
Malam harinya Anna mencoba menyampaikan kekhawatirannya pada sang suami. Sebelumnya mereka makan malam lalu berbincang banyak hal dengan Nathan dan Nicko.
Bayan, Anna dan Nathan nampak duduk sambil menatap Nicko yang berceloteh riang. Sesekali Nathan menyela ucapan Nicko hingga membuat sang adik kesal. Dan Bayan kembali harus melerai perdebatan kedua anaknya itu.
"Jangan lupa besok Kamu harus ke sekolah untuk ngambil seragam sekolah yang baru lho Bang," kata Bayan mengingatkan.
"Siap Yah," sahut Nathan sambil mengacungkan jempolnya.
"Kenapa harus ambil seragam baru Yah. Emang ga boleh beli di toko aja ?" tanya Nicko tak mengerti.
"Abang sekarang kan jadi siswa SMP yang sekolahnya pasti punya peraturan sendiri. Karena seragam Abang beda sama seragam sekolah lain, Abang cuma bisa beli di sekolahnya dan bukan di toko," sahut Bayan sambil tersenyum.
"Oh gitu," sahut Nicko sambil mengangguk.
"Terus mau dianterin Ayah atau Bunda Bang ?" tanya Anna.
"Terserah Bunda aja. Yang penting Bunda jangan kecapean ya," kata Nathan cepat.
"Ok deh. Karena besok sekolah Nicko libur, gimana kalo Kita gantian anter Abang Nick ?" tanya Anna sambil menatap Nicko.
"Setuju Bund !. Aku juga mau liat sekolah baru Abang. Kalo bagus, Aku juga mau sekolah di sana nanti," sahut Nicko dengan mimik lucu hingga membuat semua orang tertawa.
Dan setelah saling memberi salam, Nathan dan Nicko pun masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Bayan juga mengajak Anna masuk ke kamar mereka.
Setelah mengganti pakaian, Bayan pun duduk bersandar di atas tempat tidur sambil menunggu Anna menyelesaikan ritual malamnya.
Bayan hampir terlelap saat Anna menyentuh bahunya sambil memperlihatkan selembar kertas.
"Apa ini ?" tanya Bayan.
"Ini coretan tangan Nicko di sekolah tadi. Katanya masih harus diperbaiki di rumah dan dikumpulkan di pertemuan berikutnya. Coba Ayah liat deh," pinta Anna.
Bayan pun mengamati gambar coretan tangan milik Nicko. Sesaat kemudian Bayan nampak mengerutkan keningnya karena menemukan sesuatu.
"Ini ...."
"Mirip gambar kuyang kan Yah ?!" kata Anna gusar dan mengejutkan Bayan.
__ADS_1
"Darimana Kamu tau tentang kuyang Bund ?" tanya Bayan panik.
"Kan Bang Rama sama Bang Riko pernah cerita ke Aku. Mereka bilang ngeliat makhluk kepala tanpa badan yang melayang-layang di atas peternakan pas Nathan ulang tahun dulu Yah. Aku emang ga tau gimana wujudnya. Tapi pas ngeliat coretannya Nicko Aku jadi kaget. Mungkin ga sih kalo Nicko juga pernah ngeliat kuyang sebelumnya Yah ?. Kok dia bisa pas banget gambarin wujud makhluk itu," kata Anna gusar.
Bayan menggelengkan kepala karena tak tahu harus menjawab apa.
"Sebaiknya Kita tidur sekarang Bund. Ayah capek banget nih," kata Bayan kemudian.
Anna nampak sedikit kecewa karena suaminya seolah menolak membahas 'temuannya' itu. Namun Anna mengerti jika Bayan lelah dan butuh istirahat setelah bekerja seharian.
Setelah meletakkan kertas gambar milik Nicko di atas meja, Anna pun membaringkan tubuhnya di samping Bayan. Ia tersenyum saat Bayan memeluknya dengan erat. Sesaat kemudian Bayan nampak terlelap. Hal itu ditandai dengan dengkuran halus yang terdengar di telinga Anna.
Akhirnya Anna ikut tertidur pulas setelah beberapa saat memikirkan gambar aneh yang dibuat Nicko.
\=\=\=\=\=
Pagi itu Bayan menyempatkan diri mengantarkan anak dan istrinya ke sekolah baru Nathan. Meski pun hanya mengantar sampai gerbang sekolah, Nathan nampak tak keberatan.
Bayan tersenyum kagum pada perubahan Nathan belakangan ini. Entah mengapa Nathan yang biasanya banyak menuntut itu jadi lebih pengertian. Bahkan Bayan sering mendengar nasehat Nathan pada istrinya agar istirahat jika sudah merasa lelah.
"Kalian mau kemana setelah ini ?" tanya Bayan saat Anna mencium punggung tangannya.
