Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
168. Mendahului Takdir


__ADS_3

Fikri pun mengulurkan tangannya untuk membantu Ayu mengusap peluh di dahi sang istri. Ayu pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan lirih.


"Gimana perasaan Kamu sekarang Sayang ?" tanya Fikri.


"Alhamdulillah enakan. Cuma kenapa badanku sakit semua ya Bi, kaya abis kebentur sesuatu gitu," sahut Ayu sambil meringis.


"Tentu saja. Anti kan barusan muter-muter di lantai kaya gasing. Ane liat kaki dan tangan Anti juga dibenturin ke dinding tadi, jadi wajar kan kalo badan terasa sakit semua," kata ustadz Zulkifli sambil tersenyum.


"Astaghfirullah, emang iya Bi ?. Duh, maaf Ustadz. Saya udah ngerepotin ya ...?" kata Ayu tak enak hati.


Ucapan Ayu membuat Fikri dan ustadz Zulkifli tertawa.


"Gapapa Mi. Kan Kamu ngelakuinnya tanpa sadar tadi," kata Fikri sambil mengusap kepala Ayu dengan lembut.


"Apa ... ada sesuatu yang merasuki Aku tadi Bi ...?" tanya Ayu hati-hati sambil menatap lekat suaminya.


Fikri nampak ragu menjawab pertanyaan istrinya itu karena khawatir akan membuat Ayu takut nanti. Tapi ustadz Zulkifli telah lebih dulu menjawab untuk mewakili Fikri.


"Ada. Tapi Anti ga perlu khawatir. Insya Allah makhluk itu udah pergi jauh dan ga bakal berani balik lagi," sela ustadz Zulkifli cepat.


"Masa sih. Kalo boleh tau makhluknya apaan Ustadz ?" tanya Ayu penasaran.


"Cuma hantu perempuan yang ga sabar mendahului takdirnya," sahut ustadz Zulkifli ringan.


"Maksudnya gimana Bi ?" tanya Fikri tak mengerti.


"Maksud Ane, Ayu kerasukan hantu perempuan yang meninggal bunuh diri gara-gara diabaikan Suaminya," sahut ustadz Zulkifli mantap.

__ADS_1


"Astaghfirullah aladziim ..., kok bisa dia bunuh diri cuma gara-gara dicuekin Suami Bi ?" tanya Fikri sambil menggelengkan kepala.


"Eit, jangan salah ya Bi. Wanita yang lelah menghadapi Suaminya bisa aja ngambil jalan pintas kaya gitu. Mungkin dia merasa pengorbanannya ga dihargai. Apalagi setelah dia berhasil melahirkan Anak, tapi malah dianggap sebelah mata sama Suaminya itu," kata Ayu ketus.


"Betul kata Istri Antum Fik. Wanita itu memang rapuh sekaligus kuat. Meski disakiti fisik dan mentalnya, tapi wanita itu masih bisa bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Dia terlihat rapuh karena sering menangis untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Tapi di saat bersamaan dia masih kuat menjalankan tugasnya sebagai Ibu rumah tangga dengan mengerjakan semuanya tanpa jeda. Beda banget sama laki-laki yang langsung ambil jalan tengah yang kadang ga masuk akal. Mereka lebih suka mabuk miras dan dugem daripada duduk menyapa Allah untuk minta solusi," kata ustadz Zulkifli menambahkan.


"Tuh denger ...!" kata Ayu sambil mencubit lengan Fikri dengan gemas.


"Aduuhh ..., iya iya Aku minta maaf deh. Tapi Aku ga gitu kan Mi ?. Aku masih Fikri yang dulu, yang selalu mencintai Kamu meski pun Kamu telah berubah jadi lebih chuby sekarang," rayu Fikri sambil tersenyum genit.


"Tau ah," sahut Ayu sambil melengos sebal.


Sikap Ayu membuat Fikri dan ustadz Zulkifli tertawa. Kemudian ustadz Zulkifli melanjutkan ceritanya mengenai hantu perempuan yang merasuki Ayu tadi.


Ternyata wanita itu sakit hati dengan sikap suaminya. Bukan karena orang ketiga yang hadir mengganggu rumah tangga mereka, tapi sikap cuek yang berlebihan suaminya lah yang membuat wanita itu lelah. Apalagi sang suami juga tak bekerja alias pengangguran.


Rupanya sang suami mengandalkan uang dari keluarganya yang kaya raya itu untuk menafkahi rumah tangganya. Mungkin karena dia adalah anak laki-laki tunggal yang digadang-gadang akan mewarisi harta keluarganya nanti makanya dia bersikap seenaknya. Dan itu membuat sang istri malu sekaligus kecewa.


