai jendela untuk mengamati situasi di luar rumah.


Wajah Ira saat itu terlihat pucat, kedua matanya memerah. Berkali-kali ia meraba lehernya yang terasa panas. Nampaknya keinginan untuk memangsa bayi datang lagi.


Bukan tanpa alasan Ira jadi seperti ini. Sore tadi saat berjalan kaki pulang ke rumah, tak sengaja Ira melihat seorang wanita yang duduk di teras rumah. Wanita itu ternyata tetangga Ira yang juga merupakan teman mainnya dulu. Namanya Yulia.


Yulia telah lama hijrah ikut suaminya ke kota lain. Dan saat ini Yulia tengah berkunjung ke rumah orangtuanya. Saat melihat Ira melintas Yulia memanggilnya. Keduanya pun terlibat pembicaraan seru.


Saat bicara tak sengaja Yulia juga mengusap perutnya beberapa kali. Ira bukan tak tahu jika Yulia tengah hamil. Karena aroma tubuh Yulia dan janin di dalam rahimnya telah menarik hati Ira sejak tadi.


"Kamu kenapa ngusap perut terus Yul, sakit ?" tanya Ira pura-pura tak tahu.


"Oh ga. Aku lagi hamil Ra, ini Anak kedua. Anak pertamaku udah empat tahun sekarang. Kamu ... kapan menikah Ra ?. Apa Kamu ga pengen punya Anak kaya Aku ?" tanya Yulia hati-hati.


Pertanyaan Yulia membuat Ira terkejut. Entah mengapa pertanyaan Yulia terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Ira.


"Belum ketemu jodoh yang tepat Yul. Aku juga pengen nikah dan hamil kaya Kamu kok," kata Ira sambil ikut menyentuh perut Yulia lalu mengusapnya pelan.


Saat mengusap perut Yulia, darah dalam tubuh Ira seolah bergolak, terasa aneh dan panas. Dan rasa itu terus mengikuti Ira hingga malam hari.


Ira menyibak tirai jendela sekali lagi. Ia ingin memastikan kondisi di luar aman untuknya beraksi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2