"Ya udah gapapa. Hati-hati ya Bund. Jangan lupa makan siang dan kalo udah capek istirahat ya," kata Bayan sambil menirukan cara bicara Nathan.
Anna pun tertawa sambil mencubit lengan Bayan dengan gemas. Bayan nampak meringis menahan nyeri karena ulah sang istri.
Setelah mengecup kening Anna, Bayan pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Anna menoleh saat mendengar kedua anaknya memanggil. Dengan langkah lebar Anna bergegas mendekati Nathan dan Nicko lalu masuk bersama ke dalam area sekolah.
Setelah selesai mengurus keperluan sekolah Nathan, Anna pun menghentikan Taxi lalu membawa kedua anaknya pergi ke tempat hiburan sesuai permintaan mereka tadi. Di sana Anna hanya duduk menunggu sambil mengamati kedua anaknya bermain.
Saat adzan berkumandang, Anna mengajak kedua buah hatinya menunaikan sholat Dzuhur di musholla yang berdekatan dengan wahana permainan arung jeram. Mereka sholat secara terpisah.
Usai sholat, Anna pun menyusul Nathan dan Nicko yang menunggu di teras musholla. Anna tersenyum melihat kedua anaknya akur. Namun senyum Anna memudar saat mendengar apa yang dibicarakan Nathan dan Nicko.
Rupanya Nathan sedang bertanya pada adiknya bagaimana dia bisa menggambar makhluk berwujud kepala tanpa tubuh itu. Awalnya Nicko tak mau mengaku jika pernah melihat makhluk itu. Namun setelah Nathan mendesaknya dan sedikit mengancam, Nicko pun mengakuinya.
"Iya iya, tapi Abang janji jangan ngomongin ini lagi ya. Aku takut Bang," kata Nicko hampir menangis.
__ADS_1
"Takut ?, emangnya makhluk itu ngikutin Kamu ?" tanya Nathan cemas.
"Bukan ngikutin Aku, tapi ngikutin Abang !" sahut Nicko cepat hingga mengejutkan Nathan dan Anna.
"Apa ?!" tanya Anna lantang hingga membuat Nathan dan Nicko menoleh.
Wajah Nathan dan Nicko terlihat panik saat melihat sang bunda berdiri di belakang mereka dengan tatapan tajam.
"Bunda ...," panggil Nathan dan Nicko bersamaan.
"Apa ini Anak-anak. Kalian ngomongin apa barusan ?" tanya Anna setengah berbisik.
"Bunda jangan marah sama Aku ya. Aku takut Bunda ...," rengek Nicko dengan mata berkaca-kaca.
Melihat sikap Nicko membuat Anna mendengus kesal. Ia pun menarik Nicko ke dalam pelukannya untuk menenangkan sang anak. Nathan pun ikut mengusap punggung sang adik agar Nicko tak jadi menangis. Tapi justru sikap Anna dan Nathan membuat Nicko menangis cukup keras.
Khawatir suara tangis Nicko mengganggu orang lain yang sedang sholat di dalam musholla, Anna pun membawa Nicko menjauh dari sana.
"Cup cup ... Sayang. Bunda ga marah sama Nicko kok. Bunda cuma kaget aja denger apa yang Nicko dan Abang omongin tadi. Bunda nih khawatir bukannya marah," kata Anna sambil berusaha mengusap air mata Nicko.
Nicko pun mengangguk lalu berhenti menangis saat Nathan menyodorkan sebotol minuman ringan kearahnya. Setelah Nicko meneguk minuman dingin itu, Nicko pun mulai bercerita.
"Aku emang pernah ngeliat kepala yang ga ada badannya itu Bund," kata Nicko lirih.
"Oh ya, kapan, dimana ?" tanya Anna tak sabar.
"Di sekitar rumah Kita. Kepala itu ngikutin Abang tapi pergi pas Abang sampe rumah," sahut Nicko.
"Ngikutin gimana maksud Kamu ?" tanya Anna gusar.
"Ya ngikutin Bund, tapi melayang ya bukannya jalan atau lari di tanah kaya Kita," sahut Nicko.
Jawaban Nicko membuat Anna dan Nathan saling menatap bingung. Saat Nathan menggedikkan bahunya pertanda ia juga tak tahu menahu tentang itu, Anna menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jadi gimana, sekarang mau pulang atau mau lanjut main lagi nih ?" tanya Anna setelah berhasil menguasai diri.
"Maiinnn ...!" sahut Nathan dan Nicko bersamaan.
__ADS_1
Anna pun mengangguk lalu membiarkan kedua anaknya berlari menuju wahana permainan lain. Anna menatap kedua anaknya dengan perasaan tak menentu karena khawatir dengan keselamatan mereka.
\=\=\=\=\=