Dan di titik lelahnya, ucapan sang suami lah yang membuatnya menyerah. Akhirnya dia memilih mengakhiri hidup karena merasa sia-sia menjalaninya tanpa semangat dan motivasi.


Wanita itu menyayat pergelangan tangannya dengan silet. Namun sayang, meski telah banyak darah yang keluar dari lukanya itu, wanita itu tak juga menjumpai mautnya. Karena tak sabar, wanita itu pun memilih menabrakkan diri ke truk yang sedang melintas. Bisa ditebak bagaimana endingnya, wanita itu meninggal dunia dengan cara mengenaskan karena tubuhnya hancur terlindas truk.


"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun ...," kata Fikri dan Ayu bersamaan.


"Terus Anak-anaknya gimana Ustadz ?" tanya Ayu penasaran.


"Sayangnya Anaknya juga meninggal di tempat yang sama dengannya. Rupanya waktu dia mau menabrakkan diri ke truk yang melintas, Anaknya perempuannya yang seusia Arafah itu melihatnya. Dan Anak itu meninggal lebih dulu karena dilindas truk yang sama saat ingin mengejar Ibunya yang niat bunuh diri," sahut ustadz Zulkifli sendu.

__ADS_1


"Jadi dalam kecelakaan itu ada dua orang yang meninggal Bi," kata Fikri yang diangguki ustadz Zulkifli.


"Ane mengutuk perbuatan Suaminya yang udah bikin perempuan itu depresi sampe berniat mengakhiri hidupnya. Tapi Ane juga ga membenarkan tindakan perempuan itu. Bunuh diri adalah perbuatan dosa karena mendahului takdir. Harusnya kalo ga bisa ketemu jalan keluar ya sudahi saja pernikahan mereka," kata ustadz Zulkifli.


"Tapi mengurus perceraian juga kan sulit kalo bukti yang dipunya wanita itu dimentahkan oleh Suaminya ...," sahut Ayu tiba-tiba.


"Maksud Kamu gimana Mi ?" tanya Fikri.


"Iya. Kan kata Ustadz tadi keluarga Suaminya itu kaya raya dan selalu menyokong dengan uang. Bisa aja dengan uang, saksi atau bukti yang dipunya sang Istri diputar balikkan. Jadi susah buat sang Istri lepas dari belenggu pernikahan yang ga sehat itu," sahut Ayu cepat.


"Yah ..., ini memang masalah yang rumit. Tapi bunuh diri itu ga dibenarkan dalam agama mana pun. Dan yang membuat perempuan itu meninggal dengan membawa penyesalan karena ternyata dia tak sengaja ikut menyeret Anaknya. Di akhir hayatnya perempuan itu menyaksikan kematian Anaknya tanpa bisa melakukan apa-apa karena kondisinya saat itu sudah tak bisa bergerak sama sekali," kata ustadz Zulkifli kemudian.


Untuk sejenak ruangan itu menjadi hening. Ketiganya nampak sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jangan-jangan keinginanku yang menggebu-gebu ingin ketemu Nira berhubungan sama wanita itu. Apa betul begitu Ustadz ?" tanya Ayu.


"Betul. Perempuan itu rindu pada sosok Anaknya. Makanya saat dia merasuki Anti, dia mengikuti Anti kemana pun Anti pergi. Apalagi saat itu perasaan Kalian sama yaitu sedih karena kehilangan Anak. Jadi masuk akal kan kalo Nira rewel saat Anti datang berkunjung. Itu karena Nira melihat sosok hantu perempuan itu yang penampilannya pasti sangat menyeramkan. Bisa dibayangkan gimana takutnya Nira. Kita aja yang dewasa pasti takut apalagi Nira yang masih bayi dan usianya baru beberapa hari itu," kata ustadz Zulkifli.


"Ya Allah ..., kasian Nira. Dhanti pasti marah sama Aku gara-gara selalu bikin Anaknya nangis ya Bi," kata Ayu sambil menatap suaminya.


"Itu ...," ucapan Fikri terputus karena ustadz Zulkifli memotong cepat.


"Anti ga usah pikirin itu Ayu. Insya Allah Dhanti akan mengerti setelah tau ceritanya," kata ustadz Zulkifli cepat.


"Kalo gitu tolong sampaikan permintaan maaf Saya untuk Dhanti ya Ustadz. Saya masih malu ketemu sama dia karena ingat gimana kelakuan Saya kemarin," pinta Ayu sungguh-sungguh.


"Insya Allah Ane sampein nanti," sahut ustadz Zulkifli sambil tersenyum.

__ADS_1


Ayu mengangguk dan Fikri pun tersenyum. Ia senang karena salah paham antara Dhanti dan istrinya akan segera berakhir.


\=\=\=\=\=


__ADS_2